Analisa Saham

Bedah Saham UFOE – Tumbuh Subur di Kala Pandemi

Ajaib.co.id – Pada tanggal 2 Februari 2021 PT Damai Sejahtera Abadi (kode saham UFOE) resmi menjadi perusahaan kelima yang melakukan penawaran umum perdana sahamnya alias IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Diketahui UFOE melakukan debut bersamaan dengan PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK). Kendati harganya tak naik gila-gilaan seperti BANK, UFOE cukup menarik untuk diperhatikan.

Dengan menelaah prospektusnya kamu akan menemukan bahwa emiten ritel elektronik dan peralatan rumah tangga ini sama sekali tak terdampak pandemi. Bahkan lebih dari sekedar bertahan, emiten saham UFOE selama tahun 2020 mencatatkan penguatan kinerja berkat tren Work From Home dan School From Home. Simak selengkapnya!

Rincian Penawaran Perdana Saham

PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) mencatatkan sahamnya di sektor Consumer Cyclicals, sub sektor Retailing. Emiten melepas 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh (setelah IPO) atau setara dengan  457.500.000 saham biasa ke publik di harga Rp 101 per lembar saham.

Dengan demikian dana segar yang ditargetkan akan terhimpun adalah sebesar Rp 46.207.500.000. Sebesar 91,7 persen dana yang terkumpul rencananya akan digunakan untuk pengembangan usaha memperluas jaringan dengan menambah jumlah toko dan gudang di Gresik, Jawa Timur. Sedangkan sisanya yaitu 8,3 persen dana akan digunakan untuk membeli barang persediaan dan pembayaran utang usaha untuk kebutuhan operasional.

Selain itu emiten juga mengadakan program insentif saham untuk karyawan alias Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 24.110.000 lembar saham UFOE atau setara dengan 5,27 persen dari penerbitan saham yang ditawarkan.

Profil Emiten

PT Damai Sejahtera Abadi adalah perusahaan yang berkedudukan di Surabaya didirikan pada tanggal 29 Januari 2004. Kegiatan usaha utamanya adalah perdagangan ritel elektronik dan furnitur rumah tangga. Perseroan melakukan penawaran perdana saham pada tanggal 2 Februari 2021 dengan kode saham UFOE.

Pemegang saham mayoritas dari saham UFOE adalah PT Damai Sejahtera Lestari Investama yang menguasai 72 persen saham UFOE, berikutnya ada Pudji Harianto (4,8 %) dan Poedji Harixon (3,2 %), dan program saham untuk karyawann alias Employee Stock Allocation sebesar 1,05 persen dari total saham beredar. Sedangkan saham UFOE yang terdistribusi beredar di publik adalah sebanyak 18,95 %.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 2.287.500.000 lembar saham di harga Rp 486 per lembar saham, maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 1.125.450.000.000.

Cakupan Usaha

PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) adalah sebuah perusahaan dengan kegiatan usaha utamanya perdagangan ritel produk elektronik dan furnitur rumah tangga yang berkedudukan di Surabaya.

Mengutip Dra. Soeliana Tanumihardjo selaku Direktur Keuangan, “Peningkatan penjualan elektronik dipengaruhi adanya pandemi COVID-19 yang menyebabkan adanya sistem work from home (WFH), sehingga kebutuhan masyarakat terhadap barang elektronik menjadi meningkat.”

Penjualan elektronik memang menjadi andalan emiten, berikut rincian penjualan per segmen usaha.

Berturut-turut perolehan penjualan emiten per tahun buku adalah Rp 630,22 miliar di tahun 2019, Rp 593,17 miliar di tahun 2018 dan Rp 528 miliar di tahun 2017.

Kontribusi segmen usaha ritel elektronik adalah sebesar 94,59 persen di tahun 2017. Di tahun 2018 segmen yang sama berkontribusi sebesar 94,25 persen. Dan lagi di tahun buku 2019 segmen ini juga masih mendominasi dengan total kontribusi sebesar 93,42 persen. Setiap tahunnya memang besar sekali kontribusi segmen usaha ritel elektronik ini kepada emiten.

Segmen usaha lain yang dijalankan oleh emiten adalah penjualan furnitur dan lain-lain.

Review Kinerja

Dra. Soeliana Tanumihardjo selaku Direktur Keuangan UFOE mengungkap bahwa fundamental emiten sangat baik dan tidak terdampak pandemi.

Berdasarkan prospektus bagian laporan posisi keuangan, penjualan hingga 30 September 2020 adalah sebesar Rp 510,9 miliar, jauh lebih besar dari yang diperoleh emiten di periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 452,5 miliar.

Laba bersih yang berhasil dihimpun di Kuartal III-2020 adalah Rp 10,67 miliar, nyaris lima kali lipat lebih besar dibandingkan pada apa yang diperoleh di Kuartal III-2019 yaitu sebesar Rp 2,3 miliar sebelum penyesuaian proforma.

Laba yang diperoleh per September 2020 bahkan lebih besar dari laba bersih yang berhasil didapat di full year 2019, 2018 dan 2017! 

Sebagai informasi perseroan berencana membagikan dividen tunai sebesar 25 persen dari laba bersih tahun buku 2020.

Melihat ikhtisar kinerjanya, emiten pengecer elektronik dan furnitur rumah tangga ini rupanya tidak suka memendam kas di bank. UFOE lebih suka membayarkan liabilitas daripada menyimpan kas.

Besar Kas dan setara kas emiten turun 10,11 persen setiap tahunnya. Terakhir per Juni 2020 kas yang dimiliki emiten hanya Rp 4,32 miliar saja.

Ketika kas sangat sedikit, asetnya sangat besar yakni Rp 290,54 miliar per Juni 2020. Di akhir tahun buku 2019 aset emiten adalah sebesar Rp 296,14 miliar, naik dari Rp 214,7 di 2018 dan Rp 217,9 miliar di 2017. Pertumbuhan aset adalah sebesar 10,77 persen CAGR.

Yang melegakan adalah liabilitas cenderung turun nilainya, dijaga agar besarnya tidak lebih dari Rp 180 miliar per tahun. Liabilitas mencatatkan pertumbuhan negatif alias berkurang 0,22 persen setiap tahunnya.

Yang unik adalah fakta bahwa pendapatan emiten tumbuh dengan CAGR/pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 6,02 persen setiap tahun. Akan tetapi pertumbuhan rata-rata laba bersih adalah sebesar 52,16 persen per tahun. Berikut rasio profitabilitas dan solvabilitas yang dapat dicermati:

Ratio 30-Apr-20 31-Dec-19 31-Dec-18 31-Dec-17
ROE 2,13% 4,52% 8,24% 4,01%
ROA 0,87% 1,78% 1,60% 0,69%
DER 144,19% 153,49% 415,12% 482,88%
NPM 0,74% 0,84% 0,58% 0,28%
Perputaran Persediaan 4x 5x 5x 4x

Berdasarkan hasil olah data di atas kita mengetahui bahwa marjin laba bersih (NPM) yang berhasil dicatatkan emiten sangatlah tipis, tidak sampai 1 persen setiap tahunnya. Namun secara umum kita bisa lihat ada peningkatan. Di tahun 2017 NPM dari UFOE adalah sebesar 0,28 persen, di tahun 2018 sebesar 0,58 persen. Naik lagi di tahun 2019 menjadi 0,84 persen.

Sebenarnya marjin laba tipis adalah ciri dari usaha ritel. Usaha ritel memang pada umumnya tidak memiliki keunggulan kompetitif selain di persaingan harga, oleh karenanya marjin laba usaha ritel memang cenderung tipis. Tapi kita telah menyaksikan bersama bahwa emiten UFOE berhasil melakukan efisiensi dan membukukan pertumbuhan laba bersih hingga 52 persen per tahun.

Pertumbuhan marjin laba bersih menandakan emiten telah berhasil berhemat, pengetatan beban-beban telah meningkatkan pertumbuhan laba bersih lebih pesat dari pertumbuhan pendapatan itu sendiri. Dengan demikian kita bisa berharap marjin laba bersih bisa naik lebih tinggi lagi dari posisinya saat ini. Semoga dengan efisiensi yang dilakukan emiten kita dapat menyaksikan laba bersih emiten tumbuh lebih besar dari 1%.

Berikutnya yang harus kita cermati juga dalam mengevaluasi emiten perdagangan ritel adalah rasio aktivitasnya terutama rasio perputaran persediaan. Rasio perputaran persediaan adalah jumlah barang yang berhasil dijual oleh suatu perusahaan yang menggantikan stok barang selama satu periode.

Tingginya rasio perputaran persediaan menunjukkan bahwa suatu perusahaan mampu menjual barang dengan cepat. Rasio perputaran persediaan rata-rata UFOE adalah 4:1 atau 5:1, hal ini menunjukkan bahwa besaran penjualan  adalah sebesar 4 kali atau 5 kali lipat dari rata-rata stok barang. Kita bisa menyimpulkan bahwa UFOE cukup baik dalam hal penjualan.

Prospek

Sebagai informasi laba bersih per September 2020 adalah sebesar Rp 10,67 miliar. Dengan demikian proyeksi laba bersih emiten per tahun  buku 2020 adalah sebesar Rp 14,27 miliar.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 2.287.500.000 maka laba per saham adalah sebesar Rp 6,23. Harga terakhir per 16 Maret 2021 adalah Rp 486, maka rasio PE nya adalah 78x. Untuk performa yang ditunjukkan saat ini, harga saham Rp 486 jelas mencerminkan overpriced

Prospek datang dari rencana emiten untuk ekspansi usahanya di kota Gresik, Jawa Timur. Selama ini emiten telah sukses di Surabaya, kita akan nantikan kinerjanya di Gresik setelah IPO.

Kesimpulan

Penjualan yang berhasil diperoleh emiten sangat baik, bertumbuh 6 persen setiap tahunnya dengan total pendapatan Rp 630 miliar per tahun buku 2019. Bahkan di September 2020 UFOE telah menghasilkan pendapatan sebesar Rp 510,9 miliar.

Perputaran persediaan pun sangat tinggi dengan rata-rata rasio perputaran persediaan 4x. Hal ini menandakan bahwa penjualan sangat baik sehingga barang di gudang cepat digantikan dengan barang yang baru dengan kecepatan 4x stock opname alias 4x pasok ulang persediaan dalam satu periode.

Persediaan yang cepat habis menandakan bahwa emiten kenal betul selera masyarakat sehingga bisa menjual elektronik yang tepat dengan jumlah pasokan yang telah dihitung dengan baik di harga yang disukai masyarakat.

Sayangnya marjin laba yang berhasil diperoleh kecil sekali, tidak sampai 1 persen dari pendapatan. Perputaran persediaan yang besar diiringi dengan marjin laba yang kecil menandakan bahwa emiten bisa unggul karena melakukan perang harga sehingga tak bisa mengambil laba banyak.

Meskipun marjin labanya kering tipis kurus, namun kita bisa lihat bahwa terdapat tren naik pada marjin laba. Di tahun 2017 marjin labanya adalah 0,28 persen, menjadi 0,58 persen di 2018 dan naik lagi menjadi 0,84 persen di tahun 2019.

Peningkatan marjin laba menandakan adanya strategi yang berhasil emiten lakukan dalam hal efisiensi beban sehingga menyisakan marjin laba yang lebih besar dari tahun sebelum-sebelumnya. Jika tren ini berlanjut maka kemungkinan besar kita bisa mengharapkan marjin laba yang lebih gemuk.

Berbicara tentang laba, emiten berencana membagikan 25 persen dari laba bersih yang berhasil dibukukan di tahun 2020 dalam bentuk dividen tunai yang akan dibagikan di tahun 2021. Dividen tentu merupakan salah satu hal yang paling diinginkan semua investor.

Untuk mengoleksi saham ini kamu harus perhatikan lekat-lekat seputar kenaikan laba bersih yang berhasil dibukukan karena di harga saat ini tergolong premium dibandingkan dengan laba per sahamnya.

Emiten ini akan menarik jika rasio PE nya bisa turun setidaknya ke angka 15x. Turunnya PE bisa disebabkan dua hal yaitu harganya turun atau labanya naik. Kita bisa harapkan salah satunya terjadi. Perlu diketahui bahwa emiten ritel memang biasa ditransaksikan di PE yang cukup tinggi karena memang menarik.

Sejauh ini emiten sukses melancarkan kegiatan usahanya di Surabaya, dengan melakukan IPO rencananya emiten hendak memperluas usaha dengan menjangkau kota lain di Gresik, Jawa Timur. Apakah strategi banting harga juga akan berhasil di Gresik, sebuah kota dengan daya beli di bawah kota Surabaya. Kita bisa saksikan bersama sepak terjang emiten berikutnya seiring dengan waktu.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

Artikel Terkait