Investor Pemula

Memahami Sistem Ekonomi dengan Mudah Ala Ray Dalio

Ajaib.co.id – Saat kamu memutuskan untuk berinvestasi, di instrumen seperti deposito, reksa dana, saham, ORI 17, apa saja, kamu akan dihadapkan pada informasi seperti suku bunga, obligasi, kebijakan bank sentral kita yaitu Bank Indonesia, data inflasi dan lain sebagainya. Mungkin sekilas tampak rumit namun nyatanya sama sekali tidak. Kita akan mempelajarinya pelan-pelan melalui penjelasan dari Ray Dalio.

Ekonomi bekerja seperti sebuah mesin sederhana yang tidak banyak dipahami orang-orang. Ray Dalio menjelaskan bagaimana ekonomi bekerja dan hal itu akan membantu kamu untuk memahami situasi ekonomi yang tengah terjadi dengan baik.

Meskipun ekonomi mungkin tampak rumit, namun ekonomi bekerja dengan mekanisme yang sederhana. Ekonomi terdiri dari jutaan transaksi jual-beli sederhana yang terjadi berulang kali. Transaksi pertukaran uang dengan barang atau jasa telah menggerakkan perekonomian.

Transaksi terjadi dan membentuk pertumbuhan produktivitas, siklus utang jangka pendek dan siklus utang jangka panjang.

Kita akan melihat ketiga kekuatan ini terletak satu sama lain menciptakan sebuah sistem ekonomi yang akan memudahkan kita melacak pergerakan ekonomi dan mencari tahu apa yang terjadi saat ini.

Mari kita mulai dengan bagian paling sederhana dari ekonomi; transaksi.

Ray Dalio: Ekonomi 101

Sistem ekonomi dimulai dari transaksi sederhana. Kita melakukan transaksi sepanjang waktu. Setiap kali kita membeli sesuatu artinya kita menukarkan uang dengan barang, jasa, atau aset keuangan.

Proses pertukaran uang dengan barang dan jasa adalah transaksi. Barang dan jasa tidak hanya bisa dibeli dengan tunai, namun juga dengan kredit atau utang. Dan tidak hanya terbatas pada barang dan jasa, aset keuangan pun juga bisa dibeli dengan uang tunai dan kredit.

Maka total pengeluaran adalah jumlah uang dan kredit. Total pengeluaran kita yang diukur dengan Gross Domestic Product/Produk Domestik Bruto mendorong ekonomi secara nasional. Pasar terdiri dari semua pembeli dan semua penjual yang melakukan semua transaksi untuk hal yang sama. Misalnya, ada pasar gandum, pasar pertanian, pasar saham, dan pasar lainnya untuk jutaan barang. Semua transaksi di semua pasar tersebut membentuk ekonomi yang kita kenal sekarang.

Orang, bisnis, bank, dan pemerintah semuanya terlibat dalam transaksi. Semua saling bertukar uang dan kredit untuk barang, jasa, dan aset keuangan. Pembeli dan penjual terbesar adalah pemerintah yang terdiri dari dua bagian penting yaitu pemerintah pusat dan bank sentral.

Pemerintah pusat akan mengumpulkan pajak dan membelanjakan uang yang diperoleh untuk kebutuhan nasional. Kebutuhan nasional misalnya membangun infrastruktur seperti jembatan, jalan tol, pemasangan listrik, pembangunan pusat kesehatan, dan lainnya.

Sedangkan bank sentral akan mengendalikan jumlah uang dan kredit dalam perekonomian dengan mengendalikan suku bunga dan merilis kebijakan mencetak uang. Bank sentral adalah pemain penting dalam aliran kredit.

Kredit adalah bagian terpenting dari ekonomi saat ini karena jumlahnya yang besar. Kredit dapat membantu pemberi pinjaman dan peminjam mendapatkan apa yang mereka inginkan. Peminjam berjanji untuk membayar jumlah yang mereka pinjam yang disebut pokok, ditambah jumlah tambahan yang disebut bunga.

Ketika suku bunga sedang tinggi, pinjaman berkurang karena semua orang tidak mau membayar bunga yang mahal. Ketika suku bunga rendah, pinjaman meningkat karena semua orang suka pinjaman berbunga rendah.

Ketika peminjam berjanji untuk membayar dan pemberi pinjaman percaya mereka dapat membayar, pinjaman diberikan. Bagi pemberi pinjaman kredit dianggap sebagai aset, sedangkan bagi peminjam utang menjadi liabilitas atau beban. Disebut beban karena ada bunga yang harus dibayarkan sebagai tambahan pokok pinjamannya. Begitulah kredit atau pinjaman tercipta.

Di masa depan, ketika peminjam membayar kembali pokok pinjaman ditambah bunga, transaksi selesai. Ketika transaksi selesai maka aset dan liabilitas menjadi hilang.

Kredit menjadi bagian penting dalam ekonomi karena ketika seorang peminjam menerima kredit, ia mampu meningkatkan pengeluarannya, dan ingat, pengeluaran mendorong ekonomi. Pengeluaran seseorang adalah penghasilan orang lain.

Saat seseorang mendapat pinjaman maka biasanya peminjam akan membeli modal usaha misalnya gerobak, bahan baku dan lainnya. Pengeluaran yang dikeluarkan tersebut akan menjadi pendapatan bagi pembuat gerobak, penjual bahan baku dan lainnya. Produk jadinya misalnya berupa mie ayam akan dijual dan sang peminjam berharap akan memperoleh tambahan penghasilan.

Ketika penghasilan seseorang naik, itu membuat pemberi pinjaman lebih mau member pinjaman lebih banyak karena menjadi lebih layak mendapatkan kredit. Seorang peminjam yang layak kredit memiliki dua hal, kemampuan untuk membayar dan jaminan. Pemberi pinjaman menyukai orang-orang layak kredit. Mereka memiliki kemampuan membayar dan jika di masa depan tidak mampu membayar, ada aset berharga sebagai jaminan kreditnya yang bisa dijual.

Hubungan pendapatan dengan kredit

Pendapatan yang lebih besar biasanya mendorong lebih banyak pengeluaran. Dan pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lainnya. Oleh sebab itu pertumbuhan pendapatan akan mengarah pada pertumbuhan produktif.

Seiring waktu kita meningkatkan standar hidup kita. Kita berusaha untuk dapat kreatif dan menjadi pekerja keras, meningkatkan produktivitas dan standar hidup. Sebagian besar orang mengakumulasi kekayaan seperti yang ditunjukkan dalam grafik pertumbuhan produktivitas di bawah ini;

Kecepatan menghasilkan uang berbeda-beda pada setiap orang. Ekonomi yang hanya mengandalkan pertumbuhan produktivitas yang terakumulasi sepanjang waktu seringkali tidak menarik. Mari kita bayangkan ekonomi tanpa kredit, dalam perekonomian ini, satu-satunya cara saya dapat berbelanja lebih adalah dengan meningkatkan pendapatan saya yang mengharuskan saya untuk lebih produktif dan melakukan lebih banyak pekerjaan. Meningkatkan produktivitas adalah cara untuk bertumbuh. Karena pengeluaran saya adalah pendapatan maka ekonomi tumbuh setiap kali saya atau orang lain lebih produktif.

Secara nasional pertumbuhan ekonomi semacam ini dianggap terlalu lambat. Pertumbuhan produktivitas tidak banyak berfluktuasi, kamu bekerja lalu mendapat gaji lalu kamu menabung dan kemudian dibelanjakan untuk membeli rumah, haji, dan lain sebagainya. Itu bukan pendorong perubahan ekonomi yang besar.

Oleh karenanya orang-orang mencari kredit produktif, kredit modal usaha. Kredit produktif akan meningkatkan pendapatan dengan cepat. Kebanyakan orang suka modal usaha yang didapat dari pinjaman karena dengan begitu mereka tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk mendapat modal untuk memulai usahanya. Pinjaman dikucurkan tidak melulu untuk modal usaha, banyak juga yang dikucurkan untuk konsumtif misalnya untuk membeli rumah dengan KPR, atau mencicil mobil. Selama kamu dinyatakan layak kredit maka kamu bisa mendapat pinjaman.  Tapi yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi nasional adalah kredit produktif.

Kredit produktif membuat ekonomi secara nasional meningkat secara cepat jauh lebih cepat dari ekonomi yang digerakkan pertumbuhan produktif saja. Dengan adanya kredit, ekonomi berayun dari ekspansi (naik) ke kontraksi (turun).

Ekonomi berayun karena utang memungkinkan kita untuk mengkonsumsi lebih banyak daripada yang kita hasilkan saat kita memperolehnya dan utang memaksa kita untuk mengonsumsi lebih sedikit daripada yang kita hasilkan ketika kita harus membayarnya kembali. Itu sebabnya ekonomi yang di-booster dengan utang akan tampil dalam bentuk siklus naik dan turun.

Perubahan yang kita saksikan di sekitar kita, seperti pembangunan apartment baru, mini market, menara BTS, kebanyakan dibuat dengan kredit. Ayunan utang terjadi dalam dua siklus yang disebut siklus utang jangka pendek dan siklus utang jangka panjang.

Siklus utang jangka pendek terjadi sekitar lima hingga delapan tahun. Sedankan siklus utang jangka panjang terjadi sekitar 75 hingga 100 tahun. Kebanyakan dari kita tidak melihat siklus ekonomi tersebut karena kita berada di dalamnya, terbawa hanyut oleh alurnya dan semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja kita berada dalam kontraksi, tiba-tiba saja kita berada dalam ekspansi di mana semua orang mendadak mampu membeli mobil. Kita seringkali tidak menyadarinya karena kita tidak memahaminya.

Kenyataannya adalah bahwa sebagian besar dari perputaran ekonomi di sekitar kita diperoleh dengan cara kredit. Di tahun 2013 saja jumlah total kredit di Amerika Serikat adalah sekitar 50 triliun dolar dan jumlah total uang yang dimiliki masyarakat hanya sekitar tiga triliun dolar. Kini jumlah kredit di Amerika sudah meningkat lebih besar lagi.

Siklus Utang

Ketika aktivitas ekonomi meningkat, kita melihat ekspansi, fase pertama dari siklus utang jangka pendek. Ekpansi adalah fase naik dalam siklus ekonomi yang melibatkan kredit. Kredit yang dibuat mesti dikembalikan dengan bunganya. Oleh sebab itu ada yang namanya kontraksi, atau fase turun dalam siklus utang.

Ketika kredit banyak tercipta, pengeluaran meningkat, maka sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan. Jika banyak permintaan barang maka secara umum harga barang-barang akan meningkat. Kamu bisa misalnya saja harga hand sanitizer yang sebelum pandemi Covid 19 harganya hanya sekitar Rp5 ribu sampai 10 ribu saja. Kini minimal harganya Rp15 ribu. Bayangkan kenaikan ini terjadi merata di seluruh barang dan jasa, begitulah inflasi.

Secara umum orang-orang meningkatkan pengeluaran sebagai akibat dari kenaikan pendapatan. Jika kecepatan berbelanja lebih tinggi daripada kecepatan peningkatan pendapatan maka harga barang-barang akan naik lebih cepat dari peningkatan gajimu. Ray Dalio sepakat menyebutnya inflasi.

Bank sentral tidak ingin inflasi terlalu tinggi karena itu menyebabkan masalah. Jika bank sentral melihat inflasi sudah terlalu tinggi maka mereka akan menaikkan suku bunga. Dengan bunga lebih besar maka para calon peminjam akan pikir-pikir dan menahan keinginannya untuk berutang. Dengan lebih sedikit utang yang dikucurkan maka pengeluaran masyarakat juga akan lebih sedikit dari sebelumnya. Dengan pengeluaran lebih kecil, para penjual terpaksa menjual barang-barangnya lebih murah dari sebelumnya. Dan begitulah cara bank sentral mengendalikan inflasi.

Sebaliknya ketika orang-orang lebih berhemat, mengeluarkan uang lebih sedikit, harga-harga barang turun sedangkan pendapatan tetap atau meningkat, maka itu disebut deflasi. Deflasi yang terjadi terus-menerus dalam dua kuartal atau lebih artinya seluruh aktivitas ekonomi menurun maka kita mengalami resesi.

Jika demikian maka bank sentral akan menurunkan suku bunga untuk memikat calon peminjam. Pinjaman dengan bunga kecil selalu menarik bagi banyak orang. Seperti yang kamu lihat, ekonomi bekerja seperti mesin.

Dalam siklus utang jangka pendek bank sentral berperan besar untuk menaik-turunkan suku bunga yang mempengaruhi para calon peminjam. Kebijakan bank sentral untuk menaik-turunkan suku bunga mempengaruhi ekspansi (kenaikan) dan kontraksi (penurunan)  ekonomi secara umum.

Begitulah siklus utang jangka pendek biasanya berlangsung lima hingga delapan tahun dan terjadi berulang-ulang selama beberapa dekade. Ekonomi dengan utang menghasilkan siklus yang terdiri dari ekspansi dan kontraksi/resesi.

Tetapi perhatikan bahwa setiap siklus berakhir dengan lebih banyak pertumbuhan daripada siklus sebelumnya dan dengan lebih banyak utang.

Secara umum orang-orang menjadi lebih percaya diri saat semua kondisi terlihat mendukung. Di saat ekonomi sedang ekspansi, harga saham melonjak naik, harga property naik, inflasi terjadi, semua orang bisa dengan lebih mudah mencari nafkah dan mendapat tambahan penghasilan. Dalam penentuan kelayakan kredit, seseorang dinyatakan layak kredit asal memiliki penghasilan lebih besar dari kreditnya. Berikut kondisi psikologi masyarakat dalam siklus ekonomi yang didukung kredit. 

Saat euforia sebenarnya adalah saat-saat yang menegangkan karena resesi mengintai. Di titik euforia biasanya orang-orang percaya diri untuk menambah utang.

Mari kita sebut rasio utang terhadap pendapatan sebagai beban utang. Jadi, selama pendapatan terus meningkat, beban utang tetap dapat dikelola. Saat beban utang sudah memuncak, biasanya itulah saat euforia. Kebanyakan orang tidak menyadari beban utang secara nasional memuncak. Kebanyakan orang baru sadar saat bubble utang meletus.

Orang meminjam uang dalam jumlah besar untuk membeli aset sebagai investasi yang menyebabkan harga mereka naik lebih tinggi, orang merasa kaya.

Di atas adalah beban utang yang memuncak di tahun 2008 dan 1929. Tepat di kedua tahun tersebut bubble utang Amerika Serikat meletus dan krisis terjadi.

Ini adalah puncak utang jangka panjang, beban utang menjadi terlalu besar. Untuk Amerika Serikat, Eropa dan sebagian besar dunia, ini terjadi pada 2008.

Di saat krisis keuangan yang dahsyat di 2008 orang-orang tidak mampu membayar beban utang yang terlampau besar. Saat itu pendapatan jatuh, kredit menghilang, harga aset turun, bank-bank ambruk, pasar saham ambruk, ketegangan sosial meningkat. Krisis yang parah disebut jugadengan deleveraging.

Dalam kondisi deleveraging bank sentral tidak mampu meningkatkan ekonomi dengan menurunkan suku bunga.

Di tahun-tahun saat deleveraging terjadi suku bunga diturunkan hingga mencapai titik nol. Artinya jika saat itu kamu dinyatakan layak kredit, kamu bisa meminjam uang tanpa bunga sama sekali! Namun sayang orang-orang yang layak kredit di masa-masa sulit sangatlah sedikit.

Para peminjam yang hampir dinyatakan gagal bayar melakukan restrukturisasi, pengeluaran dikurangi, bisnis-bisnis bertumbangan, pengangguran meningkat. Dengan begitu penerimaan pajak pun berkurang, padahal banyak sektor yang membutuhkan perhatian pemerintah pada saat deleveraging.

Pemerintah pusat dengan begitu merasakan kekalutan karena pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan.

Pemerintah pusat mau tidak mau di saat demikian meningkatkan pajak kepada orang-orang dari kalangan mampu menengah ke atas. Dengan begitu maka diharapkan terjadi redistribusi kekayaan dari si kaya kepada si miskin.

Jika pajak dirasa terlalu mahal, maka ketegangan sosial terjadi. Di sisi lain sebagian besar masyarakat meminta bantuan pemerintah untuk menolong mereka yang tak lagi berpenghasilan. Di sini tak jarang timbul upaya revolusi untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Di tahun 1930an ketegangan terjadi di berbagai tempat, Amerika Serikat mengalami depresi ekonomi dan di Jerman ada Hitler yang menekan rakyat yang marah dengan kekuatan militer. Deleveraging atau depresi ekonomi menimbulkan ketegangan politik, sosial dan merambat ke banyak hal lainnya.

Jika sudah demikian, maka bank sentral akan mengeluarkan kebijakan untuk mencetak uang! Uang yang dicetak kemudian akan dibelanjakan obligasi negara dan aset keuangan, hanya itu saja. Di saat itu obligasi akan naik nilainya dan ini adalah saat yang menggembirakan bagi para pemegang reksa dana obligasi negara.

Dengan begitu pemerintah punya cukup uang untuk membiayai kebutuhan rakyatnya seperti memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program stimulus ekonomi. Ini akan menurunkan total beban utang masyarakat namun akan meningkatkan utang pemerintah.

Kebijakan mencetak uang mesti dilakukan dengan hati-hati karena peredaran uang yang terlalu banyak akan menyebabkan hiper inflasi. Pemerintah akan bekerja sama dengan bank sentral bersama-sama menciptakan kebijakan yang akan menimbulkan pertumbuhan produktivitas.

Jika pembuat kebijakan mencapai keseimbangan yang tepat, pengurangan hutang tidak begitu dramatis, pertumbuhan lambat tetapi beban hutang turun, itu pengurangan utang yang indah.

Ketika pendapatan mulai meningkat, calon peminjam mulai tampak lebih layak kredit, dan ketika peminjam tampak lebih layak kredit, pemberi pinjaman mulai meminjamkan uang lagi. Beban utang akhirnya mulai turun, pinjaman bisa disalurkan kembali dan orang-orang bisa menghabiskan lebih banyak, akhirnya ekonomi mulai tumbuh lagi.

Proses deleveraging bisa mengerikan jika ditangani dengan buruk. Jika ditangani dengan baik, pada akhirnya akan memperbaiki masalah. Diperlukan kira-kira satu dekade atau lebih untuk beban utang bisa turun dan kegiatan ekonomi untuk kembali normal.

Kamu mungkin terkejut bahwa kebanyakan orang termasuk sebagian besar pembuat kebijakan tidak cukup memperhatikan hal ini. Pemahaman ini berhasil memberikan pandangan kepada Ray Dalio selama 30 tahun lebih mengelola lembaga pengelolaan dana terbesar di dunia dengan aset total USD 170 Miliar. Singkatnya, saat ekonomi sedang ekspansi kamu bisa melihat bahwa pasar saham sangat seksi, namun saat ekonomi sedang resesi maka reksa dana obligasi bisa menjadi pilihanmu. Ray Dalio mengambil langkah investasi yang tepat dengan mengidentifikasi situasi ekonomi yang tengah terjadi. Diharapkan pemahaman ini juga akan berhasil untuk kamu.

Artikel Terkait