Ajaib
Menu

Saham

BUMI Dapat Persetujuan Akuisisi Loyal Metals, Ada Smart Money Asing Mulai Akumulasi?

MikirduitSeptember 2, 2026

Key Takeaway

  • Saham BUMI terdeteksi mengalami akumulasi oleh broker asing AK (UBS Sekuritas Indonesia) dan broker lokal MG pada periode 3–27 Agustus 2026.
  • Rencana akuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd. menjadi salah satu narasi terbaru BUMI, dengan nilai transaksi sekitar Rp977 miliar.
  • Secara teknikal, BUMI kembali mendekati support di level 180, dengan resistance terdekat di 200 dan resistance berikutnya di 228.
  • Free float BUMI telah mencapai lebih dari 43% per Juli 2026, meningkat dari sekitar 37% pada April 2026.

Saham BUMI Mulai Diakumulasi Smart Money

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terdeteksi mulai diakumulasi smart money asing, sementara secara teknikal posisinya juga sedang mendekati area support. Aksi akumulasi itu pas dengan sentimen rencana akuisisi Loyal Metals Ltd. Apakah kondisi ini menarik untuk diikuti? Lalu, siapa saja yang terlihat berada di balik akumulasi tersebut?

Salah satu narasi terbaru terkait saham BUMI adalah terkait rencana akuisisi 100 persen saham Loyal Metals , yang merupakan saham tambang emas di Australia. BUMI disebut akan akuisisi perusahaan tersebut dengan harga 0,45 dolar Australia per saham. Sehingga BUMI berpotensi merogoh kocek sekitar Rp977 miliar.

Loyal Metals juga sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang sahamnya pada 20 Agustus 2026 untuk menjalankan proses aksi korporasi tersebut. 

Loyal Metals punya aset utama berupa proyek tambang Highway Reward di Queensland, Australia yang menjadi salah satu alasan BUMI tertarik mengakuisisi perusahaan ini. Tambang tersebut sebenarnya bukan proyek baru karena sebelumnya sudah pernah beroperasi hingga 2005. 

Secara historis, Highway Reward tercatat menghasilkan sekitar 3,65 juta ton tembaga dengan kadar rata-rata 5,7 persen, serta sekitar 260 ribu ton emas dengan kadar 4,5 gram per ton selama periode 1987 hingga 2005. 

Sejak saat itu, lokasi itu hampir tidak tersentuh eksplorasi baru. Baru pada akhir 2024 ada pengembangan lagi.

Loyal Metals mengaktifkan kembali tambang itu dengan memanfaatkan pemodelan geofisika modern serta pengeboran intensif (mencakup data historis >122.000 meter pengeboran). Hasil pengeboran terbaru menunjukkan keberadaan massive sulphides kaya tembaga-emas di dekat permukaan yang belum ditambang. 

Saat ini, pengembangan masih berada pada tahap eksplorasi lanjutan, pemetaan sumber daya (JORC definition), dan evaluasi studi kelayakan (feasibility study). 

Sebagai perusahaan eksplorasi junior di pasar saham Australia (ASX), Loyal Metals belum mengumumkan tanggal pasti dimulainya komersialisasi pabrik/tambang penuh. 

Namun, berdasarkan fokus mereka untuk mempercepat estimasi cadangan JORC dan studi kelayakan, fase konstruksi dan produksi komersial awal baru diproyeksikan dalam kurun pertengahan hingga akhir dekade ini (sekitar tahun 2027–2028), tergantung pada kelancaran izin lingkungan, kepastian pendanaan (financing), dan studi kelayakan tambang. 

Maka dari itu, jika kita melihat lebih jauh dalam kinerja keuangannya, mereka masih merugi sekitar 6 juta dolar Australia hingga tahun berjalan saat ini. Menurut kami ini wajar, karena mereka belum ada pendapatan dan masih fokus mempercepat konstruksi tambang.

Bandarmology Saham BUMI 

Berdasarkan data Inventory Analysis dari platform terminal web Ajaib, secara month to date (periode 3–27 Agustus 2026), ada dua broker yang mencatatkan net akumulasi di saham BUMI, yaitu AK dan MG.

AK merupakan broker asing, PT UBS Sekuritas Indonesia, yang dikenal cukup sering menjadi jalur transaksi smart money asing. Menariknya, broker ini tercatat masuk ke saham BUMI dan sempat menjadi buyer terbesar dengan nilai sekitar Rp38 miliar pada 20 Agustus lalu.

Sementara itu, MG merupakan PT Semesta Indovest Sekuritas, sekuritas lokal yang cukup banyak menaungi investor ritel. Karakter transaksinya cenderung lebih mengarah ke trading jangka pendek.

Artinya, ketika smart money asing mulai masuk, investor ritel juga terlihat ikut meramaikan. Kondisi ini cukup menarik karena menunjukkan adanya minat beli dari dua sisi.

Namun, karakter transaksi ritel yang cenderung lebih aktif melakukan trading jangka pendek juga membuat pergerakan BUMI berpotensi menjadi lebih volatil. 

Jadi, meski sinyal akumulasinya cukup menarik, investor tetap perlu mengantisipasi pergerakan harga yang lebih fluktuatif dalam jangka pendek.

Pelajari lebih lanjut untuk mengetahui Cara Trader Baca Sinyal ‘Smart Money’ Lewat Peta Kepemilikan Saham.

Saham BUMI Lagi Uji Support 

Menariknya, sinyal akumulasi tersebut muncul ketika secara teknikal saham BUMI juga sedang kembali mendekati area support.

Menurut pantauan kami, hingga perdagangan Kamis (27/8/2026), harga saham BUMI kembali mendekati support di kisaran 180. Area ini biasanya menjadi perhatian para trader karena berpotensi menjadi demand area.

Saham BUMI juga menunjukkan pola akumulasi yang cukup rapi, dengan pergerakan yang masih cenderung mengikuti trendline MA20 daily. Jika dari level support hari ini BUMI mampu memantul dan bertahan di zona hijau hingga penutupan, saham ini berpotensi membentuk higher low ketiga sejak mencapai bottom pada awal Juni di level 130.

Adapun resistance terdekat yang bisa menjadi target penguatan berikutnya berada di level 200. Posisi ini sekaligus menjadi level psikologis yang cukup kuat. Jika mampu ditembus, ruang penguatan menuju resistance berikutnya di 228 akan semakin terbuka.

Free Float BUMI dan Jejak Chengdong

Selain melihat siapa yang melakukan akumulasi, menarik juga untuk melihat bagaimana struktur kepemilikan saham BUMI saat ini. Pasalnya, free float BUMI sudah cukup besar dan terus meningkat.

Menurut data yang kami pantau, free float BUMI sudah mencapai lebih dari 43% per Juli 2026, naik dari sekitar 37% pada April 2026.

Menurut kami, kenaikan free float ini salah satunya berkaitan dengan aksi jual yang cukup masif dari sejumlah pemegang saham lama sejak tahun lalu. Salah satu investor yang cukup aktif melakukan penjualan adalah entitas asal China, Chengdong Investment Corporation (CIC).

Sepanjang tahun lalu, Chengdong tercatat hampir setiap bulan melakukan aksi jual. Terakhir, mereka terpantau kembali melakukan penjualan pada 9 Januari 2026.

Awalnya, Chengdong masuk ke BUMI sebagai kreditur. Setelah restrukturisasi utang pada 2017, utang tersebut kemudian dikonversi menjadi saham. Jadi, wajar jika setelahnya saham tersebut dijual secara bertahap ke market.

Kini, Chengdong menyisakan kepemilikan sekitar 1,09% di BUMI. Dengan porsi yang sudah relatif kecil tersebut, stok saham yang berpotensi mereka distribusikan ke market juga semakin terbatas. Artinya, tekanan jual dari Chengdong sebagai salah satu standby seller berpotensi semakin berkurang.

Menariknya, proses exit ini terjadi ketika kondisi BUMI sudah jauh lebih rapi dibandingkan saat restrukturisasi. Harga sahamnya sudah bukan di level gocap lagi, ekuitas sudah kembali positif, dan perusahaan juga sudah kembali mencetak laba.

Bahkan, bisnis BUMI mulai melakukan diversifikasi ke sektor mineral, sehingga tidak lagi hanya bergantung pada batu bara.

Dengan kondisi tersebut, proses ini bisa dibilang menjadi win-win. Di satu sisi, BUMI mendapatkan tambahan free float. Chengdong bisa merealisasikan investasinya, sementara market mendapatkan tambahan likuiditas.

Catatan dan Kesimpulan Saham BUMI

Kondisi win-win dari meningkatnya free float saham BUMI adalah posisi perusahaan yang semakin aman dari sisi pemenuhan aturan regulator. Apalagi, sejak awal tahun faktor pemenuhan free float ini memang sangat penting setelah disenggol MSCI yang membuat bursa kita trading halt dua hari beruntun. 

Namun, kenaikan free float juga membawa konsekuensi terhadap karakter pergerakan saham BUMI. Dengan semakin banyaknya saham yang beredar di market, struktur pemegang sahamnya lebih banyak melibatkan ritel. 

Pergerakan saham BUMI akhirnya jadi lebih sensitif terhadap sentimen dan aksi jual-beli jangka pendek. Dengan karakter seperti ini, volatilitas BUMI berpotensi tetap tinggi. 

Artinya, saham ini bisa bergerak cepat ketika sentimen positif datang, tetapi juga bisa mengalami tekanan ketika investor mulai melakukan aksi ambil untung secara bersamaan.

Meski begitu, pada akhirnya keberlanjutan tren BUMI tidak hanya akan ditentukan oleh pergerakan broker atau struktur free float. Faktor fundamental dan prospek ekspansi bisnis tetap menjadi katalis penting yang berpotensi menopang valuasi BUMI ke depan.

Sebagai catatan, BUMI sejak akhir tahun lalu sudah mengakuisisi tiga tambang emas dan tembaga di Queensland, Australia. Hal ini senada dengan manuvernya yang ingin kontribusi revenue 50 persen disumbang bisnis di luar batu bara, tanpa mengurangi porsi bisnis dari energi fosil itu. 

Namun, dalam perjalanannya, untuk sampai bisa dapat revenue masih butuh waktu 2-3 tahunan lagi. Dan, saat ini masih jadi narasi positif yang harus diupdate setiap waktu. 

Kesimpulannya, saat ini saham BUMI masih menarik dicermati dengan katalis posisi teknikal yang lagi di support, akumulasi broker asing, perbaikan fundamental, sampai ekspansi bisnisnya. Namun, volatilitas jangka pendek tetap perlu menjadi perhatian.

Pantau Pergerakan Saham BUMI dan Trading Saham di Ajaib

Pantau pergerakan saham BUMI dan aktivitas broker secara lebih mendalam di Ajaib Terminal. Gunakan fitur Inventory Analysis untuk melihat jejak akumulasi dan distribusi broker sebelum mengambil keputusan investasi.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi  ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Google Play StoreApple App Store

Profil Penulis

Mikirduit
Mikirduit

Writer

-

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!