Jadikan Masa Tua Sebagai Tanggung Jawab Asuransi, Bukan Anak Kita

Ajaib: Jadikan Masa Tua Sebagai Tanggung Jawab Asuransi, Bukan Anak Kita

Gambaran Masa Tua

Hari-hari santai di rumah dikunjungi cucu, bercengkrama dengan anak-anak tercinta plus para mantu, atau jalan-jalan liburan mengunjungi saudara dan tempat-tempat terindah di dunia, tanpa ada lagi stress tugas kerja, instruksi boss ataupun rutinitas bangun pagi dan macet-macetan menuju kantor, mungkin itulah gambaran ideal masa tua impian pada umumnya.

Bayangan kenyamanan masa tua itu seringkali membuat kita terlena, sehingga tidak merasa perlu tanggung jawab persiapan dini, apalagi asuransi. Kejar karir saja dulu dan bekerja mati-matian selagi muda. Soal masa tua itu soal nanti.

Realita Masa Tua

Tetapi kenyataan jarang bisa seindah impian. Menjalani masa pensiun sebenarnya bisa dikatakan sebagai “seni kehilangan segala sesuatunya setiap hari”. Semua anugerah yang kita miliki di masa muda seperti stamina tubuh, penglihatan – penciuman – pengecapan – pendengaran – perabaan yang tajam, gigi yang kuat, ingatan yang cermat, satu-persatu meninggalkan kita. Sebagai gantinya, kita pun biasanya dianugerahi penyakit, post power syndrome hingga depresi.

Hari-hari santai yang terbayang sangat menyenangkan ternyata menjadi hari-hari sarat keluhan dan penyesalan. Hal-hal yang ingin segera dilakukan karena dulu tak sempat dilakukan, terkendala masalah kesehatan. Karena itulah para manula sering murung, mudah tersinggung dan getir. Lalu bagaimana caranya untuk terus bisa menangani problem masa tua, sementara fisik dan mental makin renta?  Sebuah jawaban yang umum pun cepat tercetus; “Kan ada anak-anak!”.

Tanggung Jawab Atas Keberlanjutan

Setiap individu di dunia pasti mengalami siklus kehidupan yang terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah, kadang bahagia, kadang menderita. Hak dan kebebasan menikmati kebahagiaan hadir sepaket dengan tanggung jawab mengatasi penderitaan. Di masa masih menjadi anak muda, kita punya orang tua dan kakak-kakak yang siap membantu.

Tetapi ketika sudah sah menjadi individu dewasa, hal itu murni jadi tanggung jawab diri sendiri dan pasangan hidup, suami atau istri. “Lalu anak-anak? Kan waktu mereka kecil kita yang ngurus, sekarang gantian dong!”. Mari kita kaji kembali pemikiran tersebut. Sejak anak-anak lahir, pasti kita ingin mereka menggantungkan cita-citanya setinggi langit, laki-laki ataupun perempuan, tanpa perbedaan.

Kita dorong mereka terbang setinggi-tingginya dengan bekerja mati-matian, agar sanggup membiayai pendidikan mereka yang juga terus melangit! Lalu, kalau akhirnya mereka benar-benar harus berada jauh di angkasa, misalnya jadi astronot kebanggaan bangsa di saat kita kewalahan menghadapi problem manula, tegakah kita memanggil mereka turun mendarat hanya untuk meladeni kita?

Apalagi kalau anak-anak kita pun nanti dirundung kesulitan mereka sendiri akibat persaingan kerja, krisis sumber daya dan perubahan cuaca. Jangan sampai terlambat, alangkah baiknya jika tanggung jawab atas keberlanjutan penanganan problem manula kita tangani sendiri sejak dini. Bagaimana caranya?

Pengalihan Tanggung Jawab dengan Asuransi & Reksa Dana

Bayangkan masa tua kita serealistis mungkin, tuangkan dalam sebuah peritungan matang sekarang juga, selagi kita masih muda agar kelak post power syndrome. Perhitungkan setiap aspek kebahagiaan dan penderitaan masa tua nanti, cicil biaya tanggungannya dari sekarang. Semakin panjang rentang waktu yang kita punya, semakin ringan kewajiban mencicilnya.

Tidak perlu pusing, cari informasi produk asuransi masa tua & reksa dana terbaik di www.ajaib.co.id, serahkan soal hitung-hitungannya pada para profesional yang memang ahlinya. Berapa pun anak kita, laki-laki maupun perempuan, tugas mereka tetaplah mengejar cita-cita setinggi langit, sambil sesekali pulang menengok kita untuk bercengkrama bahagia!

Share to :
Tags: , , , , , , , , ,
Artikel Terkait