Investor Pemula, Reksa Dana

Kenali Perbedaan Reksa Dana Konvensional dan Indeks

Gambar Ilustrasi Langkah Awal Mengenal Investasi Reksa Dana
Gambar Ilustrasi Langkah Awal Mengenal Investasi Reksa Dana

Ajaib.co.id – Reksa dana dapat dijadikan kendaraan untuk investasi jika kamu tidak aktif trading di pasar saham. Kamu perlu mengetahui jenis-jenis reksa dana, terutama perbedaan reksa dana konvensional dan indeks supaya memperoleh strategi berinvestasi yang tepat.

Reksa Dana Indeks (RDI) biasanya dikelola secara pasif atau mengikuti indeks tertentu yang dibuat bursa, sedangkan reksa dana konvensional pengelolaanya aktif berdasarkan strategi sang Fund Manager. Belakangan keuntungan RDI juga tidak kalah dengan reksa dana konvensional.

Indeks dan Reksa Dana Indeks

Reksa Dana Indeks adalah reksa dana yang portofolio-nya berisikan efek (saham atau obligasi) yang termasuk ke dalam indeks tertentu. Sebelumnya jika kamu belum tahu Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini memiliki 35 indeks saham, yang paling terkenal diantaranya;

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham yang tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia.
  • IDX30: Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
  • LQ45: Indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
  • Indeks Saham Syariah Indonesia/Indonesia Sharia Stock Index (ISSI): Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham di Papan Utama dan Papan Pengembangan yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).
  • Jakarta Islamic Index (JII): Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.

Adapun beberapa indeks yang lainnya seperti misalnya;

  • IDX High Dividend 20: Indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.
  • KOMPAS-100: Indeks yang mengukur kinerja harga dari 100 saham yang memiliki likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar. Indeks KOMPAS100 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media Kompas Gramedia Group (penerbit surat kabar harian Kompas).
  • SRI-KEHATI: Indeks yang mengukur kinerja harga saham dari 25 perusahaan tercatat yang memiliki kinerja yang baik dalam mendorong usaha-usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik atau disebut Sustainable and Responsible Investment (SRI). Indeks SRI-KEHATI diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI).

Ada pula beberapa indeks yang berisikan saham-saham dalam sebuah sektor saja seperti misalnya;

  • Indeks Sektor Pertambangan: Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham di Papan Utama dan Papan Pengembangan  yang terdapat di sektor Pertambangan, mengacu pada klasifikasi Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA).
  • Indeks Sektor Industri Dasar dan Kimia: Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham di Papan Utama dan Papan Pengembangan di sektor Industri Dasar dan Kimia, mengacu pada klasifikasi Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA).

Untuk lebih lengkapnya kamu bisa cek indeks-indeks saham lainnya di https://www.idx.co.id/produk/indeks/

Tidak hanya saham, BEI juga memiliki indeks obligasi seperti misalnya;

  • Indeks Obligasi Komposit seperti ICBI (Indonesia Composite Bond Index), INDOBeX-GY, dll.
  • Indeks Obligasi Pemerintah seperti INDOBeXG-TR, INDOBeXG-CP, dll.
  • Indeks Obligasi Korporasi seperti INDOBeXC-TR, INDOBeXC-GY, dll.

Selengkapnya di https://www.idx.co.id/data-pasar/data-obligasi-sukuk/indobex/

Reksa Dana Indeks (RDI) adalah reksa dana yang dirancang untuk memiliki kinerja menyamai sebuah indeks acuan seperti misalnya IDX 30, LQ45 atau indeks lainnya. Fungsinya adalah bukan untuk mengalahkan kinerja indeks melainkan untuk menyamainya.

RDI dirancang sebagai dana yang dikelola secara pasif mengikuti indeks yang menjadi acuannya. Karena fungsinya adalah untuk menyamai indeks maka ketika IDX 30 turun 10%, maka RDI kemungkinan akan turun dengan persentase yang sama. Demikian pula berlaku sebaliknya.

Perbedaan Reksa Dana Konvensional dan Indeks

  • Kinerja

Reksa dana Indeks dirancang untuk bisa menyamai kinerja indeks yang jadi acuannya. Umumnya kinerja RDI biasanya dikalahkan Reksa Dana Konvensional, namun ketika pasar sedang mengalami koreksi maka kinerja RDI lebih baik baik dari RD biasa. Setidaknya penurunannya tidak sedalam yang dialami RD biasa.

Meski demikian walau dikelola secara aktif belum tentu juga RD saham konvensional mampu mengalahkan acuan semestanya yaitu IHSG.

Sebuah saran dari Buffet: “Jika kamu tidak dapat mengalahkan indeks, sebaiknya kamu bisa menyamainya”

  • Biaya Manajemen

Dalam mengelola portofolio indeks manajer investasi tidak banyak melakukan transaksi karena dikelola secara pasif saja. Karena dikelola secara pasif maka biaya pengelolaan/expense ratio-nya juga lebih rendah daripada RD konvensional. Untuk reksa dana standar, kamu mungkin dikenakan biaya antara 1% hingga 3%.

  • Newbie Friendly

Bagi investor pemula RDI lebih newbie friendly. Kita mengenal ada berbagai reksa dana saham dan dibutuhkan keterampilan, setidaknya mengenal beberapa rasio reksa dana, untuk memilih reksa dana saham yang memiliki kinerja baik. Hal itu menimbulkan kebingungan dalam memilih yang mana reksa dana saham yang terbaik untuk dibeli.

Sedangkan ada cara yang lebih mudah yaitu membeli RDI yang mana saham-saham yang termasuk ke dalam indeks yang dijadikan acuan adalah saham-saham yang kinerjanya baik. Sehingga membeli RDI adalah cara mudah bagi investor pemula untuk mendapatkan investasi yang baik.

Keunggulan Lainnya Dari Reksa Dana Indeks

  • Reksa Dana Indeks Saham cocok sebagai Dana Pensiun

Walaupun pasar saham selalu bergejolak namun secara jangka panjang selalu bergerak naik.

  • Di tahun 2008 kita mengetahui bahwa indeks IHSG turun dari puncaknya ke titik terendah sebanyak 60%, lalu kembali naik lebih mengungguli titik tertingginya hanya dalam waktu kurang dari 24 bulan saja.
  • Tahun 2015, krisis keuangan lokal membuat pasar saham kembali terguncang dan jatuh dari puncaknya ke titik terendahnya sebesar 25%, lalu pasar saham pulih dan mencapai titik All Time High/tertinggi sepanjang masa di tahun 2018.

Sebelum datang pandemi Covid-19 setiap tahunnya rata-rata IHSG naik sekitar 13%. Jika dihitung sejak 1982 maka IHSG naik 10,3% per tahunnya. Pasar selalu saja naik lebih tinggi lagi meski sebelumnya ada krisis yang melanda.

Jika pasar saham tidak bisa pulih maka itu artinya perusahaan-perusahaan bluechip seperti Unilever, Astra, BCA, BNI dan Mandiri juga tidak pulih. Sepanjang riwayat pasar saham perusahaan-perusahaan berkapitalisasi raksasa seperti perusahaan-perusahaan yang disebutkan adalah yang paling pertama pulih setelah krisis berlalu. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah lima dari 30 saham-saham yang tercakup dalam indeks IDX 30 yang mana sering dijadikan acuan oleh manajer investasi yang mengelola RDI.

Karena cocok untuk jangka panjang maka RDI sesuai sebagai dana pensiun. Cara menabung RDI cukup mudah, jadwalkan saja setiap bulan sisihkan untuk pensiunmu. Jika IHSG sedang baik, maka porsi untuk menabung disarankan tidak terlalu besar. Namun jika pasar secara umum sedang mengalami koreksi maka disarankan untuk menabung dengan membeli RDI dengan jumlah yang lebih besar.

  • Biaya Rendah Untuk Diversifikasi

Untuk mengurangi risiko biasanya kita melakukan diversifikasi atau membeli lebih banyak saham yang berbeda. Sehingga ketika satu saham turun diharapkan saham lain dalam portofolio kita sedang naik sehingga rapor kita tidak merah-merah amat. Untuk melakukan diversifikasi biayanya tidaklah murah. Untuk diversifikasi mengikuti indeks IDX 30 maka kita harus mengoleksi 10 hingga 30 saham yang terkandung dalam IDX 30. Nilainya bisa ratusan juta jika diakumulasi.

Namun dengan membeli RDI yang beracuan ke IDX 30 saja misalnya, dengan mulai dari 100 ribu rupiah kamu sudah mendapatkan portofolio berisikan saham-saham IDX 30.

Ada sebuah buku karangan J.L. Collins yang sudah bebas secara finansial dengan cara berinvestasi di reksa dana indeks yang berjudul “The Simple Path to Wealth”.

Beliau mengatakan dalam bukunya bahwa seringkali orang terlalu ketakutan dan ketakutannya mencegahnya berinvestasi. Itu hal yang wajar karena tidak ada orang yang mau kehilangan uang. Namun tidak ada krisis dan penurunan harga yang bisa mencegah pasar untuk terus naik secara jangka panjang.

Artikel Terkait