












Procter & Gamble Company
Market Recap US 🇺🇸 Pasar saham AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin (29/07). Index S&P 500 (-0.30%), NASDAQ (-0.38%), dan DJI (-0.46%). Wall Street ditutup melemah pada hari Selasa setelah sejumlah laporan keuangan membebani sentimen pasar yang sempat optimis. UnitedHealth ( $UNH ) anjlok -7.5% setelah memangkas proyeksi laba tahunan, diikuti penurunan Boeing ( $BA ) sebesar -4.4% dan Merck ($MRK) turun -1.7% meski berhasil mengurangi kerugian kuartalan. UPS jatuh -10.6% akibat penundaan earnings guidance untuk tahun ini, dan Procter & Gamble ($PG) terkoreksi 0.3% karena profit guidance di bawah ekspektasi. Dari sekitar 200 emiten yang telah melaporkan kinerja, laba tercatat sekitar 6.4% di atas estimasi konsensus, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata empat kuartal sebelumnya di 6.3%. Pasar kini menantikan pernyataan dari Federal Reserve untuk melihat arah kebijakan suku bunga ke depan di hari Kamis (31/07) mendatang. Visa ($V) mencatatkan hasil 3Q25 yang lebih kuat dari ekspektasi dengan pendapatan mencapai US$10.17–10.20 miliar, naik sekitar +14 % YoY. Laba disesuaikan per saham mencapai US$2.98, naik 23 % dari US$2.42 dan melampaui estimasi analis sekitar US$2.84. Volume transaksi global tumbuh sekitar 8 %, dengan volume transaksi antar negeri naik sekitar 11–12 % dan keseluruhan transaksi meningkat sekitar 10 %. Manajemen menyoroti ketahanan belanja konsumen dan rencana inovasi di bidang pembayaran digital, termasuk AI dan stablecoin. Meskipun hasil positif, saham perusahaan sedikit melemah di perdagangan after‑hours, namun tren harga saham Visa tetap naik sekitar 11 % sepanjang tahun ini. Alvin Timothy Murthi | Financial Expert Ajaib
PG - Saham Procter & Gamble ($PG) naik setelah melaporkan kinerja kuartalan di atas estimasi analis, menunjukkan kekuatan pricing power dan ketahanan permintaan produk konsumen sehari-hari meskipun harga energi dan logistik meningkat. Namun, manajemen juga memperingatkan potensi tekanan laba sekitar $1 miliar pada FY2027 akibat biaya input yang lebih tinggi. Pasar merespons positif karena beat earnings lebih dominan, tetapi warning tersebut menjadi sinyal bahwa inflasi komoditas mulai masuk ke margin perusahaan besar.
Rotasi Defensif di Tengah Gejolak Tech: Mengapa Pasar Mulai Bergeser dan Saham Apa yang Diuntungkan Pekan ini pasar mengalami tekanan signifikan yang dipicu oleh kombinasi dua katalis, yakni Jobs Report Mei yang jauh melampaui ekspektasi (+172K vs. estimasi 85K) dan guidance AI Broadcom yang dinilai tidak cukup agresif oleh pasar yang sudah berlari terlalu jauh. Hasilnya, yield Treasury melonjak, ekspektasi pemangkasan Fed rate mundur, dan rotasi masif keluar dari sektor teknologi menuju aset-aset defensif yang lebih dapat diprediksi. Indeks teknologi tertekan, sementara sektor healthcare, consumer staples, dan financials justru mencatat kenaikan kolektif sekitar 3% dalam dua sesi terakhir. Bergerakan ini cerminan perubahan preferensi risiko investor ketika data makro memaksa repricing pada ekspektasi suku bunga. Berikut adalah saham-saham yang menguntungkan: *Healthcare: Eli Lilly ($LLY) bertahan kokoh di tengah selloff, ditutup naik 0,55%. Q1 2026 mencatat revenue $19,8 miliar (naik 56% YoY) didorong Mounjaro dan Zepbound, dengan full-year guidance $82-$85 miliar. TD Cowen memproyeksikan pasar GLP-1 global mencapai $150 miliar akhir dekade ini, memperkuat runway pertumbuhan 20-25% milik LLY. *Consumer Staples: Procter & Gamble ($PG) naik 4,09% ke $146,54, mencerminkan rotasi klasik menuju dividend-paying safe haven. Dengan dividend yield 2,91% dan arus kas yang stabil, PG adalah tempat berlindung familiar bagi institusi besar saat volatilitas meningkat. *Financials: Visa ($V) naik di tengah selloff, didukung EPS Q1 $3,31 (melampaui estimasi $0,21) dengan revenue tumbuh 17,7% YoY. Pengumuman platform stablecoin bersama Stripe dan Mastercard mengubah framing Visa sebagai infrastruktur layer yang mengadopsi rel pembayaran baru. . Disclaimer ON!
Market Recap US 🇺🇸 Pasar saham AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin (29/07). Index S&P 500 (-0.30%), NASDAQ (-0.38%), dan DJI (-0.46%). Wall Street ditutup melemah pada hari Selasa setelah sejumlah laporan keuangan membebani sentimen pasar yang sempat optimis. UnitedHealth ( $UNH ) anjlok -7.5% setelah memangkas proyeksi laba tahunan, diikuti penurunan Boeing ( $BA ) sebesar -4.4% dan Merck ($MRK) turun -1.7% meski berhasil mengurangi kerugian kuartalan. UPS jatuh -10.6% akibat penundaan earnings guidance untuk tahun ini, dan Procter & Gamble ($PG) terkoreksi 0.3% karena profit guidance di bawah ekspektasi. Dari sekitar 200 emiten yang telah melaporkan kinerja, laba tercatat sekitar 6.4% di atas estimasi konsensus, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata empat kuartal sebelumnya di 6.3%. Pasar kini menantikan pernyataan dari Federal Reserve untuk melihat arah kebijakan suku bunga ke depan di hari Kamis (31/07) mendatang. Visa ($V) mencatatkan hasil 3Q25 yang lebih kuat dari ekspektasi dengan pendapatan mencapai US$10.17–10.20 miliar, naik sekitar +14 % YoY. Laba disesuaikan per saham mencapai US$2.98, naik 23 % dari US$2.42 dan melampaui estimasi analis sekitar US$2.84. Volume transaksi global tumbuh sekitar 8 %, dengan volume transaksi antar negeri naik sekitar 11–12 % dan keseluruhan transaksi meningkat sekitar 10 %. Manajemen menyoroti ketahanan belanja konsumen dan rencana inovasi di bidang pembayaran digital, termasuk AI dan stablecoin. Meskipun hasil positif, saham perusahaan sedikit melemah di perdagangan after‑hours, namun tren harga saham Visa tetap naik sekitar 11 % sepanjang tahun ini. Alvin Timothy Murthi | Financial Expert Ajaib
PG - Saham Procter & Gamble ($PG) naik setelah melaporkan kinerja kuartalan di atas estimasi analis, menunjukkan kekuatan pricing power dan ketahanan permintaan produk konsumen sehari-hari meskipun harga energi dan logistik meningkat. Namun, manajemen juga memperingatkan potensi tekanan laba sekitar $1 miliar pada FY2027 akibat biaya input yang lebih tinggi. Pasar merespons positif karena beat earnings lebih dominan, tetapi warning tersebut menjadi sinyal bahwa inflasi komoditas mulai masuk ke margin perusahaan besar.
Rotasi Defensif di Tengah Gejolak Tech: Mengapa Pasar Mulai Bergeser dan Saham Apa yang Diuntungkan Pekan ini pasar mengalami tekanan signifikan yang dipicu oleh kombinasi dua katalis, yakni Jobs Report Mei yang jauh melampaui ekspektasi (+172K vs. estimasi 85K) dan guidance AI Broadcom yang dinilai tidak cukup agresif oleh pasar yang sudah berlari terlalu jauh. Hasilnya, yield Treasury melonjak, ekspektasi pemangkasan Fed rate mundur, dan rotasi masif keluar dari sektor teknologi menuju aset-aset defensif yang lebih dapat diprediksi. Indeks teknologi tertekan, sementara sektor healthcare, consumer staples, dan financials justru mencatat kenaikan kolektif sekitar 3% dalam dua sesi terakhir. Bergerakan ini cerminan perubahan preferensi risiko investor ketika data makro memaksa repricing pada ekspektasi suku bunga. Berikut adalah saham-saham yang menguntungkan: *Healthcare: Eli Lilly ($LLY) bertahan kokoh di tengah selloff, ditutup naik 0,55%. Q1 2026 mencatat revenue $19,8 miliar (naik 56% YoY) didorong Mounjaro dan Zepbound, dengan full-year guidance $82-$85 miliar. TD Cowen memproyeksikan pasar GLP-1 global mencapai $150 miliar akhir dekade ini, memperkuat runway pertumbuhan 20-25% milik LLY. *Consumer Staples: Procter & Gamble ($PG) naik 4,09% ke $146,54, mencerminkan rotasi klasik menuju dividend-paying safe haven. Dengan dividend yield 2,91% dan arus kas yang stabil, PG adalah tempat berlindung familiar bagi institusi besar saat volatilitas meningkat. *Financials: Visa ($V) naik di tengah selloff, didukung EPS Q1 $3,31 (melampaui estimasi $0,21) dengan revenue tumbuh 17,7% YoY. Pengumuman platform stablecoin bersama Stripe dan Mastercard mengubah framing Visa sebagai infrastruktur layer yang mengadopsi rel pembayaran baru. . Disclaimer ON!