Rekomendasi Saham AS Dividen Tinggi untuk Passive Income dan Nabung USD
Sarifa•June 3, 2026

Semakin banyak investor Indonesia yang mulai melirik saham AS bukan hanya karena potensi kenaikan harganya, tapi juga karena satu hal sederhana: dividen dalam dolar AS yang dibayar rutin setiap kuartal. Strategi ini makin populer sebagai cara membangun passive income jangka panjang sekaligus mendiversifikasi portofolio ke aset berbasis USD. Tapi perlu diingat, tidak semua saham dividen cocok untuk jangka panjang. Yield tinggi bisa jadi menarik di permukaan, tapi bisa datang bersama risiko bisnis yang perlu kamu pahami. Artikel ini membahas rekomendasi saham AS large-cap dengan dividen menarik yang sering dipilih investor income investing, lengkap dengan data terbaru per Mei 2026.
Kenapa Banyak Investor Mulai Nabung Saham AS untuk Passive Income?
Ada beberapa alasan konkret kenapa strategi ini makin banyak dilirik:
- Dividen dibayar dalam USD. Buat investor Indonesia, ini sekaligus jadi cara cara menabung dollar secara rutin dan organik, dolar masuk ke akun setiap kuartal tanpa perlu beli manual.
- Mayoritas saham AS bayar dividen quarterly. Artinya kamu bisa menerima cash flow yang lebih teratur dibanding banyak emiten lokal yang bayar setahun sekali.
- Pilihan sektor jauh lebih luas. Dari farmasi, telekomunikasi, consumer staples, hingga REIT semuanya tersedia dengan likuiditas tinggi.
- Histori dividend growth puluhan tahun. Banyak perusahaan AS yang sudah menaikkan dividennya selama 50–70 tahun berturut-turut. Ini bukan sekadar janji, tapi track record nyata.
- Diversifikasi mata uang. Memegang aset berbasis USD membantu menjaga daya beli jangka panjang, terutama di tengah fluktuasi rupiah.
Untuk investor pemula hingga menengah, kombinasi antara cash flow rutin dalam dolar dan pilihan saham yang stabil menjadi daya tarik utama strategi ini.
Apa Itu Dividend Yield dan Kenapa Penting untuk Investor Passive Income?
Dividend yield adalah persentase dividen tahunan dibandingkan harga saham saat ini.
Contoh sederhana: Kalau sebuah saham harganya $100 dan membayar dividen $4 per tahun, maka dividend yield-nya adalah 4%.
Tapi ada satu hal penting yang sering disalahpahami: yield tinggi belum tentu lebih baik. Yield bisa terlihat besar justru karena harga saham sedang turun tajam, bukan karena dividennya naik. Ini yang disebut yield trap.
Supaya tidak terjebak, kamu perlu melihat kombinasi dari:
- Yield: berapa persentase yang kamu terima?
- Kondisi bisnis: apakah perusahaannya masih sehat?
- Payout ratio: berapa persen dari laba yang dibagikan sebagai dividen?
- Free cash flow: apakah perusahaan punya cukup kas untuk terus membayar dividen?
Hal yang Perlu Dicek Sebelum Membeli Saham Dividen AS
Sebelum kamu beli, ada 6 metrik yang wajib kamu cek:
- Dividend Yield: Indikator pertama yang sering dilihat. Tapi ingat, ini hanya titik awal, bukan satu-satunya penentu.
- Payout Ratio: Persentase laba yang dipakai untuk bayar dividen. Payout ratio >90% perlu diwaspadai karena ruang untuk mempertahankan dividen saat kondisi bisnis memburuk jadi sempit.
- Free Cash Flow (FCF): Kas nyata yang dihasilkan perusahaan setelah capex. Dividen yang dibayar dari FCF jauh lebih aman dibanding yang bergantung pada utang.
- Dividend Growth / Streak: Sudah berapa tahun perusahaan menaikkan dividen secara konsisten? Semakin panjang streak-nya, semakin teruji komitmen manajemen.
- Kondisi Sektor dan Prospek Bisnis: Apakah industrinya sedang tumbuh, stagnasi, atau menyusut? Bisnis yang shrinking bisa memaksa perusahaan memotong dividen di masa depan.
- Frekuensi Pembayaran Dividen: Mayoritas saham AS bayar quarterly, tapi ada yang monthly. Sesuaikan dengan kebutuhan cash flow kamu.
Tips Nabung USD untuk Jangka Panjang
Beberapa strategi sederhana untuk membangun eksposur dolar AS melalui investasi saham dividen:
- Mulai rutin dengan nominal kecil melalui DCA (Dollar-Cost Averaging). Beli secara berkala tanpa perlu menebak-nebak kapan harga paling rendah.
- Fokus pada saham dengan bisnis stabil dan dividend history panjang. Perusahaan dengan 20–60 tahun consecutive dividend increase sudah terbukti melewati berbagai krisis.
- Jangan hanya mengejar yield tertinggi. Yield 7% terdengar menarik, tapi kalau bisnis sedang melemah, risiko dividend cut jauh lebih besar.
- Reinvest dividen untuk compounding. Dividen yang diinvestasikan kembali bisa mempercepat pertumbuhan portofolio secara eksponensial dalam jangka panjang.
- Diversifikasi antar sektor. Jangan konsentrasi hanya di satu sektor, kombinasikan telecom, consumer staples, healthcare, dan REIT untuk spread risiko.
Tips nabung USD yang paling efektif adalah konsistensi jangka panjang, bukan mencari keuntungan cepat.
Rekomendasi Saham AS dengan Dividen Tinggi
Rekomendasi berikut merujuk pada riset Financial Expert Ajaib Sekuritas, Miftahul Khaer, yang menyoroti saham-saham large-cap AS dengan dividend yield menarik, histori pembayaran dividen konsisten, dan fundamental bisnis yang masih relevan untuk investor income jangka panjang. Fokus riset bukan hanya mencari yield tertinggi, tapi juga mempertimbangkan sustainability dividen, cash flow, payout ratio, dan ketahanan bisnis di berbagai kondisi ekonomi. Setiap saham punya karakter, risiko, dan profil income yang berbeda, sesuaikan dengan tujuan investasi kamu.
1. Pfizer (PFE)
Yield: ~6.7% | Sektor: Healthcare | Frekuensi: Quarterly
Pfizer adalah perusahaan farmasi global dengan dividen quarterly $0.43 per share (total tahunan $1.72). Yield-nya yang tinggi — tertinggi di antara peer pharma besar seperti J&J (~2.6%) atau Merck (~2.9%) — sebagian besar mencerminkan tekanan harga saham pasca-COVID, bukan kenaikan dividen.
Yang perlu kamu perhatikan: payout ratio GAAP PFE sudah di atas 100%, artinya secara teknis perusahaan membayar dividen melebihi laba GAAP-nya. FCF masih cukup menutup, tapi tipis. Ditambah dengan ancaman patent cliff yang akan datang, yield tinggi PFE datang bersama risiko yang lebih besar dari rata-rata. Saham ini lebih cocok untuk investor yang benar-benar memahami risikonya.
2. Altria (MO)
Yield: ~5.9% | Sektor: Tobacco | Frekuensi: Quarterly
Altria adalah salah satu saham dividend income paling populer di kalangan investor income, dengan 56 kali kenaikan dividen dalam 56 tahun terakhir. Bisnis tobacco memang shrinking secara volume, tapi tetap menghasilkan cash flow yang sangat kuat — inilah yang membuat Altria mampu mempertahankan payout ratio 87% dengan nyaman.
Risiko utamanya: regulasi yang makin ketat dan pergeseran perilaku konsumen ke arah smoke-free. MO lebih cocok untuk investor yang fokus pada income dibanding pertumbuhan agresif.
3. Verizon (VZ)
Yield: ~5.8% | Sektor: Telecom | Frekuensi: Quarterly
Model bisnis Verizon yang defensif dari layanan telekomunikasi menghasilkan cash flow yang relatif stabil. Dengan payout ratio ~60% dari earnings, ruang sustainabilitas dividennya masih cukup nyaman.
Trade-off utamanya: Verizon memikul utang yang masif (~$144 miliar), hampir setara dengan market cap-nya. Growth bisnis juga terbatas di pasar telecom yang sudah saturated. VZ cocok untuk investor income yang mencari yield stabil, bukan pertumbuhan cepat.
4. Realty Income (O)
Yield: ~5.2% | Sektor: REIT | Frekuensi: MONTHLY
Realty Income adalah satu-satunya large-cap S&P 500 yang membayar dividen setiap bulan — sesuatu yang langka di pasar saham AS. Dengan lebih dari 15.500 properti dan occupancy rate 98.9% per Maret 2026, model bisnis REIT-nya sangat stabil. Histori kenaikan dividen sudah berjalan lebih dari 30 tahun sejak IPO 1994.
Poin penting: REIT sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ketika The Fed menaikkan suku bunga, harga saham REIT cenderung tertekan meski dividennya tetap dibayar. Ideal untuk income investor yang butuh cash flow bulanan yang teratur.
5. AT&T (T)
Yield: ~4.4% | Sektor: Telecom | Frekuensi: Quarterly
Setelah pemotongan dividen besar pada 2022 pasca spinoff WarnerMedia, kondisi AT&T justru menjadi jauh lebih sehat. Payout ratio saat ini hanya ~37% dari FCF, dengan FCF tahunan $16 miliar+ menutup kewajiban dividen $8 miliar — artinya coverage ratio hampir 2x lipat. Ini salah satu rasio coverage terbaik di antara saham telecom besar.
T menarik untuk investor income yang mencari yield relatif tinggi dengan risiko lebih moderat. Catatan: jangan harap dividend growth dalam waktu dekat, manajemen masih fokus pada penurunan utang.
6. PepsiCo (PEP)
Yield: ~4.0% | Sektor: Consumer Staples | Frekuensi: Quarterly
PepsiCo baru menaikkan dividen 4% ke rate quarterly $1.48, melanjutkan streak 54 tahun kenaikan dividen berturut-turut sebagai salah satu Dividend King. Bisnis consumer staples yang mencakup minuman dan makanan cenderung stabil di berbagai kondisi ekonomi, orang tetap beli Pepsi bahkan saat resesi.
Payout ratio 89% memang tergolong tinggi, tapi didukung oleh cash flow yang konsisten selama puluhan tahun. Nilai utama PEP bukan yield-nya yang paling besar, tapi konsistensi pertumbuhan dividennya.
7. AbbVie (ABBV)
Yield: ~3.2% | Sektor: Healthcare | Frekuensi: Quarterly
AbbVie berhasil melewati tantangan terbesar dalam sejarahnya: berkurangnya kontribusi Humira setelah kehilangan perlindungan paten. Yang membuat investor dividen tetap percaya adalah keberhasilan Skyrizi dan Rinvoq sebagai mesin pertumbuhan baru yang solid.
Dengan 14 tahun consecutive dividend increase sebagai Dividend Aristocrat, ABBV sering dianggap lebih balanced antara income dan growth dibanding saham high-yield seperti PFE yang risikonya lebih tinggi.
8. Procter & Gamble (PG) dan Coca-Cola (KO)
PG Yield: ~2.9% | KO Yield: ~2.6% | Sektor: Consumer Staples | Frekuensi: Quarterly
Dua nama ini adalah legenda dividend investing. P&G sudah membayar dividen sejak 1890 dan telah menaikkannya selama 69 tahun berturut-turut, rekor yang sangat elite. Coca-Cola tidak jauh berbeda dengan 64 tahun consecutive increases, dan Warren Buffett melalui Berkshire Hathaway memegang KO sejak 1988 tanpa menjual satu lembar pun.
Yield keduanya memang tidak setinggi saham telecom atau pharma, dengan payout ratio yang lebih konservatif (PG ~61%, KO ~65%). Tapi itulah kekuatan sebenarnya, dividen yang hampir pasti akan terus naik setiap tahun untuk jangka sangat panjang. Cocok untuk strategi compounding yang sabar.
Perbandingan Saham AS Dividen Tinggi untuk Passive Income
| Ticker | Sektor | Dividend Yield | Frekuensi | Dividend Streak | Payout Ratio | Risiko Utama |
|---|---|---|---|---|---|---|
| PFE | Healthcare | ~6.7% | Quarterly | 15 tahun | >100% GAAP / ~53% non-GAAP | Patent cliff, payout ratio tinggi |
| MO | Consumer Staples | ~5.9% | Quarterly | 56 kenaikan | ~87% | Regulasi, penurunan volume rokok |
| VZ | Telecom | ~5.8% | Quarterly | 20 tahun | ~60% | Utang masif, growth terbatas |
| O | REIT | ~5.2% | Monthly | 30+ tahun | ~75% FFO | Sensitif suku bunga |
| T | Telecom | ~4.4% | Quarterly | Stabil post-cut | ~37% FCF | Tidak ada dividend growth |
| PEP | Consumer Staples | ~4.0% | Quarterly | 54 tahun | ~89% | Payout ratio tinggi |
| ABBV | Healthcare | ~3.2% | Quarterly | 14 tahun | ~87% | Ketergantungan pipeline baru |
| PG | Consumer Staples | ~2.9% | Quarterly | 69 tahun | ~61% | Yield relatif rendah |
| KO | Consumer Staples | ~2.6% | Quarterly | 64 tahun | ~65% | Yield relatif rendah |
Data per Mei 2026. Yield dapat berubah mengikuti harga saham. Selalu cek data terbaru sebelum berinvestasi.
Mana yang Lebih Menarik: Yield Tinggi atau Dividen yang Konsisten Naik?
Ini adalah trade-off inti dalam dividend investing, dan tidak ada jawaban tunggal yang benar untuk semua orang.
Saham high-yield seperti PFE atau VZ memberikan cash flow lebih besar sekarang, tapi biasanya datang dengan tantangan bisnis tertentu. PFE punya payout ratio di atas 100% GAAP dan menghadapi patent cliff. VZ punya utang yang sangat besar. Yield yang terlihat menarik bisa menjadi yield trap kalau bisnis memburuk dan perusahaan terpaksa memotong dividen.
Dividend growth stock seperti PG dan KO menawarkan yield lebih rendah di awal, tapi kenaikan dividen yang konsisten setiap tahun selama puluhan tahun menciptakan nilai yang luar biasa dalam jangka panjang. Bayangkan: kalau kamu beli KO 20 tahun lalu, yield-on-cost kamu saat ini jauh lebih tinggi dari yield yang terlihat di layar sekarang.
Kesimpulannya: untuk investor yang butuh income sekarang, campuran high-yield dan dividend growth bisa jadi pendekatan yang seimbang. Untuk investor jangka panjang yang sabar, dividend growth stock sering memberikan hasil compounding yang lebih optimal.
Pajak Dividen Saham AS yang Perlu Dipahami Investor Indonesia
Satu hal penting yang sering terlewat: dividen saham AS dikenakan withholding tax oleh pemerintah AS sebelum dana masuk ke akun kamu. Artinya, jumlah dividen yang kamu terima akan lebih kecil dari angka dividend yield bruto yang tertera.
Tarif dan ketentuan perpajakan dapat berubah mengikuti regulasi yang berlaku, dan bisa berbeda tergantung status investor serta perjanjian pajak antar negara. Pastikan kamu memahami bahwa nominal dividen yang masuk ke akun berbeda dari yield bruto yang kamu lihat — ini penting untuk menghitung ekspektasi income yang realistis.
Untuk detail perpajakan yang spesifik sesuai kondisi kamu, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional pajak atau mengacu pada ketentuan terbaru yang berlaku.
Risiko Investasi Saham Dividen AS yang Perlu Dipahami Investor
Investasi saham dividen bukan tanpa risiko. Beberapa hal yang perlu kamu waspadai:
- Dividend cut: Perusahaan bisa memotong atau menghentikan dividen kapan saja jika kondisi bisnis memburuk. AT&T di 2022 adalah contoh nyata yang perlu diingat.
- Pelemahan bisnis perusahaan: Industri yang sedang menyusut (seperti tobacco atau telecom yang stagnasi) bisa menekan kemampuan perusahaan mempertahankan dividen jangka panjang.
- Risiko kurs USD/IDR: Meski punya uang dalam dolar terdengar menguntungkan, fluktuasi kurs tetap mempengaruhi nilai portofolio kamu dalam rupiah.
- Perubahan suku bunga The Fed: Ketika suku bunga naik, saham dividen (terutama REIT dan utilitas) cenderung tertekan karena instrumen bebas risiko seperti obligasi jadi lebih menarik.
- Valuasi terlalu mahal: Membeli saham bagus di harga terlalu tinggi bisa merusak return jangka panjang, meski dividennya tetap dibayar.
Investasi Saham Amerika Lebih Praktis di Ajaib
Membangun passive income dari saham AS tidak harus rumit. Kamu bisa mulai dari saham-saham yang sudah disebutkan di atas rutin, konsisten, dan tanpa perlu menebak-nebak kapan waktu terbaik untuk masuk.
Di Ajaib, investasi saham Amerika bisa dilakukan langsung dari aplikasi, tanpa ribet, tanpa harus buka akun di luar negeri. Kamu bisa akses saham global populer seperti PFE, MO, VZ, O, T, PEP, ABBV, PG, hingga KO dalam satu platform, lengkap dengan fitur watchlist, data market real-time, dan kemudahan monitoring portofolio kapan saja.
Mau mulai nabung USD sambil terima dividen dolar setiap kuartal? Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai investasi saham AS pertamamu, sekecil apapun nominalnya, yang penting mulai.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!