Analisa Saham, Saham

Didukung Tunaiku, Akankah Saham AMAR Menjadi Pemain Kunci?

Ajaib.co.id – Saham AMAR merupakan emiten bank dari PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) yang didirikan pada tahun 1991 dengan nama PT Anglomas International Indonesia. Bank Amar memosisikan bisnisnya sebagai bank digital yang fokus pada sektor ritel dan Usaha Kecil Menengah (UKM), serta memiliki beberapa produk kredit dalam menjalankan fungsinya untuk menyalurkan dana ke masyarakat, salah satunya Tunaiku.

Tunaiku merupakan produk fintech saham AMAR yang menawarkan kredit tanpa agunan dengan cara cepat dan nyaman, serta didukung oleh sistem penilaian kredit yang canggih. Hingga saat ini Tunaiku telah melayani jutaan pelanggan dan berkomitmen memberikan pelayanan fintech terbaik. Bisnis Bank Amar saat ini juga didukung oleh status Bank Buku II yang baru saja diresmikan pada Juni 2019.

Bank Amar juga menjadi salah satu bank digital yang baru saja mengumumkan IPO pada tahun 2020, tepatnya 9 Januari 2020 dengan kode saham AMAR dan dijual seharga Rp100/lembar saham. Hingga saat ini, 70% saham AMAR dimiliki oleh masyarakat, sedangkan 30% nya dimiliki oleh Tolaram Group. Per 15 Maret 2021, harga saham AMAR ditutup di harga Rp374, 6,97% dari hari perdagangan Jumat, 11 Maret 2021.

Bank AMAR merupakan salah satu bank mini yang digadang-gadang menjadi bank yang mampu mensukseskan transformasi bank digital di Indonesia. Meskipun prospeknya cukup cemerlang di masa depan mari kita membedah saham AMAR bersama-sama.

Saham Bank Kecil Kompak Melesat

Berdasarkan data RTI, Jumat (5/3/2021), sejumlah saham bank mini naik pesat, salah satunya adalah saham AMAR. Saham bank tersebut naik 50 poin atau 8,77% ke level Rp620/lembar saham. Efek dari liarnya kenaikan harganya, saham AMAR mendapatkan surat cinta dari BEI dalam bentuk pengumuman UMA (Unusual Market Activity).

Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham bank kecil, BEI tengah mencermati perkembangan pola transaksi saham. Oleh karena itu, investor diharapkan untuk selalu mengikuti perkembangan perusahaan yang masuk dalam daftar UMA.

Jadi Saham Top Losers

Tidak lama setelah menjadi salah satu saham yang harganya meroket di awal Maret, saham AMAR justru menjadi saham top losers pada periode 8 – 12 Maret 2021. Berdasarkan data dari RTI, Saham PT Bank Amar Indonesia ditutup ke level Rp402/lembar saham, atau anjlok 24,86%. Penurunan harga saham AMAR terus berlanjut pada perdagangan Senin, (15/3/20210) ke harga Rp374/lembar saham atau anjlok 6,97%.

Kinerja Cemerlang di Tahun 2020

Meskipun di tengah pandemi sekalipun, PT Bank Amar Indonesia Tbk mampu membukukan kinerja positif selama 9M 2020. Per September 2020, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp25,6 miliar, naik 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp20,4 miliar.

Penyaluran kredit saham AMAR juga ikut tumbuh 4,9% secara you, dari Rp1,7 triliun menjadi Rp1,8 triliun sepanjang 9 bulan tahun 2020. Naiknya penyaluran kredit tersebut juga berdampak pada peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 19,9% ke Rp404 miliar dari yang sebelumnya di angka Rp323 miliar. Dari aspek CKPN, angkanya naik ke 3,95% dari tahun sebelumnya sebesar 2,62%.

Di bawah ini adalah laporan kinerja laba AMAR (dalam Rp miliar)

Komponen Laba September 2020 September 2019
Pendapatan Bunga Bersih 400 323
Laba Bersih 25,6 20,4
DPK 1008 1007
CKPN 3,95% 2,62%

Sementara untuk rasio keuangan umumnya, AMAR justru tidak mampu mempertahankan keuntungan belum mampu menghasilkan keuntungan dari aset dan ekuitas di tahun sebelumnya. ROE dan ROA saham AMAR sepanjang 9M 2020 tercatat berada di level 2,49% dan 0,99%, anjlok dibandingkan ROE dan ROA tahun lalu sebesar 8,48% dan 3,48%.

Sedangkan, NIM saham AMAR turun tipis ke level 16,02% dibandingkan posisi tahun 2019 di  18,09% yang artinya keuntungan perusahaan dari selisih bunga pendapatan masih berada di double digit, meski turun.

Selain itu, AMAR membukukan loan to funding ratio (LDR) sebesar 95,74% merosot dari 118,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, pada rasio CIR yang mengindikasikan efisiensi dari sisi beban operasional, perusahaan mencatatkan kenaikan ke level 32,84%. BOPO saham AMAR tercatat naik ke angka 96,11% dibandingkan tahun lalu di angka 87,43%. BOPO di atas 70% mengartikan perusahaan belum efisien dalam memanfaatkan biaya operasi, sehingga biaya operasional harus terpakai semuanya dibandingkan total pendapatan

Rasio Non-Performing Loan (NPL) saham AMAR tercatat naik 5,45% sepanjang 9 bulan 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,32%. Jika dilihat dari angka NPL yang ideal di bawah 5%, rasio NPL saham AMAR cukup tinggi. Ini artinya, risiko kredit bermasalah di Bank Amar meningkat dibandingkan tahun lalu.

Rasio September 2020 September 2019
ROA 0,99% 3,48%
ROE 2,49% 8,48%
NIM 16,02% 18,09%
LDR 95,74% 118,55%
CIR 32,84% 0%
BOPO 96,11% 87,43%
NPL 5,45% 3,32%
NPL Net 1,51% -1,2%

Meskipun baru saja IPO di tahun 2020, saham AMAR justru memutuskan untuk membagikan dividend sebesar Rp3,82/lembar saham atau 50% dari total laba bersih di tahun 2020. Mengingat dividend adalah salah satu faktor penting pada aspek fundamental, saham AMAR layak untuk dipertimbangkan.

Bagaimana Prospek Bisnis AMAR Di Tahun Ini?

Kehadiran bank digital akhir-akhir ini mendapatkan perhatian lebih di masyarakat, baik pelaku investasi saham atau masyarakat umum. Sejumlah pihak pihak menyebutkan bank bisa menjadi ancaman bagi industri perbankan konvensional yang tidak berinovasi dan saingan bagi industri fintech. Bank digital memiliki peluang tumbuh yang besar di tengah industri keuangan di Indonesia, apalagi adanya peluang perusahaan fintech berkolaborasi dengan bank digital.

Prospek baik digital, salah satunya PT Bank Amar Indonesia ini didukung oleh sejumlah faktor di antaranya segmentasi dan penetrasi pasar yang besar, pengembangan layanan penunjang yang terus tumbuh, dan adanya perubahan perilaku dari offline ke digital.

Di sisi lain, hal tersebut menyebabkan persaingan di industri bank digital akan semakin ketat. Prospek yang besar membuat banyak perusahaan mulai berlomba-lomba mendirikan atau berinvestasi ke bank digital. Perusahaan harus memiliki ekosistem digital yang rapi, serta regulator yang mendukung bisnis bank digital agar dapat mengakomodasi inovasi pendanaan maupun teknologi.

Beberapa bank mini yang berpotensi menjadi garda terdepan transformasi bank digital, di antaranya adalah ARTO yang baru saja diakuisisi Gojek, BBYB yang 24% sahamnya dimiliki PT Akulaku Silvrr Indonesia (perusahaan fintech), dan bank Amar Indonesia yang sebenarnya sudah tidak asing di industri bank digital. Bank dengan kode saham AMAR tersebut sudah bertransformasi menjadi bank digital, terutama melalui produk unggulannya Tunaiku yang sudah memiliki 4,9 juta pengguna sejak beberapa tahun lalu.

AMAR juga berupaya mengembangkan layanan dan produk digital yang menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. Salah satu caranya dengan inisiatif edukasi melalui swara.tunaiku.com yang dapat diakses oleh siapapun. Jumlah pengunjung portal edukasi tersebut sudah mencapai 8,6 juta dengan jumlah artikel lebih dari 6.000 tulisan.

Portal edukasi finansial ini diharapkan dapat meningkatkatkan indeks inklusi keuangan Indonesia yang saat ini masih di kisaran 76% dari total 267 juta penduduk. Ini artinya sebanyak 92 juta penduduk masih belum tersentuh layanan finansial dan perbankan. Angka tersebut lebih dari setengah seluruh penduduk dewasa sebesar 181 juta jiwa.

Pemanfaatan produk digital menjadi penting bagi bank digital untuk menghadirkan layanan keuangan yang mudah diterima seluruh masyarakat Indonesia. Ke depannya, AMAR juga akan memanfaatkan produk inovasi terbaru Senyumku aplikasi bank berbasis AI yang menyederhanakan proses layanan keuangan untuk mengelola keuangan dan membangun kebiasaan menabung masyarakat Indonesia.

Selain itu, dengan dukungan Tunaiku, bank Amar Indonesia dapat menjangkau masyarakat yang belum atau kurang terlayani layanan perbankan, terutama di daerah yang minim layanan keuangan formal dan konvensional.

Berkat keistimewaan aplikasi tersebut, Amar mampu menerobos ke seluruh wilayah Indonesia, terutama wilayah di luar pulau jawa. Hingga saat ini, layanan Tunaiku sudah membantu berbagai kebutuhan masyarakat di luar Pulau Jawa, di antaranya modal usaha sebesar 22,49%, renovasi rumah 31,39% biaya pendidikan sebesar 11,59%.

Melihat peluang transformasi digital yang begitu besar dan saham AMAR menjadi salah satu pemain kunci, investor bisa mempertimbangkan untuk mengoleksi sahamnya. Namun, dengan PER nya yang sudah melambung ke 88.14x dan PBV nya di angka 2.81x, harga saham AMAR saat ini terhitung tinggi. Investor bisa melakukan strategi wait and see atau bagi penganut growth investing, saham AMAR di harga yang saat ini justru berpeluang untuk terus naik di masa yang akan datang.

Tertarik untuk menjadi salah satu pemegang saham AMAR? Yuk transaksi saham langsung lewat aplikasi Ajaib! Di sini, kamu bisa memulai investasi dengan lebih mudah, kapan dan di mana saja mulai dari Rp100 ribu!

Artikel Terkait