Saham

Saham Big Cap vs Small Cap, Mana yang Lebih Untung?

Ajaib.co.id – Perusahaan publik sering dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan total nilai sahamnya yang beredar di pasar. Total nilai saham ini disebut juga sebagai kapitalisasi pasar, dihitung dari jumlah saham beredar dikalikan harga saham saat ini. Hasilnya, ada saham big cap, mid cap, dan small cap.

Saham big cap berharga paling mahal, bahkan mencapai belasan atau puluhan ribu rupiah per lembar. Sementara saham small cap biasanya hanya berharga ratusan rupiah per lembar, sehingga investor bisa memborong beberapa lot dengan modal Rp100 ribu saja. Namun, manakah yang paling menguntungkan bagi investor?

Memahami Karakteristik Saham Big Cap

Saham big cap adalah emiten yang memiliki kapitalisasi pasar lebih besar dari Rp100 Triliun. Kinerjanya dapat mewakili bursa efek Indonesia dan sering menjadi pilihan investor di tengah gejolak pasar. Sepuluh saham big cap Indonesia tahun 2020 ini terdiri atas:

  1. Bank BCA (BBCA)
  2. Bank BRI (BBRI)
  3. Telkom Indonesia (TLKM)
  4. Unilever Indonesia (UNVR)
  5. Bank Mandiri (BMRI)
  6. Sampoerna (HMSP)
  7. Astra Internasional (ASII)
  8. Chandra Asri Petrochemical (TPIA)
  9. Barito Pacific (BRPT)
  10. Indofood CBP (ICBP)

Ada beberapa nama lain yang cukup sering nangkring dalam daftar saham big cap juga, tetapi lengser karena kapitalisasinya kini di bawah Rp100 triliun. Antara lain Bank BNI (BBNI), Gudang Garam (GGRM), United Tractor (UNTR), dan Charoen Pokphand (CPIN). Bukan tidak mungkin mereka kelak akan masuk lagi dalam daftar bergengsi ini, seiring dengan perubahan jumlah saham beredar dan harga sahamnya.

Saham big cap dapat berasal dari sektor mana saja. Yang jelas, emiten big cap umumnya memiliki tiga karakter berikut ini:

  1. Transparan: Emiten big cap relatif lebih transparan dibanding emiten small cap, sehingga investor akan lebih mudah untuk menemukan dan menganalisis informasi seputar perusahaannya.
  2. Rajin bagi-bagi dividen: Emiten big cap biasanya berada pada puncak siklus bisnisnya, sehingga menghasilkan pendapatan dan laba yang lebih stabil. Hal ini memungkinkan saham big cap untuk memberikan dividend payout ratio maupun dividend yield yang besar.

3. Berdampak luas: Emiten big cap merupakan market leader. Berita-berita tentang perusahaan mereka sering bertengger pada headline koran ekonomi. Fluktuasi harga sahamnya juga sering dibahas berdampingan dengan IHSG.

Seluk-beluk Saham Small Cap

Saham small cap di Indonesia mencakup saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar kurang dari Rp1 Triliun. Beberapa contoh saham small cap antara lain Nusantara Inti Corpora (UNIT), Yeloo Integra (YELO), Hotel Fitra (FITT), Tirta Mahakam (TIRT), Lionmesh Prima (LMSH), ICTSI Jasa Prima (KARW), Mustika Ratu (MRAT), dan Cottonindo Ariesta (KPAS).

Saham small cap memiliki harga sangat murah antara beberapa puluh hingga beberapa ratus rupiah saja per lembarnya. Selain itu, jumlah saham beredar juga relatif minim. Likuiditasnya rendah, sehingga transaksi saham small cap tidak selalu ramai setiap hari. Investor institusional jarang membeli saham small cap, kecuali sebagai pemilik saham pengendali. Sedangkan bandar kadang-kadang mengambil alih saham-saham ini untuk digoreng.

Emiten small cap bisa jadi merupakan perusahaan rintisan baru atau perusahaan yang menggarap niche kecil dan tidak dominan di bidangnya. Alhasil, profitabilitasnya kurang meyakinkan. Para pemburu dividen kurang tertarik pada saham small cap karena alasan ini. Tapi, trader saham berpeluang mendapatkan cuan (capital gain) dari perdagangan harian maupun swing trading.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Saham big cap menawarkan stabilitas dan profitabilitas yang lebih konkret, sehingga dapat direkomendasikan bagi para pemula dan investor yang memiliki profil risiko rendah. Namun, ada pula yang berargumen bahwa saham big cap menawarkan prospek pertumbuhan lebih lambat daripada small cap. Toh perusahaannya sudah “dewasa” dan kemungkinan memiliki ruang lebih sempit untuk berekspansi.

Di sisi lain, saham small cap berlabel harga lebih terjangkau bagi investor bermodal kecil. Para growth investor yang mengincar perusahaan-perusahaan berprospek pertumbuhan tinggi juga sering menengok saham-saham small cap. Beberapa growth stock favorit saat ini mencakup saham small cap yang bergerak di bidang teknologi ramah lingkungan dan high tech. Tapi small cap membawa konsekuensi risiko cukup besar.

Perlu diingat bahwa saham small cap memiliki likuiditas minim, sehingga investor bisa jadi harus menunggu hingga berhari-hari untuk menjual/membeli saham pada tingkat harga yang diinginkan. Kalau transaksinya sedang sangat ramai karena digoreng bandar, naik-turun harga akan lebih bergejolak (volatile) dibanding big cap. Gejolak harga merupakan peluang profit bagi trader, tetapi juga menghadirkan risiko tinggi. Trader bisa profit lebih dari 100% dalam waktu singkat, tapi modal juga bisa ludes dalam kurun waktu yang sama.

Jadi, lebih baik berinvestasi pada saham big cap atau small cap? Jawabannya tergantung pada target dan gaya investasi masing-masing. Investor yang punya target jangka panjang atau dividend hunter akan lebih cocok dengan saham big cap. Growth investor dapat memilih emiten small cap yang dinilai punya prospek pertumbuhan lebih baik, tetapi saham-saham tipe ini sebenarnya lebih sesuai untuk trader jangka pendek. Pilihannya ada di tanganmu sendiri.

Kamu juga bisa memilih saham-saham mid cap yang mengombinasikan karakteristik big cap dan small cap. Ada cukup banyak saham mid cap yang punya prospek pertumbuhan bagus, harga murah, sekaligus hobi bagi-bagi dividen. Yang terpenting, selalu lakukan analisis fundamental dan teknikal menyeluruh sebelum berinvestasi pada saham mana pun. Jangan asal membeli saham hanya karena harganya cocok di kantong atau mendengar bisikan orang lain. Semoga sukses!

Artikel Terkait