Saham

Minat Koleksi saham BMRI? Simak Ulasan Lengkapnya di Sini!

Minat Koleksi saham BMRI? Simak Ulasan Lengkapnya di Sini!

Ajaib.co.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (kode saham BMRI), boleh dikatakan sebagai salah satu bank milik pemerintah yang paling berpengaruh saat ini. Alumni BMRI kini mengisi banyak posisi pucuk pimpinan di perusahaan pelat merah lainnya. Bahkan, ada juga yang kini tercatat sebagai menteri!

Sudah bukan rahasia lagi jika Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir begitu menyenangi alumni bank ini. Dia juga acap kali menyebut BMRI sebagai salah satu talent pool terbaik yang dimiliki BUMN saat ini. Tak heran, kini semua bank-bank BUMN, termasuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), diisi oleh alumni BMRI. 

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Sunarso, contohnya, adalah alumni BMRI. Begitu pula, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Royke Tumilaar juga berasal lama berkarier di BMRI. Direktur Utama BRIS Hery Gunardi juga berasal dari Bank Mandiri.

Di level Kementerian, Menteri Kesehatan Budi Sadikin yang menggantikan Terawan Putranto juga merupakan putra Bank Mandiri. Sebelum menjadi Menteri Kesehatan, dia menjadi salah satu dari dua Wakil Menteri BUMN untuk Erick Thohir, bersama dengan Kartika Wirjoatmodjo. Nama terakhir ini, tentunya juga berasal dari BMRI.

Sejarah Bank Mandiri

Sebagai salah satu bank BUMN terbesar dengan kapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun, BMRI memiliki catatan perjalanan yang menarik. Tidak seperti bank BUMN lainnya, bank ini justru lahir dari program restrukturisasi perbankan dari pemerintah di masa krisis moneter 1998.

Mengutip laman resmi BMRI, Bank Mandiri lahir pada 2 Oktober 1998 sebagai hasil gabungan empat bank, yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia. Restrukturisasi perbankan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menanggulangi krisis yang terjadi, dengan mengandalkan bantuan International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, dan Asia Development Bank (ADB).

Setelah berdiri, Bank Mandiri berhasil mencatatkan perbaikan kinerja secara signifikan. Dari posisi Rp1,18 triliun pada 2000, laba BMRI mencapai Rp5,3 triliun pada 2004. Bank Mandiri kemudian melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering pada 14 Juli 2003 sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham, dengan harga IPO Rp675/saham.

Kinerja BMRI terus menanjak dan menjadi salah satu bank korporasi andalan milik pemerintah. Selain laba, kinerja mengesankan BMRI lainnya adalah berhasil menyusutkan kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dari 15,34% pada 2005 menjadi 0,62% pada 2010.

Namun, perjalanan bank ini tak selalu berjalan mulus. Pada 2016-2017, saat sektor pertambangan, khususnya batu bara mengalami penurunan kinerja cukup tajam, BMRI menjadi salah satu yang ikut terdampak. Dikutip dari detik.com, akibat kredit yang disalurkan ke sektor itu, BMRI sempat mencatatkan rasio NPL hingga 4%.

BMRI perlahan-lahan berhasil bangkit kembali dan memperbaiki kinerjanya. Pada 2019 silam, BMRI berhasil mengungguli bank-bank BUMN lainnya dari sisi pertumbuhan laba. Dikutip dari tagar.id, pada periode itu, BMRI mencatatkan kenaikan laba sebesar 9,68% secara year on year (yoy), mengalahkan BBRI yang hanya mampu tumbuh 6,25% saja.

Kinerja Bank Mandiri 2021

Sebagai bank terbesar di Indoensia, PT Bank Mandiri (Persero) TBK (BMRI) berhasil melanjutkan kinerja positifnya hingga semester 1 2021. Menurut Kontan.co.id, Bank plat merah ini berhasil mencatat pendapatan bunga bersih sebesar 21,50% secara year on year (yoy) menjadi Rp 35,16 triliun. Sehingga, laba bersih ikut naik hingga 21,45% secara yoy menjadi Rp12,5 triliun pada semester I-2021.

Melihat dari segi pertumbuhan kredit, Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,4% (bank-only), sedangkan secara konsolidasi dengan Bank Syariah Indonesia, bank Mandiri berhasil mencatatkan pertumbuhan 16,4% yoy per Juni 2021 dengan penyaluran kredit yang difokuskan pada sektor-sektor yang dianggap prospektif seperti sektor telekomunikasi mencatat pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 57% year to date (ytd), dengan kenaikan outstanding loan sebesar Rp 12,6 triliun. 

Sedangkan secara bank-only, segmen perusahaan masih menjadi penopang kinerja dengan pertumbuhan 8,2% ytd. Segmen tersebut juga berkontribusi pada 42% dari total kredit Mandiri sepanjang tahun ini. BMRI juga berhasil menjaga level Net Interest Margin (NIM) di level 5%, atau sesuai guideline manajemen yang sebesar 4,8% – 5,1%.

Edward Lowis, Analis Sucor Sekuritas mengatakan bahwa perolehan BMRI pada semester I-202 ini masih inline dengan proyeksi Sucor Sekuritas. Ia yakin bahwa Mandiri masih akan terus mencatatkan kinerja positif pada sisa tahun 2021 ini. Oleh karena itu, target pertumbuhan kredit sebesar dobel digit yang dipasang manajemen dinilai sangat memungkinkan untuk dicapai.

Menurut Edward, target dari manajemen sangat mungkin dicapai, apalagi terdapat kontribusi dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Di mana, BSI sudah mulai dikonsolidasikan ke Bank Mandiri sejak awal tahun. Namun, untuk pertumbuhan kredit bank-only diperkirakan akan mencapai 6% untuk tahun 2021.

Menurut Edward, perbaikan kinerja keuangan BMRI akan disokong oleh membaiknya kualitas aset sebagai katalis utama kinerja BMRI di tahun 2021 dan tahun depan. Edward mengatakan adanya perbaikan kualitas aset tersebut bisa mendorong laba bersih BMRI tumbuh 47% yoy pada tahun 2021 menjadi Rp25 triliun, dan tumbuh 10% yoy pada tahun depan menjadi Rp28 triliun. 

Saham BMRI

Meski mengalami penurunan kinerja, para analis masih memberikan rekomendasi positif untuk bank Mandiri. Analis Andre Benas dan Ghibran Al Imran misalnya, masih merekomendasikan buy untuk saham BMRI dengan target harga Rp7.900/saham. Jika melihat harga pada penutupan perdagangan Senin, 8 Februari 2021, maka target harga ini memperkirakan masih ada potensi kenaikan sebesar 2.325 poin dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu, analis Lee Young Jun merekomendasikan trading buy BMRI dengan target harga Rp8.230/saham. Target ini mengimplikasikan price to book value (PBV) 1,7x dalam 12 bulan ke depan. Rekomendasi trading buy ini diberikan setelah mempertimbangkan harga saham bank Mandiri yang telah naik sepanjang akhir tahun 2020, bahkan sempat mencapai Rp7.375 per saham.

Lee juga mengatakan bahwa ada sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan harga dan estimasi kinerja Mandiri ke depan. Yang pertama adalah, risiko realisasi restrukturisasi kredit yang lebih besar. Kedua, pemulihan ekonomi yang lebih lambat dari perkiraan. Ketiga, potensi peningkatan biaya kredit yang lebih tinggi.

Nah, melihat kinerja Mandiri saat ini dan potensinya ke depan, apakah kamu tertarik untuk mengoleksi saham BMRI? Sambil memikirkan hal itu, jangan lupa untuk memulai investasi kamu di Ajaib! Aplikasi ini telah mendapatkan izin dari OJK dan menjadi salah satu platform andalan investasi saham dan reksa dana online saat ini. Kamu bisa mengunduh aplikasi investasi Ajaib melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Artikel Terkait