Harga Nikel Naik, Saham ANTAM dan Vale Melejit

saham-antam
saham-antam

Harga saham Antam (PT Aneka Tambang Tbk) tercatat, sempat melonjak 3,3% menjadi Rp1.085 per saham. Harga saham Antam pun terus bergerak di zona hijau hingga penutupan sesi pertama.

Sementara itu, harga nikel di London Metal Exchange (LME) telah menembus US$16.000 per ton pada Rabu (28/08/2019). Level harga tersebut sempat tembus pada 20 Agustus 2019 lalu.

Hal tersebut merupakan level tertinggi sejak Desember 2014. Seiring dengan perkembangan itu, harga emiten produsen nikel melonjak pada Kamis (29/08/2019).

Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga tercatat berada di zona hijau sejak awal perdagangan. Harganya tercatat terus melejit. Menjelang penutupan sesi pertama, harga saham Vale naik 3% menjadi Rp3.430 per lembar.

Kenaikan harga nikel tersebut disebabkan oleh larangan ekspor bijih nikel berkadar rendah atau nikel ore oleh Pemerintah Indonesia yang berkontribusi sebesar 27% pada pasokan nikel di pasar dunia.

Seperti yang diketahui, Pemerintah berencana untuk mempercepat pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah yang semestinya berlaku mulai 2022 mendatang.

Manajemen PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menilai, rencana tersebut tidak akan berdampak kepada pembangunan smelter (pengolahan mineral) feronikel Antam.

Direktur Utama Antam, Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan, rencana Pemerintah tersebut pada dasarnya tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Sebab, di dalam kontrak sudah ada klausul force majeure jika ada perubahan peraturan.

PT Antam pun akan mendukung penuh kebijakan Pemerintah untuk menghentikan ekspor bijih nikel. Pelarangan ekspor nikel tidak berdampak kepada pembangunan smelter feronikel Antam.

Pada perdagangan Selasa (3/9/2019), saham-saham emiten pertambangan mineral nikel, timah, dan emas anjlok. Hal itu disebabkan setelah investor asing merealisasikan keuntungan pasca-saham emiten sektor ini melonjak pada Senin kemarin.

Berdasarkan data International Nickel Study Group (INSG), pada 2017 Indonesia menduduki posisi kedua sebagai produsen nikel terbesar dengan kapasitas produksi mencapai 205.000 ton.

Saham Antam minus 2,14% di level Rp1.140 per saham. Padahal, saham Antam sempat menguat hingga 9%. Namun, investor asing masih masuk di saham Antam sebanyak Rp5,73 miliar.

Dilihat dari sisi harga nikel, pada perdagangan Senin (2/9/2019), harga nikel dunia kembali ditutup menguat setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) secara resmi, mengumumkan larangan ekspor bijih nikel per Januari 2020.

Goldman Sachs dalam catatan hari Minggu memprediksi, bahwa harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) bisa menyentuh level US$20.000/ metrik ton dalam tiga bulan ke depan, level yang tidak pernah dilihat sejak Mei 2014, seperti yang dilansir dari Reuters.

Dalam catatan yang sama juga tertulis, bahwa setelah menyentuh level US$20.000 per ton, harga nikel akan turun ke US$ 18.000 per ton dalam 6 bulan, dan menuju US$16.000 per ton dalam 12 bulan ke depan.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Ayo bergabung dengan Ajaib, investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Ikuti Kami
Artikel Populer
Artikel Terkait