Rekomendasi Saham untuk Pemula, Ini 7 Kriteria Memilihnya
Maulida•September 4, 2026

Key Takeaways
- Saham untuk pemula sebaiknya dipilih berdasarkan fundamental, likuiditas, valuasi, dan kesesuaian dengan profil risiko.
- Saham berkapitalisasi besar dan bisnis yang mudah dipahami dapat menjadi titik awal untuk dipelajari.
- Beberapa rekomendasi saham untuk pemula antara lain BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII.
- Gunakan daftar rekomendasi sebagai watchlist awal, bukan sebagai acuan untuk langsung membeli.
Memilih saham pertama sering kali menjadi salah satu tantangan bagi investor pemula. Ada ratusan saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), masing-masing dengan karakteristik bisnis, tingkat risiko, hingga pergerakan harga yang berbeda.
Karena itu, mencari saham untuk pemula sebaiknya tidak hanya didasarkan pada saham yang sedang ramai dibicarakan, harganya terlihat murah, atau baru saja mengalami kenaikan. Investor perlu memahami terlebih dahulu perusahaan yang sahamnya akan dibeli dan menyesuaikannya dengan tujuan serta toleransi risiko masing-masing.
OJK juga mengingatkan bahwa setiap investor memiliki profil investasi yang berbeda, mulai dari tujuan, jangka waktu, toleransi risiko, hingga ekspektasi imbal hasil. Karena itu, produk investasi sebaiknya dipilih sesuai dengan kebutuhan dan profil masing-masing investor.
Lalu, seperti apa saham yang dapat menjadi titik awal bagi investor pemula? Simak artikel berikut.
Kriteria Memilih Saham untuk Pemula
1. Bisnis Perusahaan Mudah Dipahami
Bagi pemula, salah satu pendekatan paling sederhana adalah memulai dari perusahaan dengan model bisnis yang dapat dipahami.
Coba tanyakan beberapa hal berikut sebelum membeli saham:
- Apa produk atau jasa utama perusahaan?
- Dari mana perusahaan memperoleh pendapatan?
- Siapa konsumennya?
- Apa yang membuat bisnis tersebut tetap dibutuhkan?
- Faktor apa yang dapat membuat pendapatannya naik atau turun?
Semakin memahami cara perusahaan menghasilkan uang, semakin mudah pula bagi investor untuk menilai apakah perkembangan bisnisnya masih sesuai dengan alasan awal membeli saham.
Sebaliknya, membeli saham hanya karena harga sedang naik tanpa memahami bisnis di baliknya dapat membuat keputusan investasi lebih sulit dievaluasi ketika kondisi pasar berubah.
2. Memiliki Kondisi Fundamental yang Sehat
Harga saham dapat bergerak naik dan turun setiap hari. Namun, untuk investasi jangka lebih panjang, kondisi bisnis perusahaan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan.
Investor pemula dapat mulai dari beberapa indikator fundamental sederhana, seperti:
- pertumbuhan pendapatan;
- laba bersih;
- arus kas perusahaan;
- jumlah utang;
- margin keuntungan; dan
- kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan secara konsisten.
Tidak berarti setiap angka harus selalu tumbuh setiap tahun. Kondisi industri, ekspansi bisnis, maupun faktor ekonomi dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Yang terpenting, jangan hanya melihat satu rasio atau satu periode laporan keuangan. Perhatikan tren beberapa periode dan bandingkan perusahaan dengan emiten lain dalam industri yang sama.
3. Kinerja Bisnisnya Relatif Konsisten
Perusahaan yang sudah memiliki rekam jejak bisnis cukup panjang umumnya memberikan lebih banyak data untuk dipelajari investor.
Pemula dapat mengecek apakah pendapatan dan laba perusahaan relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir atau justru sering mengalami perubahan ekstrem.
Perusahaan dengan bisnis yang lebih stabil memang tidak otomatis membuat harga sahamnya selalu naik. Namun, rekam jejak tersebut membantu investor memahami bagaimana perusahaan menghadapi berbagai kondisi ekonomi.
Perhatikan juga penyebab ketika terjadi penurunan kinerja. Penurunan sementara akibat siklus industri tentu memiliki konteks yang berbeda dengan penurunan yang terus terjadi karena masalah pada bisnis utama perusahaan.
4. Saham Memiliki Likuiditas yang Memadai
Likuiditas menggambarkan seberapa aktif sebuah saham diperjualbelikan di pasar.
Saham yang memiliki transaksi cukup aktif umumnya lebih mudah dibeli maupun dijual dibandingkan saham yang sangat jarang diperdagangkan. Bagi investor pemula, faktor ini penting karena saham dengan likuiditas rendah dapat memiliki antrean transaksi yang tipis dan pergerakan harga yang lebih sulit diantisipasi.
Volume dan aktivitas transaksi dapat menjadi beberapa indikator awal yang diperhatikan.
Investor juga dapat menggunakan indeks seperti LQ45 atau IDX30 sebagai salah satu titik awal untuk menemukan saham yang aktif diperdagangkan. Dalam metodologi BEI, unsur likuiditas, kapitalisasi pasar, serta faktor fundamental termasuk dalam proses pemilihan konstituen indeks tersebut.
Namun, masuk ke dalam suatu indeks bukan berarti sebuah saham otomatis aman atau pasti memberikan keuntungan. Analisis tetap perlu dilakukan terhadap masing-masing perusahaan.
5. Kapitalisasi Pasarnya Cukup Besar
Kapitalisasi pasar menunjukkan nilai pasar keseluruhan saham suatu perusahaan. Angka ini diperoleh dari harga saham dikalikan jumlah saham yang beredar.
Perusahaan berkapitalisasi besar atau large cap biasanya sudah memiliki bisnis yang relatif mapan serta lebih banyak informasi yang tersedia bagi investor untuk dianalisis.
Karena alasan tersebut, saham berkapitalisasi besar bisa menjadi salah satu kelompok yang lebih mudah dipelajari saat baru mulai berinvestasi.
Meski demikian, kapitalisasi pasar besar bukan jaminan harga saham tidak akan turun. Perusahaan besar tetap dapat menghadapi penurunan laba, perubahan kondisi industri, ataupun sentimen pasar yang memengaruhi harga sahamnya.
6. Valuasinya Masih Masuk Akal
Perusahaan yang bagus belum tentu menjadi investasi yang menarik jika sahamnya dibeli pada valuasi yang terlalu tinggi.
Karena itu, investor juga perlu membedakan antara harga saham dan nilai perusahaan.
Saham seharga Rp500 per lembar belum tentu lebih murah dibandingkan saham seharga Rp5.000. Harga nominal tidak menunjukkan apakah sebuah saham sedang murah atau mahal secara valuasi.
Beberapa rasio yang umum digunakan untuk mulai mempelajari valuasi antara lain:
- Price to Earnings Ratio (PER) untuk membandingkan harga saham dengan laba perusahaan;
- Price to Book Value (PBV) untuk membandingkan harga dengan nilai buku perusahaan; dan
- rasio valuasi lain yang sesuai dengan karakteristik industrinya.
Rasio tersebut sebaiknya tidak digunakan sendirian. Bandingkan dengan riwayat perusahaan, prospek pertumbuhan, dan perusahaan lain dalam sektor yang sama.
7. Harga per Lot Sesuai dengan Modal Investasi
Selain kualitas perusahaan, pemula juga perlu memperhatikan apakah harga saham sesuai dengan dana yang tersedia.
Di Bursa Efek Indonesia, 1 lot terdiri dari 100 lembar saham.
Sebagai ilustrasi, apabila sebuah saham memiliki harga Rp2.000 per lembar, dana yang diperlukan untuk membeli satu lot adalah sekitar:
Rp2.000 × 100 = Rp200.000
Nilai tersebut belum memperhitungkan biaya transaksi.
Pertimbangan ini penting agar investor tidak menghabiskan sebagian besar modal pada satu saham saja. Dengan alokasi dana yang lebih terukur, investor memiliki ruang untuk membangun portofolio secara bertahap.
Rekomendasi Saham untuk Pemula yang Bisa Dipelajari
Tidak ada satu saham yang pasti cocok untuk semua investor pemula. Pilihan saham tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, serta toleransi risiko masing-masing.
Namun, jika masih bingung menentukan saham pertama yang ingin dianalisis, investor pemula dapat memulai dari perusahaan berkapitalisasi besar dengan bisnis yang relatif mudah dikenali dan saham yang aktif diperdagangkan.
Beberapa saham berikut dapat menjadi watchlist awal untuk dipelajari, bukan rekomendasi untuk langsung membeli.
1. BBCA — Bank Central Asia Tbk.
BBCA merupakan salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Bisnis utamanya juga relatif mudah dipahami karena beroperasi di sektor perbankan dan menyediakan berbagai layanan keuangan kepada nasabah individu maupun bisnis.
Bagi pemula, BBCA menarik untuk dipelajari karena:
- memiliki kapitalisasi pasar besar;
- sahamnya aktif diperdagangkan;
- model bisnis perbankannya relatif mudah dikenali; dan
- tersedia banyak informasi mengenai laporan keuangan dan perkembangan bisnisnya.
Saat ini BBCA juga termasuk dalam kategori saham blue chip dan LQ45 yang tersedia di Ajaib.
2. BBRI — Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Pilihan lain yang dapat dipelajari adalah BBRI. Perusahaan ini bergerak di sektor perbankan dengan salah satu fokus bisnisnya pada segmen mikro, kecil, dan menengah.
BBRI dapat menjadi saham yang menarik untuk dipelajari pemula karena:
- termasuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar;
- memiliki aktivitas perdagangan saham yang tinggi;
- memiliki basis bisnis perbankan yang luas; dan
- laporan kinerja perusahaan tersedia secara rutin sehingga perkembangannya dapat dianalisis dari waktu ke waktu.
BBRI saat ini termasuk dalam daftar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Ajaib dan juga masuk kelompok saham blue chip.
3. BMRI — Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Masih dari sektor keuangan, investor pemula juga dapat memasukkan BMRI ke dalam watchlist.
Sebagai salah satu bank besar di Indonesia, bisnis BMRI mencakup berbagai layanan mulai dari perbankan ritel hingga korporasi. Skala bisnis yang besar membuat investor memiliki cukup banyak data untuk mempelajari bagaimana pendapatan, laba, kredit, dan berbagai indikator keuangan perusahaan berkembang.
BMRI juga termasuk saham berkapitalisasi besar dan saat ini menjadi salah satu konstituen LQ45.
4. TLKM — Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
Jika ingin mempelajari sektor di luar perbankan, TLKM dapat menjadi salah satu pilihan.
Telkom Indonesia bergerak di industri telekomunikasi dan infrastruktur digital. Produk maupun layanannya dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari sehingga model bisnis perusahaan relatif lebih mudah dikenali oleh investor yang baru belajar menganalisis saham.
TLKM juga memiliki kapitalisasi pasar besar serta volume perdagangan yang cukup aktif.
Beberapa hal yang dapat dipelajari dari TLKM antara lain perkembangan pendapatan bisnis telekomunikasi, pertumbuhan trafik data, ekspansi infrastruktur digital, serta profitabilitas perusahaan.
5. ASII — Astra International Tbk.
ASII dapat menjadi alternatif bagi pemula yang ingin mempelajari perusahaan dengan lini bisnis lebih beragam.
Astra memiliki eksposur ke berbagai sektor, termasuk otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, agribisnis, hingga infrastruktur. Karena itu, mempelajari ASII juga dapat membantu investor memahami bagaimana kondisi beberapa sektor ekonomi dapat memengaruhi kinerja sebuah perusahaan.
ASII termasuk dalam daftar saham top market cap, blue chip, serta LQ45 di Ajaib.
Mulai Investasi dengan Aman di Ajaib
Setelah memahami kriteria saham yang layak dipelajari, kamu bisa mulai menyusun watchlist dan membandingkan saham sesuai tujuan serta profil risikomu.
Di Ajaib, kamu dapat mengeksplorasi berbagai saham Indonesia, melihat informasi harga dan fundamental, serta mencari saham berdasarkan kategori yang relevan untuk membantu proses analisis sebelum berinvestasi.
Mulai investasi saham potensial di Ajaib, yuk download sekarang!
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!