Bisnis & Kerja Sampingan

Definisi, Tujuan, Jenis, dan Unsur Biaya Produksi

Ajaib.co.id – Biaya produksi adalah bagian yang harus sebelum memulai bisnis sekaligus catatan wajib dalam laporan keuangan. Berikut ini pembahasan mengenai biaya produksi.

Production cost atau biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha dari pembuatan produk atau penyediaan layanan, Investopedia.com (30/09/2019).

Production cost mencakup berbagai biaya, seperti tenaga kerja, bahan mentah, perlengkapan produksi yang dapat dikonsumsi, biaya overhead umum, hingga biaya layanan antar ke pelanggan (jika ada). Bahkan pungutan pajak juga dimasukkan dalam production cost.

Tujuan Pencatatan Biaya Produksi

Tujuan pencatatan production cost untuk memastikan, pertama, profitabilitas dan keberlanjutan bisnis, serta membantu dalam analisis komparatif biaya. Pencatatan akan dilakukan setelah barang yang diproduksi sudah selesai dibuat.

Akuntan mencatat nilai barang tersebut sebagai aset di neraca, sampai akhirnya barang tersebut dijual ke pelanggan.

Dilansir dari laman Wall Street Mojo, dalam pencatatan, production cost harus dikapitalisasi terlebih dahulu dan tidak dibebankan. Selain itu, melaporkan nilai produk akhir dapat disebut sebagai cara menginformasikan semua pemangku kepentingan yang diperlukan tentang tingkat produktivitas yang akan dikirimkan.

Kedua, mengontrol production cost. Pengontrolan dilakukan dengan cara mencatat dan menyimpan semua transaksi. Selain mempermudah pengontrolan, juga penentuan harga pokok serta harga jual.

Ketiga, membantu perencanaan bisnis. Seperti merencanakan bahan baku, alat produksi, kemasan, atau sistem pengantaran.

Rumus production cost biasanya terdiri dari bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead produksi variabel. Biasanya akuntan akan mengubah biaya tersebut per unit basis. 

Dengan demikian, mereka dengan mudah membandingkan harga per unit dengan harga jual yang dipertimbangkan manajemen untuk bisnis.

Unsur Biaya Produksi

Terdapat tiga unsur biaya produksi yang membentuk harga pokok, dikutip dari laman Maxmanroe.com, yaitu:

1. Biaya Bahan Baku

Direct material atau biaya bahan baku langsung merupakan bahan yang digunakan untuk memproduksi sejumlah barang yang siap jual. Bahan baku ini mencakup semua bahan yang secara fisik dipakai untuk produk siap pakai.

2. Biaya Tenaga Kerja

Unsur production cost selanjutnya adalah direct labour atau biaya tenaga kerja langsung. Ini adalah mereka yang mengubah bahan baku menjadi produk siap pakai.

Dengan kata lain, production cost memiliki unsur biaya tenaga kerja yang langsung menangani aktivitas produksi.

3. Biaya Overhead Pabrik

Factory overhead atau biaya overhead pabrik merupakan semua biaya manufaktur yang tidak secara langsung menghasilkan produk.

Namun peranannya sangat penting, seperti biaya sewa, tagihan listrik dan air, biaya asuransi pabrik atau rumah sewa, biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap, ongkos reparasi dan pemeliharaan mesin, dan lainnya.

Jenis Biaya Produksi

Biaya produksi berkaitan dengan berbagai biaya yang dihadapi bisnis dalam memproduksi barang atau jasa. Inilah jenis production cost:

●     Biaya Tetap

Fixed Cost atau biaya tetap adalah biaya pada periode tertentu dengan jumlah yang sama atau tetap dan tidak tergantung hasil produksi. Misalnya biaya sewa ruko, biaya administrasi, pajak perusahaan, dan lainnya.

●     Biaya Variabel

Jenis selanjutnya adalah variable Cost atau biaya variabel. Ini adalah biaya yang nilainya bisa berubah-ubah sesuai hasil produksi.

Semakin besar produksinya, perusahaan harus mengeluarkan biaya variabel semakin besar juga. Misal pembelian biaya bahan baku untuk menambah produksi serta upah pekerja.

●     Biaya Total

Total cost atau biaya total merupakan total biaya dari semua biaya tetap plus biaya variabel untuk memproduksi barang siap pakai.

●     Biaya Rata-Rata

Average cost atau biaya rata-rata adalah nilai production cost yang dihasilkan per unit. Cara menghitung biaya rata-rata yaitu total biaya dibagi dengan seluruh produk yang dihasilkan.

●     Biaya Marjinal

Marginal cost atau biaya marjinal ialah biaya tambahan untuk menghasilkan produk jadi. Biaya ini ada karena perluasan produksi untuk keperluan menambah jumlah produksi.

Selain itu, ada pula jenis production cost berupa short-run cost atau biaya jangka pendek (bergantung pada hasil yang semakin berkurang) dan long-run cost atau biaya jangka panjang (skala ekonomi dan potensial disekonomi).

Faktor yang Memengaruhi Biaya Produksi

Biaya produksi bisa berubah. Dilansir dari economicshelp.org, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor:

–      Gaji atau upah. Untuk industri padat karya (seperti sektor jasa dan manufaktur pakaian), perubahan kecil dalam sistem upah berdampak besar pada biaya keseluruhan perusahaan.

–      Produktivitas tenaga kerja. Teknologi baru yang meningkatkan hasil produksi memungkinkan perusahaan untuk mengurangi mempekerjakan karyawan atau buruh. Karena penggunaan teknologi jauh lebih murah dibanding tenaga manusia.

–      Bahan baku. Tak bisa dipungkiri bahwa kenaikan harga bahan baku akan meningkatkan production cost. Misal produk baju, kenaikan harga kain, benang, dan kemasan akan membuat harga produk bertambah.

Yang perlu diperhatikan adalah hampir semua bisnis akan terpengaruh oleh harga minyak yang lebih tinggi, yang menyebabkan kenaikan biaya transportasi.

–      Biaya transportasi. Kenaikan biaya transportasi bukan hanya kenaikan bahan bakar dan minyak. Melainkan jarak distribusi (jarak semakin jauh membutuhkan bahan bakar lebih banyak), akses transportasi, kondisi jalan, hingga biaya tol.

–      Suku bunga. Jika pengusaha melakukan kredit di bank untuk mengembangkan bisnisnya, ia harus membayar cicilan dan suku bunga per bulannya. Kenaikan suku bunga bisa memengaruhi biaya pembayaran angsuran.

–      Pajak. Pajak perusahaan serta pajak penghasilan pada karyawan meningkatkan biaya pengeluaran perusahaan. Apalagi jika karyawannya lebih banyak dari sebelumnya.

–      Nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing sangat berpengaruh terhadap biaya produksi. Jika bahan baku harus diimpor dan nilai tukar sedang melambung, pengusaha harus menggelontorkan kocek dalam. Begitu juga sebaliknya.

–      Regulasi dari pemerintah. Regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah ikut memengaruhi biaya produksi. Misal kebijakan bea cukai, pajak, dan suku bunga.

Selain itu, kondisi pemerintah yang bersih, transparan, dan tak ada korupsi akan disambut baik oleh pelaku usaha.

Terlebih jika pemerintah mengelola sumber daya dengan baik, sehingga bahan baku tersedia di dalam negeri dengan harga terjangkau. Imbasnya kegiatan usaha tetap aktif dan daya beli stabil.

Artikel Terkait