Harga Gandum Naik ke Level Tertinggi Sejak 2022, Bagaimana Dampaknya ke Saham Consumer Good (ICBP, INDF, dan MYOR)?
Mikirduit•September 18, 2026

Key Takeaway
- Harga gandum saat ini (US$746,98/gantang) naik 15% sebulan dan hampir 50% setahun, tapi masih 28% di bawah ATH 2022 jika dihitung dalam rupiah.
- Dampak kenaikan harga gandum ke ICBP, INDF, dan MYOR di kuartal III 2026 diperkirakan masih terbatas karena perusahaan masih pakai persediaan lama; tekanan lebih besar berpotensi baru terasa mulai kuartal IV 2026–kuartal I 2027.
- ICBP paling sensitif karena mi instan & produk tepung jadi bisnis inti; INDF relatif lebih terlindungi lewat integrasi Bogasari; MYOR di tengah-tengah dengan eksposur lewat biskuit dan wafer.
Harga Gandum Naik, Tapi Masih di Bawah ATH 2022
Harga Gandum mencatatkan kenaikan ke level tertinggi sejak 2022. Lalu, apa dampaknya terhadap emiten saham consumer goods yang memiliki biaya bahan baku gandum?
Harga gandum semakin mahal dan mulai menjadi perhatian karena berpotensi menekan margin emiten di sektor consumer goods.
Sampai perdagangan Rabu (2/9/2026), harga gandum berada di US$746,98 per gantang. Dalam sebulan terakhir, harganya sudah naik lebih dari 15 persen, sementara secara tahunan kenaikannya hampir 50 persen.
Meski kenaikannya cukup kencang, harga gandum saat ini sebenarnya masih relatif murah jika dibandingkan dengan level tertingginya pada 2022.

Pada kuartal pertama 2022, harga gandum sempat mencapai ATH sekitar 1.180 sen dolar AS per gantang. Artinya, harga saat ini masih sekitar 35 persen di bawah level tertingginya tersebut jika dihitung dalam dolar AS.
Sebagai gambaran, satu gantang gandum setara dengan sekitar 27,22 kg. Dengan kurs saat ini sebesar Rp17.767 per dolar AS, harga gandum sekitar 749,5 sen dolar AS per gantang setara atau kurang lebih Rp4.893/kg.
Sementara itu, ketika mencapai ATH pada 2022, dengan kurs saat itu sebesar Rp15.592 per dolar AS, harganya setara Rp6.778/kg.
Artinya, jika dihitung dalam rupiah, harga gandum saat ini masih sekitar 28 persen di bawah ATH 2022. Selisihnya memang lebih kecil dibandingkan jika dilihat dalam dolar AS. Ini karena pelemahan rupiah jauh lebih besar membuat harga komoditas dalam mata uang domestik menjadi relatif lebih mahal.
Belajar dari 2022 Ketika Gandum Mahal
Periode 2022 bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami sensitivitas lonjakan harga gandum ke margin emiten. Pada waktu itu, harga gandum naik di kuartal pertama, tetapi gross profit margin (GPM) tidak langsung naik.
GPM yang turun mulai terasa pada kuartal kedua. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), misalnya, mencatat penurunan GPM sebesar 4,8 poin persentase secara kuartalan menjadi 29,4 persen.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga mengalami penurunan GPM sebesar 4,3 poin persentase menjadi 28,7 persen, sementara PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mengalami penurunan GPM sebesar 2,2 poin persentase menjadi 19,6 persen.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika harga gandum naik tajam, dampaknya pada margin memang bisa cukup terasa. Namun, dampaknya tidak selalu langsung muncul pada kuartal ketika harga komoditas mulai naik.
Beralih ke kuartal ketiga tahun ini, menurut kami, dampak kenaikan harga gandum kemungkinan belum terlalu terasa. Alasannya, perusahaan sudah lebih dulu memiliki persediaan yang dibeli sebelum terjadi kenaikan harga.
Dengan begitu, perusahaan mendapat jeda waktu untuk bernapas dulu sebentar, terdapat sebelum kenaikan harga komoditas benar-benar tercermin dalam biaya produksi nantinya.
Karena itu, tekanan terhadap margin justru berpotensi lebih terasa mulai kuartal IV 2026 hingga kuartal I 2027, ketika persediaan lama mulai berkurang dan perusahaan harus kembali membeli bahan baku dengan harga yang lebih tinggi.
Namun, kondisi saat ini masih cukup berbeda. Risiko tekanan terhadap biaya bahan baku memang mulai meningkat, tetapi kondisinya belum se-ekstrem lonjakan pada 2022.
Apa Kabar Emiten Konsumer di Kondisi Saat Ini?
Dampaknya terhadap masing-masing emiten akan berbeda, tergantung pada besarnya kontribusi tepung terhadap biaya produksi, tingkat persediaan, pola pembelian bahan baku, hingga kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Berikut gambaran kondisi ketiga emiten berdasarkan porsi bahan baku terhadap persediaan dan perkembangan GPM pada paruh pertama tahun ini.

1. ICBP — Paling Sensitif terhadap Kenaikan Harga Gandum
Produk mi instan dan produk berbasis tepung merupakan bagian penting dari bisnis ICBP, sehingga emiten ini cukup sensitif terhadap lonjakan harga gandum.
- Porsi bahan baku terhadap total persediaan (Juni 2026): 44,9 persen — tertinggi di antara tiga emiten
- GPM Q2 2026: 33,84 persen, turun 0,93 poin persentase secara kuartalan
2. INDF — Relatif Lebih Terlindungi lewat Integrasi Bogasari
Posisi INDF relatif lebih terlindungi karena memiliki integrasi dengan Bogasari. Kenaikan biaya gandum dapat sebagian diserap melalui bisnis tepung terigu, sekaligus diimbangi dengan penyesuaian harga jual, Bogasari sendiri telah menaikkan harga jual tepung sekitar 3-4 persen sepanjang semester I/2026.
- Porsi bahan baku terhadap total persediaan (Juni 2026): 41,7 persen, terendah di antara tiga emiten
- GPM Q2 2026: 32,31 persen, turun 0,61 poin persentase secara kuartalan, penurunan paling kecil
3. MYOR — Eksposur Menengah lewat Biskuit dan Wafer
MYOR memiliki eksposur terhadap tepung terigu, terutama melalui produk biskuit dan wafer. Perusahaan memperoleh pasokan tepung dari pemasok lokal, sehingga dampaknya terhadap margin bergantung pada seberapa besar kenaikan harga gandum akhirnya diteruskan oleh pemasok ke harga tepung.
- Porsi bahan baku terhadap total persediaan (Juni 2026): 41,9 persen
- GPM Q2 2026: 24,83 persen, turun 1,72 poin persentase secara kuartalan, penurunan paling dalam di antara tiga emiten
Pricing Power Jadi Kunci
Meski demikian, kenaikan biaya bahan baku tidak serta-merta harus diterjemahkan menjadi penyebab penurunan laba.
Perusahaan masih memiliki sejumlah cara untuk menjaga profitabilitas, mulai dari melakukan penyesuaian harga secara selektif, meningkatkan efisiensi biaya, mengatur waktu pembelian dan persediaan bahan baku, hingga mengoptimalkan bauran produk.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa tinggi harga gandum naik, tetapi juga seberapa besar kenaikan tersebut masuk ke biaya produksi dan seberapa mampu perusahaan meneruskannya kepada konsumen.
Dengan demikian, kenaikan harga gandum saat ini memang menjadi risiko bagi margin emiten konsumer, tetapi tekanannya masih berpotensi lebih terukur dibandingkan periode 2022.
Harga gandum dalam rupiah masih sekitar 28 persen di bawah ATH, sementara persediaan, eksposur terhadap tepung, kemampuan melakukan efisiensi, dan pricing power akan menjadi faktor utama yang menentukan seberapa besar kenaikan harga gandum akhirnya menggerus margin.
Gimana, menurut kalian akankan deretan emiten consumer itu masih bertahan tahun ini atau masih rawan?
Pantau Pergerakan Harga Saham dan Trading Lebih Cepat di Ajaib
Mau pantau pergerakan saham ICBP, INDF, MYOR, dan saham potensial lainnya lebih detail? Cek data fundamental, historis GPM, dan proyeksi kinerja emiten consumer goods langsung di Ajaib. Download Ajaib Terminal untuk trading saham lebih powerful dan cepat. Nikmati fitur-fitur canggih yang membantu membuat keputusan trading yang lebih cerdas.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!