Saham

Mengenal Rasio Penting Pada Laporan Keuangan Perusahaan

Rasio pada laporan keuangan

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu mendengar rasio seperti PER, EBITDA, atau PBV pada laporan keuangan sebuah perusahaan atau saat membaca riset sebuah saham? Ketiga istilah itu berhubungan dengan perhitungan nilai saham yang murah (undervalued stock) dan mahal (overvalued stock) sebuah perusahaan.

Selain ketiganya, masih ada beberapa rasio lain yang dapat dijadikan barometer oleh investor. Antara lain DER dan PEG Ratio. Langsung saja yukk mari kita bahas satu per satu.

PER (Price-to-Earnings Ratio)

PER adalah metrik yang membantu investor menentukan nilai pasar (market value) suatu saham dibandingkan dengan laba perusahaan. PER sering dipergunakan untuk mengukur apakah suatu saham sudah overvalued (mahal) atau masih murah (undervalued).

Rumusnya sangat sederhana, yakni harga saham dibagi earning per share (EPS). Data ini juga biasanya sudah tercantum dalam rincian laporan keuangan perusahaan yang dapat dilihat pada platform trading saham kamu. Umpama emiten TLKM memiliki EPS 188.40 dan harga saham saat ini Rp3130 per lembar, maka PER TLKM adalah (3130/188.40)=16.61x.

Apakah PER TLKM itu mahal atau murah? Setelah menghitung PER suatu emiten, kamu perlu membandingkannya dengan emiten lain dalam bidang usaha yang sama. Karena TLKM termasuk sektor telekomunikasi, selayaknya dibandingkan dengan emiten seperti EXCL dan FREN.

Semakin tinggi PER dibanding perusahaan lain dalam sektor yang sama, maka harga saham itu semakin mahal. Sebaliknya, PER yang rendah menandakan harga saham emiten sekarang relatif lebih murah. Akan tetapi, PER memiliki sejumlah kelemahan.

Apabila ingin menggunakan PER untuk mengevaluasi nilai saham favoritmu, perhatikan beberapa kelemahan berikut ini:

  1. PER hanya bermanfaat untuk membandingkan perusahaan-perusahaan dalam satu sektor industri yang sama. Perusahaan lintas sektor memiliki standar tinggi/rendah PER yang berbeda-beda.
  2. Laporan laba perusahaan dibuat berdasarkan riwayat keuangan perusahaan di masa lalu. Padahal meski perusahaan mendapatkan laba di masa lalu, tidak lantas berarti perusahaan pasti akan mendapat laba melimpah lagi di masa depan.
  3. PER tidak memperhitungkan pertumbuhan laba. Untuk mengatasi masalah ini, investor dapat menggunakan PEG Ratio.
  4. Saham yang memiliki PER sangat rendah belum tentu layak dibeli. Mengapa? Karena bisa jadi kondisi perusahaan memang buruk, sehingga saham murah pun tetap tidak laku dibeli. Jadi, kamu juga perlu menengok kondisi rasio-rasio lain untuk perusahaan tersebut.

EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization) di Laporan Keuangan

Secara harfiah, EBITDA dapat diterjemahkan sebagai pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Ini merupakan salah satu barometer untuk mengukur profitabilitas perusahaan yang dianggap lebih akurat daripada sekedar laba bersih.

Angka EBITDA diperoleh dengan menambahkan laba, bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Hal ini memungkinkan investor untuk membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan dalam sektor yang sama dengan basis lebih setara. Akan tetapi, EBITDA mengandung sejumlah kelemahan fatal.

EBITDA tidak memperhitungkan investasi modal seperti peralatan dan pabrik. EBITDA juga mengaburkan beban utang perusahaan yang sesungguhnya, karena biaya bunga ditambahkan lagi kepada laba. Bagi perusahaan, EBITDA memberikan gambaran tren pertumbuhan yang lebih baik. Tapi hal ini justru membuat banyak investor kurang suka menggunakan EBITDA untuk mengukur kinerja perusahaan.

Penting untuk diketahui, EBITDA tidak termasuk dalam Generally Accepted Accounting Principles (GAAP), standar akuntansi yang dipergunakan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat. Di samping menggunakan EBITDA, investor direkomendasikan agar menilik laporan arus kas perusahaan (operating cash flow).

​Operating Cash Flow menambahkan beban non-tunai seperti depresiasi dan amortisasi ke dalam pendapatan bersih, sekaligus perubahan modal kerja yang menggunakan atau menambah dana kas perusahaan. Apabila investor hanya mengandalkan EBITDA, maka bisa jadi akan luput menemukan macetnya arus kas perusahaan.

PBV (Price-to-Book Value)

Istilah PBV sering juga disebut sebagai P/B Ratio. Ini merupakan barometer untuk mengukur apakah suatu saham itu murah (undervalued) atau mahal (overvalued) dengan membandingkan harga saham dengan nilai buku (book value) perusahaan. Sedangkan book value per lembar saham dihitung dari total aset perusahaan dikurangi liabilitas, kemudian dibagi jumlah saham beredar.

PBV mendekati atau sebesar 1 menandakan bahwa saham diperdagangkan di pasar dengan harga mirip dengan nilai bukunya. Mengikuti asumsi ini, maka emiten dengan PBV semakin rendah menjadi menarik karena nilai pasar lebih murah daripada nilai buku. Sebaliknya, PBV yang lebih tinggi akan dianggap lebih mahal.

PBV merupakan indikator yang bagus untuk dijadikan patokan oleh investor. Namun, PBV juga memiliki sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan:

  1. PBV cocok untuk menilai perusahaan-perusahaan di sektor padat modal seperti manufaktur, transportasi, dan energi. Akan tetapi, PBV kurang cocok untuk mengevaluasi perusahaan yang lebih kaya dalam intangible asset seperti paten dan koleksi brand ternama. PBV juga kurang sesuai untuk mengevaluasi saham dari sektor perbankan.
  2. PBV bisa gagal memberikan info tepat untuk perusahaan-perusahaan yang menanggung utang besar. Utang dapat meningkatkan liabilitas perusahaan, sehingga menciptakan PBV tinggi abal-abal. Perusahaan yang kerap merugi juga dapat menunjukkan PBV negatif, sehingga tidak bermakna apa-apa.

Secara umum, PBV merupakan acuan yang bagus untuk investor. Hanya saja, kamu perlu mengenali beberapa kelemahan ini dan membandingkannya dengan beberapa rasio lain juga.

DER (Debt-to-Equity Ratio)

Dari beberapa rasio di atas, terlihat bahwa faktor utang termasuk salah satu hal yang sering luput diperhitungkan. Jadi, bagaimana cara investor mengetahui kondisi utang perusahaan? Mudah sekali, tengoklah DER.

DER adalah metrik yang membantu investor mengukur total liabilitas dibanding total ekuitas pemilik saham. Informasi ini biasanya sudah tersedia dalam laporan keuangan. Cara mengevaluasinya pun cukup mudah.

Semakin rendah DER, maka suatu saham lebih layak dipilih oleh investor. Semakin tinggi DER, maka investor perlu waspada kalau-kalau perusahaan tidak memiliki arus kas memadai untuk memenuhi kewajibannya. Akan tetapi, DER dapat bervariasi di setiap sektor industri. Ada baiknya membandingkan DER antar perusahaan dalam satu sektor yang sama saja, bukan lintas sektor.

Rasio PEG (Price/Earnings-to-Growth Ratio)

Rasio PEG merupakan modifikasi dari PER yang dibuat untuk memperhitungkan pula pertumbuhan laba. Caranya dengan membandingkan PER yang disetahunkan (PER Annualized) dan pertumbuhan laba bersih.

Secara teoretis, rasio PEG sebesar 1 mewakili korelasi sempurna antara nilai pasar suatu perusahaan dan proyeksi pertumbuhan labanya. Saham yang memiliki rasio PEG di atas 1 akan dianggap mahal (overvalued), sedangkan PEG di bawah 1 akan dianggap murah (undervalued).

Bagi sebagian investor, rasio PEG dianggap lebih akurat daripada PER atau PBV. Rasio PEG juga seringkali bisa menjelaskan mengapa ada perusahaan yang memiliki PER tinggi, tapi harga sahamnya dianggap murah. Namun, perhatikan juga bahwa rasio PEG hanya cocok digunakan untuk membandingkan saham antar perusahaan dalam satu sektor yang sama saja.

Kesimpulan

Ada lima rasio yang perlu diperhatikan investor dari paparan laporan keuangan perusahaan, yakni PER, EBITDA, PBV, DER, dan PEG. PER, PBV, dan PEG mengukur mahal atau murahnya suatu saham. EBITDA menilai profitabilitas perusahaan. Sedangkan DER menilai besar-kecilnya beban utang perusahaan.

Kelima rasio ini perlu dipantau secara berdampingan, karena tak ada satu pun yang 100 persen akurat secara mandiri. Dengan mengombinasikan pemantauan terhadap berbagai rasio dan menengok arus kas perusahaan, investor niscaya dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang valuasi saham perusahaan terkait.

Tak perlu bingung menghitung atau mencari dokumen laporan keuangan untuk mengetahui rasio saham favorit. Aplikasi Ajaib menyediakan semua data penting yang dibutuhkan oleh investor saham untuk menilai prospek perusahaan. Statistik penting seperti EPS, PER, PBV, DER, RoA, RoE, dan lain-lain dapat dilihat langsung pada profil emiten sebelum investor membeli saham.

Artikel Terkait