Investor Pemula, Saham

Mengenal Jebakan Dead Cat Bounce Investasi Saham

Bursa Saham

Ajaib.co.id – Dalam dunia investasi saham dikenal istilah dead cat bounce, hahh serem amat!? Ya, ini hanyalah istilah yang datang dari pepatah: bahkan seekor kucing mati akan bangkit jika dijatuhkan dari posisi yang cukup tinggi.

Anggap saja kamu sudah lama mengincar sebuah saham, dan dalam dua hari terakhir mengalami penurunan yang cukup besar. Ternyata di suatu hari, saham yang kamu bidik loncat sebesar 10,2% dan naik lagi sebesar sebesar 4,8% di hari selanjutnya.

Di hari itu saya bertanya “Apakah saya sudah ketinggalan borong saham di harga murah?” Periode seperti ini memang banyak membuat orang menjadi bimbang. Bagi yang pesimis akan mengatakan bahwa ini belum berakhir. Yang optimis akan bilang “Market sudah mencapai bottom. Mari kita Buy on Weakness”.

“Saham incaran kamu bullish setelah turun dalam? Hati-hati, jangan-jangan Dead Cat Bounce!” ungkap seorang kawan yang juga trader pasar modal.

Situasi di atas seringkali terjadi pada kita. Niat hati hendak membeli murah, namun nyatanya harga malah meluncur ke bawah. Padahal jika kamu tahu triknya kamu pasti juga bisa menghindari Dead Cat Bounce (DCB).

Apa Sih Dead Cat Bounce (DCB)?

Istilah Dead Cat Bounce dalam investasi adalah kenaikan sementara yang kemudian diikuti tren turun. Seperti contoh yang tertera pada grafik di bawah ini.

Hal ini terjadi ketika pergerakan harga saham sedang alami kondisi bearish. Seringkali tren turun diinterupsi oleh kenaikan harga yang sifatnya sementara. Para trader kemudian kemudian menganggap market sudah menjadi normal dan beberapa bahkan memasang order beli. Namun yang terjadi kemudian adalah market berbalik arah dan memulai downtrend. DCB disebut juga sebagai pola kelanjutan.

DCB sering dikira sebagai pembalikan tren, namun sebenarnya hanya koreksi sesaat saja. Kenaikan kecil yang usianya pendek di tengah-tengah penurunan disebut dengan Dead Cat Bounce (DCB).

DCB itu Seperti Apa sih?

Kamu bisa perhatikan IHSG di bulan Maret setelah pengumuman Covid-19 sebagai pandemic tepat sebelum PSBB diumumkan.

Area yang dilingkari oval biru tersebut adalah contoh Dead Cat Bounce (DCB). Kamu bisa mengetahuinya sebagai DCB jika kamu melihatnya sebagai koreksi yang sehat dari sebuah downtrend/tren turun.

Cara Menghindari Dead Cat Bounce

Sebuah downtrend yang valid adalah yang memiliki Lower High dan Lower Low (LH-LL) tepat seperti dalam grafik di atas. Kamu bisa mengenali apakah itu DCB atau bukan dengan memasang Fibonacci retracement di High sebelum pergerakan naik yang kamu curigai sebagai DCB tersebut. Perhatikan grafik di bawah ini;

Kamu mesti ingat bahwa DCB sebenarnya adalah pola koreksi yang merupakan kelanjutan dari downtrend. Kamu bisa identifikasi sebuah koreksi apakah merupakan kelanjutan tren sebelumnya atau benar-benar sudah berbalik arah dengan memasang Fibo retracement.

Sebuah pola koreksi yang High-nya terhenti di fibo retrace level 38.2, 50 atau 61.8 adalah sebuah koreksi yang merupakan pola kelanjutan dari downtrend sebelumnya! Mari kita perhatikan grafik fibo di atas sekali lagi!

Kamu bisa lihat bahwa High di area yang kita tandai dengan lingkaran oval biru ternyata berada di level Fib retrace 61.8! Itu artinya kenaikan yang kita lihat sebenarnya hanya pola koreksi yang memberikan aba-aba untuk melanjutkan tren turun yang ada sebelumnya! Dengan kata lain pola dalam area oval tersebut adalah benar-benar Dead Cat Bounce.

Kamu bisa mengonfirmasi itu Dead Cat Bounce atau bukan dengan melihat di titik mana High dari rangkaian bullish tersebut terbentuk. Jika teryata High-nya terbentuk di Fibo Retrace level 38.2, 50 atau 61.8 maka resmi itu adalah DCB, guys! Jika kamu tertarik untuk mengenal Fibonacci kamu bisa baca di sini; https://ajaib.co.id/cuan-maksimal-trading-dengan-fibonacci/ 

Jika ternyata High nya terbentuk di Fibo Retrace level 78.6 maka kamu bisa yakin bahwa tren memang hendak berbalik arah dari Downtrend menjadi Uptrend.

Cara keluar dari DCB

Jika kamu sudah terlanjur membeli saham dan terjebak DCB, maka cara untuk bisa keluar selamat tanpa harus terlalu banyak berdarah-darah adalah dengan Averaging Down di dasar.

Masalahnya tren turun setelah DCB itu sulit untuk diketahui kapan akan berakhir. Jika yang kamu beli adalah saham-saham kategori lapis satu atau dua maka kamu bisa yakin bahwa sahammu tidak akan sampai jatuh ke level gocap. Jika kamu misalnya terjebak DCB di saham lapis tiga yang rentang digoreng, maka untuk bisa bangkit akan memakan waktu cukup lama. Beberapa bahkan belum bangkit dari level harga Rp50 selama bertahun-tahun hingga akhirnya mesti delisting.

Kita akan asumsikan bahwa saham yang kamu beli adalah saham-saham lapis satu dan dua yang kapitalisasi pasarnya cukup besar yang cukup digemari juga oleh masyarakat. Jika kamu terjebak DCB, maka kamu bisa tunggu bottom nya dengan menunggu price action yang menunjukkan ciri-ciri Uptrend yaitu adanya Higher High dan Higher Low (HH-HL). Jika kamu tertarik mengenal lebih jauh tentang Uptrend dan Downtrend, baca di sini: https://ajaib.co.id/cara-mudah-di-saham-dengan-price-action-analysis/ 

Jika sudah melihat ada HH-HL, kamu bisa lakukan averaging down dengan cara:

  1. Lakukan pembelian saham yang sama di area Uptren sebanyak dua kali lipat jumlah lot.
  2. Dengan demikian kamu akan dapati harga rata-ratamu turun. Ketika harga mulai bergerak sedikit naik maka kamu akan dapati dirimu floating profit/cuan yang bisa kamu realisasikan dengan cara jual seluruhnya sahammu.

Misalnya saja kamu membeli saham BBRI di harga 4000 rupiah sebanyak 10 lot di harga maka modal kamu di saham BBRI adalah 4 juta rupiah. Kemudian di keesokan hari turun ke 3800, lalu turun-turun terus hingga mencapai 2200. Kamu bisa tunggu saja downtrend nya melemah. Kamu bisa yakin bahwa saham BBRI akan bangkit karena kita tahu bahwa secara bisnis BBRI adalah perusahaan baik yang jauh dari kata bangkrut.

Kemudian kamu memperhatikan bahwa akhirnya BBRI mulai merangkak naik dari harga 2200 ke 2800 dalam beberapa hari. Kamu bisa lihat adanya Higher High dan Higher Low di sana dan akhirnya kamu yakin bahwa sahammu naik dalam sebuah Uptrend.

Jika sudah begitu maka kamu beli lagi sebanyak 20 lot (dua kali lipat dari jumlah lot yang dibeli sebelumnya). Misalnya kemudian order beli kamu match di harga 2400.

Di akhir kamu akan memiliki 30 lot saham di harga rata-rata akhir sebesar 2940 dengan perhitungan (4000×10 lot)+(2400×20 lot)/30 lot. Angka LastAVG/harga rata-rata akhir akan otomatis terpampang begitu saja di portofoliomu setelah kamu lakukan Averaging Down, kamu tidak perlu menghitung sendiri. Ketika harga naik ke 3000 lebih kamu bisa jual saham-sahammu dan cuan 60 rupiah per saham.

Dengan demikian kamu bisa selamat dari lompatan kucing yang membawa maut (DCB). Selamat mempraktekkan.

Artikel Terkait