Ekonomi

Taper Tantrum, Haruskah Diwaspadai? Apa Pula Taper Tantrum Itu?

Sumber: Unsplash

Ajaib.co.id – Pada bulan Juni 2021, bank sentral Amerika Serikat yakni Federal Reserve alias The Fed melalui pertemuannya mengumumkan sebuah risalah yang mengindikasikan tapering.

Risalah tersebut memicu kekhawatiran Menteri Keuangan kita, Sri Mulyani, tentang peningkatan ekonomi di AS yang dapat memikat perhatian investor untuk berinvestasi kesana dan meninggalkan investasinya di negara-negara emerging market seperti Indonesia.

“Ini memicu capital outflow dari semua emerging market, termasuk Indonesia. Sehingga saat terjadi spekulasi atau kekhawatiran itu, capital outflow terjadi dan menekan nilai tukar termasuk surat berharga negara atau SBN [surat berharga negara],”

-Sri Mulyani, rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat , Senin 14 Juni 2021-

Kekhawatiran akan tapering memicu taper tantrum seperti halnya yang terjadi di tahun 2013. Sebelum lebih jauh membahas mengenai dampak dan antisipasinya, mari kita kenali lebih lanjut apa itu tapering dan taper tantrum.

Ekonomi AS Selama Pandemi

Covid-19 telah menyebabkan ekonomi AS terpukul, seluruh dunia juga begitu. Bisnis-bisnis dipaksa tutup lebih awal, beroperasi dengan mematuhi protokol kesehatan, bahkan pembatasan jam kerja. Akibatnya ekonomi AS mundur, alias resesi.

Sejak pandemi sekitar 16 juta orang Amerika kehilangan pekerjaannya, pendapatan per kapita pun sempat anjlok 38% dibandingkan tahun 2019. Oleh karenanya tak mau berdiam diri, pemerintah Amerika segera mencari pendanaan untuk menyelamatkan ekonominya. Lalu seperti biasa The Fed melancarkan pelonggaran quantitatif alias cetak uang.

Pelonggaran quantitatif (QE) ditempuh The Fed untuk membeli Treasuries/obligasi pemerintah AS dan efek-efek lainnya. Singkatnya, setiap bulannya The Fed melakukan pembelian obligasi Treasuries sebesar USD 80 miliar dan Mortgage-Backed Securities (MBS) senilai USD 40 miliar.

Kemudian pemerintah AS menggunakan uang hasil penjualan Treasuries dan MBS nya untuk mendanai masyarakat untuk memulai kembali kegiatan-kegiatan usahanya. Apakah kamu tahu berapa total uang yang telah digelontorkan The Fed dalam rangka penyelematan ekonomi selama pandemi Covid-19?

Data dari Statista mengungkapkan bahwa hingga Juni 2021 pelonggaran quantitatif alias uang yang dicetak dan digunakan untuk membiayai pemerintah untuk menstimulasi ekonomi telah mencapai USD 8,1 triliun.

Ekonomi AS yang telah terdampak parah akibat pandemi COVID-19 berusaha dibangkitkan kembali melalui pelonggaran quantitatif.

Tak hanya itu, pemerintah AS juga menurunkan suku bunganya untuk mendorong masyarakat AS untuk mengajukan pinjaman berbunga minim. Harapannya adalah ketika masyarakat diberi modal untuk berbelanja dan berbisnis, maka ekonomi akan tumbuh dan pulih. Saat ini suku bunga AS adalah 0% hingga 0,25% saja.

Kamu akan memahami dengan lebih baik seputar kebijakan cetak uang dan penurunan suku bunga ini di artikel Ajaib yang berjudul Memahami Sistem Ekonomi Bersama Ray Dalio.

Nah, kalau ekonomi sudah bangkit maka The Fed akan mulai mengurangi pembelian Tresuries-nya. Inilah dia yang dimaksud dengan Tapering.

Tapering

Tapering adalah istilah pengurangan pembelian aset oleh The Fed. Jika sebelumnya setiap bulan The Fed membeli Treasuries dan MBS senilai USD 120 miliar. Ketika tapering dilaksanakan maka nilainya akan dikurangi perlahan-lahan jadi USD 100 miliar misalnya, atau malah dihentikan sama sekali.

Jadi kebijakan cetak uang tidak langsung diberikan ke masyarakat. Skema penyaluran uang adalah The Fed selaku bank sentral mencetak uang kemudian membeli aset finansial pemerintah.

Lalu pemerintah menggunakan uang yang diterimanya dari penjualan aset finansialnya untuk membiayai kebutuhan masyarakat, menyantuni para pengangguran, dan mendorong bisnis-bisnis agar bisa beroperasi dan bahkan berekspansi.

Tapering mesti dilakukan untuk menghindari hiperinflasi. Ketika ada terlalu banyak uang yang beredar di masyarakat maka harga-harga akan naik tak terkendali. Tapering akan dilakukan ketika indikator-indikator ekonomi memperlihatkan peningkatan. Misalnya ketika tingkat pengangguran berkurang signifikan, atau ketika target inflasi sudah tercapai.

Jerome Powell, Gubernur bank sentral Federal Reserve, menyatakan bahwa sejak Januari 2021 sekitar 600.000 orang Amerika setiap bulannya telah mendapatkan pekerjaan. Bahkan di bulan Juni ada lebih dari 850.000 orang yang mendapat pekerjaan.

Sinyal perbaikan ekonomi ini disambut antusias oleh seluruh dunia. Bahkan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berencana untuk membicarakan tentang kapan kiranya tapering akan dilaksanakan.

Sejumlah pejabat The Fed antar negara bagian AS mengusulkan untuk melaksanakan Tapering secepatnya, beberapa bulan jauhnya dari Juli 2021. Presiden The Fed dari negara bagian Atlanta, Raphael Bostic, mengatakan bahwa bank sentral dapat mulai menurunkan pembelian asetnya sebentar lagi karena ekonomi pulih lebih cepat dari yang diharapkan dari pandemi.

Suara senada juga dilontarkan oleh presiden-presiden The Fed dari negara bagian lainnya seperti Dallas, San Fransisco dan St. Louis. Dan oleh karenanya tapering kemungkinan akan terlaksana sebelum akhir tahun 2021.

Pengurangan nilai pembelian aset oleh The Fed akan menjadi pertanda bahwa ekonomi AS sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ekonomi AS yang membaik akan menyedot perhatian para investor di seluruh dunia.

Sebagai informasi surat berharga AS selama ini dinilai sebagai surat berharga berkualitas tinggi karena didukung ekonomi terbaik di dunia. Ketika ekonomi AS dinilai telah membaik, maka surat berharga AS biasanya diburu investor.

Ketika ekonomi AS membaik, maka surat-surat berharga dan efek-efek investasi di negara-negara emerging market seperti Indonesia akan terlihat kurang menarik. Dan kepanikan mengenai tapering inilah yang disebut dengan Taper Tantrum

Taper Tantrum, Apakah itu?

Dikutip dari investopedia, taper tantrum adalah kepanikan kolektif akibat The Fed melakukan tapering. Sekali lagi tapering adalah aksi mengurangi pelonggaran quantitatif alias mengurangi pembelian aset-aset finansial pemerintah Amerika Serikat.

Kilas balik sejenak, sebagai reaksi dari krisis keuangan tahun 2008 The Fed melakukan pelonggaran quantitatif (QE) untuk membeli Treasuries bond milik pemerintah AS secara besar-besaran.

Kemudian pemerintah AS menggunakan uang hasil penjualan aset-aset finansialnya untuk membantu warga Amerika yang terpapar krisis keuangan 2008.

Ketika ekonomi kemudian bangkit di 2013, The Fed segera mengambil sikap untuk mengurangi bahkan menghentikan pembelian aset-aset finansial pemerintah Amerika alias Tapering sepanjang 2013 dan 2014.

Saat itu pasar panik/tantrum gegara aksi tapering yang dilakukan The Fed, tak terkecuali Indonesia. Menyusul tapering, negeri paman Sam itu kemudian meningkatkan suku bunganya.

Secara global publik panik karena ditakutkan pasar keuangan di negara-negara emerging akan runtuh. Indonesia sendiri punya riwayat tak mengenakkan mengenai akibat yang disebabkan tapering di AS.

Saat itu pasar keuangan tanah air di tahun 2013-2014 terpukul, nilai tukar rupiah sebelum tapering adalah Rp 9.700 per satu dolar AS. namun kemudian terjerembab ke Rp 14.700 per dolar AS dalam dua tahun sepanjang tapering berlangsung.

Inilah yang menyebabkan menteri keuangan kita panik, taper tantrum memang cukup beralasan karena banyak yang ngeri apabila tapering jilid 2 terjadi maka keperkasaan dolar AS. terhadap rupiah mungkin menjadi tak tertahankan.

Mewaspadai Taper Tantrum

Seolah tak mau ketinggalan, Taper Tantrum terjadi dimana-mana dan membuat aliran modal keluar dari negara emerging lalu masuk ke Amerika Serikat. Pada saat tapering terjadi, indeks dolar melesat lebih dari 12% sepanjang 2013-2014. Dan rupiah jatuh ke Rp 14.700 per dolar AS, di mana sebelumnya kurs dolar ke rupiah adalah Rp 9.700 saja.

Karena nilai transaksi impor kita masih lebih tinggi ketimbang ekspor, makanya kenaikan USD/IDR menjadi momok yang menakutkan. Ketika dolar AS per rupiah naik, harga barang pangan impor, elektronik, dan kedelai juga terkerek naik.

Jika tapering jilid 2 terjadi maka dikhawatirkan rupiah akan bernasib sama dengan yang terjadi pada tapering jilid 1 di tahun 2013. Publik punya alasan jelas untuk ber-taper tantrum sekarang.

Bedanya adalah kini situasi kita sudah jauh berbeda. Dahulu investor asing masih merajai investasi dalam negeri. Kini jumlah investor domestik sudah melebihi jumlah investor asing.

Dan sebelumnya di tahun 2013 ketua The Fed adalah Ben Bernanke, saat ini Ketua The Fed adalah Jerome Powell yang memiliki kepedulian yang lebih mendalam mengenai taper tantrum. Powell berjanji akan memberikan update dan sinyal-sinyal yang jelas kepada para pelaku pasar sebelum memulai tapering. Powell berharap masyarakat global tak terdampak terlalu parah dengan tapering yang akan dilancarkan kali ini.

Menteri Keuangan kita yakni Sri Mulyani dan Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia kini sedang memasang kuda-kuda agar nilai tukar rupiah bisa tetap stabil ketika Amerika mulai melakukan tapering.

Sebagai regulator, Bank Indonesia mengupayakan agar taper tantrum tak terlalu meresahkan kali ini. Suku bunga BI 7 days reverse repo rate diperkirakan akan ditingkatkan agar berinvestasi di dalam negeri tetap menarik ketika tapering nanti terlaksana.

Selain itu berbagai kebijakan lain juga kabarnya saat ini sedang digodok agar pasar keuangan, bursa saham, dan pasar obligasi bisa tetap seksi di akhir tahun 2021.

Artikel Terkait