Saham

Arti Portofolio Dalam Saham dan Cara Mengelolanya Dengan Tepat

Ajaib.co.id – Apa sih sebetulnya arti portofolio saham itu? Kalau pengertian portofolio sendiri merupakan kumpulan aset investasi yang dimiliki seorang individu atau sebuah perusahaan. Aset tersebut dapat berupa deposito, properti, saham, emas, obligasi, dan lain-lain. 

Berarti kalau portofolio saham lebih spesifik lagi yaitu berisi kumpulan aset investasi berbentuk saham. Aset ini dimiliki perorangan atau oleh sebuah perusahaan

Lalu kenapa kamu harus memahami portofolio saham saat melakukan investasi? 

Jadi, dalam melakukan investasi di pasar modal khususnya saham, portofolio merupakan aspek yang dasar dan sangat penting. Soalnya portofolio akan menentukan imbal hasil (return) yang kamu inginkan agar bisa optimal. 

Mengutip dari pakar keuangan saham Ellen May, ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam berinvestasi. Pertama adalah capital atau modal, kemudian objective atau objektif, dan risk atau risiko. 

Berbicara mengenai modal. Menurutnya kalau kamu baru memiliki modal yang kecil maka akan lebih baik untuk berinvestasi yang bukan trading (perdagangan) saham. Alasannya karena modal yang kecil ini kurang likuid. Selain itu, modal yang kecil juga membuat pemilihan saham jadi terbatas karena perlu perhitungan terkait biaya trading. Karena dalam trading kamu perlu mengeluarkan biaya yang akan lebih besar. 

Kemudian, objective atau tujuan untuk membeli saham. Kamu sudah harus tau tujuan membeli saham itu apa. Misalnya, tujuanmu untuk dana tabungan atau dana pensiun maka investasi tahunan dalam bentuk saham bisa dikatakan cocok buat kamu. 

Faktor terakhir yang harus diperhatikan adalah profil risiko. Kamu pasti sudah sadar ya kalau investasi dalam saham memang sangat berisiko. Apalagi kalau tidak diikuti dengan pemahaman ilmu yang benar. Poin pentingnya adalah seberapa besar komitmenmu untuk bisa meminimalisir risiko. Karena dalam investasi saham risiko itu akan selalu ada. 

Secara rinci Ajaib akan memberikan tips cara mengelola portofolio atau lebih tepatnya manajemen portofolio. Di dalam manajemen portofolio akan dijelaskan cara mengelola kumpulan aset yang kamu punya untuk mencapai tujuan investasi. Intinya pengelolaan portofolio ini berupaya untuk meminimalisir risiko investasi saham kamu. 

Menentukan Profil Risiko dan Strateginya

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kalau investasi dalam bentuk saham memang memiliki risiko yang tinggi. Karena memang sifat instrumen investasi adalah high risk dan high return

Sederhananya, investasi ini memang memiliki kemungkinan imbal hasil atau return yang besar. Namun juga saham sebetulnya berpotensi menimbulkan kerugian yang besar bahkan membuat investor bangkrut. 

Karena adanya kemungkinan risiko besar ini maka seorang investor sudah seharusnya menerapkan strategi manajemen portofolio saham dengan tepat. Tentunya agar potensi risiko yang muncul dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. 

Untuk bisa melakukan antisipasi risiko ini maka kamu harus mengetahui dulu profil risiko yang sedang kamu hadapi. Dengan begitu, kamu baru bisa menyiapkan strategi yang paling tepat. Kamu bisa ingat ini dengan baik-baik ya, kalau biasanya profil risiko itu berkaitan dengan jenis saham yang akan diambil sebagai sebuah komposisi dalam portofolio saham milikmu. 

Nah, setiap orang ini memiliki profil risiko yang berbeda. Setidaknya terdapat 3 profil risiko. Pertama, investor konservatif merupakan tipe investor yang tidak mau rugi atau tidak ingin menanggung risiko sehingga menginginkan sebuah risiko itu harus dihindari. Intinya investor ini hanya ingin mendapatkan penghasilan dan keuntungan atau imbal balik dari investasi saham yang dilakukan. 

Kedua, investor moderat kalau tipe ini investor cenderung menerima apa adanya risiko yang tinggi namun dengan syarat keuntungan atau imbal hasil yang didapat juga tinggi. Jadi investor ini semacam mempunyai keinginan untuk mendapat penghasilan yang cukup besar dari investasi saham.

Lalu jenis yang ketiga adalah investor agresif, tipe investor ini lebih berani untuk mengambil risiko besar. Karena mereka memang berkeinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari saham yang ditanamkan. Bahkan investor tipe agresif ini berani untuk membeli saham yang memiliki kemungkinan bisa melipatgandakan uangnya meskipun saham yang dibeli memiliki fundamental yang buruk.

Setelah dijelaskan di atas, pastikan kamu sudah menentukan jenis profil risiko seperti apa ya. Setelah itu, kamu baru bisa menentukan bagaimana strategi yang paling cocok diterapkan dengan profil milikmu. 

Adapun strategi investasi saham yang bisa dilakukan ada 3 kelompok. Pertama, strategi Income Investing. Strategi ini dilakukan dengan cara membeli saham yang secara rutin membagi hasil keuntungan atau dividen. Strategi ini bisa dibilang mempunyai risiko yang kecil karena memang sudah memiliki kemampuan untuk memperoleh keuntungan pada setiap tahunnya. Sehingga strategi ini sangat cocok untuk investor yang mempunyai tujuan mendapatkan penghasilan rutin dari saham.

Kedua, strategi Growth Investing yaitu, strategi yang dilakukan dengan cara membeli saham yang mempunyai potensi untuk bisa terus bertumbuh pendapatannya di masa depan. Strategi ini mempunyai risiko yang cenderung kecil karena perusahaan sudah mampu terus bertumbuh dan menghasilkan keuntungan.

Ketiga, strategi Value Investing adalah strategi yang dilakukan dengan cara membeli saham yang harganya dianggap murah atau sedang berada jauh di bawah harga wajarnya (undervalued). Karena saat kamu bisa membeli saham pada posisi harga murah maka secara langsung sebetulnya kamu sudah mendapatkan keuntungan. Kamu pun hanya perlu duduk manis untuk melihat saham yang telah dibeli menghasilkan keuntungan untuk kamu di kemudian hari. 

Menentukan Komposisi Portofolio

Langkah yang selanjutnya kamu perlu untuk menentukan komposisi portofolio yang kamu punya. Kamu bisa menentukannya setelah mengetahui profil risiko kamu ya.

Kalau kamu masuk ke dalam investor saham dengan profil risiko konservatif maka bisa memiliki komposisi portofolio sebesar 50% income stock dan 50% growth stock. Kamu juga sangat disarankan untuk memiliki komposisi dengan jumlah 80% growth stock dan 20% value stock

Sementara itu, kalau kamu termasuk investor saham dengan profil risiko moderat maka disarankan mempunya komposisi 50% untuk growth stock dan 50% value stock

Terakhir, jika kamu tergolong ke dalam investor saham dengan profil risiko agresif. Kamu disarankan untuk lebih fokus menyusun komposisi portofolio yang dominan 80% oleh value stock dan 20% sisanya untuk growth stock

Menentukan Kriteria Saham

Langkah yang terakhir yang bisa dilakukan dalam manajemen portofolio mu adalah dengan menentukan kriteria saham. Ini dilakukan berdasarkan hasil penentuan komposisi saham yang telah kamu lakukan. 

Pertama ada metode investasi berupa income investing. Kalau kamu berinvestasi pada metode ini maka kamu harus memilih saham-saham yang bisa memberikan pendapatan rutin. Berupa pembagian dividen saham yang disebut dengan income stock

Lalu yang kedua, kalau kamu berinvestasi dengan growth investing. Maka kamu berinvestasi pada saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan pendapatan yang sangat tinggi. Saham-saham ini dinamakan dengan growth stock

Yang terakhir, saat kamu berinvestasi menggunakan value investing. Berarti kamu menanamkan investasi pada saham-saham yang murah (undervalued). Kalau kamu menjalankan investasi ini kamu perlu ekstra sabar dan berani. Karena pada kondisi normal memang sulit sekali untuk menemukan saham yang murah. 

Begitu kamu sudah memetakan 3 hal di atas. Kamu harus rutin melakukan evaluasi portofolio saham mu juga ya. Biasanya dilakukan per kuartal atau tahunan. Evaluasinya bisa dalam bentuk seperti pemetaan saham mana yang bisa menimbulkan kerugian karena kinerja buruk pada periode tertentu. Selamat mencoba.

Artikel Terkait