Analisa Saham

Harga Penawaran GoTo Masih Undervalued

Ajaib.co.id – Judul “Harga Penawaran GoTo Masih Undervalued” bukanlah clickbait karena valuasi Pra-IPO GoTo memang berada di bawah valuasi IPO-nya, analisa cigar butt yang simpel dari Benjamin Graham akan memberikan sudut pandang berbeda padamu meski emiten masih merugi ketika IPO.

Bapak investasi modern, Benjamin Graham, adalah orang di balik gaya investasi Cigar Butt. Sekedar informasi, Cigar butt investing adalah model investasi saham bervaluasi murah, terlepas dari kinerjanya baik atau buruk.

Ketika Amerika Serikat memasuki masa The Great Depression di tahun 1930-an, Benjamin Graham menemukan bahwa banyak perusahaan dihargai terlalu murah di bawah nilai buku (ekuitas) per sahamnya.

Perusahaan semacam ini biasanya masih dalam kondisi merugi dan memiliki banyak masalah, bahkan beberapa berada di ambang batas kebangkrutan. Tapi karena terlalu murah maka menjadi menguntungkan untuk dibeli.

Analoginya adalah seperti memungut puntung rokok (cigar butt) yang dibuang orang namun masih bisa dibakar untuk dihisap beberapa kali lagi.

Membeli perusahaan semacam ini memberikan kita keamanan, karena jika dinyatakan bangkrut dan mesti dilikuidasi maka setelah perusahaan membayar utang masih ada sisa ekuitas untuk dibagikan ke pemilik saham. Jangan lupa bahwa sebelumnya saham dibeli di bawah harga ekuitasnya.

Jikalau ternyata emiten mengalami turn around/perbaikan kinerja, maka sahamnya akan laris dan harganya akan terangkat. Kita yang membeli jauh-jauh hari di bawah ekuitasnya otomatis mendapat untung.

Dengan mengabaikan bahwa GOTO masih merugi, analisa Cigar Butt dari saham GOTO menemukan bahwa harga penawaran GoTo masih undervalued alias kemurahan dibandingkan nilai yang diberikan. Berikut analisanya.

Akuisisi Tingkatkan Modal Kerja

Dalam prospektusnya di halaman 62, diketahui bahwa perusahaan dalam hal ini Gojek mengakuisisi 99,99% kepemilikan efektif di Tokopedia dengan jumlah imbalan yang dialihkan sebesar Rp113,2 triliun, yang terdiri dari nilai wajar perusahaan sebesar Rp108,87 triliun dan kas keluar Rp4,33 Triliun.

Nilai akuisisi sebagian besar masuk ke dalam pos Goodwill yang nilainya sebesar Rp93,87 Triliun. Dalam prospektus definisi Goodwil adalah “selisih dari jumlah imbalan yang dialihkan dengan jumlah neto dari aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih pada tanggal akuisisi”.

Nah, goodwill ini bisa dibilang berupa harga pasar. Misalnya saham ASII dihargai Rp7.000 per lembar, harga buku alias ekuitas per sahamnya adalah Rp2.000. Maka selisihnya sebesar Rp5.000 adalah apresiasi pasar atas perusahaan ASII alias Goodwill. Jadi kekayaanmu adalah Rp2.000 per lembar saham ASII dan Rp5.000 berupa Goodwill ASII.

Kalau begitu mari kita perhatikan Ekuitas alias modal kerja sebelum dan sesuah akuisisi. Sebelum akuisisi nilai ekuitas adalah Rp20,79 triliun, kemudian menjadi Rp130 triliun sesudah akuisisi per Juli 2021. Artinya entitas gabungan ini telah meningkatkan modal kerjanya sebesar 625% atau 6,25x lipat melalui merger dengan Gojek.

Kemudian emiten memutuskan untuk IPO, melepas saham ke publik sebanyak 4,35% ke publik di harga penawaran Rp 346 per lembar dan dengan begitu total nilainya adalah sebesar Rp17,5 triliun. Maka totalnya secara keseluruhan saham adalah 17,5 triliun / 4,35% x 100% = 411,49 triliun.

Sebagai informasi, penaksiran harga penawaran dan harga akuisisi dilakukan oleh PT Ernst & Young Indonesia yang tak terafiliasi dengan Gojek maupun Tokopedia.

Valuasi GoTo IPO vs Pra-IPO

Pasca Gojek dan Tokopedia kolaborasi merger di Mei 2021, Reuters BreakingViews memperkirakan valuasi GoTo telah mencapai US$18 miliar. Dan meningkat menjadi US$ 32 miliar alias RP429,21 triliun dengan kurs US$1 = Rp14.307 setelah penggalangan dana Pra-IPO di Oktober 2021.

Jadi setelah penggabungan entitas kedua Unicorn, GoTo melakukan penggalangan dana Pra-IPO dengan perolehan sebesar lebih dari US$1,3 miliar atau setara dengan Rp18,5 triliun. Pihak-pihak yang terlibat dalam penggalangan dana pra-IPO GoTo di antaranya Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) yang berinvestasi sebesar US$400 juta.

Reuters menilai bahwa masuknya ADIA akan meningkatkan valuasi bisnis GoTo yang ditaksir mencapai US$30 miliar alias Rp429,21 triliun.

Cigar Butt Saham GoTo

Total kapitalisasi pasar saham GOTO di harga penawaran Rp346 per lembar saham menghasilkan nilai sebesar Rp411,49 triliun. Sedangkan valuasi pra IPO saham GoTo versi Reuters BreakingViews adalah Rp429,21 triliun.

Membeli di bawah valuasi wajar adalah ide di balik metode investasi Cigar Butt. Dengan valuasi pra-IPO sebesar Rp429,21 triliun, dan total saham sebesar 1.195.402.298.850 lembar, maka per lembar sahamnya adalah sebesar Rp359 per saham. Dengan begitu harga penawaran sebesar Rp346 per saham berada d bawah valuasi Pra-IPO nya.

Kamu bisa ikut bookbuilding-nya IPO GoTo karena dengan demikian kamu akan mendapat harga di bawah valuasinya. Jika ketinggalan pun tak mengapa, kamu bisa pasang auto order beli di Ajaib.  

Karena menariknya emiten menerapkan opsi Greenshoe yang belum pernah dilakukan siapapun di bursa. Opsi Greenshoe akan menjamin harga saham akan selalu di atas harga penawarannya dalam 30 hari setelah listing.

Jadi membeli di harga penawaran baik mendapatkan melalui periode Bookbuilding, yang akan berakhir di tanggal 24 Maret 2022, ataupun membeli melalui fitur Auto Order akan menguntungkanmu.

Jika kamu hanya fokus pada trading maka tak mengapa emiten masih merugi karena toh selama 30 hari ke depan pasca listing, kamu pasti diuntungkan karena harga saham akan selalu dijaga agar berada di atas harga penawarannya. Pastikan kamu mendapat GoTo di harga penawarannya agar kamu pasti untung.

Artikel Terkait