Saham

ENRG dan Fakta-fakta Dampak Covid-19 pada Sektor Migas

enrg

Ajaib.co.id – Sektor minyak dan gas (migas) dan penunjangnya juga tidak lepas dari dampak epidemi covid-19. Sebut saja emiten seperti PT. Energi Mega Persada, Tbk (ENRG), PT. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) atau PT Elnusa Tbk (ELSA). Bahkan, ELSA yang bergerak di sektor migas terpaksa merasakan sahamnya terjun bebas di masa pandemi ini.

Harga Minyak Menyentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah

Turunnya harga saham di sektor migas tidak terlepas dari harga minyak dunia yang terus mengalami penurunan. Bahkan, jebloknya harga minyak dunia sempat mengejutkan pada saat harga minyak mentah berjangka AS anjlok hingga -37,63 US Dollar per barel untuk kontrak Mei.

Sesuai hukum ekonomi, penyebab terjadinya hal tersebut adalah karena rendahnya permintaan pasar dan menumpuknya pasokan. Penjual berupaya melepas persediaan minyak mentah mereka yang sudah tak bisa ditampung dengan memberikan diskon.

Hal ini terkait pandemi corona yang menyebabkan terhentinya berbagai aktivitas di segala bidang. Isolasi diri yang dilakukan masyarakat di penjuru dunia berdampak pada berkurangnya konsumsi minyak mentah secara global. Demikian juga dengan banyaknya industri yang terpaksa berhenti beroperasi selama masa penanganan covid-19 ini.

Maka tidak mengherankan jika situasi ini juga mempengaruhi kondisi pasar saham. Termasuk saham-saham sektor migas dalam negeri seperti ENRG, MEDC, ELSA, dan lain-lain.

Penjualan BBM Pertamina Terendah Sepanjang Sejarah

Demikian juga halnya dengan industri di sektor migas dalam negeri. Semenjak pemerintah menyerukan warga untuk melakukan social distancing dan berlanjut pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri juga mengalami kemerosotan.

Tercatat pada bulan Maret 2020 lalu, penjualan BBM Pertamina anjlok 34,6% jika dibandingkan dengan penjualan pada bulan Februari. Dikutip dari katadata, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyatakan bahwa angka ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah penjualan BBM Pertamina. Tentunya juga memberikan dampak terhadap operasional kilang.

Langkah-langkah Mitigasi Perusahaan Migas

Terpukulnya sektor migas saat ini membuat perusahaan-perusahaan migas dan pendukungnya harus melakukan langkah-langkah mitigasi. PT Pertamina EP merencanakan serangkaian revisi rencana kerja. Salah satunya menyesuaikan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP), yang akan mempengaruhi anggaran belanja modal (Capex) dan belanja operasional (Opex) agar masih bisa memberikan profit.

Di sisi lain, emiten saham MEDC, PT. Medco Energi Internasional Tbk telah melakukan revisi terhadap target opex dan capex serta rencana kerja untuk melakukan penghematan.

MEDC juga memutuskan untuk mengurangi target produksi yang semula 110 juta barel per hari (mboepd) menjadi 100 hingga 105 mboepd. Hal yang sama juga dilakukan beberapa emiten migas lainnya yang mulai berfokus melakukan revisi rencana kerja sebagai mitigasi dampak pandemi Covid-19.

Emiten ENRG Bergantung pada Gas yang Lebih Stabil

PT Energi Mega Persada Tbk juga merasakan dampak signifikan dari pandemi Covid-19 tahun ini. Emiten harus mengkaji ulang proyeksi keuangan dan melakukan revisi rencana kerja terkait harga minyak mentah yang terus merosot.

Namun demikian, Herwin Hidayat, selaku Investor Relations PT Energi Mega Persada menyatakan bahwa 90 persen lebih hasil produksi dan cadangan ENRG dalam bentuk gas. Saat ini, harga jual gas lebih stabil dengan periode kontrak lebih panjang jika dibandingkan dengan minyak. Hal tersebut menjadi mitigasi yang baik bagi Energi Mega Persada.

Harga emiten saham yang beroperasi mulai Februari 2003 ini bergerak di kisaran 50 hingga 52 Rupiah per saham. Emiten pertambangan milik Grup Bakrie ini tahun lalu sempat mengejutkan karena kinerja keuangannya yang baik.

Walaupun awal tahun 2019 lalu harga minyak juga sempat merosot, namun emiten melaporkan kenaikan laba bersih yang meroket hingga 610,66% YoY pada laporan keuangan kuartal pertama.

Rupanya keuntungan tersebut didapatkan bukan dari penjualan, melainkan dari efisiensi operasional perusahaan dan pelunasan utang sehingga beban keuangan berkurang.

Konsumen terbesar dari PT. Energi Mega Persada antara lain adalah:

  • Perusahaan Listrik Negara (PLN)
  • Pertamina
  • Petrokimia Gresik
  • Toyota Tshusho Corporation
  • Dan masih banyak lainnya.

Saham Sektor Migas Belum Menarik untuk Dikoleksi di Tengah Pandemi

Sektor migas masih berada dalam kondisi fluktuatif, seiring belum adanya pencerahan terkait kondisi pandemi covid-19. Sejumlah harga saham emiten migas pun terus terkoreksi. ENRG sendiri mentok di Rp 50 per saham.

Sejumlah pengamat saham mengungkapkan bahwa saat ini saham sektor migas belum menarik untuk dikoleksi. Sebaiknya menunggu hingga pemangkasan produksi minyak jadi dijalankan. Saat itu sentimen positif pasar mungkin akan kembali. Jadi, jika kamu berminat untuk mengoleksi saham dari sektor migas, lebih baik saat ini ditunda terlebih dahulu.

Kemana Harus Berinvestasi?

Dengan kondisi pasar yang tidak menentu, mungkin kamu berpikir bahwa menyimpan tunai merupakan pilihan tepat. Akan tetapi, menyimpan uang secara tunai pun memiliki resiko, yakni tergerus inflasi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk tetap berinvestasi di reksa dana.

Percayakan dana investasimu pada Manajer Investasi yang telah terbukti berpengalaman dan memiliki pengetahuan dalam menghadapi krisis. Proyeksikan investasi untuk jangka menengah panjang.

Bukan hal mustahil bahwa koreksi tajam akan berubah menjadi kenaikan tajam setelah pandemi berlalu, khususnya pada perusahaan-perusahaan yang memiliki kondisi keuangan stabil dan fundamental perusahaan baik.

Tentunya yang paling penting adalah tetap menyesuaikan jenis investasi dengan profil risiko yang sesuai dengan tipe investor. Kamu bisa mengetahui jenis investor seperti apa, dengan mengikuti tes yang biasanya disediakan perusahaan investasi.

Selain itu, mengingat saat ini masih berlaku himbauan untuk tetap di rumah aja, sebaiknya lakukan investasi secara online melalui platform atau aplikasi investasi digital seperti Ajaib.

Bacaan menarik lainnya:

Halim, A. (2005). Analisis Investasi. Jakarta: Alfabeta


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Artikel Terkait