Intraco Penta Berharap Penjualan Pada Wacana Joko Widodo

intraco penta
intraco penta

Keputusan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan menjadi berkah bagi banyak perusahaan. Salah satunya PT Intraco Penta Tbk (INTA), yang merupakan salah satu emiten alat berat.

INTA berharap rencana Joko Widodo membantu mereka meningkatkan pemasukan. Pasalnya, per September 2019, mereka terkena dampak pelemahan harga batubara. Pada bulan September 2019, mereka hanya bisa merealisasikan penjualan sebanyak 495 unit. Padahal, di bulan yang sama pada tahun sebelumnya, mereka mampu menjual alat berat INTA hingga 722 unit.

Turun Drastis

Itu artinya, penjualan alat berat yang diproduksi Intraco Penta turun jauh sekali, yakni berada di angka 31,44 persen. Salah satu investor INTA, Ferdinand Dion mengatakan bahwa, mereka mendapat tantangan berat sepanjang tahun 2019, terlebih dari sektor batubara. Dia menyebut koneksi penjualan dirasakan pelaku industri alat berat karena harga batubara cenderung menurun. Alhasil hal tersebut menyebabkan produsen batubara sedikit menghambat ekspansi mereka.

Kendati harga batubara cenderung menurun, pihak INTA masih berharap pada keputusan Jokowi yang memindahkan ibu kota Republik Indonesia ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur. Dengan adanya wacana pemindahan ibu kota, bakal menjadi hal positif INTA dalam penjualan alat berat di masa mendatang.

Wacana Pemindahan Ibu Kota Jadi Angin Segar

Untungnya, salah satu usaha INTA memiliki kantor pusat di Kota Balikpapan, yakni PT Intraco Pentra Prima Servis (IPPS). Tentunya, hal tersebut memudahkan INTA untuk mendukung proyek pemindahan ibu kota Republik Indonesia yang menjadi wacana Joko Widodo.

Perlu kamu ketahui, Intraco Pentra Prima Servis merupakan anak usaha INTA yang bergerak di sektor penjualan alat berat dengan merek Volvo dan SDLG. Mereka menyuplai alat berat untuk pemasaran yang terjadi di Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Sementara untuk alat berat merek Dressta melayani pemasaran alat berat di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, INTA juga memiliki satu anak usaha lain yang memegang lisensi merek Sinotruk, Mahindra, Bobcat, Doosan, dan Sany Palfinger. Anak usaha ini yakni PT Intraco Penta Wahana (IPW). Anak usaha ini baru mencatatkan prestasi yang menguntungkan, yaitu menjadi diler resmi Tata Motor yang merupakan jenis commercial vehicle di wilayah Kalimantan.

Genjot Pemasukan

Karena penurunan penjualan alat berat per September 2019, INTA ingin menggenjot pemasukan mereka. Ferdinand Dion sebagai investor memaparkan, penurunan alat berat ini berdampak pada turunnya pendapatan INTA pada kuartal III 2019.

Redaksi Ajaib mencatat, INTA mendapatkan pemasukan yang menurun hingga 26,8 persen menjadi Rp 1,35 triliun pada 30 September lalu. Padahal, di tahun 2018. INTA masih mampu mencatatkan pemasukan yang sangat besar, yakni di angka Rp 2,24 triliun, Penurunan ini tentunya disebabkan dari sektor tambang batubara dalam dua tahun terakhir.

Kendati demikian, INTA masih mempunyai kabar bagus. Mereka, pada kuartal III di tahun 2019 masih mampu mengurahi kerugian yang lumayan besar, yakni hingga Rp 127, 35 miliar. Kerugian itu pun turun hingga 45,1 persen bila dibandingkan pada kuartal yang sama di tahun 2018, yakni di angka Rp 232 miliar.

Lebih lanjut, Fedinand memaparkan, INTA masih berusaha menggenjot sektor penjualan lainnya yang memiliki pertumbuhan yang menjanjikan. Sayangnya, pertumbuhan usaha mereka di sektor lain belum bisa menutupi jumlah penurunan penjualan dari sektor pertambangan.

Antisipasi INTA

Untuk mengantisipasi penjualan yang semakin menurun, INTA pada tahun 2020 mulai gencar menaawarkan alat berat ke industri non tambang. Mereka bakal menawarkannya ke general industry, infrastruktur, logistik, hingga transportasi. Jadi mereka mulai tidak bergerak di satu bidang saja, selain tambang yang selama ini INTA jalani.

Namun, INTA masih menggenjot pendapatan dari penjualan yang mempunyai varian produk berbeda. Adapun merek yang dijual INTA dalam produksi alat berat antara lain truk merek Sinotruk, alat lightweight merek Bobcat, hingga farm tractor merek Mahindra.

Memulai Bisnis Listrik

Bisnis listrik INTA dimulai untuk pertama kalinya pada salah satu unit pembangkit yang telah selesai pembangungannya. Pada 16 Oktober 2019, emiten berkode saham INTA tersebut melalui entitas anaknya yakni PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) yang merupakan joint venture antara PT Inta Daya Perkasa yang 100 persen sahamnya digenggam perseroan dengan Bengkulu Power Hongkong Ltd, anak perusahaan Power China Resources Ltd, telah berhasil melaksanakan first firing (penyalaan turbin PLTU pertama kali).

Adapun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara dengan kapasitas 2x100MW yang terletak di Bengkulu tersebut telah mulai dibangun sejak tahun 2016 yang rencananya akan mulai berjalan penuh pada kuartal pertama pada tahun 2020.

PLTU di Bengkulu merupakan portofolio kedua pembangkit listrik milik grup INTA setelah PT TJK Power di Batam yang merupakan satu-satunya PLTU di daerah Batam yang memasok energi listrik ke PLN Batam. Sesuai perjanjian jual-beli tenaga listrik (Power Purchase Agreement) antara TLB dengan PLN yang ditandatangi pada 2015, PLTU ini akan memasok listrik kepada PLN selama 25 tahun sejak rampung pada tahun depan.

PLTU Bengkulu Jadi Proyek Penting

Direktur Utama Intraco Penta Petrus Halim mengungkapkan, total investasi untuk proyek tersebut diperkirakan sekitar 360 juta dolar Amerika Serikat yang didukung pendanaan dari perbankan serta modal internal.

“Pembangunan PLTU Bengkulu ini merupakan salah satu proyek penting dalam sistem tenaga listrik Sumatera dalam upaya memenuhi pertumbuhan permintaan tenaga listrik dan berpotensi mengundang banyak investor untuk masuk ke Provinsi Bengkulu,” ujarnya dalam keterangan resmi. 


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait