7 Saham Perbankan Terbaik dengan Potensi Return Tinggi untuk Investasi Jangka Panjang
Sarifa•June 22, 2026

Ringkasan
- Saham perbankan menawarkan kombinasi dividen rutin dan potensi capital gain, dengan bank besar cenderung lebih stabil sementara bank menengah menyimpan peluang pertumbuhan lebih tinggi.
- Tujuh saham bank, BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, BRIS, BBTN, dan BNGA, masing-masing memiliki karakteristik unik yang cocok untuk profil investor berbeda.
- Strategi buy and hold, DCA, dan dividend reinvestment adalah tiga pendekatan utama yang bisa kamu terapkan untuk memaksimalkan return jangka panjang dari saham perbankan.
Sektor perbankan adalah salah satu sektor yang paling sering masuk portofolio investor karena kombinasi stabilitas, dividen rutin, dan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Tapi tidak semua saham bank cocok untuk semua jenis investor, artikel ini hadir untuk membantu kamu memahami perbedaannya sebelum mengambil keputusan.
Saham Perbankan di Indonesia
Bank adalah tulang punggung ekonomi. Tanpa bank, arus uang dalam negeri tersendat, bisnis sulit berkembang, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Inilah kenapa saham dengan fundamental menarik dari sektor perbankan selalu masuk radar investor, baik pemula maupun profesional.
Yang membuat sektor ini beda dari yang lain: permintaannya relatif stabil, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara aktif menjaga kesehatan industri ini lewat regulasi ketat. Data OJK per April 2026 menunjukkan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan nasional berada di level 23,97% dan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di 2,17%. Saham-saham bank juga menjadi motor utama penguatan IHSG—BBCA saja pernah menyumbang 32,79 poin dalam sehari, sementara BMRI menyumbang 23,47 poin. Jadi ketika kamu melihat IHSG bergerak, besar kemungkinan saham bank sedang jadi aktor utamanya.
Mengapa Sektor Perbankan Konsisten Jadi Pilihan Investor Jangka Panjang?
1. Dividen Rutin sebagai Sumber Passive Income
Bank-bank besar Indonesia umumnya membagikan dividen tiap tahun dari laba bersih yang konsisten. Konsepnya sederhana: semakin besar dividen per saham dibanding harga beli, semakin menarik dividend yield-nya. Ada dua strategi yang bisa kamu pilih, mengejar dividen tinggi untuk passive income atau memburu capital gain jangka panjang. Keduanya sama-sama menguntungkan, tergantung tujuan investasi kamu.
2. Regulasi Ketat OJK yang Jadi “Tameng” Investor
OJK mewajibkan bank menjaga rasio kecukupan modal (CAR), batas kredit bermasalah (NPL), dan likuiditas. Ini membuat sektor perbankan lebih transparan dan termonitor dibanding sektor lain.
Untuk memahami skala bank, kenali dulu KBMI (Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti) yang dikelompokkan OJK:
| Kelompok | Modal Inti | Karakteristik |
|---|---|---|
| KBMI I | < Rp6 triliun | Bank skala kecil, risiko lebih tinggi |
| KBMI II | Rp6–14 triliun | Bank menengah, mulai stabil |
| KBMI III | Rp14–70 triliun | Bank besar, likuiditas kuat |
| KBMI IV | > Rp70 triliun | Bank raksasa, paling aman secara sistemik |
Bank besar (Big Four) umumnya masuk KBMI III–IV, sementara bank menengah seperti BNGA dan BBTN berada di KBMI II–III.
5 Indikator Kunci Sebelum Memilih Saham Bank
Sebelum masuk ke daftar saham, penting untuk memahami “alat ukur” yang dipakai investor. Indikator berikut saling melengkapi, bukan berdiri sendiri:
| Indikator | Apa yang Diukur | Interpretasi Sederhana |
|---|---|---|
| ROE (Return on Equity) | Efisiensi bank dalam menghasilkan laba dari modal sendiri | Semakin tinggi, semakin baik bank “menggandakan” uang pemegang saham |
| ROA (Return on Assets) | Efisiensi bank dalam menggunakan seluruh asetnya | Di atas 2% sudah tergolong sangat sehat untuk bank |
| NIM (Net Interest Margin) | Selisih bunga pinjaman vs bunga dana | NIM tinggi = bank untung besar dari bisnis kredit |
| NPL (Non-Performing Loan) | Rasio kredit macet | Makin rendah makin baik; di bawah 3% masih tergolong sehat |
| CAR (Capital Adequacy Ratio) | Kekuatan modal bank menyerap risiko | Di atas 20% sangat solid; rata-rata industri ~24% |
| PBV (Price to Book Value) | Harga saham vs nilai buku bank | PBV di bawah 1 = murah (undervalued); di atas 2 = mahal |
| Dividend Yield | Dividen tahunan ÷ harga saham | Makin tinggi, makin besar arus kas pasif yang bisa kamu dapat |
7 Saham Perbankan yang Sering Masuk Radar Investor Jangka Panjang
Daftar ini mencakup kombinasi bank besar (big cap) dan bank menengah dengan karakteristik berbeda—disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investor. Ini bukan rekomendasi beli/jual, melainkan panduan untuk mulai riset lebih lanjut.
| Kode | Nama Bank | Segmen Utama | Karakter Investasi |
|---|---|---|---|
| BBCA | BCA | Konsumer & korporasi | Defensif, stabil, blue chip |
| BBRI | BRI | UMKM & mikro | Dividen tinggi, growth dari inklusi keuangan |
| BMRI | Bank Mandiri | Korporasi & infrastruktur | Defensif, likuid, favorit institusi |
| BBNI | BNI | Korporasi & ekspor-impor | Valuasi murah, potensi re-rating |
| BRIS | BSI (Bank Syariah Indonesia) | Perbankan syariah | Growth struktural, unik |
| BBTN | BTN | KPR & perumahan | Sector play kebijakan pemerintah |
| BNGA | CIMB Niaga | Ritel & korporasi menengah | Diversifikasi di luar Big Four |
1. BBCA
BBCA sering disebut “standar emas” perbankan Indonesia. Di Q1 2026, BCA membukukan laba bersih Rp14,7 triliun, tumbuh 3,8% secara tahunan. Total kredit mencapai Rp994 triliun dengan pertumbuhan 5,6% YoY.
Keunggulan kompetitif BBCA ada pada CASA (Current Account Savings Account) yang mencapai 85,2% dari total dana pihak ketiga, artinya biaya dana BBCA jauh lebih rendah dibanding bank lain. Rasio CAR BBCA juga sangat solid di kisaran 29,9%.
Cocok untuk investor yang mengutamakan stabilitas dan capital gain jangka panjang, meski dividend yield-nya tidak setinggi BBRI.
2. BBRI
BBRI fokus pada segmen UMKM dan mikro yang membuat NIM-nya cenderung lebih tinggi dibanding bank korporasi. Di Q1 2026, BRI mencatat laba bersih Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7% YoY, tertinggi di antara bank besar. Kredit yang disalurkan mencapai Rp1.562 triliun, mayoritas ke UMKM.
BBRI terintegrasi dengan Pegadaian dan PNM dalam Holding Ultra Mikro, memperkuat ekosistem keuangan inklusi. Saham ini menarik bagi investor yang menginginkan bank dengan dividend yield tertinggi, meski perlu dicermati NPL yang naik ke 3,31% di Q1 2026, risiko kualitas aset di segmen mikro yang lebih rentan.
3. BMRI
BMRI dominan di pembiayaan proyek korporasi besar dan infrastruktur nasional. Laba bersih Q1 2026 mencapai Rp15,4 triliun, naik 16% YoY, dengan pertumbuhan kredit 16,2%.
Kombinasi skala bisnis, jaringan luas, dan disiplin manajemen risiko membuat BMRI menjadi saham yang banyak dipilih investor institusi. NIM tercatat 4,3% dengan NPL hanya 1,0%, sangat sehat. Secara teknikal dan fundamental, BMRI sering menjadi pilihan ketika kredit korporasi dan belanja infrastruktur pemerintah sedang tumbuh.
4. BBNI
BBNI memiliki fokus pada segmen korporasi dan ekspansi internasional. Di empat bulan pertama 2026, laba bersih mencapai Rp7,29 triliun, tumbuh 6% YoY, dengan pertumbuhan kredit mengakselerasi ke 21%. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh kuat 26% YoY menjadi Rp1.023 triliun.
Yang menarik: valuasi BBNI secara historis lebih rendah dibanding Big Four lainnya. Ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang yang meyakini adanya ruang untuk re-rating valuasi. Perlu dicatat bahwa NIM BBNI terkompresi ke 3,9%, jadi cek laporan keuangan terbaru untuk memahami kondisi terkini sebelum masuk.
5. BRIS
BRIS adalah bank syariah terbesar Indonesia, hasil merger tiga bank syariah BUMN. Di Q1 2026, BRIS mencatat laba bersih Rp2,2 triliun, tumbuh 17,1% YoY. Total aset mencapai Rp460 triliun dengan DPK Rp377 triliun.
Daya tarik BRIS bagi investor yang mencari eksposur ke segmen syariah yang terus tumbuh seiring meningkatnya populasi Muslim yang financially aware. Profil pertumbuhan BRIS berbeda dari bank konvensional, lebih cocok untuk investor yang percaya pada pertumbuhan struktural segmen syariah dalam jangka panjang. Industri perbankan syariah sendiri mencatat pertumbuhan aset dua digit 10,49% YoY hingga Maret 2026.
6. BBTN
BBTN punya keunikan sebagai bank dengan spesialisasi pembiayaan perumahan (KPR), khususnya KPR subsidi FLPP untuk segmen MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Performa BBTN sangat berkaitan dengan kebijakan perumahan pemerintah, ini menjadi faktor katalis sekaligus risiko.
BBTN menjadi penerima manfaat utama program Tiga Juta Rumah. Laba bank only naik 21,1% YoY hingga November 2025. Proses spin-off unit syariah dan akuisisi Bank Victoria Syariah juga relevan untuk prospek jangka menengah-panjang.
7. BNGA
BNGA (CIMB Niaga) adalah salah satu bank swasta terbesar yang secara konsisten mencatatkan pertumbuhan laba dan menjaga kualitas aset. Di antara bank menengah, BNGA sering menjadi pilihan investor yang ingin diversifikasi di luar Big Four tapi tetap masuk emiten dengan fundamental terukur.
ROE BNGA diproyeksikan sekitar 12%, di atas rata-rata industri menengah. Modal inti BNGA yang solid membuatnya masuk KBMI III, menjadikan saham ini patut dicermati meskipun likuiditasnya tidak selikuid Big Four.
Bank Besar vs. Bank Menengah: Mana yang Lebih Cocok untuk Portofoliomu?
Inilah perbandingan praktis yang jarang dibahas tuntas:
| Aspek | Bank Besar (Big Four) | Bank Menengah |
|---|---|---|
| Likuiditas saham | Sangat tinggi, mudah beli-jual | Sedang, kadang illiquid |
| Potensi dividen | Stabil, relatif prediktif | Bisa lebih tinggi, tapi kurang konsisten |
| Volatilitas harga | Relatif rendah | Lebih fluktuatif |
| Risiko bisnis | Rendah (too big to fail) | Sedang—lebih rentan terhadap guncangan |
| Cocok untuk profil | Pemula & konservatif | Investor agresif & eksploratif |
Tidak ada yang mutlak lebih baik, pilihan tergantung pada tujuan, toleransi risiko, dan horizon waktu investasi kamu.
Strategi Berinvestasi di Saham Bank untuk Jangka Panjang
Ada tiga pendekatan umum yang dipakai investor jangka panjang di saham bank:
- Buy and hold. Membeli saham fundamental kuat dan menahannya dalam jangka panjang. Ini strategi paling sederhana dan paling terbukti untuk buy and hold investor seperti Warren Buffett.
- DCA (Dollar-Cost Averaging). Membeli secara rutin terlepas dari kondisi harga. Dengan DCA, kamu rata-rata membeli di harga tinggi dan rendah, mengurangi risiko salah timing.
- Dividend Reinvestment. Memutar dividen yang diterima kembali ke saham untuk efek compounding. Ini cara ampuh membangun kekayaan jangka panjang tanpa perlu modal tambahan.
Catatan penting: kondisi suku bunga (BI Rate) perlu diperhatikan karena berdampak pada NIM dan daya beli kredit. Saat BI Rate naik, pengaruh kenaikan suku bunga terhadap saham perbankan bisa beragam, di satu sisi NIM bisa meningkat, di sisi lain kredit bisa melambat.
Kenapa Momen Suku Bunga Turun Biasanya Jadi Katalis Positif Saham Bank?
Mekanismenya sederhana: ketika BI Rate turun → biaya dana bank ikut turun → margin keuntungan bank bisa terjaga atau bahkan melebar → permintaan kredit terdorong naik. Di sisi lain, penurunan suku bunga juga membuat saham bank lebih menarik dibanding deposito, mendorong arus masuk investor ke pasar saham.
Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Investasi di Saham Perbankan
Investasi selalu punya risiko dan memahami risiko adalah bagian dari proses yang bertanggung jawab, bukan alasan untuk tidak berinvestasi. Berikut risiko yang relevan:
- Risiko kredit bermasalah (NPL) — NPL bisa naik saat ekonomi melambat, terutama di bank dengan eksposur UMKM tinggi seperti BBRI.
- Risiko suku bunga — Kenaikan BI Rate bisa menekan NIM jika biaya dana naik lebih cepat dari yield kredit.
- Volatilitas harga saham — Sentimen pasar global, seperti inflasi AS atau geopolitik, bisa membuat harga saham bank fluktuatif.
- Risiko kebijakan regulasi — Perubahan aturan OJK terkait modal minimum atau pencadangan bisa mempengaruhi profitabilitas bank.
Mulai Koleksi Saham Perbankan Terbaik Sekarang di Ajaib
Investasi saham jangka panjang dimulai dari satu langkah kecil: membuka rekening dan mulai belajar. investasi saham tidak harus rumit, Ajaib hadir sebagai platform yang memudahkan siapa pun untuk mulai tanpa harus menjadi ahli keuangan terlebih dahulu.
Setiap perjalanan investasi dimulai dari langkah pertama. Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai koleksi saham perbankan terbaik untuk masa depan keuangan kamu.
FAQ
Apakah saham bank aman untuk pemula?
Saham bank besar seperti BBCA dan BMRI relatif aman untuk pemula karena likuiditas tinggi, fundamental kuat, dan diawasi ketat OJK. Namun tetap ingat: tidak ada saham yang 100% aman—selalu lakukan riset dan sesuaikan dengan profil risiko kamu.
Saham bank mana yang cocok untuk tujuan dividen?
BBRI dikenal sebagai bank dengan dividend yield tertinggi di antara bank besar, berkat fokusnya pada segmen UMKM dengan margin bunga yang lebih tinggi. BMRI dan BBCA juga konsisten membagikan dividen, meski yield-nya biasanya di bawah BBRI.
Berapa lama sebaiknya memegang saham bank untuk hasil maksimal?
Investasi saham bank untuk hasil maksimal idealnya di atas 5–10 tahun. Horizon panjang memberi waktu bagi efek compounding dividen dan pertumbuhan bisnis bank bekerja. Strategi buy and hold terbukti paling efektif untuk saham-saham fundamental kuat.
Apa bedanya saham bank syariah dan konvensional untuk investasi?
Bank syariah (seperti BRIS) beroperasi tanpa bunga—menggunakan sistem bagi hasil dan akad sesuai prinsip Islam. Secara investasi, bank syariah menawarkan eksposur ke segmen pasar yang terus tumbuh, dengan profil risiko dan return yang bisa berbeda dari bank konvensional.
Bagaimana cara mulai beli saham bank untuk pertama kali?
Buka rekening efek di sekuritas terdaftar OJK seperti Ajaib, lakukan verifikasi data, setor dana, lalu pilih saham bank yang sesuai profil risiko kamu. Mulai dengan nominal kecil sambil belajar—investasi adalah perjalanan, bukan perlombaan.
Artikel Terkait



Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

