Saham AS

Wall Street Pekan Ini: Nasdaq Anjlok 2%, Intel Ambruk 28,6%, dan Saham Big Tech Tertekan

Miftahul Khaer•November 2, 2026

Key Takeaways

  • Wall Street melemah sepanjang pekan, dipimpin Nasdaq (-2,00%), S&P 500 (-0,57%), dan Dow Jones (-0,85%).
  • Saham teknologi tertekan kekhawatiran belanja AI dan arus kas, dengan Intel anjlok 28,6%.
  • The Fed menahan suku bunga di 3,75–4%, tetapi inflasi dan perbedaan voting memicu ekspektasi kenaikan suku bunga.
  • Alphabet dan Amazon terbebani capex, sementara Microsoft mencatat pertumbuhan Azure 48%.
  • Saham kesehatan Eli Lilly dan Regeneron menguat setelah menaikkan proyeksi kinerja tahunan.

Wall Street Tertekan Kekhawatiran Belanja Modal AI dan Kebijakan The Fed

Wall Street menutup pekan terakhir Oktober 2026 dengan tekanan, terutama pada saham teknologi dan semikonduktor. Investor mulai mempertanyakan besarnya belanja modal kecerdasan buatan (AI) yang tidak selalu diikuti pertumbuhan arus kas perusahaan.

Alphabet menjadi salah satu emiten yang paling terdampak. Meski Google Cloud mencatat pertumbuhan 103%, saham Alphabet anjlok 12,6% dalam satu hari pada 29 Oktober. Menurut hitungan StockTitan, penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak perusahaan melantai di bursa pada 2004.

Tekanan muncul setelah pendapatan dan laba Alphabet meleset dari konsensus, pertumbuhan Search melambat menjadi 12%, serta free cash flow tercatat negatif US$9,07 miliar. Amazon menghadapi persoalan serupa. AWS tumbuh 39%, tetapi EPS meleset dari ekspektasi dan free cash flow dalam 12 bulan terakhir mencapai negatif US$42,4 miliar.

Sebaliknya, Microsoft menunjukkan kondisi yang berbeda. Belanja modal perusahaan justru berada di bawah panduan, sementara arus kas operasional masih mampu menutup kebutuhan capex. Perbedaan ini memperjelas bahwa investor semakin selektif dalam menilai investasi AI dan kemampuan perusahaan menghasilkan uang dari ekspansi tersebut.

Puncak tekanan terjadi pada Jumat (30/10), ketika saham Intel ambruk sekitar 28,6%. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak 1974 setelah perusahaan memberikan panduan kinerja kuartal IV jauh di bawah ekspektasi pasar.

Aksi jual juga menjalar ke sektor teknologi lainnya. Indeks semikonduktor anjlok 7,2%, saham Reddit turun sekitar 29%, dan Nasdaq Composite melemah 2,86%. Menurut CNN, penurunan tersebut menjadi hari terburuk Nasdaq sejak Juni sekaligus menutup Oktober dengan koreksi bulanan terdalam sejak Maret 2025.

Berdasarkan perhitungan dari data penutupan, Nasdaq terkoreksi sekitar 2,0% sepanjang pekan. Sementara itu, S&P 500 turun sekitar 0,6% dan Dow Jones melemah sekitar 0,8–0,9%.

Di tengah tekanan tersebut, saham farmasi justru menjadi salah satu tempat berlindung investor. Eli Lilly naik 6,4%, sedangkan Regeneron menguat lebih dari 11% setelah keduanya menaikkan panduan kinerja tahunan.

Selain tekanan dari sektor teknologi, ketidakpastian kebijakan moneter turut membebani sentimen pasar. The Fed mempertahankan suku bunga pada 28 Oktober di kisaran 3,75–4%, tetapi dua anggotanya justru menginginkan kenaikan suku bunga. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan pada Desember di atas 80%.

Kondisi ekonomi AS yang masih kuat juga menjadi perhatian. GDP kuartal III tumbuh 3,4%, sementara inflasi PCE September mencapai 3,6% secara tahunan. Di sisi lain, harga minyak Brent kembali bergerak ke kisaran US$117 per barel setelah Iran menyebut empat kapal tanker terkena ranjau di Selat Hormuz.

Kombinasi potensi kenaikan suku bunga, harga minyak yang tinggi, dan pemilu paruh waktu AS pada 3 November membuat investor semakin selektif. Narasi AI masih menjadi perhatian pasar, tetapi investor kini lebih mengutamakan perusahaan yang mampu mengubah investasi AI menjadi pendapatan dan arus kas nyata.

Performa Indeks Bursa AS 1W

Ketiga indeks utama Wall Street mencatat pelemahan sepanjang pekan. Nasdaq Composite mengalami koreksi terdalam, seiring tekanan pada saham teknologi dan semikonduktor. Sementara itu, S&P 500 dan Dow Jones juga bergerak di zona negatif.

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
-0.57%-0.85%-2.00%

Top Gainer Saham AS 1W

Meski mayoritas indeks utama bergerak melemah, sejumlah saham tetap mencatatkan performa positif sepanjang pekan. Saham Chipotle Mexican Grill (CMG) memimpin daftar penguatan mingguan, diikuti Regeneron (REGN) dan Synopsys (SNPS).

SahamPerforma
CMG+14.18%
REGN+13.28%
SNPS+11.49%
GILD+9.08%
LMT+9.03%

The Fed Tahan Suku Bunga, Peluang Hike Desember Meningkat

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4% pada Rabu (28/10). Namun, hasil voting 10 banding 2 menunjukkan bahwa tekanan untuk menaikkan suku bunga kembali semakin kuat.

Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyatakan dissent karena menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin. Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga pada September, yang menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023 menurut Fox Business.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tidak memiliki target inflasi lunak atau soft inflation target maupun target implisit lainnya. Target inflasi tetap berada di 2% berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE).

Menjelang pemilu paruh waktu AS, Warsh juga menegaskan bahwa politik tidak memengaruhi keputusan kebijakan moneter. Ia menyatakan bahwa “politics played no role in the decision” menurut Yahoo Finance.

Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember meningkat. Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip Fox Business, peluang kenaikan mencapai 82,6%. Data futures Bloomberg yang dikutip Yahoo Finance bahkan menunjukkan probabilitas sekitar 85%.

The Fed juga mengumumkan bahwa pada 2027 akan ada satu pertemuan FOMC khusus untuk membahas strategi kebijakan moneter tanpa melakukan voting suku bunga.

Ekonomi AS Masih Panas, Inflasi PCE Meningkat

Data ekonomi yang dirilis sepanjang pekan mengonfirmasi bahwa perekonomian AS masih tumbuh cukup kuat, sehingga memberikan ruang terbatas bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Estimasi awal GDP kuartal III menunjukkan pertumbuhan 3,4% secara annualized. Angka tersebut meningkat dari 2,2% pada kuartal II dan melampaui konsensus 3,2% menurut Zacks via Yahoo Finance.

Di sisi inflasi, PCE September naik 0,5% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan. Sementara itu, core PCE meningkat 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan, sedikit di bawah konsensus kenaikan 0,4%.

Pasar tenaga kerja juga menunjukkan ketahanan. Klaim pengangguran awal turun menjadi 194.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan 202.000. Selain itu, Employment Cost Index dari Bureau of Labor Statistics (BLS) mencatat biaya upah dan tunjangan meningkat 0,8% dalam tiga bulan hingga September.

Pada Jumat (30/10), Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem dan Presiden Fed Richmond Tom Barkin dilaporkan menyebut bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin masih diperlukan.

Earnings Big Tech Picu Aksi Jual Saham Teknologi dan Semikonduktor

Musim laporan keuangan Big Tech pada kuartal III 2026 menjadi ujian bagi kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di tengah besarnya investasi AI. Hasil laporan keuangan sejumlah perusahaan justru memicu aksi jual yang terkonsentrasi pada saham teknologi dan semikonduktor.

CNBC pada 29 Oktober melaporkan bahwa Google dan Microsoft sama-sama menunda kenaikan proyeksi capex. Kondisi tersebut dibaca pasar sebagai indikasi bahwa pembangunan infrastruktur AI mulai menghadapi hambatan.

Tekanan semakin besar pada Jumat (30/10), ketika indeks saham perusahaan pembuat chip anjlok 7,2% menurut CNN via StockTitan. AMD sempat turun 12,02% dan Nvidia melemah 4,95% secara intraday berdasarkan TheStreet.

Secara keseluruhan, hampir 70% saham di bursa AS ditutup melemah. Senior Market Analyst Capital.com, Daniela Hathorn, menggambarkan perubahan sentimen tersebut dengan pernyataan bahwa “strong AI demand is no longer enough on its own”.

Harga Minyak Brent Kembali ke US$117 di Tengah Konflik Iran

Harga minyak tetap tinggi sepanjang pekan seiring konflik Iran yang belum mereda, meskipun sempat mengalami koreksi pada awal pekan.

Pada 27 Oktober, harga Brent dilaporkan turun US$1,93 per barel di tengah kabar pembicaraan terkait Iran. Namun, harga kembali meningkat setelah Iran menyatakan empat kapal tanker terkena ranjau di Selat Hormuz dan kelompok Houthi mengklaim melancarkan serangan baru terhadap target di Arab Saudi.

Pada Jumat pagi waktu AS, Brent naik 2,50% menjadi US$117,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI meningkat 2,18% ke US$104,20 per barel menurut TheStreet.

Sebelumnya, Associated Press mencatat harga Brent telah menembus US$116 per barel pada pekan sebelumnya, menjadi level tertinggi sejak Juni 2022.

Kenaikan harga minyak hingga di atas US$100 per barel menjadi salah satu faktor yang membuat The Fed sulit melonggarkan sikap hawkish terhadap kebijakan suku bunga.

Alphabet Anjlok 12,6% meski Google Cloud Tumbuh 103%

Alphabet membukukan pendapatan kuartal III 2026 sebesar US$127,58 miliar, meningkat 25% secara tahunan. Namun, hasil tersebut masih di bawah konsensus LSEG sebesar US$128,22 miliar. CNBC menyebutnya sebagai kegagalan memenuhi ekspektasi pendapatan dan laba (miss top line and bottom line) pertama dalam hampir empat tahun.

Laba per saham (EPS) GAAP tercatat US$2,12, tertekan kerugian investasi ekuitas sebesar US$8,66 miliar. Sementara itu, EPS versi LSEG di luar kerugian tersebut mencapai US$2,67, masih di bawah konsensus US$3,02.

Dari sisi bisnis, Google Cloud menjadi salah satu pendorong pertumbuhan dengan pendapatan melonjak 103% menjadi US$30,71 miliar dan margin operasi 36,2%. Namun, pertumbuhan bisnis inti lainnya lebih lambat. Search hanya tumbuh 12% menjadi US$63,35 miliar, sedangkan pendapatan iklan YouTube meningkat 9%.

Di tengah ekspansi tersebut, kebutuhan investasi Alphabet semakin besar. Capex kuartalan mencapai US$51,36 miliar dan free cash flow tercatat negatif US$9,07 miliar.

Kondisi keuangan perusahaan juga terlihat dari kebijakan pendanaan sepanjang 2026. Alphabet tidak melakukan buyback saham sama sekali, tetapi menerbitkan surat utang senilai US$28,7 miliar dan menjual saham melalui program at-the-market dengan nilai bersih US$12,4 miliar.

CEO Sundar Pichai menyebut perusahaan kini berada pada “half-trillion dollar revenue run rate”. Meski demikian, respons pasar tetap negatif. Saham Alphabet Kelas A ditutup anjlok 12,6% menjadi US$283,82 pada 29 Oktober.

Microsoft Catat Pertumbuhan Azure 48%, Arus Kas Masih Menutup Capex

Berbeda dengan Alphabet, Microsoft menunjukkan kinerja keuangan yang lebih kuat dalam menghadapi ekspansi infrastruktur AI. Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal I fiskal 2027 sebesar US$92,3 miliar, naik 19% secara tahunan dan melampaui batas atas panduannya sendiri.

Azure menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan 48%, lebih tinggi dibandingkan panduan sebelumnya sebesar 44-45%. Pendapatan Microsoft Cloud juga meningkat 30% menjadi US$63,9 miliar.

Selain pertumbuhan pendapatan, Microsoft mencatat commercial remaining performance obligation sebesar US$677 miliar, meningkat 73% secara tahunan. Namun, angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan Juni.

Dari sisi investasi, capex termasuk finance lease mencapai US$45,2 miliar, lebih rendah dibandingkan panduan perusahaan yang sebelumnya menyebut angka di atas US$50 miliar.

Arus kas operasional Microsoft mencapai US$58,0 miliar. Setelah dikurangi capex, perusahaan masih memiliki sisa arus kas sebesar US$18,6 miliar. Kondisi ini memperlihatkan kemampuan Microsoft membiayai ekspansi infrastruktur tanpa menekan arus kas operasionalnya.

Saham Microsoft sempat naik 4,1% menjadi US$552,55 pada perdagangan setelah jam bursa atau after-hours 28 Oktober. Namun, penguatan tersebut berbalik dan saham ditutup turun tipis 0,16% pada 29 Oktober akibat tekanan jual di sektor teknologi.

Amazon Catat Pertumbuhan AWS 39%, tetapi Free Cash Flow Negatif

Amazon membukukan pendapatan kuartal III sebesar US$201,9 miliar, meningkat 12% secara tahunan, tetapi sedikit di bawah konsensus pasar. EPS tercatat US$1,89, meleset dari perkiraan US$1,96-US$1,97, bergantung pada penyedia data.

AWS menjadi titik terang dalam laporan keuangan kali ini. Pendapatan segmen cloud tersebut mencapai sekitar US$46,0 miliar, tumbuh 39% dan meningkat dari pertumbuhan 37% pada kuartal II. Kinerja ini turut didukung backlog sebesar US$578 miliar.

Namun, besarnya kebutuhan investasi masih menjadi perhatian investor. Amazon memproyeksikan capex 2026 mencapai sekitar US$220 miliar. CEO Andy Jassy bahkan menyebut belanja modal pada 2027 akan “meaningfully more”.

Di saat yang sama, free cash flow Amazon selama 12 bulan terakhir telah mencapai negatif US$42,4 miliar.

Untuk kuartal IV, perusahaan memproyeksikan pendapatan sebesar US$240-US$247 miliar. Kisaran tersebut mengapit konsensus pasar sebesar US$244,51 miliar.

Saham Amazon sempat turun sekitar 7,3% pada perdagangan after-hours 29 Oktober. Namun, menurut StockTitan, saham akhirnya ditutup turun 1,41% pada Jumat (30/10).

Intel Ambruk 28,6% setelah Panduan Kuartal IV di Bawah Ekspektasi

Intel menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam sepanjang pekan. Pada Jumat (30/10), saham perusahaan anjlok sekitar 28,6%, menjadi penurunan harian terburuk sejak 1974.

Tekanan muncul setelah Intel memberikan panduan pendapatan kuartal IV hanya sebesar US$15,0–US$16,0 miliar. Angka tersebut jauh di bawah konsensus LSEG sebesar US$17,1 miliar.

Padahal, kinerja kuartal III sebenarnya masih cukup baik. Intel mencatat pendapatan US$16,51 miliar dan EPS disesuaikan sebesar US$0,52, melampaui perkiraan US$0,41 versi TipRanks.

Segmen Data Center and AI tumbuh 78%. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi pelemahan Client Computing yang turun 5%.

Panduan keuangan berikutnya menjadi sumber kekhawatiran pasar. Intel memperkirakan EPS disesuaikan kuartal IV hanya US$0,25, jauh di bawah ekspektasi sekitar US$0,43. Perusahaan juga memproyeksikan gross margin sebesar 38,0%, dibandingkan ekspektasi pasar 44,1%.

Menurut TheStreet, lemahnya panduan tersebut dipengaruhi perlambatan pasar PC dan insiden di pabrik Intel di Israel.

CFO Intel David Zinsner juga memperingatkan bahwa perlambatan pasar PC kemungkinan masih berlanjut. Ia menyatakan, “we see the PC slowdown continuing at least through the first half of next year”.

Reddit Anjlok 29,22% meski Earnings Melampaui Ekspektasi

Reddit mengalami tekanan besar pada Jumat (30/10), dengan saham anjlok 29,22% meskipun laporan keuangan kuartal III berhasil melampaui ekspektasi Wall Street.

Pemicu utamanya adalah panduan pendapatan kuartal IV yang lebih lemah dibandingkan perkiraan pasar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.

TheStreet menyebut reaksi pasar ini sebagai “fresh evidence that changing behaviors with AI were cannibalizing software businesses”.

Tekanan serupa juga terjadi pada Twilio. Saham perusahaan tersebut sempat turun lebih dari 17% setelah proyeksi pertumbuhan pendapatan organik kuartal IV mengecewakan.

Sementara itu, angka pendapatan dan EPS spesifik Reddit belum dikonfirmasi dari rilis resmi.

Eli Lilly Naik 6,4% setelah Menaikkan Proyeksi Pendapatan 2026

Di tengah aksi jual saham teknologi, Eli Lilly menjadi salah satu perusahaan berkapitalisasi besar yang justru mencatatkan penguatan.

Saham Eli Lilly naik 6,4% pada 29 Oktober setelah perusahaan melaporkan pendapatan kuartal III sebesar US$24,4 miliar, meningkat 39% secara tahunan. Selain pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga menaikkan proyeksi pendapatan untuk keseluruhan 2026.

Kinerja tersebut membuat Eli Lilly menjadi salah satu saham yang mampu menguat ketika mayoritas pasar mengalami tekanan. Investor juga mulai mengalihkan dana ke saham kesehatan dengan pertumbuhan laba yang telah terbukti di tengah ketidakpastian prospek investasi AI.

Regeneron (REGN) Melonjak Lebih dari 11% setelah Earnings Melampaui Ekspektasi

Regeneron mencatatkan penguatan lebih dari 11% pada Jumat (30/10) setelah melaporkan kinerja keuangan kuartal III di atas ekspektasi Wall Street.

Perusahaan membukukan EPS disesuaikan sebesar US$20,07, jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan US$16,42. Pendapatan juga mencapai US$5,12 miliar, melampaui estimasi US$4,56 miliar.

Secara tahunan, pendapatan Regeneron meningkat 36%. Perusahaan juga menaikkan proyeksi kinerja untuk keseluruhan tahun. Menurut TheStreet, saham Regeneron sempat naik 11,56% pada pukul 10.21 waktu New York.

Sementara itu, angka kenaikan penutupan sekitar 13,3% yang beredar belum dikonfirmasi melalui sumber Tier 1 atau Tier 2.

Coca-Cola Naikkan Outlook 2026 setelah Revenue Kuartal III Tumbuh 7%

Coca-Cola menaikkan proyeksi kinerja 2026 setelah membukukan pendapatan kuartal III sebesar US$13,4 miliar, meningkat 7% secara tahunan dan melampaui estimasi US$12,93 miliar.

EPS disesuaikan tercatat US$0,91, lebih tinggi dibandingkan konsensus US$0,88.

Pertumbuhan bisnis turut didukung volume unit case global yang meningkat 5%. Coca-Cola Zero Sugar mencatat kenaikan volume 16%, sedangkan pendapatan di kawasan Amerika Latin melonjak 25%.

Berdasarkan kinerja tersebut, Coca-Cola menaikkan target pertumbuhan EPS comparable 2026 menjadi minimal 11%, dari sebelumnya 9-10%. Perusahaan juga meningkatkan proyeksi free cash flow menjadi minimal US$13,0 miliar.

CEO Henrique Braun menyebut hasil tersebut mencerminkan “sustained momentum”.

Meski demikian, saham Coca-Cola sempat turun sekitar 0,4% pada awal perdagangan 27 Oktober. Pergerakan harga saham saat penutupan belum dikonfirmasi.

DoorDash Naik 5,61% setelah Sepakati Akuisisi Instacart

DoorDash mencatatkan kenaikan saham sebesar 5,61% pada 29 Oktober setelah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi Instacart dengan harga US$65,00 per saham. Sebagian besar transaksi akan dibayarkan secara tunai.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu transaksi merger dan akuisisi (M&A) terbesar di sektor pengiriman makanan dan belanja kebutuhan harian secara online pada tahun ini.

Melalui akuisisi tersebut, dua pemain utama dalam layanan pengantaran makanan dan belanja kebutuhan harian di AS akan bergabung.

Namun, detail nilai total transaksi dan tanggapan regulator belum dikonfirmasi melalui rilis resmi kedua perusahaan sehingga masih perlu diperiksa kembali sebelum dipublikasikan.

Pantau Pergerakan Saham AS dan Mulai Trading di Ajaib

Volatilitas Wall Street dan perubahan sentimen terhadap saham teknologi membuka peluang sekaligus risiko bagi investor. Jangan lewatkan momentum pasar, pantau pergerakan saham AS, dan manfaatkan peluang berikutnya. Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai trading saham AS maupun ETF Amerika!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Profil Penulis

Miftahul Khaer
Miftahul Khaer

Financial Expert Ajaib

Miftahul Khaer merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengikuti perkembangan pasar saham Amerika Serikat. Ia menyajikan analisis dan edukasi mengenai saham AS, kondisi ekonomi global, serta strategi investasi yang membantu investor memahami peluang di pasar internasional.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!