Analisa Saham, Saham

Bedah Prospektus Saham IPO Bukalapak (BUKA)

Sumber: Wikimedia

Ajaib.co.id – Siapa sih yang belum pernah dengar dan kenal nama Bukalapak? Salah satu marketplace terbesar di Indonesia ini akhirnya akan menggelar penawaran saham perdana pada 28-30 Juli 2021. Tapi, bagaimana dengan kinerja keuangan dan prospeknya? Apakah saham IPO Bukalapak layak dibeli? Mari kita bedah prospektus Bukalapak untuk menggali informasi lebih lanjut.

Profil Singkat Emiten

PT Bukalapak.com Tbk merupakan operator dari marketplace Bukalapak yang memfasilitasi beragam transaksi e-commerce B2B, B2C, C2C, serta investasi online. Startup ini didirikan pada tahun 2010, kemudian berkembang pesat hingga meraih status “unicorn” dengan valuasi antara USD2,5-USD3,0 miliar pada tahun 2017.

Per tahun 2020, Bukalapak memiliki sekitar 6,9 juta pedagang dan 104,9 juta pengguna terdaftar. Total nilai pemrosesan transaksi mencapai USD6 miliar, sedangkan pendapatannya USD95,8 juta (Rp1,35 triliun).

Pendapatan Bukalapak bersumber dari tiga segmen, yakni:

  1. Pendapatan Marketplace; mencakup komisi penjualan pedagang pada platform e-commerce, pengeluaran pemasaran oleh pedagang, serta pemenuhan layanan logistik yang ditawarkan perseroan kepada pedagang.
  2. Pendapatan Mitra; meliputi komisi penjualan produk fisik dan virtual pada platform Mitra Bukalapak, serta penyediaan layanan logistik ke Mitra.
  3. Pendapatan BukaPengadaan; diperoleh dari biaya barang dan margin penjualan barang fisik dan produk virtual yang difasilitasi oleh Perseroan atas produk Perseroan sendiri ataupun produk Mitra.

Mayoritas pendapatan Bukalapak diperoleh dari segmen Marketplace, yakni sekitar 73%. Sedangkan pendapatan dari segmen Mitra dan BukaPengadaan masing-masing sebesar 14% dan 9%.

Saham Bukalapak saat ini tersebar diantara 55 investor institusi dan perorangan (termasuk 1 pemegang saham lainnya yang terdiri dari 204 karyawan atau eks karyawan). Para pemegang saham Bukalapak terbesar saat ini antara lain:

  1. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melalui anak usahanya, PT Kreatif Media Karya, menguasai 31,90%.
  2. Ant Financial (Alibaba Group) melalui anak usahanya, API (Hong Kong) Investment Ltd, menguasai 17,40%.
  3. Para pendiri Bukalapak masing-masing Ahmad Zaky (5,91%), Muhamad Fajrin Rasyid (3,62%), dan Nugroho Heru Cahyono (2,8%).
  4. Archipelago Investment Ptd Ltd, sebuah perusahaan holding investasi asal Singapura, sebanyak 12,60%.

Detail Rencana IPO Bukalapak

Bukalapak.com memilih kode saham BUKA dan akan melaksanakan penawaran saham perdana tanpa melalui mekanisme e-IPO. Untuk ikut serta, investor perlu mengisi formulir khusus dari situs Bukalapak dalam periode 28-29 Juli 2021. 

Setelah mengisi formulir, investor wajib menyetorkan dana ke RDN masing-masing paling lambat sebelum T-1 berakhirnya penawaran umum (30 Juli 2021). Salinan formulir dan bukti transfer dana kemudian dikirimkan kepada sekuritas masing-masing. 

Jadwal IPO Bukalapak sementara berdasarkan prospektus tanggal 9 Juli 2021 sebagai berikut:

  • Masa Penawaran Awal: 9 Juli-19 Juli 2021
  • Tanggal Efektif: 26 Juli 2021
  • Masa Penawaran Umum Perdana Saham: 28 Juli-30 Juli 2021
  • Tanggal Penjatahan: 3 Agustus 2021
  • Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik: 5 Agustus 2021
  • Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia: 6 Agustus 2021

Total jumlah saham beredar BUKA mencapai 103,06 miliar lembar saham. BUKA akan menawarkan sebanyak-banyaknya 25.765.504.851 lembar saham biasa yang mewakili sekitar 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor ke perusahaan pasca-IPO. Harga penawaran pada masa book-building berkisar antara Rp750-Rp850 per lembar.

Penjamin emisi efek BUKA adalah PT UBS Sekuritas Indonesia dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Sedangkan penjamin pelaksana emisi efeknya adalah PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas.

Estimasi nilai total maksimal dari hasil saham IPO Bukalapak sebesar Rp21,9 triliun. Rencananya, sekitar 66% dana akan dipakai untuk modal kerja perseroan. Sisanya akan dipergunakan untuk modal kerja entitas anak.

Pada saat IPO, perseroan juga akan bagi-bagi saham bagi karyawannya melalui dua skema: 

  1. Program alokasi saham kepada karyawan (Employee Stock Allocation/ESA): Sebanyak-banyaknya 0,1% dari saham yang ditawarkan, atau setara 25.765.505 lembar saham dengan harga pelaksanaan yang sama dengan harga penawaran.
  2. Program kepemilikan saham karyawan (Management Employee Stock Option Plan/MESOP): Sebanyak-banyaknya 4,91% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan setelah pelaksanaan IPO, atau setara 5.060.345.153 lembar saham.

Kinerja Laporan Keuangan Bukalapak

Prospektus Bukalapak menunjukkan bahwa perusahaan masih mencetak kerugian hingga laporan keuangan terakhirnya per 31 Maret 2021. Namun, nilai rugi usaha terus menerus berkurang sejak tahun 2018 hingga tahun 2020. Pendapatan Bukalapak juga terus bertumbuh.

Berikut ini rangkuman kinerja laba BUKA berdasarkan laporan tersebut (dalam ribuan rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus):

Komponen Laba/RugiI/2021I/2020
Pendapatan neto423.704.907320.232.091
Rugi usaha-397.028.873-327.999.510
Rugi yang dapat diatribusikan kepada entitas induk-393.492.768-323.247.720
Rugi per saham (rupiah penuh)-50,405-39,385
Komponen Laba/RugiIV/2020IV/2019IV/2018
Pendapatan neto1.351.664.4601.076.603.891291.907.495
Rugi usaha-1.837.673.827-2.841.379.545-2.283.295.665
Rugi yang dapat diatribusikan kepada entitas induk-1.349.041.582-2.795.350.000-2.243.420.328
Rugi per saham (rupiah penuh)-171,480-365,799-341,298

Total aset Bukalapak naik jadi Rp1,69 triliun per Maret 2021 dibandingkan Rp1,48 triliun per Desember 2020. Ekuitas meningkat menjadi Rp1,70 triliun dari sebelumnya Rp1,60 triliun. Sedangkan liabilitas naik menjadi Rp1,05 triliun dari sebelumnya Rp985,82 miliar. 

Rasio-rasio Keuangan Bukalapak

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang apakah suatu saham layak dibeli, lazimnya kita perlu meninjau rasio-rasio keuangan seperti ROE (Return on Equity), ROA (Return on Asset), NPM (Net Profit Margin), dan lain-lain. Namun, kita tak dapat memanfaatkannya dalam menilai Bukalapak.

Bukalapak merupakan perusahan startup yang masih merugi dan bergantung pada pendanaan dari luar. ROA, ROE, dan NPM negatif, sehingga kinerjanya menjadi sangat buruk jika dievaluasi ala perusahaan konvensional.

Perusahaan juga jelas tidak dapat memberikan dividen selama perusahaan belum mampu menghasilkan laba. Namun, itu tidak lantas berarti Bukalapak memiliki masa depan yang suram, karena jangkauan pasar potensialnya yang sangat luas.

Teknik mengevaluasi kinerja dan prospek perusahaan startup berbasis teknologi itu semestinya agak berbeda dengan perusahaan konvensional. Kalau begitu, bagaimana caranya? Ada tiga alternatif yang dapat dimanfaatkan:

  1. Salah satu parameter rasio keuangan konvensional yang masih dapat dipergunakan untuk mengevaluasi startup padat teknologi adalah laju pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR). CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin dalam paparan publik-nya menyatakan bahwa pertumbuhan CAGR mencapai 115%. 
  2. Sejumlah pihak mengukur valuasi saham dengan cara berfokus pada market share dan bukan pada profitabilitas perusahaan. Data market share dapat diambil dari total transaksi. Total transaksi di Bukalapak mencapai Rp85,08 triliun per 2020, naik dari Rp57,39 triliun pada 2019, dan Rp28,34 triliun pada 2018.
  3. Ada pula yang menghitung valuasi berdasarkan PSR (Price-to-Sales Ratio). Praktisi value investing Rivan Kurniawan menyampaikan perhitungan PSR Bukalapak berdasarkan data-data per Maret 2021 kepada media Bisnis.com (9/9/2021) dengan kesimpulan bahwa harga penawarannya terlalu mahal.

Jumlah saham beredar Bukalapak mencapai 103,06 miliar lembar saham. Dalam laporan keuangan kuartal I/2021, Bukalapak membukukan pendapatan Rp423,7 miliar, sehingga pendapatan disetahunkan sekitar Rp1,69 triliun. Perhitungan revenue per share Bukalapak sama dengan Rp1,69 triliun dibagi 103,06 miliar lembar saham, yakni Rp16 per saham. 

Dengan demikian, harga book building IPO Bukalapak Rp750-Rp850 mencerminkan PSR 45,6x-51,7x. Kurniawan menilai PSR tersebut terlalu mahal, karena PSR wajar berada di bawah 5x.

Dari paparan di atas, kita dapat menyimpulkan: Prospek pertumbuhan Bukalapak berdasarkan CAGR dan total transaksi terlihat sangat potensial. Namun, saham IPO Bukalapak tidak cocok bagi dividend hunter dan harga IPO-nya terlalu mahal bagi value investor. Keputusan selanjutnya untuk mengikuti IPO Bukalapak atau tidak, dapat diambil sesuai dengan strategi investasi kamu.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Sumber: Frequently Asked Questions (FAQs) dan Video Cara Memesan Saham Bukalapak (BUKA), Review IPO Bukalapak, Buy or Bye ?, dan Menghitung Valuasi Harga IPO Bukalapak (BUKA), Masih Menarik bagi Investor Ritel?, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait