Ciri Investasi Bodong dan Cara Menghindarinya

ciri-investasi-bodong
ciri-investasi-bodong

Dewasa ini semakin banyak orang Indonesia yang sadar untuk berinvestasi. Sayangnya, tren ini dinanti-nantikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Praktik investasi bodong mulai merajalela dan menarget semua lapisan masyarakat. Ciri investasi bodong ini bisa bermacam-macam.

Salah satu yang paling segar di ingatan banyak orang adalah korban penipuan masal di Kota dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kebanyakan dari mereka adalah eks karyawan PT Tjiwi Kimia (kode saham: TKIM). Mereka sudah melaporkan PT Rofiq Hanifah Sukses (RHS) Group dengan tuduhan penipuan investasi dan penggelapan uang ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Mojokerto.

Karyawan-karyawan eks TKIM mengaku menyerahkan uang untuk investasi secara berkala. Keuntungan yang mereka dapatkan di awal-awal investasi tiba-tiba tidak bisa diambil. Puluhan hingga ratusan juta diduga raup seketika.

Tidak hanya sampai di situ, mantan pegawai-pegawai perusahaan dengan kode saham TKIM tersebut menghadapi masalah baru. Kali ini Kepala Cabang PT RHS Mojokerto dan beberapa pengurusnya yang melaporkan balik 4 orang terduga korban. Mereka dilaporkan atas dugaan fitnah dan ujaran kebencian setelah salah satu korban curhat di televisi dan tiga lainnya bergibah di grup WhatsApp.

Maraknya investasi bodong di Indonesia membuat masyarakat takut untuk berinvestasi atau mungkin bingung memilih lembaga yang terpercaya. Bagaimana cara menghindari tertipu dari penyedia jasa investasi jahat? Ini dia beberapa ciri investasi bodong.

Bunga Lebih Tinggi

Sudah jelas tujuan berinvestasi adalah untuk meraih keuntungan atau uang lebih. Hal seperti itu yang dimanfaatkan oleh para penipu. Mereka akan menjanjikanmu bunga yang sangat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari obligasi pemerintah.

Jika kamu menjumpai orang yang menjanjikanmu keuntungan yang tidak masuk akal, sudah saatnya kamu tolak dan mundur. Ada baiknya kamu membandingkannya dengan bunga Obligasi Ritel Indonesia (ORI), SUN (Surat Utang Negara, atau deposito berjangka yang ditawarkan bank-bank besar.

Membayar Uang Muka

Kasus orang atau lembaga yang kabur setelah menarik uang registrasi atau DP seringkali terjadi dan jumlah korbannya terus bertambah. Mereka biasanya membebani calon nasabah dengan biaya tambahan selain uang yang ingin diinvestasikan.

Tidak Berbadan Hukum dan Tidak Terdaftar di OJK

Jurus paling pamungkas mengidentifikasi bodong adalah mencari tahu apakah lembaga tersebut memiliki badan hukum dan perizinan resmi dari pemerintah. Pastikan lembaga yang menawarkan produk investasi tersebut terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK adalah institusi independen yang bertugas mengatur, mengawasi, menyidik, dan memeriksa sektor jasa keuangan.

Skema Multi-Level Marketing (MLM)

MLM, dikenal juga sebagai skema piramida, merupakan strategi bisnis dan pemasaran produk. Perusahaan MLM memiliki produk investasi dan riil bermacam-macam. Tugas kamu adalah menjual produk tersebut dan mengajak orang untuk bergabung. Semakin banyak produk yang terjual dan orang yang menjadi anggota, semakin besar komisimu.

Akan tetapi, jenis usaha ini sering mendapat kritik. Karena sulitnya mendapat angka penjualan tinggi, beberapa orang rela mengeluarkan uang mereka sendiri untuk membeli produknya. Lalu, MLM memiliki tingkatan membership dengan persyaratan tidak masuk akal.

Berhati-hatilah dalam memilih produk investasi. Jangan tergiur dengan iming-iming hasil yang tinggi, apalagi bila ciri investasi bodong ini sudah terlihat.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait