Ajaib, Analisa Saham

Bedah IPO ASHA, Spesialis Bisnis Perikanan Asal Cilacap

Indonesia memiliki area perairan yang sangat luas, sehingga memiliki potensi luar biasa dalam bidang perikanan. Ada banyak cara bagi kita untuk ikut memajukan perikanan Indonesia sekaligus memetik laba dari bisnis ini. Salah satunya, berinvestasi pada saham perusahaan perikanan seperti PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk atau ASHA yang sudah go public.

Profil Singkat Emiten

PT Cilacap Samudera Fishing Industry berdiri pada 1 Oktober 1999 sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perikanan, pengolahan ikan, pertambakan, galangan kapal, serta memperdagangkan hasil aktivitasnya untuk komoditas ekspor. Bidang usahanya mencakup perdagangan besar hasil perikanan dan aktivitas cold storage.

Saham Cilacap Samudera Fishing Industry saat ini terbagi diantara PT Asha Fortuna Corpora (40%), PT Mestika Arta Dirga (20%), PT Inti Sukses International (20%), Erlin Sutioso (10%), dan Ervin Sutioso (10%). Komposisi kelak akan mengalami perubahan, karena perusahaan menawarkan sebanyak-banyknya 25% dari modal ditempatkan pada ajang IPO. 

Prakiraan struktur pemegang saham ASHA pasca-IPO menjadi PT Asha Fortuna Corpora (30%), PT Mestika Arta Dirga (15%), PT Inti Sukses International (15%), Erlin Sutioso (7,5%), Ervin Sutioso (7,5%) dan masyarakat (25%).  

Detail Rencana IPO ASHA

PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk akan menggunakan kode saham ASHA. Penjamin pelaksana emisi efek ASHA adalah PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia dan PT KGI Sekuritas Indonesia. 

Penawaran saham perdana melalui mekanisme e-IPO dengan jadwal sebagai berikut:

  • Masa Penawaran Awal: 22-27 April 2022
  • Tanggal Efektif: 18 Mei 2022
  • Masa Penawaran Umum: 19 – 24 Mei 2022
  • Tanggal Penjatahan: 24 Mei 2022
  • Tanggal Distribusi Saham: 25 Mei 2022
  • Tanggal Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia: 27 Mei 2022

ASHA akan menawarkan sebanyak-banyaknya 1,25 miliar saham baru, atau 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Harga penawaran Rp100 per saham. Dengan demikian, nilai IPO ASHA keseluruhan antara Rp125 miliar.

Dana hasil IPO ASHA akan dipergunakan untuk tiga tujuan berikut ini:

  1. Sekitar Rp75 miliar untuk modal kerja perseroan, tepatnya pembelian persediaan ikan.
  2. Sekitar Rp28 miliar untuk pembelian 99,97% saham PT Jembatan Lintas Global (JLG) yang bergerak dalam bidang perikanan. Ini merupakan transaksi afilias, karena saham JLG akan dibeli dari Ervin Sutioso dan Andi Soegiarto (suami Erlin Sutioso).
  3. Sisanya untuk modal kerja perseroan, tepatnya biaya operasional kantor dan biaya operasional kapal.

Kinerja Laporan Keuangan ASHA

Prospektus ASHA menunjukkan kinerja positif dalam laporan keuangan yang telah diaudit sampai akhir tahun 2020 serta laporan keuangan yang belum diaudit sampai akhir tahun 2021. Perusahaan mendulang laba Rp642,61 juta per 31 Desember 2020, serta Rp894,95 juta per 31 Desember 2021.

Berikut ini rangkuman kinerja keuangan ASHA selama 4 tahun terakhir (dalam juta rupiah):

2021* 2020 2019 2018
Total Aset 111.776,68 55.037,72 56.121,72 60.763,62
Total Liabilitas 33.122,74 24.570,41 26.816,89 29.343,43
Total Ekuitas 78.653,94** 30.467,31 29.304,83 31.420,19
Pendapatan 168.406,16 179.336,38 23.879,33 44.222,60
Laba/Rugi yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik 894,95 642,61 -2.188,27 142,21
*Laporan keuangan belum diaudit.
** Ekuitas ASHA mengalami kenaikan signifikan pada akhir tahun 2021, karena penambahan modal disetor sebesar Rp64,8 miliar yang dilakukan oleh para pemegang saham

Rangkuman menunjukkan pendapatan dan laba perusahaan yang fluktuatif mengarah ke tren positif. Pendapatan perusahaan menurun 46% antara 2018-2019, karena biaya operasional yang tinggi dan tidak efisien disebabkan adanya regulasi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang kurang kondusif. Kerugian tahun 2019 sebesar Rp2,19 miliar juga terjadi lantaran situasi ini.

Pendapatan kemudian meningkat sampai 651% pada tahun 2020, karena perusahaan berupaya beradaptasi dengan perubahan peraturan Kementrian dengan beralih dari fokus bisnis penangkapan ikan menjadi bisnis trading perikanan. Tapi pendapatan perusahaan menurun lagi sebesar 6,09% pada akhir 2021, karena suspensi dari sejumlah negara destinasi ekspor sejak Agustus 2021 terkait mitigasi COVID-19. 

Meski demikian, laba perusahaan tetap bertumbuh selama dua tahun terakhir, sehingga perusahaan masih cukup bisa diandalkan atau reliabel untuk mencetak pendapatan dan laba.

Rasio-rasio Keuangan ASHA

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang apakah suatu saham layak dibeli, lazimnya kita perlu meninjau rasio-rasio keuangan. Berikut ini status rasio keuangan ASHA selama empat tahun terakhir:

D:\ajaib\2022-05\20220518-bedah-ipo-asha-2.png

Data di atas menunjukkan bahwa ASHA termasuk perusahaan yang sehat dengan rasio utang terhadap aset dan ekuitas berada di bawah 1x. Ini berarti perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya. 

Selama dua tahun terakhir, laba perusahaan tetap tumbuh. Bahkan, pada Desember 2021 dengan pendapatan yang lebih rendah dari tahun 2020, perusahaan masih cukup bisa diandalkan (reliable) untuk mencetak pendapatan dan juga laba.

Kebijakan Dividen ASHA

Prospektus mengungkapkan bahwa ASHA bermaksud untuk membayarkan dividen kas kepada pemegang saham Perseroan dalam jumlah sebanyak-banyaknya 20% dari laba bersih Perseroan tahun buku 2022 yang akan dibagikan pada tahun 2023. Dividen akan dibayarkan jika perusahaan memiliki saldo laba positif setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan pasal 71 angka (3) UUPT, serta disepakati oleh pemegang saham dalam RUPS Tahunan.

Prospek Bisnis ASHA

PT Cilacap Samudera Fishing Industry kini berfokus pada segmen perdagangan hasil laut tanpa menggunakan kapal tangkap yang dimiliki sendiri, yaitu perseroan membeli dari supplier lalu menjualnya ke pasar domestik dan mancanegara. Hal ini sehubungan dengan Kebijakan Peraturan Kementerian terkait usaha transshipment dan penerapan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). Namun, perseroan ingin menggarap sisi hulu pengoperasian kapal tangkap juga apabila terdapat kondisi regulasi yang mendukung dan perseroan berhasil mereduksi biaya operasional kapal tangkap.

Perusahaan kini tengah berupaya memenuhi permintaan kontrak ekspor secara jangka panjang, sehingga membutuhkan modal kerja lebih besar dari dana IPO. Destinasi ekspor utama ASHA adalah China. 

Perusahaan juga berencana memperluas ekspor ke negara-negara lain di Asia, khususnya Thailand dan Filipina. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian FAO 2020 yang menyebutkan bahwa 71% konsumsi ikan dunia berada di Asia.

Segmen usaha ASHA jelas sekali memiliki prospek yang cerah. Hanya saja, bisnis ini sangat rentan terpengaruh oleh perubahan kebijakan pemerintah Indonesia dan negara tujuan ekspor, nilai tukar, cuaca, dan persaingan usaha yang cukup ketat.

Perusahaan memiliki tujuh keunggulan kompetitif yang dapat membantunya bersaing dalam bisnis perdagangan hasil laut, yaitu:

  1. Hubungan baik dengan supplier dan pelanggan yang telah terjalin lama.
  2. Peningkatan efisiensi berkat bisnis perikanan terintegrasi mulai dari armada kapal penangkapan ikan dan kapal logistik untuk pengantaran ikan, serta cold storage berkapasitas besar.
  3. Produk dengan kualitas sesuai standar mutu yang berlaku di negara-negara tujuan ekspor.
  4. SDM yang handal dan berpengalaman.
  5. Pasokan bahan baku dari hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga keberlangsungan proses produksi terjaga.
  6. Perusahaan memiliki laboratorium untuk pemeriksaan kualitas dan mikrobiologi bahan baku.
  7. Perusahaan memiliki sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practice (GMP).

Selain itu, perusahaan mengembangkan teknologi fish founder melalui kerjasama dengan IPB.Teknologi masih dalam tahap uji coba, sehingga belum berdampak pada pendapatan dan penjualan perusahaan.

Kesimpulan

Saham ASHA layak dikoleksi oleh pemerhati bidang perikanan maupun trader yang berkarakteristik risk-taker. Indonesia merupakan negara yang memiliki salah satu potensi sektor perikanan terbesar di dunia, sehingga perusahaan-perusahaan dalam bidang ini juga memiliki prospek yang baik. Seiring dengan berakhirnya pandemi COVID-19 dan optimalisasi sarana-prasarana dalam bidang perikanan dan kelautan, berbagai potensi perikanan Indonesia dapat digali lebih lanjut. 

Artikel Terkait