Investasi

Mengenal Strategi Growth Investing pada Saham

ilustrasi strategi growth investing

Investasi pada dasarnya merupakan sebuah aktivitas menyimpan atau menempatkan dana atau modal pada periode tertentu. Harapannya dana yang kita simpan dapat bertumbuh dan berkembang karena menghasilkan keuntungan.

Investasi memang suatu kegiatan yang memiliki risiko di dalamnya, besar kecil risiko tergantung pada instrumen investasi yang kita miliki. Jika investasi pada saham, dimana risiko sangat tinggi maka ada baiknya memiliki suatu strategi serta rencana investasi (plan) yang baik di awal sebelum berinvestasi. Dalam berinvestasi saham, banyak sekali strategi yang dilakukan oleh seorang investor, salah satunya adalah growth investing.

Mengenal Growth Investing

Growth investing merupakan sebuah strategi yang berfokus kepada peningkatan nilai modal investor tersebut. Investor yang melakukan strategi growth investing biasanya akan berfokus untuk mencari saham yang berpotensi tumbuh atau growth stocks.

Growth Investing pada prinsipnya juga akan mencari saham-saham dengan potensi pertumbuhan yang pesat di masa depan. Termasuk juga saham dimana bisnisnya terbilang baru dan masih berskala kecil namun memiliki potensi pertumbuhan pendapatan di atas rata-rata.

Growth investing menarik untuk investor karena membeli saham ketika perusahaan tersebut masih pada kondisi berkembang biasanya dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi. Dengan catatan, perusahaan tersebut memang benar terbukti terus bertumbuh.

Namun imbal hasil yang tinggi tersebut juga tentunya sepadan dengan risiko yang tinggi juga apabila sahamnya gagal bertumbuh.

Seorang investor yang menerapkan strategi investasinya dengan fokus kepada growth stocks tidak jarang untuk berinvestasi pada industri yang sedang bertumbuh pesat. Contohnya: teknologi dengan inovasi dan layanan baru yang sedang dikembangkan.

Pada umumnya, saham dalam kriteria growth stocks memang masih memiliki kapitalisasi yang kecil, belum lama beridiri, dan tidak jarang bahwa saham tersebut masih belum menghasilkan keuntungan pada kegiatan bisnisnya, bahkan masih mengalami kerugian. Namun, perusahaan tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang sangat baik ke depannya.

Growth stocks sangat berbeda dengan value stock yang umumnya mempertimbangkan rasio valuasi yang lebih rendah dari nilai wajar suatu saham.

Value stock akan berfokus kepada saham-saham yang dinilai masih salah harga atau sedang terdiskon dari harga atau nilai perusahaan sesungguhnya. Sedangan growth stock, tidak jarang ditemukan dengan kriteria rasio valuasi yang tinggi.

Baca juga: Value Investing, Rahasia Analisis Fundamental Saham Pemula

Kriteria Saham yang Termasuk Growth Stock

Pada umumnya, investor yang menerapkan growth investing ini melihat potensi pertumbuhan. Tidak ada angka default ataupun formula mutlak untuk mengevaluasi potensi ini sebab hal ini berdasarkan factor objektif dan subjektif ataupun penilaian pribadi.

Namun, meskipun tidak ada formula perhitungan pasti, investor yang menerapkan strategi growth investing ini dapat mempertimbangkan beberapa kriteria untuk membantu analisis, diantaranya adalah dengan membandingkan kinerja di masa lampau terhadap kinerja terkininya.

Investor yang menerapkan growth investing ini juga dapat mempertimbangkan kriteria berikut ketika memilih saham yang berpotensi tumbuh (growth stock), seperti sebagai berikut :

1. Earning growth

Saham yang ideal pada strategi growth investing adalah saham yang memiliki earning growth yang tumbuh atau setidaknya stabil dalam jangka waktu 5 tahun hingga 10 tahun ke belakang.

Perhatikan dari sisi laba per saham (EPS) nya, EPSnya harus mencatatkan pertumbuhan yang signifikan minimal 10%.

2. Future or forward earning growth

Biasanya sebelum sebuah saham melaporkan laporan keuangan pendapatan per kuartal ataupun periode tahunan, analis akan mempublikasikan laporan mengenai estimasi kinerja saham tersebut.

Untuk seorang growth investor, informasi estimasi kinerja saham tersebut dapat dijadikan indikator penilaian apakah saham tersebut termasuk growth stock atau tidak.

Jika estimasi pertumbuhan kinerjanya melebihi pertumbuhan rata-rata industrinya, maka saham tersebut layak untuk diterapkan pada strategi growth investing.

3. Perhatikan Rasio Return On Equity (ROE)

Rasio ROE merupakan sebuah rasio yang memperhitungkan perusahaan menghasilkan laba terhadap ekuitas atau modalnya. Secara perhitungan, Return on Equity pun juga diperoleh dari hasil net income terhadap equity.

Jika rasio ROE terus mengalami peningkatan, maka dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut masih konsisten menghasilkan keuntungan pada bisnisnya sehingga sahamnya potensial untuk diinvestasikan.

Lebih lanjut, kamu bisa membaca artikel tentang Memilih Growth Stock sebagai Inti Portofolio

Artikel Terkait