Investor Pemula

Ini Jenis Investasi yang Harus Dihindari Investor Pemula

jenis investasi yang perlu dihindari investor pemula

Ajaib.co.id – Jika kamu baru terjun di dunia investasi, entah karena mulai tertarik untuk menumbuhkan kekayaan atau baru saja mendapatkan uang dengan jumlah yang banyak, memilih jenis investasi secara hati-hati adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Terdapat beberapa kategori investasi yang harus dipertimbangkan untuk dihindari, setidaknya sampai kamu memiliki pengetahuan lebih banyak dalam hal keuangan, akuntansi, dan bisnis secara umum.

Tanpa pengalaman dan pengetahuan yang memadai tentang jenis investasi dalam mengurai keuntungan dan kerugiannya, banyak investor yang hanya bermodalkan kepercayaan diri dan ikut-ikutan. Cepat atau lambat uang yang digunakan untuk investasi tersebut akan hilang karena kamu mengalami kerugian. Jadi, jangan pernah menjaminkan dana pensiun di investasi yang belum kamu pahami.

Pertimbangan penting saat menyusun aset adalah memastikan bahwa setiap posisi dalam portofolio haruslah sehat, dikapitalisasi secara konservatif, dan dikelola dengan baik. Meskipun terdapat beberapa pergolakan sepanjang jalan, dengan mengetahui jenis investasi yang harus dihindari sebelum betul-betul memahaminya dapat membantu meminimalisasi kerugian yang disebabkan ketidaktahuan tersebut.

Ini dia cara memilih investasi bagi kamu yang mau memulai investasi untuk keuntungan jangka panjang yang dilansir dari thebalance.com.

Reksa Dana dengan Rasio Beban dan Beban Penjualan Tinggi

Reksa dana merupakan salah satu instrumen memiliki peluang menghasilkan return potensial serta menawarkan profil risiko mulai dari yang rendah, moderat, hingga yang tinggi. Selain itu, kamu bisa berinvestasi di reksa dana mulai dari Rp10.000. Salah satu platform investasi yang menawarkan kemudahan investasi reksadana adalah PT Ajaib Sekuritas Asia.

Namun, terdapat reksa dana yang harus dihindari oleh investor pemula. Rasio pengeluaran reksa dana mewakili persentase uang yang harus diberikan kepada manajer investasi setiap tahun. Perusahaan reksa dana biasanya mengenakan biaya yang sangat wajar antara 0,10% hingga 1% per tahun. Ini artinya, jika portofolio reksa dana kamu senilai Rp100 juta, kamu harus membayar antara Rp100.000 hingga Rp1.000.000 per tahun.

Terdapat manajer investasi yang membebankan biaya pemeliharaan hingga 2% bahkan lebih tinggi ke investor. Dengan kata lain, Rp2.000.000 pertama dari keuntungan modal, dividen, dan bunga setiap tahunnya akan masuk ke kantong perusahaan manajemen aset, bukan kamu. Manajer investasi yang membebankan biaya pemeliharaan yang tinggi selalu merupakan pertanda buruk, oleh karena itu hindari jenis investasi seperti ini.

Jika ingin memutuskan untuk investasi reksa dana, pastikan keseluruhan biaya yang harus dibayar tidak sampai menggerogoti return yang diperoleh dari investasi reksa dana.

Segala Jenis Derivatif, Termasuk Saham

Tidak sedikit investor pemula yang hampir tidak tahu apa-apa tentang saham memutuskan untuk berspekulasi dengan instrumen futures dan saham hanya karena menghasilkan keuntungan potensial yang tinggi. Ketahuilah wahai para investor pemula, jenis investasi saham seperti ini bukanlah investasi yang harus dipertimbangkan oleh siapapun tanpa pengetahuan yang memadai, apalagi dijadikan alternatif untuk meningkatkan nilai dana pensiun.

Dalam kasus yang jarang terjadi, pergerakan kecil dari saham yang mendasarinya dalam jangka pendek dapat menyebabkan kerugian yang besar, bahkan membuat investor bangkrut. Kerugian yang dialami mungkin tidak terbatas pada jumlah yang diinvestasikan. Investor bisa saja berinvestasi senilai Rp50 juta, kemudian mengalami kerugian hingga Rp100 juta bahkan lebih jika terjun ke investasi futures atau saham tanpa pengetahuan apa pun.

Saham Individu yang Tidak Dapat Menjawab Beberapa Pertanyaan

Jika kamu ingin menambahkan saham individu ke portofolio, kamu harus menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini terkait saham perusahaan yang dipilih. Apa bisnis yang dilakukan perusahaan tersebut? Bagaimana perusahaan menghasilkan uang?

Berapa rasio utang terhadap ekuitasnya (DER)? Bagaimana progres return yang ditawarkan perusahaan tersebut? Berapa ekspektasi wajar untuk laba per saham (EPS), berdasarkan estimasi analisis bisnis untuk 5 hingga 10 tahun ke depan?

Jika kamu tidak dapat menjawab sejumlah pertanyaan di atas, kamu bukanlah berinvestasi melainkan berjudi. Hingga kamu benar-benar siap berinvestasi di instrumen saham bermodalkan pengetahuan yang memadai, pertimbangkan Exchange Traded Fund (ETF) atau reksa dana indeks yang biasanya rendah dan sudah terdiversifikasi.

Obligasi Sampah dan Obligasi Luar Negeri

Banyak investor yang menyadari bahwa tingkat suku bunga rendah selama satu dekade terakhir. Namun, guru besar investasi yang merupakan mentor Warren Buffett, Benjamin Graham pernah mengatakan bahwa banyak investor yang kehilangan uang untuk mendapatkan return yang lebih tinggi daripada perampokan. Jenis investasi ini terlihat mana tapi sebenarnya berisiko tinggi dibanding lainnya.

Investor yang biasanya mendapatkan return 4% dari obligasi, langsung tergiur ketika menemukan investasi yang menawarkan return hingga 20%. Terdengar menarik, tetapi kebanyakan obligasi tersebut yang lebih dikenal sebagai obligasi sampah seringkali memiliki risiko gagal bayar yang sangat tinggi. Seperti namanya, sampah adalah jenis investasi yang harus dihindari.

Entitas Pribadi yang Dirancang Meminimalkan Pajak

Tampaknya keserakahan hampir selalu membuat orang-orang cerdas terlihat bodoh. Hampir setiap dekade atau lebih, jenis investasi semacam entitas atau sekuritas muncul menjanjikan penghematan pajak yang besar dengan metode yang belum terbukti. Meskipun mungkin masuk akal bagi seseorang yang mempekerjakan sekelompok akuntan dan pengacara, kerumitan investasi tersebut tidak sebanding dengan kerumitan investor yang memiliki portofolio enam digit atau kurang.

Banyak investor yang berupaya untuk mengurangi nilai pajak dari return investasinya, misalnya menggunakan metode harvesting tax-loss. Namun, bukannya memberikan keuntungan, mereka malah mengalami kerugian. Ketahuilah, menghindari pajak tidak sebanding dengan potensi kerugian portofolio apalagi bangkrut di masa mendatang.

Pada akhirnya, ini semua adalah tentang melindungi diri sendiri dari jenis investasi yang membahayakan portofolio. Jika kamu tidak lebih berhati-hati dalam menentukan instrumen investasi, kamu akan melihat uang yang telah kamu tabung selama bertahun-tahun hilang karena satu atau dua keputusan yang bodoh.

Artikel Terkait