Analisa Saham

Saham ERAA Melakukan Stock Split, Jadi Peluang Investor

Saham ERAA Melakukan Stock Split, Jadi Peluang Investor

Ajaib.co.id – Erajaya Swasembada Tbk (saham ERAA) berdiri pada 08 Oktober 1996. Untuk kemudian memulai aktivitas bisnis komersialnya sejak tahun 2000.

Dilihat melalui Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup aktivitas ERAA dan anak usaha (Erajaya Group) teridri dari bidang distribusi dan perdagangan peralatan telekomunikasi. Seperti telepon selular (ijin distribusi telepon selular dari merek Xiaomi dan ASUS), Subscriber Identity Module Card (“SIM Card”), Voucher untuk telepon selular hingga aksesoris serta gadget seperti komputer dan perangkat elektronik lainnya.

Sebagai informasi, di bawah bendera Erajaya Group sudah menjalin kemitraan dengan 14 merek global, yaitu, Acer, Apple, Asus, BlackBerry, Dell, HTC, Huawei, Lenovo, LG, Motorola, Nokia, Samsung, Sony, dan Xiaomi. ERAA juga memasarkan merek produk sendiri yaitu, Venera. Selain itu Erajaya Group juga bekerja sama dengan operator jaringan selular, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL.

Adapun untuk beberapa gerai yang dimiliki Erajaya Group, di antaranya, Erafone Megastore, gerai iBox dan gerai AndroidNation.

Kemudian pada 02 Desember 2011, ERAA mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ERAA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 920.000.000 dengan nilai nominal Rp500,- per saham. Dengan harga penawaran Rp1.000,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Desember 2011.

Bisnis Emiten ERAA Tetap Raih Cuan di Tengah Pandemi

Mengutip dari kontan.co.id, ERAA telah membukukan kinerja yang positif sepanjang Januari hingga September 2020 lalu. Meskipun memang dari segi penjualannya menurun, tapi laba bersih perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penjualan ERAA mencapai Rp 23,17 triliun hingga kuartal III 2020. Realisasi ini terhitung turun 1,86% secara year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 23,61 triliun. 

Sementara itu, segmen telepon seluler dan tablet yang menjadi penopang penjualan tercatat menurun 5,35% yoy dari sebelumnya Rp18,31 triliun menjadi Rp 17,33 triliun. Untuk penjualan bersih ERAA justru diperoleh dari tiga segmen lainnya berupa voucher, komputer dan peralatan elektronik lainnya, serta aksesoris. Rinciannya, untuk penjualan voucher berkontribusi hingga Rp 3,18 triliun terhadap total penjualan bersih. Jumlah tersebut naik 8,9% yoy dari sebelumnya Rp 2,92 triliun. 

Kemudian untuk penjualan komputer dan peralatan elektronik lainnya yang meningkat lebih signifikan 15,24% yoy  menjadi Rp 1,01 triliun dari sebelumnya Rp 876,58 miliar. Yang ketiga, ada segmen aksesoris dan lain-lain bertumbuh 10,67% yoy menjadi Rp 1,66 triliun dari sebelumnya Rp 1,5 triliun. 

Dari sisi laba bersih, berhasil memperoleh laba sebesar Rp 295,12 miliar. Untuk kenaikan laba ERAA ditopang oleh beban pokok penjualan yang bisa ditekan 3,54% yoy menjadi Rp 20,99 triliun. Selain itu, pendapatan keuangan ERAA terkerek menjadi Rp 1,49 miliar dari sebelumnya Rp 886,91 juta. Selain itu, ada biaya keuangan yang berhasil ditekan 46,96% yoy menjadi Rp 134,85 miliar.

Sebagai informasi, sampai kuartal III 2020 ERAA mempunyai total aset Rp 9,79 triliun. Jumlah aset ini bertumbuh dari akhir tahun 2019 yang tercatat Rp 9,74 triliun. Sementara itu, total liabilitas ERAA menurun 7,55% dari akhir tahun 2019, menjadi Rp 4,41 triliun. Adapun total ekuitasnya meningkat 8,03% menjadi Rp 5,38 triliun.

Bisnis Terus Cuan Meski Sempat Turun di 2019

Emiten Erajaya Swasembada Tbk memadalam 3 tahun terakhir mengalami naik turun bisnis. Pada 2018 sempat tumbuh naik ketimbang dari tahun 2017. Namun, pada 2019 ada penurunan penjualan sebesar 5,18%. Begitupun dengan laba ERAA sempat menurun pada 2019 setelah melesat di 2018. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah)

Laporan Laba Rugi 2019 2018 2017
Penjualan bersih 32.944.902 34.744.177 24.229.915
Laba kotor 2.849.023 3.169.481 2.158.907
Laba tahun berjalan 325.583 889.340 347.150

Dari data tersebut, secara penjualan ERAA memang mengalami penurunan per 2019. Penurunan ini disebabkan banyak faktor.

Faktor utama yang memengaruhi penurunan pendapatan tersebut disebabkan industri elektronik yang disebut mengalami kelesuan permintaan. Selain itu, persedian barang berupa produk-produk baru di awal tahun 2019 lalu mengalami penurunan penjualan. Pada 2020 pun kinerja pendapatan perusahaan ini ikut menurun. Perusahaan seperti ikut terdampak pandemi covid-19

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis ERAA saat ini masih cukup sehat. Karena terhitung masih memperoleh laba bersih bagi perusahaan meskipun mengalami pertumbuhan yang menurun dibandingkan tahun 2018 seperti data yang dipaparkan sebelumnya Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio 2019
ROA 3,34%
ROE 6,53%
GPM 8,65%
NPM 0,90%
DER 95,78%

Bagaimana Prospek Bisnis ERAA Kedepannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Dilansir dari kontan.co.id, pandemi covid-19 masih membayangi banyak sektor ekonomi. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan niat PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) membuka gerai baru di tahun 2021. 

Perlu diketahui, ERAA sempat mencatat ada sekitar 300 toko tutup karena adanya pandemi virus korona di 2020. Sehingga perusahaan pun menerapkan penetrasi penjualan online. Namun, pada tahun lalu, trafik penjualan online justru meningkat 7 kali lipat. Meskipun memang kontribusinya masih di bawah masih 10%.

Emiten di bidang usaha distribusi dan pedagang ritel produk dan layanan komunikasi selular dan penunjangnya ini memiliki rencana menambah lebih dari 220 toko baru sepanjang tahun. Maka setidaknya ada 1.200 hingga 1.300 gerai ERAA di akhir tahun 2021. Kata Direktur Erajaya Swasembada Jeremy Sim, perusahaan akan berinvestasi besar di outlet.

Sementara untuk lokasinya, manajemen ERAA masih fokus untuk membuka gerai di Pulau Jawa. Alasannya, Pulau Jawa selama ini berkontribusi besar terhadap konsumsi, mencapai 60%. Sehingga peluang penjualannya pun akan jauh lebih besar. 

Adapun langkah ERAA melakukan penambahan gerai tidak terlepas dari target agresif Erajaya. Target tersebut untuk menguasai 25% total pasar hanya dari bisnis ritelnya. Oleh karena itu, Jeremy mengatakan pertumbuhan labanya akan cenderung konservatif tahun 2021 ini. Sebab dengan bertambahnya gerai maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin besar. 

Sekadar informasi, akibat pandemi, pertumbuhan gerai ERAA tahun 2020 tidak setinggi tahun sebelumnya. Adapun per kuartal ketiga 2020 ERAA menambahkan 103 gerai baru, sehingga total ada 1.085 gerai yang dimiliki. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya ERAA bisa mencatatkan penambahan gerai lebih dari 200 unit setiap tahunnya. Tahun 2021 ERAA berharap kinerja keuangannya akan lebih baik. Baik dari sisi top line maupun bottom line.

Sementara itu, rencana stock split ERAA telah disetujui investor. akan menggelar stock split dengan rasio 1:5. Jadi, setiap 1 saham ERAA bernilai nominal Rp 500 akan berubah menjadi 5 saham dengan nilai Rp 100. Usai stock split diterapkan maka jumlah modal ditempatkan dan disetor ERAA akan mencapai 15,95 miliar saham. Adapun jumlah modal disetor ERAA saat dari 3,19 miliar saham.

Adapun aksi korporasi ini memiliki tujuan untuk meningkatkan likuditas saham perseroan. Serta meningkatkan daya beli investor ritel terhadap saham ERAA. ERAA juga mempertimbangkan pesatnya pertumbuhan investor ritel di bursa dalam beberapa waktu terakhir.

Dilihat dari aksi korporasi ini, untuk investor peritel maka bisa menjadi alternatif untuk mengoleksi saham ERAA. Meski begitu, sebaiknya tetap memperhatikan juga antisipasi perusahaan untuk menambah gerai yang berdampak pada pertumbuhan laba yang berkurang. Artinya kamu berpeluang mendapatkan laba sebagai investor. Namun ada potensi pengurangan besaran laba perusahaan yang bisa memengaruhi besaran dan peluang laba untuk investor.  

Artikel Terkait