Analisa Saham, Saham

Bedah Saham TRAM: Masih Menarik di 2021?

Sumber: Trada Alam Minera

Ajaib.co.id – PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) adalah perusahaan yang yang bergerak dalam penyediaan jasa transportasi angkutan laut dan pengiriman. Operasi bisnis emiten saham TRAM ini dikategorikan menjadi empat segmen, yaitu Floating Storage and Offloading (FSO), transportasi kargo cair, transportasi kargo curah kering, dan transportasi kargo cair dan gas. 

Perusahaan ini juga menawarkan layanan kapal lainnya, di antaranya layanan lepas pantai, manajemen kapal dan awak kapal, logistik, layanan katering, agen dan perizinan.

Selain itu, TRAM juga memiliki sejumlah anak perusahaan yang membantu beroperasi seperti  PT Trada Dryship, PT Hanochem Shipping, PT Trada Tug and Barge, PT Agate Bumi Tanker, PT Trada Shipping, Trada Dryship Singapore Pte Ltd, PT Trada Shipping International, dan PT Bahari Sukses Utama.

Saham TRAM mulai diperkenalkan ke publik pada tanggal 27 Agustus 2008 melakukan Penawaran Umum Perdana Saham TRAM (IPO) ke masyarakat sebanyak 4 miliar lembar dengan nilai Rp100 per lembar dengan penawaran Rp125 per lembar, disertai dengan Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif sebanyak 1 miliar lembar saham dengan pelaksanaan senilai Rp135 per lembar.

Komposisi kepemilikan saham TRAM terbagi menjadi tiga, yaitu PT Graha Resources selaku pengendali dengan persentase saham mencapai 13,02, diikuti kepemilikan publik sebesar 63,16%, dan yang terakhir Tael One Partners. LTD sebesar 23,82%. 

Sejak Februari 2020 hingga sekarang, tidak ada transaksi sama sekali di saham TRAM. Per 22 Februari 2021, saham TRAM masih dihargai Rp50 perak tanpa terlihat adanya pergerakan apa pun.

Padahal, di awal 2018 TRAM sempat menarik perhatian banyak pelaku pasar, karena hanya dalam waktu kurang lebih 2 bulan saja emiten ini dapat mencatatkan kenaikan kurang lebih 130% pada akhir periode Februari, dari Rp190 ke Rp420, tetapi seiring memburuknya performa IHSG yang disebabkan sentimen global, harga saham TRAM ini juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Saham TRAM juga menjadi salah satu saham yang terlibat kasus dugaan korupsi pada kasus Jiwasraya, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dengan terseretnya Komisaris Utama TRAM, Heru Hidayat. Pada 10 – 20 Januari 2020, terjadi transaksi jumbo yang melibatkan Ciptadana Sekuritas dan Mirae Asset Sekuritas dengan total 550 kali transaksi. 

Dengan adanya kasus yang menerpa saham TRAM ditambah dengan harganya yang tidak pernah meninggalkan Rp50, apakah TRAM punya peluang di masa depan? Mari kita beda sahamnya di bawah ini.

Kinerja Keuangan 

Berdasarkan data BEI, saham TRAM belum melaporkan laporan keuangannya di tahun 2020 dan juga sudah di-suspend sejak akhir Januari 2020. Laporan keuangan terakhir TRAM yang bisa diakses secara umum adalah tahun 2019.

Jika mengacu pada laporan keuangan perusahaaan di Q3 2019, pendapatan perusahaan justru tercatat mengalami kenaikan sebesar 33% dari US$2,4 juta ke US$3,2 juta secara yoy. Namun, laba bersihnya justru terkikis sebesar 132% dari untung US$93 ribu pada 9M2018 berbalik rugi bersih -US$29,4 ribu. 

Posisi keuangan perusahaan pertambangan tersebut juga tidak terlalu baik. Pos total aset TRAM sebenarnya tumbuh 8$ secara yoy dari US$8,7 juta ke US$9,1 juta, tetapi kenaikan aset tersebut diiringi dengan kenaikan liabilitas yang signifikan dari US$3,1 juta ke US$3,9 juta atau naik 23%. Sementaram, ekuitas perusahaan juga ikut turun 6% dari US$5,6 juta ke US$5,2 juta.

Komponen LabaSeptember 2018 ($ Juta)September 2019 ($ Juta)
Pendapatan 2,43,2
Laba Bersih0,093-0,029
Aset8,79,1
Ekuitas5,65,2
Liabilitas3,13,9

Disuspensinya saham TRAM karena terjerat kasus Jiwasraya dan telatnya penyetoran laporan keuangan di tahun 2020 seharusnya menjadi pertimbangan bagi investor sebelum masuk ke saham TRAM.

Selain itu, kinerja keuangannya yang tidak baik dengan meningkatnya liabilitas dan merosot tajam laba bersih pada Q3 2019 mencerminkan kondisi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan. 

Selanjutnya, mari kita beralih ke rasio keuangan TRAM di bawah ini

RasioSeptember 2018September 2019
ROA1,6%-0,32%
ROE3%2%
NPM4,12%2,23%
GPM17,84%12,99%
OPM22,8%4,7%
DER0.570.74

Pada indikator fundamental lainnya, misalnya rasio keuangan. Saham TRAM menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Pada rasio return, baik ROA dan ROE mencatatkan penurunan tipis ke -0,32% dan 2%.

Buruknya kemampuan perusahaan mengubah penjualan menjadi keuntungan juga terlihat dari rasio margin. NPM, GPM, dan OPM saham TRAM anjlok dan yang terparah OPM nya yang tahun lalu mampu meraih angka 22,8% sekarang hanya sebesar 4,7%.

Beralih ke DER. Terjadi kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu dari 0.57% atau 57% ke 74%. Meskipun angka DER nya masih di <2, angka DER yang naik ini menjadi bukti bahwa utang perusahaan terus naik dibandingkan ekuitasnya. Tentu hal ini tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sehat.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih-35%
Pendapatan81%
Total Aset43%

CAGR atau rata-rata pertumbuhan tahunan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur fundamental perusahaan. Pada CAGR pos laba bersih TRAM menunjukkan -35% yang artinya perusahaan justru selalu merugi setiap tahunnya dalam kurun waktu 2017 hingga 2019.

Yang menjadi menarik dari TRAM adalah pendapatan dan total asetnya dalam waktu 3 tahun tumbuh setidaknya 81% dan 43%. Namun, tidak menutup fakta bahwa kondisi keuangan tidak baik.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

TRAM pernah membagikan dividen sebesar Rp42 miliar atau 40% dari laba bersih tahun 2010 pada 2011. Namun, jika mengacu pada pembagian dividen 5 tahun terakhir, saham TRAM sama sekali tidak pernah membagikan dividen.

Absennya TRAM membagikan dividen 5 tahun terakhir menjadi bukti kuat bahwa perusahaan tidak bisa menghasilkan laba bersih dari bisnisnya.

Prospek Bisnis TRAM

Tidak ada berita terbaru seputar TRAM setelah emiten tersebut terjerat kasus Jiwasraya dan sahamnya disuspensi. Penetapan komisaris TRAM Heru Hidayat sebagai terdakwa memberi efek domino terhadap perusahaan. Berbagai situasi sulit menghampiri perusahaan satu persatu, mulai dari terancam delisting hingga kelangsungan usaha yang tidak berjalan mulus.

BEI menyebutkan saham TRAM berpotensi untuk delisting atau didepak dari bursa saham dalam setahun ke depan. Hingga saat ini, TRAM sudah mendapat suspensi kurang lebih selama 12 bulan dan akan mencapai 24 bulan pada pada 23 Januari 2022. 

Berdasarkan pengakuan manajemen, terdapat dua dampak langsung yang diterima perusahaan efek dari kasus tersebut, yang pertama tertundanya proyek infrastruktur perusahaan dan keraguan supplier, pembeli, dan rekan kerja terhadap kelangsungan bisnis perusahaan beserta anak perusahaannya.

TRAM juga mengalami dampak karena adanya penyitaan terhadap entitas anak perusahaan PT Gunung Bara Utama yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung terhadap kegiatan operasional.

Yang terbaru adalah penyitaan aset berupa 20 unit kapal milik perusahaan, salah satunya adalah kapal tanker vessel pengangkut barang Liquified Natural Gas (LNG) bernama Aquarius. Dimensi kapal ini disebut-sebut  sepanjang 285,29 meter dengan lebarnya 43,74 meter atau dua kali lebih besar dari lapangan sepak bola.

Kapal LNG Aquarius memberikan kontribusi lebih dari 5% atas pendapatan perusahaan. Jika 19 Kapal milik perusahan dan anak perusahaan disita maka TRAM akan kehilangan sebagian besar asetnya.

Dengan kondisi seperti ini, kinerja keuangan saham TRAM diperkirakan masih akan terdampak hingga satu tahun ke depan, mengingat pendapatan utama TRAM bersumber dari perusahaan tambang batubara.

Hingga saat ini TRAM masih berusaha menghadapi dampak dari COVID-19 dan kasus hukum Komisaris Utama Bapak Heru Hidayat. Dengan kata lain, jika harga komoditas batubara naik di masa mendatang, TRAM butuh waktu yang cukup lama untuk pulih dari kesehatan keuangannya yang buruk.

Kesimpulan

Berdasarkan daya RTI per 23 Februari menunjukkan PER TRAM berada di level -63,23 kali, sedangkan PBV nya yang berada di angka -0.50 kali. Sederhananya, saham TRAM dihargai sangat murah.

Namun, dengan fundamental perusahaan yang saat ini buruk ditambah kasus yang berpotensi membuat saham ini delisting, investor sebaiknya tidak berinvestasi ke saham TRAM hingga pihak perusahaan berbenah dan pulih dari kondisinya sekarang.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait