Analisa Saham, Saham

Emiten Saham SILO Raup Keuntungan di Tengah Pandemi 2020

Sumber: Siloam Hospitals

Ajaib.co.idPT Siloam International Hospitals Tbk (kode saham SILO) atau terkenal dengan Siloam Hospitals adalah salah satu jaringan rumah sakit swasta yang didirikan oleh Lippo Group.

Pada awal berdiri Rumah Sakit ini memiliki nama Rumah Sakit Siloam Gleneagles yang merupakan kerjasama antara Lippo Group dan Rumah Sakit Gleneagles. Rumah sakit ini didirikan pada 3 Agustus 1996 melalui PT Sentralindo Wirasta yang bergerak di bidang layanan kesehatan. 

Kemudian sejak tahun 2011 Siloam Hospitals menjadi jaringan Rumah sakit dengan membangun enam rumah sakit dan mengakuisisi lima rumah sakit.

Melalui PT Siloam International Hospitals sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 September 2013.

Memiliki tujuan untuk terus meningkatkan pelayanan bertaraf Internasional, rumah sakit ini menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapat akreditasi internasional dari lembaga akreditasi Joint Commission International Accreditation. Adapun akreditasi telah dilakukan pada tahun 2007, 2010 dan 2013.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham SILO

Laba SILO Naik di Tengah Pandemi 2020

Kinerja emiten saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Memperoleh dorongan pada kuartal ke empat tahun lalu. Head of Investor Relations Siloam, Joel Ellis, mengatakan perusahaan mampu membukukan kinerja keuangan yang kuat meskipun mendapat tantangan pandemi COVID-19 pada 2020.

Perseroan memang berfokus pada perluasan margin atas layanan yang sudah ada dan layanan yang baru. Sehingga kinerja perusahaan ditutup dengan peningkatan kembali yang tajam pada triwulan keempat.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2020, emiten berkode saham SILO memperoleh pendapatan senilai Rp7,11 triliun pada tahun lalu. Perolehan itu naik 1,31% year-on-year (yoy) dibandingkan 2019 senilai Rp7,01 triliun.

Peningkatan pendapatan pun mengangkat laba perseroan. SILO dengan membukukan laba senilai Rp116,16 miliar pada 2020. Realisasi ini memperlihatkan peningkatan dibandingkan rugi perusahaan sebanyak Rp338,77 miliar pada 2019.

Adapun untuk perincian dari kontribusi pendapatan, pemasukan dari rawat jalan mengalami pertumbuhan 7,85% yoy menjadi Rp3,15 triliun pada 2020 dari sebelumnya Rp2,92 triliun.

Sementara itu, pendapatan dari rawat inap terkontraksi 3,35% yoy menjadi Rp3,95 triliun dari sebelumnya Rp4,09 triliun.

Bisnis SILO Merugi di 2019

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten peritel, PT Matahari Putra Prima Tbk memang sudah mencatatkan rugi sejak tahun buku 2017 hingga 2019. Sebelum mengalami kerugian tiga tahun berturut laba MPPA sempat menurun juga sejak 2016. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam miliar rupiah)

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih7.0185.9655.306
Laba kotor2.2001.9291.651
Laba (rugi) tahun berjalan(333)26104

Dari data tersebut, secara pendapatan bersih SILO memang terus mengalami peningkatan per tahunnya. Namun, hal ini berkebalikan dengan perolehan laba yang justru merugi di 2019. 

Tabel di atas juga memperlihatkan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) membukukan kinerja positif di tahun 2019. Emiten rumah sakit dengan jaringan terbesar di Indonesia itu membukukan kenaikan pendapatan hingga dua digit, yaitu sebesar 17,79%.

SILO memperoleh pendapatan hingga Rp7,02 triliun, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp5,96 triliun.

Adapun capaian kenaikan pendapatan tersebut ditunjang oleh pertumbuhan jumlah pasien RS mencapai 17%. Selain itu, kenaikan tingkat hunian RS yang mencapai 64% di tahun 2019, lebih tinggi dibanding tahun lalu yang berkisar 55%.

Selanjutnya, pendapatan dari segmen rawat inap mencapai Rp4,09 triliun atau setara 58,35% dari total pendapatan. Capain ini tumbuh 16,19% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,52 triliun.

Kemudian untuk segmen rawat jalan memperoleh pendapatan sebesar Rp2,93 triliun atau setara 41,74% dari total pendapatan. Hal ini berarti kenaikan 20,08% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,44 triliun.

Namun, kenaikan pendapatan tidak bisa mengimbangi beban-beban yang mayoritas meningkat, sehingga SILO mencatatkan kerugian tahun 2019. Perusahaan harus menelan rugi Rp338,77 miliar di tahun 2019.

Berikut data rasio keuangan SILO yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan. Perusahaan terlihat dalam keadaan fundamental yang kurang sehat pada 2019:

Rasio2019
ROA-4,30%
ROE-5,56%
NPM-4,74%
GPM31,35%
DER29,30%

Bagaimana Prospek Bisnis SILO Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Emiten rumah sakit (RS) diproyeksi oleh banyak pihak masih memiliki ruang untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja dalam jangka panjang. Pasalnya peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan hingga program vaksinasi akan mendorong pendapatan perusahaan di sektor kesehatan ini.

SILO terus membangun strategi untuk memperkuat kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen akan terus melakukan penguatan SILO untuk menjadi pilihan utama masyarakat dalam layanan kesehatan.

Untuk mencapai hal ini, SILO akan fokus pada strategi pertumbuhan yang berkelanjutan, pengembangan SDM yang unggul, dan pembangunan ekosistem digital yang mendukung.

Sementara itu, dari segi strategi bisnis, SILO akan melakukan penguatan pendapatan dari aset-asetnya. Hal ini dilakukan dengan peningkatan investasi di RS Siloam yang telah menjadi pusat keunggulan. Terlebih saat ini kebutuhan akan layanan kesehatan berkualitas di berbagai daerah semakin meningkat.

Mengutip dari wartaekonomi.co.id, Analis Pasar Modal Sukarno Alatas mengatakan saat ini di tengah pandemi prioritas masyarakat akan tertuju bagaimana menjaga kesehatan keluarga.

Dengan begitu, produk layanan kesehatan akan menjadi pilihan pertama dibanding konsumsi lainnya. Oleh karena itu, emiten kesehatan seperti SILO diyakini akan memiliki kinerja positif dalam jangka panjang.

Sektor kesehatan pun disebutnya masih menarik karena merupakan segmen bisnis yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi untuk sektor rumah sakit ini menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) bagi SILO.

Kinerja emiten kesehatan pun didorong oleh kebijakan pembebasan bea masuk yang akan membuat bahan baku obat dan peralatan medis impor menjadi lebih murah.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait