Bisnis & Kerja Sampingan

Cara Hitung Nilai Penyusutan dengan Metode Garis Lurus

nilai-penyusutan

Ajaib.co.id – Ketika seseorang memilih untuk berbisnis, tentu semua aspek sudah diperhitungkan secara matang. Tak hanya bicara soal keuntungan dan kerugian, tapi akan ada nilai penyusutan dari aset yang dimiliki.

Setiap aset pasti mengalami penurunan nilai dalam jangka waktu tertentu sehingga harus tahu yang namanya penyusutan aktiva agar bisa berkembang secara seimbang. Cara mudah dan sederhana dalam menghitung nilai penyusutan yaitu dengan menggunakan metode garis lurus.

Sebetulnya masih ada beberapa metode lain dalam menghitung nilai penyusutan, yakni metode saldo menurun, metode unit produksi, dan metode jumlah angka tahun. Fungsi dari metode-metode tersebut terbilang sama untuk menghitung seberapa besar suatu perusahaan mengalami penurunan nilai asetnya.

Namun, metode garis lurus ini lebih fleksibel, dimana nilai penurunan aset yang dihitung tidak hanya mencakup gedung, kendaraan, dan mesin. Akan tetapi metode ini berkaitan juga dengan sumber daya alam yang biasa disebut depresiasi.

Sementara dalam laporan keuangan ada dua istilah yang berhubungan dengan depresiasi, yaitu beban penyusutan dan akumulasi penyusutan. Oleh karena itu, cara penghitungan menggunakan metode ini bisa membantu kamu untuk mengetahui nilai aktiva tetap yang akan dipakai dalam laporan pajak maupun akuntansi.

Apa Itu Metode Garis Lurus?

Sebelum itu apakah kamu tahu definisi dari penyusutan? Artinya adalah perpindahan biaya dari beban secara berkala dan sistematis selama masa pakai atau fungsinya. Setiap aset jika digunakan terus menerus akan kehilangan kemampuannya sehingga biaya perolehan aktiva harus dialihkan ke akun beban.

Lalu apakah bisa memiliki lebih banyak jika kita menyusutkan kendaraan bermotor? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab, penyusutan tidak dapat mempengaruhi arus kas namun beban penyusutannya bisa dikurangi guna menghitung nilai laba bersih perusahaan.

Jadi, metode garis lurus atau sebutan lainnya straight line method dapat diartikan sebagai metode perhitungan aktiva yang bertujuan menghasilkan beban penyusutan dengan nilai sama di setiap periode pembukuan selama masa aktiva masih berjalan.

Metode ini paling sering digunakan oleh banyak perusahaan untuk menghitung besaran nilai dari penyusutan aset tetap, peralatan, serta bangunan. Akan tetapi ada satu aktiva yang nilainya tidak menyusut, yaitu tanah.

Nilai tanah justru cenderung semakin naik dari waktu ke waktu. Nilai aktiva bisa berkurang bila barang tersebut digunakan terus menerus.

Kesalahpahaman dalam Mengartikan Penyusutan

Tidak sedikit yang masih belum memahami betul dalam mengartikan penyusutan. Beberapa kesalahpahaman tersebut di antaranya yakni:

1.    Penurunan Nilai Pasar Aset

Penjelasan mengenai penurunan nilai pasar pada suatu aset seringkali disalahartikan dalam dunia akuntansi, dimana istilah ini sama halnya yang dipakai dalam dunia bisnis.

Namun, jumlah biaya aset tetap yang tak terpakai dan dilaporkan dalam laporan neraca punya nilai yang tidak sama dengan jumlah yang direalisasikan dari penjualan. Aktivitas tetap umumnya disimpan supaya bisa digunakan, bukan dijual kembali.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah perusahaan yang menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan, maka saat mengambil keputusan untuk menjual aktiva tetap harus berdasarkan pada fungsi aset perusahaan, bukan berdasarkan nilai pasar.

2.    Jumlah Kas Dipakai Ganti Kekurangan Kemampuan Aset

Kesalahpahaman lainnya yaitu akuntansi untuk penyusutan. Maksudnya di dalam memperlihatkan jumlah kas yang diperlukan untuk dapat mengganti aset tetap setelah mengalami penurunan kemampuannya dalam menyediakan jasa.

Kemungkinan besar kesalahpahaman tersebut dikarenakan penyusutan, di mana tidak membutuhkan pengeluaran kas pada periode pembukuan. Jurnal periodik akan memindahkan biaya aset tetap ke beban penyusutan supaya menimbulkan kenaikan maupun penurunan pada akun kas.

Menghitung Penyusutan Aset dengan Metode Garis Lurus

Dalam menghitung nilai penyusutan aset, banyak perusahaan menggunakan metode garis lurus. Alasannya karena metode ini lebih menekankan kepada aspek waktu daripada kegunaannya sehingga penghitungannya jadi lebih mudah.

Setidaknya ada tiga pernyataan yang dapat memastikan perusahaan menerapkan metode satu ini, yaitu:

·      Pemakaian ekonomis dan aktiva menurun merupakan proporsional di setiap periode.

·      Biaya yang tampak tidak dipengaruhi oleh penyimpangan produktivitas atau efisiensi.

·      Pengeluaran untuk pemeliharaan pada suatu periode dengan nilai yang relatif stabil.

Sementara beberapa alasan yang membuat perusahaan memilih menghitung nilai penyusutan dengan metode garis lurus, di antaranya adalah:

·      Penggunaannya lebih mudah diaplikasikan untuk akuntansi dan menentukan besaran tarif penyusutan.

·      Manfaat ekonomi aktiva yang dimiliki perusahaan nilainya sama setiap tahunnya.

·      Biaya pemeliharaan dan perbaikan dianggap sama setiap tahunnya.

·      Keuntungan yang dihasilkan bukan menandakan tingkat pengembalian yang sebenarnya dari umur pemakaian aset tetap.

·      Beban penyusutan yang dihasilkan tidak menunjukkan usaha dan upaya yang dijalankan dalam mencetak pendapatan.

Bagaimana menghitung nilai penyusutan menggunakan metode garis lurus? Biar lebih jelas, berikut rumus beserta contoh penghitungannya.

Rumus:

Depresiasi = (HP – NS) / n

Keterangan:

HP: Harga Perolehan

NS: Nilai Sisa

n: perkiraan umur pemakaian

Contoh kasus:

Perusahaan percetakan membeli mesin cetak seharga Rp100.000.000 di awal tahun. Sementara nilai sisanya sebesar Rp10.000.000 dan umur ekonomis mesin selama 10 tahun. Cara perhitungannya adalah:

Penyusutan per tahun = (HP-NS)/n

= (100.000.000–10.000.000)/10

= 90.000.000 / 10

= Rp9.000.000

Apabila dibuat ke dalam tabel, maka nilai penyusutan dan akumulasi mesin cetak yang dibeli perusahaan adalah sebagai berikut.

Akhir Tahun Ke- Biaya Penyusutan (Debet) Akumulasi Penyusutan (Kredit) Nilai Buku
         100.000.000
1 9.000.000 9.000.000      91.000.000
2 9.000.000 18.000.000      82.000.000
3 9.000.000 27.000.000      73.000.000
4 9.000.000 36.000.000      64.000.000
5 9.000.000 45.000.000      55.000.000
  45.000.000  

Nilai penyusutan bisa diperoleh dari mengurangi biaya perolehan aset tetap dengan jumlah residunya, lalu dibagi dengan nilai estimasi masa kegunaan.

Apabila dalam satu tahun aset hanya digunakan selama beberapa waktu saja, berarti penyusutan tahunannya dapat dihitung secara proporsional. Caranya dengan mengubahnya menjadi presentase dari biaya yang disusutkan tadi.

Artikel Terkait