Emas

Harga Emas Murni Bisa Berfluktuasi, Apa Penyebabnya?

Harga Emas Murni

Ajaib.co.id – Tidak hanya saham dan mata uang saja yang bisa berfluktuasi, emas pun bisa. Namun, fluktuasi emas biasanya tidak sesignifikan kedua komoditas tersebut.

Justru pergerakannya terbilang stabil, meskipun harga sempat mengalami penurunan tapi ia akan kembali naik dan dianggap sebagai investasi yang aman. Naik turunnya harga emas murni sendiri mengikuti harga emas dunia, begitu pula dengan emas di Indonesia.

Karena sering disebut jadi investasi safe haven dan punya nilai yang tinggi, maka emas termasuk ke dalam barang berharga. Hal ini bahkan sudah dilakukan sejak zaman dulu, di mana emas dapat dijadikan sebagai perhiasan, alat tukar, dan menyimpan kekayaan.

Lalu di masa sekarang, logam mulia satu ini banyak dipilih untuk alternatif investasi menguntungkan yang diharapkan nilainya tetap dan terus meningkat. Selain perhiasan, banyak orang juga menginginkan emas murni untuk menambah kekayaan mereka di masa yang akan datang.

Meski begitu, harga emas juga bisa naik dan juga turun atau berfluktuasi di pasar global. Namun yang pasti, ada beberapa hal yang jadi penggerak harga emas murni di seluruh dunia. Kira-kira apa yang jadi penyebabnya? Baca terus untuk tahu ulasannya lebih lanjut.

Penyebab Harga Emas Berfluktuasi

1.    Produksi Emas

Faktor pertama penyebab harga emas berfluktuasi adalah dari produksinya. Ada beberapa produsen emas di seluruh dunia, di antara ada China, Amerika Serikat, Australia, Afrika, Peru, dan Rusia. Harga emas dunia ini akan selalu dipengaruhi oleh produksi emas, dan hal ini berdasarkan adanya penawaran dan permintaan pasar.

Jika terus menerus ditambang, emas di bagian atas lapisan bumi yang mudah diambil lama-lama akan berkurang, sehingga penambang harus menggali lagi lebih dalam untuk mencari cadangan emas murni dengan kualitas terbaik.

Di sisi lain akan ada risiko dan bahaya besar yang dihadapi para penambang, serta berdampak pada lingkungan. Dengan kata lain, terdapat biaya yang lebih mahal untuk memperoleh emas yang jumlahnya lebih sedikit.

Inilah yang mengakibatkan biaya produksi emas semakin tinggi dan mempengaruhi kenaikan harga emas dunia.

2.    Pergerakan Kurs

Umumnya, emas selalu berkorelasi negatif (berlawanan) dengan dolar Amerika Serikat. Karena logam mulia berwarna kuning ini diperdagangkan menggunakan denominasi dolar, sehingga ketika dolar AS naik,maka harga emas juga jadi lebih mahal. Akan tetapi di pasar terjadi aksi jual yang menyebabkan harganya menjadi turun.

Sebaliknya, pada saat kurs dolar melemah akan mendorong harga emas dunia naik. Oleh karena itu, kebanyakan para investor akan menjual dolar miliknya dan beralih membeli emas yang dianggap mampu melindungi nilai aset dari tergerusnya nilai mata uang.

Ketika ekonomi sedang mengalami ketidakpastian seperti di tengah situasi pandemi virus Corona ini, dolar AS cenderung melemah. Hal ini yang menyebabkan investasi emas menjadi meningkat, baik itu dalam bentuk fisik maupun perdagangan nonfisik.

Bagi investor Indonesia yang menggunakan rupiah, kondisi ekonomi dalam negeri juga jadi salah satu bisa menekan kurs dan menjadikan harga emas murni lebih mahal.

3.    Suku Bunga

Ketika suku bunga sedang tinggi, kebanyakan orang akan lebih senang untuk menginvestasikan uangnya di deposito ketimbang logam emas. Hal yang sama juga terjadi sebaliknya, terutama saat suku bunga rendah akan cenderung membuat harga emas naik karena permintaan yang tinggi.

Berinvestasi atau menabung emas memang tidak terdapat suku bunga, namun keuntungannya diperoleh dari harganya yang meningkat di pasar. Jika harga emas murni semakin tinggi, akan semakin menarik logam mulia satu ini.

Sayangnya, pemikiran tersebut tidak dapat diterapkan di Indonesia. Di masa krisis 1998, pemerintah kala itu sempat menaikkan suku bunga secara signifikan dikarenakan nilai tukar rupiah yang anjlok sangat dalam. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan laju dolar Amerika Serikat.

Namun, kenyataannya meskipun suku bunga ditingkatkan, harga emas justru ikut naik. Penyebabnya karena harga emas di pasar masih mengacu pada dolar AS yang mengakibatkan Indonesia diterpa krisis moneter.

4.    Cadangan di Bank Sentral

Bank sentral dunia juga ikut menjadi faktor harga emas berfluktuasi, karena mereka menyimpan mata uang kertas dan emas sebagai cadangan devisa (foreign reserve).

Bahkan World Gold Gouncil mengumumkan bahwa beberapa waktu belakangan ini sejumlah bank sentral mulai melakukan pembelian emas lebih besar dari yang mereka jual. Aksi yang dilakukan bank-bank sentral ini pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Tujuannya adalah bank sentral ingin menjauh dari mata uang kertas yang sudah diakumulasi dan melakukan diversifikasi untuk cadangan moneter mereka dengan beralih ke emas. Faktor inilah yang juga ikut menaikkan harga emas.

Selain itu, banyak juga negara-negara di dunia yang menyimpan emas cukup besar sebagai cadangan devisanya. Ada Amerika Serikat, Jerman, Italia, Yunani, dan Perancis. Ditambah dengan negara-negara Asia, tak terkecuali China yang jadi pemburu emas terbesar seiring melambungnya cadangan devisa milik mereka.

5.    Situasi Politik

Situasi politik dunia yang memicu pergerakan harga emas murni adalah perang, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan negara-negara barat. Rentannya politik dan sosial membuat para investor menghindar dari investasi berisiko seperti saham dan beralih ke emas.

Contoh, naiknya harga emas pada akhir tahun 2002 dan awal 2003 terjadi beriringan dengan serangan AS dan sekutu ke Irak. Pada saat itu investor menarik dananya dari pasar uang dan saham, dan dialihkan ke logam mulia sehingga permintaan emas menjadi meningkat pesat.

Dalam dua bulan terakhir harga emas murni dalam mata uang dolar AS di pasar global mengalami penurunan. Bahkan pada 17 Juni 2020 lalu masih minus 0,2% ke level USD1.729/troy ounce. Pergerakan emas di tahun ini memang cenderung menurun dikarenakan mulai menguat kembali dolar AS.

Buat kamu yang sudah berinvestasi emas di kala harganya turun dalam jumlah besar tidak perlu khawatir. Karena dalam jangka panjang, nilai emas cukup stabil dan cenderung naik bahkan bisa lebih tinggi dari inflasi.

Artikel Terkait