PT Indofood Sukses Makmur Tbk didirikan pada 14 Agustus 1990 dengan nama PT Panganjaya Intikusuma, dan melantai di bursa saham pada 14 Juli 1994.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk memiliki visi untuk menjadi solusi total untuk makanan.
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten milik konglomerat Anthoni Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk. $INDF telah memutuskan pembagian dividen kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Jumat (20/6/2025). Dalam RUPST $INDF, perseroan sepakat membagikan dividen senilai Rp280 per lembar saham untuk tahun buku 2024. Dengan begitu, dividen ini akan menjadi yang terbesar secara nilai per lembar saham sejak tahun buku 2019.
Source: Bisnis.com
Laporan keuangan kuartal 3 INDF telah terbit. INDF berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp27.801.605.000.000 pada kuartal ini. Pendapatan ini turun 1.00% dari tahun sebelumnya sebesar Rp28.034.293.000.000.
Pada kuartal ini INDF meraup profit sebesar Rp1.516.503.000.000, total profit ini turun 13.00% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp1.745.268.000.000.
Dengan total pendapatan dan profit INDF pada kuartal ini, INDF mencatat profit margin sebesar 0.08% atau lebih besar dari tahun lalu yang sebesar 0.06%.
Mengintip ADX $INDF
Ngomongin $INDF , kali ini kita coba intip Average Directional Index (ADX) buat prediksi trend ke depan. Dari data open dan close di Januari, sinyal ADX keliatan belum menunjukin kekuatan trend yang signifikan. Walau sempat naik turun, nilainya masih di kisaran stagnan. Kalau melihat perkembangan ini, kayaknya pasar masih ragu soal arah berikutnya.
PART 6
Sektor Defensif: Sektor ini akan menjadi penopang portofolio. Permintaan untuk produk dan layanan mereka bersifat inelastis, artinya masyarakat akan terus membelinya terlepas dari kondisi ekonomi.
Konsumen Primer: Perusahaan seperti $ICBP dan $INDF akan tetap kokoh karena mi instan dan produk makanan pokok lainnya menjadi andalan di masa sulit. Demikian pula dengan peritel barang pokok seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk $AMRT .
Kesehatan: Kebutuhan akan obat-obatan dari PT Kalbe Farma Tbk $KLBF atau produk jamu dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk $SIDO tidak akan surut.
Sektor Ofensif : Sektor ini akan diuntungkan oleh dinamika perang.
Energi: Dengan potensi gangguan pasokan dari produsen energi utama dunia, harga komoditas seperti batu bara akan melambung. Emiten seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk $ADRO dan PT Bukit Asam Tbk $PTBA akan menikmati keuntungan yang luar biasa.
Barang Baku (Mineral Strategis): Perang modern sangat bergantung pada teknologi tinggi, yang memerlukan mineral strategis. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, akan berada di posisi yang sangat menguntungkan. Permintaan nikel untuk industri pertahanan dan baterai akan meroket, memberikan keuntungan besar bagi emiten seperti $ANTM dan PT Vale Indonesia Tbk $INCO .
Sektor Negativ: Sektor-sektor ini akan menjadi korban utama dan harus dihindari.
Pariwisata, Hotel, dan Transportasi: Ini adalah sektor pertama yang akan lumpuh. Pembatasan perjalanan, risiko keamanan, dan anjloknya daya beli akan membuat industri ini mati suri.
Keuangan/Perbankan: Sektor ini akan menghadapi tsunami kredit macet dari perusahaan-perusahaan di sektor rentan yang bangkrut dan dari individu yang kehilangan pekerjaan.
Manufaktur (Bergantung Impor): Industri seperti otomotif dan elektronik akan terhantam dari dua sisi: gangguan pasokan bahan baku impor dan pelemahan Rupiah yang membuat biaya impor melambung tinggi.
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten milik konglomerat Anthoni Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk. $INDF telah memutuskan pembagian dividen kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Jumat (20/6/2025). Dalam RUPST $INDF, perseroan sepakat membagikan dividen senilai Rp280 per lembar saham untuk tahun buku 2024. Dengan begitu, dividen ini akan menjadi yang terbesar secara nilai per lembar saham sejak tahun buku 2019.
Source: Bisnis.com
Laporan keuangan kuartal 3 INDF telah terbit. INDF berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp27.801.605.000.000 pada kuartal ini. Pendapatan ini turun 1.00% dari tahun sebelumnya sebesar Rp28.034.293.000.000.
Pada kuartal ini INDF meraup profit sebesar Rp1.516.503.000.000, total profit ini turun 13.00% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp1.745.268.000.000.
Dengan total pendapatan dan profit INDF pada kuartal ini, INDF mencatat profit margin sebesar 0.08% atau lebih besar dari tahun lalu yang sebesar 0.06%.
Mengintip ADX $INDF
Ngomongin $INDF , kali ini kita coba intip Average Directional Index (ADX) buat prediksi trend ke depan. Dari data open dan close di Januari, sinyal ADX keliatan belum menunjukin kekuatan trend yang signifikan. Walau sempat naik turun, nilainya masih di kisaran stagnan. Kalau melihat perkembangan ini, kayaknya pasar masih ragu soal arah berikutnya.
PART 6
Sektor Defensif: Sektor ini akan menjadi penopang portofolio. Permintaan untuk produk dan layanan mereka bersifat inelastis, artinya masyarakat akan terus membelinya terlepas dari kondisi ekonomi.
Konsumen Primer: Perusahaan seperti $ICBP dan $INDF akan tetap kokoh karena mi instan dan produk makanan pokok lainnya menjadi andalan di masa sulit. Demikian pula dengan peritel barang pokok seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk $AMRT .
Kesehatan: Kebutuhan akan obat-obatan dari PT Kalbe Farma Tbk $KLBF atau produk jamu dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk $SIDO tidak akan surut.
Sektor Ofensif : Sektor ini akan diuntungkan oleh dinamika perang.
Energi: Dengan potensi gangguan pasokan dari produsen energi utama dunia, harga komoditas seperti batu bara akan melambung. Emiten seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk $ADRO dan PT Bukit Asam Tbk $PTBA akan menikmati keuntungan yang luar biasa.
Barang Baku (Mineral Strategis): Perang modern sangat bergantung pada teknologi tinggi, yang memerlukan mineral strategis. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, akan berada di posisi yang sangat menguntungkan. Permintaan nikel untuk industri pertahanan dan baterai akan meroket, memberikan keuntungan besar bagi emiten seperti $ANTM dan PT Vale Indonesia Tbk $INCO .
Sektor Negativ: Sektor-sektor ini akan menjadi korban utama dan harus dihindari.
Pariwisata, Hotel, dan Transportasi: Ini adalah sektor pertama yang akan lumpuh. Pembatasan perjalanan, risiko keamanan, dan anjloknya daya beli akan membuat industri ini mati suri.
Keuangan/Perbankan: Sektor ini akan menghadapi tsunami kredit macet dari perusahaan-perusahaan di sektor rentan yang bangkrut dan dari individu yang kehilangan pekerjaan.
Manufaktur (Bergantung Impor): Industri seperti otomotif dan elektronik akan terhantam dari dua sisi: gangguan pasokan bahan baku impor dan pelemahan Rupiah yang membuat biaya impor melambung tinggi.