Analisa Saham

Kedaung Indah Can (KICI), Emiten Panci yang Tak Bertaji

Sumber: Kedaung Indah Can

Ajaib.co.id – Umumnya sektor consumer goods digandrungi karena biasanya perputaran persediaannya cepat dan menghasilkan banyak keuntungan dari kuantitas produk yang dijualnya. Namun perusahaan-perusahaan consumer goods juga bersaing satu sama lain dengan ketat.

Jika emiten tak punya keunggulan pada merek produknya maka persaingan satu-satunya adalah melalui perang harga. Ketika perang harga mesti dijalani, ditambah dengan kemampuan pengelolaan beban-beban yang kurang baik, maka perusahaan consumer goods pun bisa saja berakhir merugi.

Emiten yang memproduksi peralatan dapur berbahan logam seperti PT Kedaung Indah Can mengalami penurunan kinerja dari sisi penurunan penjualan dan pengelolaan beban umum dan administrasi yang kurang baik. Berikut bedah saham KICI, emiten panci yang sudah berdiri sejak tahun 1974 dan kini tak lagi bertaji alias sudah tidak menguntungkan.

Profil Emiten

PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) adalah perusahaan manufaktur yang berlokasi di Surabaya, Indonesia. Produknya meliputi peralatan dapur logam berlapis enamel seperti panci, mangkuk, mug, nampan, cerek teh, pemanggang telur dan kaleng untuk industri lainnya.

Emiten didirikan pada tanggal 11 Januari 1974 dan masuk ke dalam sektor industri barang konsumsi peralatan rumah tangga. Kemudian pada tahun 1993 emiten tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham KICI.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 276.000.000 lembar di harga Rp 284 maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 78,38 Miliar. Adapun pemegang saham dengan nilai signifikan di atas 5% di antaranya; PT Kedawung Subur (43,62%), DK Lim & Sons Investment Pte Ltd (31,4%), Bank Of Singapore Limited (14,39%) dan sebanyak 10,59% dari jumlah saham kini beredar di masyarakat.

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

2020 2019 Perubahan
Pendapatan 89,38 miliar 91 miliar -1,84%
Laba Bersih -10,6 juta -3,17 miliar 99,66%
Liabilitas 76,25 miliar 65,46 miliar 16,48%
Ekuitas 80,76 miliar 87,35 miliar -7,54%

Emiten panci enamel KICI mengalami penurunan kinerja, bukan pada pendapatan namun pada efisiensi beban-beban. Adapun pendapatan turun hanya sebesar 1,84% saja menjadi Rp 89,38 miliar dari sebelumnya di akhir tahun 2019 sebesar Rp 91 miliar.

Pendapatan kemudian dikurangi beban pokok pendapatan sebesar Rp 67 miliar menyisakan laba kotor sebesar Rp22,35 miliar. Biasanya beban pokok pendapatan (COGS) menggerus pendapatan hingga lebih dari 78%, namun kali ini di tahun 2020 COGS emiten hanya memakan 74,9% pendapatan.

Dalam pengakuan resminya di Paparan Publik Agustus 2020, manajemen KICI mengaku bahwa mereka memutuskan untuk mengimpor bahan baku langsung dari China untuk mendapatkan harga Cold Rolled Steel dan Tin Plate yang lebih murah. Selama ini bahan baku diserap dari dalam negeri dan harganya lebih mahal daripada yang ditawarkan pemasok dari China.

Laba kotor sebesar Rp 22,35 miliar tersebut kemudian mesti dikurangi beban umum dan administrasi sebesar Rp 17,39 miliar dan beban-beban lainnya dan menyisakan defisit alias rugi bersih sebesar Rp 10,6 juta. Kerugian ini masih lebih baik daripada di tahun 2019 di mana emiten merugi sebesar Rp 3,17 miliar.

Di sisi lain liabilitas naik 16,48% menjadi Rp 76,25 miliar dari sebelumnya di tahun 2019 hanya sebesar Rp 65,46 miliar saja. Naiknya liabilitas melebihi kenaikan yang terjadi pada total aset dan hal tersebut menyebabkan modal kerja alias ekuitas turun menjadi Rp 80,76 miliar saja di tahun 2020, sebelumnya di tahun 2019 adalah sebesar Rp 87,35 miliar. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

ROE GPM NPM
2019 -3,63% 16,52% -3,48%
2020 -0,01% 25,01% -0,01%

Rasio profitabilitas emiten memang tidak menarik karena bernotasi negatif namun ada perbaikan dari nilainya karena emiten berhasil menghemat bahan baku dengan mengimpor tin plate dan cold rolled steel dari China.

Perbaikan tersebut tidak lantas membuat emiten menjadi calon saham turn around karena perubahan yang terjadi tidak nampak secara signfikan dan lagi nilainya sangat kecil. Akan jauh lebih menarik jika emiten bisa memangkas beban gaji dan tunjangan yang memakan hingga Rp 15 miliar setiap tahunnya.

DER Current Ratio
2019 74,94% 757,80%
2020 94,41% 783,22%

Emiten selaku emiten yang memiliki marjin laba yang kurang menarik tidak lantas kesehatan keuangannya juga bermasalah. Rasio utang per ekuitas (DER) nya menunjukkan bahwa liabilitas emiten KICI masih berada di bawah ambang batas yang dianjurkan yakni di bawah 100%. DER emiten adalah sebesar 94,41%, sebelumnya 74,94% di 2019.

Liabilitas emiten juga mayoritas berupa utang jangka panjang sehingga secara jangka pendek emiten sangat sehat. Rasio lancarnya berturut-turut sebesar 757,8% di tahun 2019 dan 783,22% di tahun 2020, yang artinya di tahun 2020 aset lancar emiten nilainya 7,57x lipat dari utang lancarnya.

Riwayat Kinerja

Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih
2017 113,41 miliar 29 miliar 11,45 miliar 7,94 miliar
2018 86,91 miliar 18,8 miliar 172,4 juta -873,7 juta
2019 91 miliar 15 miliar -3,48 miliar -3,17 miliar
2020 89,38 miliar 22,35 miliar 2,36 miliar -10,6 juta
CAGR -7,63% -8,34% -40,87% -111,03%

Sejak tahun 2017 pendapatan emiten naik-turun di kisaran Rp 80-120 miliar dengan laba bersih yang terus menurun. Penelusuran lebih dalam mendapati bahwa rendahnya laba bersih terhadap pendapatan adalah disebabkan oleh besarnya Beban Pokok Pendapatan (COGS) dan Beban Umum dan Administrasi.

Kedua beban tersebut nilainya raksasa, COGS sendiri setiap tahunnya memakan hingga 70-an persen pendapatan. Sedangkan beban umum dan administrasi memangkas hingga nyaris 100% laba kotor. Berikut rasio-rasio yang dapat dipaparkan:

ROE GPM NPM
2017 8,69% 25,60% 7,01%
2018 -0,92% 21,64% -1,01%
2019 -3,63% 16,52% -3,48%
2020 -0,01% 25,01% -0,01%

Laba kotor per pendapatan emiten setiap tahunnya hanya berkisar antara 16-26 persen saja, membaik di tahun 2020 karena emiten berhasil mendapatkan bahan baku dengan harga yang lebih murah daripada yang biasanya emiten dapatkan dari pemasok lokal.

Dari laba kotor yang hanya 20-an persen dari pendapatan, emiten tidak kebagian laba bersih dan hal tersebut utamanya disebabkan oleh beban umum dan administrasi yang nilainya besar sekali. Di bawah ini terdapat informasi mengenai beban umum administrasi yang menggerus laba secara masif.

  Beban Umum Administrasi
2017 15,45 miliar
2018 17,17 miliar
2019 16,88 miliar
2020 17,39 miliar
CAGR 4,02%

Dari laba kotor sebesar Rp 20-an miliar setiap tahunnya emiten mengeluarkan hingga Rp 17 miliar untuk beban umum dan administrasi. Penelusuran lebih lanjut mendapati bahwa setiap tahun emiten mengeluarkan hingga Rp 15 miliar untuk pengeluaran gaji dan tunjangan karyawan.

Rp 15 miliar adalah angka yang luar biasa besar jika dibandingkan dengan laba kotor yang berhasil didapat emiten. Sudah semestinya emiten melakukan perampingan jumlah pegawai dan pemangkasan upah pegawai karena nilai gaji dan tunjangan sudah melampaui kemampuan emiten. Berikut kinerja emiten dilihat dari kesehatan keuangannya:

  Liabilitas Ekuitas Aset Lancar Liab. Lancar
2017 57,92 miliar 91,49 miliar 90,34 miliar 12,38 miliar
2018 59,43 miliar 94,64 miliar 97,22 miliar 15,9 miliar
2019 65,46 miliar 87,35 miliar 95,88 miliar 12,65 miliar
2020 76,25 miliar 80,76 miliar 102,5 miliar 13 miliar
CAGR 9,60% -4,07% 4,30% 1,86%

Adapun setiap tahun liabilitas emiten meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 9,6%, terakhir di tahun 2020 liabilitas emiten adalah Rp 76,25 miliar. Naiknya liabilitas ternyata diiringi dengan menurunnya ekuitas.

Meski liabilitas naik, namun liabilitas jangka pendek alias lancar nilainya masih di kisaran Rp 13 miliar saja, artinya liabilitas yang diambil emiten adalah berjangka panjang. Emiten cukup pandai menjaga kesehatan keuangannya, berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

DER Current Ratio
2017 63,30% 729,47%
2018 62,80% 611,37%
2019 74,94% 757,80%
2020 94,41% 783,22%

Rasio utang per ekuitas (DER) emiten sejak tahun 2017 selalu berada di bawah 100%, namun jika dilihat dari tren-nya kita akan mendapati bahwa rasio DER emiten semakin besar. Memang nilai ekuitas emiten dari tahun ke tahun terus berkurang nilainya, sementara itu nilai liabilitas terus meningkat.

Rasio lancar emiten sangat baik, rasio lancar membagi aset lancar dengan liabilitas lancar dan semakin besar semakin baik. Besar rasio lancar yang dianjurkan adalah sebesar 100%, sementara emiten memiliki rasio lancar antara 600-800 persen.

Prospek

Berturut-turut emiten mengalami penurunan dalam hal penjualan, pendapatan emiten turun dengan CAGR sebesar 7,63%. Emiten mengeluh tentang ketidakstabilan politik dan ekonomi yang menyulitkan perkembangan usaha di tahun 2018 dan 2019, dan dilanjut oleh terjadinya pandemi Covid-19 di tahun 2020.

Hal ini direspon oleh emiten dengan serangkaian kegiatan marketing untuk memperoleh pelanggan baru dari luar negeri seperti mengikuti pameran di luar negeri terutama di Amerika. Emiten punya target untuk mencapai peningkatan 10-19% dalam penjualan. Memang 70% penjualan datang dari dalam negeri setiap tahunnya sementara 30% penjualan berasal dari kegiatan ekspor.

Emiten juga melakukan efisiensi dalam hal pengurangan beban pokok pendapatan dengan melakukan import bahan baku. Dari seluruhnya, penulis menilai bahwa efisiensi terbaik emiten akan dapat dicapai jika emiten bisa melakukan perampingan jumlah karyawan dan pengurangan gaji dan tunjangan.

Kesimpulan

KICI adalah emiten peralatan dapur yang memiliki masalah pada penurunan penjualan, namun masalah utama terletak pada kecilnya marjin laba yang disebabkan terlalu tingginya beban-beban yang diembannya. Beban umum dan administrasinya terlalu besar bahkan di tahun 2019 beban ini nilainya 112% lebih besar dari laba kotornya.

Usaha emiten cukup baik dalam hal mengurangi harga bahan baku dengan mencari alternatif pemasok dari China, emiten juga mulai gencar memasarkan produknya dengan mengikuti berbagai pameran untuk menjangkau pelanggan baru dari luar negeri.

Namun emiten baru akan menarik jika ada pengurangan dalam hal beban umum dan administrasi, khususnya dari sisi beban gaji dan tunjangan pegawai. Jika emiten bersikeras mempertahankan seluruh pegawai dengan gaji dan tunjangan sebesar itu maka harapan akan tertumpu pada usaha emiten dalam meningkatkan pendapatan yang agaknya masih sulit untuk terjadi.

Secara kesehatan, emiten cukup pandai untuk menjaga agar liabilitas tidak mengganggu jalannya operasional emiten setidaknya untuk jangka pendek. Emiten sangat baik dalam hal mencegah terjadinya pailit, namun jika emiten terus-menerus merugi maka emiten akan terus menambah liabilitas.

Selama ini emiten selalu berhasil mempertahankan kesehatan keuangannya, namun liabilitas yang senantiasa naik diiringi dengan penurunan ekuitas akan menyebabkan rasio DER emiten membengkak. Suatu saat dalam waktu beberapa tahun lagi kita akan dapati KICI memiliki rasio DER yang tak lagi sehat.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

Artikel Terkait