Pairs Trading: Strategi Memanfaatkan Perbedaan Harga Dua Saham untuk Mencari Peluang Trading
Sarifa•July 31, 2026

Ringkasan
- Pairs trading memanfaatkan selisih harga dua saham yang secara historis bergerak berbarengan, bukan menebak arah pasar secara keseluruhan.
- Musim dividen sering membuat selisih ini lebih terlihat karena jadwal cum-date dan ex-date antar emiten sejenis biasanya tidak bersamaan.
- Versi pairs trading yang realistis untuk pemula di pasar Indonesia perlu disesuaikan karena ada batasan akses pada transaksi short selling.
Pernahkah kamu memperhatikan dua saham dari sektor yang sama, tapi harganya bergerak tidak sama persis? Kadang satu lebih cepat naik, yang lain lebih lambat. Atau satu turun lebih dalam, sementara pasangannya hanya sedikit terkoreksi. Perbedaan inilah yang coba dimanfaatkan oleh pairs trading—strategi yang melatihmu berpikir relatif, bukan sekadar menebak arah pasar. Artikel ini akan membahas logika dasar pairs trading, kaitannya dengan musim dividen, dan cara realistis mencobanya di pasar Indonesia.
Kenapa Selisih Harga Dua Saham Bisa Jadi Latihan Trading yang Berharga
Bagi kamu yang ingin mengasah skill trading lebih lanjut, pairs trading menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya menebak naik-turunnya satu saham, pairs trading melatih cara berpikir relatif—membandingkan performa dua saham yang biasanya bergerak searah. Cara berpikir ini kebetulan makin relevan saat musim dividen tiba, karena periode ini sering memunculkan selisih harga yang lebih terlihat antar saham sejenis.
Mengenal Logika Dasar di Balik Pairs Trading
Strategi ini bertumpu pada tiga logika utama:
1. Memilih Dua Saham yang Secara Historis Bergerak Berbarengan
Langkah pertama adalah menemukan dua saham, biasanya dari sektor atau model bisnis yang mirip, yang pergerakan harganya cenderung searah dalam jangka panjang. Misalnya, dua saham perbankan besar, dua saham consumer goods, atau dua saham telekomunikasi. Kemiripan sektor menjadi faktor penting karena perusahaan di sektor yang sama menghadapi faktor makro dan dinamika industri yang serupa.
2. Membaca Selisih Harga sebagai Sinyal Peluang
Ketika dua saham yang biasanya bergerak searah tiba-tiba menunjukkan selisih harga yang melebar dari pola biasanya, itu bisa dibaca sebagai sinyal peluang. Satu saham menjadi relatif lebih mahal dibandingkan pasangannya, atau sebaliknya. Kamu tidak perlu rumus statistik yang rumit—cukup amati apakah selisihnya berada di luar rentang normal yang biasa terjadi.
3. Menunggu Selisih Kembali ke Pola Normalnya
Logika di balik strategi ini sederhana: setelah selisih melebar, ada ekspektasi bahwa kedua saham akan kembali bergerak searah seperti pola historisnya. Saham yang relatif tertinggal akan “mengejar”, atau saham yang terlalu cepat naik akan terkoreksi. Perlu diingat: ini adalah ekspektasi berbasis pola masa lalu, bukan jaminan pasti.
Kenapa Musim Dividen Membuat Selisih Harga Dua Saham Lebih Terlihat
Inilah insight yang jarang dibahas: emiten-emiten sejenis biasanya punya jadwal cum-date dan ex-date yang tidak bersamaan. Saat satu saham sudah melewati ex-date dan harganya terkoreksi—karena pembeli setelah tanggal itu tidak lagi berhak atas dividen—sementara pasangannya belum, muncullah selisih harga yang lebih terlihat dibanding hari-hari biasa.
Contoh nyata: pada Juni 2026, sejumlah emiten menetapkan tanggal cum dividend di pasar reguler dan negosiasi pada 8 Juni 2026, dengan ex dividend pada 9 Juni 2026. Sementara emiten lain menetapkan cum date pada 29 Mei 2026 dan ex date pada 2 Juni 2026. Perbedaan jadwal antar emiten sejenis ini—misalnya antar emiten perbankan atau consumer goods—dapat menciptakan selisih harga yang cukup terlihat dalam periode yang sama.
Selain itu, pada awal Juni 2026, terdapat 19 emiten yang membagikan dividen tunai dengan jadwal yang tersebar. Bahkan pada 24 Juni 2026 saja, ada 6 saham yang sedang dalam masa cum date. Bagi pelaku pairs trading, ini adalah momen di mana selisih harga antar saham sejenis menjadi lebih teramati.
Versi Pairs Trading yang Realistis untuk Pemula di Pasar Saham Indonesia
Pairs trading klasik biasanya melibatkan membeli satu saham (long) sekaligus menjual short saham lainnya. Namun, transaksi short selling di pasar saham Indonesia punya sejumlah tantangan.
BEI telah menunda implementasi fasilitas pembiayaan dan pelaksanaan transaksi short selling hingga 14 September 2026. BEI juga tidak menerbitkan Daftar Efek Short Selling sampai dengan tanggal tersebut. Meskipun aturan sebelumnya mensyaratkan dana jaminan awal minimal Rp50 juta bagi investor yang ingin bertransaksi short selling, fasilitas ini belum tersedia secara luas.
Alternatif yang lebih realistis untuk pemula: mengalihkan alokasi dana antara dua saham pasangan tersebut. Kamu bisa mengurangi porsi di saham yang sedang relatif “mahal” dan menambah porsi di saham yang relatif “murah” dalam pasangan itu—tanpa perlu transaksi short.
Menyusun Latihan Pairs Trading Pertama Selama Musim Dividen
Latihan ini bisa disusun lewat tiga langkah praktis:
1. Menentukan Dua Kandidat Saham Sejenis
Pilih dua saham dari sektor yang sama dan punya pola pergerakan historis yang mirip. Misalnya, dua emiten perbankan besar atau dua emiten consumer goods. Kamu bisa mengamati pergerakan harga mereka dalam 3–6 bulan terakhir—apakah cenderung naik dan turun bersamaan?
2. Menetapkan Titik Masuk Berdasarkan Selisih yang Melebar
Tentukan kapan selisih harga dianggap cukup lebar untuk mulai dicermati. Caranya: bandingkan selisih saat ini dengan rentang selisih normal di periode-periode sebelumnya. Jika selisih saat ini berada di luar rata-rata historisnya, itu bisa menjadi sinyal untuk mulai memperhatikan.
3. Menentukan Titik Keluar dan Batas Risiko
Tetapkan target kapan posisi ditutup—misalnya saat selisih kembali menyempit ke rentang normal. Juga tentukan batas kerugian jika ternyata pola historisnya tidak terulang. Disiplin pada dua batas ini penting, terutama bagi kamu yang masih dalam tahap belajar.
Risiko dan Batasan yang Perlu Dipahami Sebelum Mencoba
Pairs trading bukan strategi tanpa risiko. Beberapa keterbatasan yang perlu kamu pahami:
- Pola pergerakan searah bisa berubah permanen kalau ada perubahan fundamental di salah satu perusahaan—misalnya akuisisi, perubahan manajemen, atau penurunan kinerja bisnis.
- Efek musiman dividen tidak selalu berulang persis setiap tahun. Besaran dividen, jadwal, dan respons pasar bisa berbeda dari tahun ke tahun.
- Strategi ini butuh kesabaran—selisih harga tidak selalu kembali normal dalam waktu singkat. Kadang butuh berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Tapi jangan khawatir—ini bukan alasan untuk menghindari strategi ini. Justru dengan memahami risikonya, kamu bisa lebih siap dan tidak panik saat pasar bergerak tidak sesuai ekspektasi.
Mulai Asah Skill Pairs Trading-mu di Ajaib
Mengasah strategi seperti pairs trading butuh kemudahan memantau beberapa saham sekaligus secara berdampingan, mengelompokkan kandidat saham sejenis lewat kategori sektor, dan mengakses materi belajar yang mendukung—sambil tetap bisa bertransaksi dengan mudah tanpa harus berurusan dengan mekanisme short selling yang rumit bagi pemula.
Ini semua adalah bagian dari kebiasaan investasi saham yang lebih terarah. Ajaib dirancang untuk mendukung proses belajar sekaligus praktik itu dalam satu aplikasi.
Download aplikasi Ajaib sekarang untuk mulai mempraktikkan latihan pairs trading yang sudah kita bahas di artikel ini!
FAQ
1. Apakah pairs trading butuh modal besar?
Tidak harus. Kamu bisa memulai dengan modal sesuai kemampuanmu—bahkan dengan versi sederhana (mengalihkan alokasi dana tanpa short selling), modal yang dibutuhkan tidak berbeda dengan transaksi saham biasa.
2. Apakah strategi ini bisa dilakukan tanpa short selling?
Bisa. Alternatifnya: kurangi porsi di saham yang relatif mahal, tambah porsi di saham yang relatif murah dalam pasangan tersebut. Ini lebih realistis untuk pemula di pasar Indonesia.
3. Seberapa sering peluang pairs trading muncul di musim dividen?
Cukup sering. Karena jadwal cum-date dan ex-date antar emiten sejenis biasanya tidak bersamaan, selisih harga antar saham sejenis menjadi lebih terlihat. Kamu bisa memantaunya selama periode pembagian dividen yang biasanya terkonsentrasi di bulan-bulan tertentu.
4. Apakah strategi ini cocok untuk saham dengan likuiditas rendah?
Kurang cocok. Saham dengan likuiditas rendah sulit untuk entry dan exit di harga yang diinginkan. Sebaiknya pilih saham dengan volume transaksi harian yang cukup tinggi agar strategi ini bisa dijalankan dengan lebih efektif.
Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi dan informasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan keuangan.
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
