Berita

IHSG Menguat 1,12% ke 5.387 Dipimpin Bank Himbara, BBRI Buyback Rp1 Triliun

Ratih Mustikoningsih•October 22, 2026

Key Takeaway

  • IHSG ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,90 pada Kamis (22/10/2026), dengan nilai transaksi mencapai Rp16,21 triliun.
  • Saham Bank Himbara menjadi penopang indeks, dengan BBNI naik 4,92%, BMRI menguat 4,05%, dan BBRI naik 3,20%.
  • BBRI mengumumkan aksi buyback saham dengan nilai maksimal Rp1 triliun menggunakan kas internal, yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026–21 Januari 2027.
  • Di tengah penguatan IHSG, investor asing masih mencatatkan net foreign sell sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler.

IHSG Menguat 1,12%, Nilai Transaksi Tembus Rp16,21 Triliun

IHSG 22 Oktober 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (22/10/2026). IHSG ditutup naik 1,12% atau bertambah 59,54 poin ke level 5.387,90.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.185–5.422. Aktivitas transaksi di pasar saham domestik tercatat cukup ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp16,21 triliun, volume 376 juta lot, dan frekuensi transaksi sebanyak 2,10 juta kali.

Meski indeks menguat, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG berlangsung di tengah tekanan jual dari investor asing.

Saham Bank Himbara Topang Penguatan IHSG

Penguatan IHSG pada perdagangan kali ini ditopang oleh kenaikan sejumlah saham perbankan milik negara atau Bank Himbara. BBNI memimpin penguatan di antara saham bank besar yang disebutkan dalam riset, diikuti BMRI dan BBRI.

Sebaliknya, saham BBCA terkoreksi 1,90% di tengah tekanan jual asing senilai Rp621,4 miliar.

Perbedaan pergerakan saham perbankan ini menjadi salah satu sorotan perdagangan, terutama ketika investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih di pasar reguler.

Pergerakan Saham Bank Besar

SahamPerubahan Harga
BBNI+4,92%
BMRI+4,05%
BBRI+3,20%
BBCA-1,90%

Sumber: Ajaib Research

Bank Himbara Dilirik di Tengah Perbedaan Kepemilikan Asing dan Dividend Yield

Berdasarkan data KSEI per 30 September 2026 yang tercantum dalam riset, porsi kepemilikan asing pada BBNI, BMRI, dan BBRI relatif lebih rendah dibandingkan BBCA.

SahamPorsi Kepemilikan Asing
BBNI15,45%
BMRI19,98%
BBRI20,48%
BBCA22,35%

Selain perbedaan kepemilikan asing, estimasi dividend yield juga menjadi salah satu faktor yang dapat diperhatikan investor ketika membandingkan saham-saham perbankan tersebut.

Berdasarkan data per 21 Oktober 2026 dalam riset, BMRI memiliki estimasi dividend yield sebesar 14,3%, diikuti BBRI sebesar 13,4% dan BBNI sebesar 11,2%. Sementara itu, BBCA mencatatkan estimasi dividend yield sebesar 6,4%.

SahamEstimasi Dividend Yield
BMRI14,3%
BBRI13,4%
BBNI11,2%
BBCA6,4%

Sumber: Ajaib Research, data per 21 Oktober 2026

Perbedaan angka tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membandingkan saham perbankan. Namun, estimasi dividend yield bukan jaminan dividen yang akan diterima investor karena besaran dividen aktual bergantung pada keputusan perusahaan dan faktor terkait lainnya.

Akumulasi Broker Terlihat pada Saham Bank Himbara

Riset Ajaib juga mencatat adanya pembelian saham Bank Himbara melalui sejumlah broker. Pada saham BBRI, broker NI tercatat melakukan pembelian senilai Rp499,4 miliar.

Sementara itu, pada saham BMRI, pembelian tercatat melalui broker AK sebesar Rp247,3 miliar dan CC sebesar Rp95 miliar. Pada saham BBNI, broker NI dan CC masing-masing tercatat melakukan pembelian senilai Rp84,1 miliar dan Rp25,5 miliar.

SahamBrokerNilai Pembelian
BBRINIRp499,4 miliar
BMRIAKRp247,3 miliar
BMRICCRp95 miliar
BBNINIRp84,1 miliar
BBNICCRp25,5 miliar

Sumber: Ajaib Research

Data transaksi broker tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas pembelian pada saham-saham Bank Himbara. Namun, data broker saja tidak cukup untuk memastikan identitas atau strategi investor di balik transaksi maupun arah pergerakan harga selanjutnya.

Pantau akumulasi broker di saham big banks dengan fitur Broker Summary di Ajaib Terminal. Nikmati promo broker fee Rp0 dengan transaksi di Ajaib Terminal.

BBRI Umumkan Buyback Saham Maksimal Rp1 Triliun

Sentimen terhadap saham Bank Himbara turut diwarnai oleh pengumuman aksi pembelian kembali saham atau buyback BBRI.

BBRI mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp1 triliun yang akan menggunakan kas internal perusahaan. Periode pelaksanaan aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.

Buyback tersebut dilakukan dengan tujuan menjaga stabilitas harga saham. Meski demikian, pelaksanaan dan dampak buyback terhadap pergerakan harga saham tetap perlu dicermati oleh investor.

Investor Menanti Rilis Laporan Keuangan Bank Besar Kuartal III 2026

Selain aksi korporasi dan aktivitas transaksi saham, perhatian pasar juga tertuju pada rilis laporan keuangan kuartal III 2026 dari bank-bank besar. Berdasarkan riset, batas waktu pelaporan yang disebutkan adalah 31 Oktober 2026, dengan laporan yang bersifat unaudited atau belum diaudit dan tanpa limited review.

Sentimen sektor perbankan juga didukung oleh data pertumbuhan kredit yang dirilis Bank Indonesia. Kredit perbankan pada September 2026 tercatat tumbuh 13,26% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Perkembangan laporan keuangan dan pertumbuhan kredit tersebut menjadi sejumlah indikator yang dapat dipantau investor untuk mengevaluasi kinerja sektor perbankan. Meski begitu, reaksi pasar terhadap laporan keuangan akan bergantung pada hasil yang dirilis serta ekspektasi pelaku pasar.

Daftar Top Gainer dan Top Loser LQ45

Di tengah penguatan IHSG, sejumlah saham dalam indeks LQ45 mencatatkan kenaikan maupun penurunan harga yang cukup menonjol.

Top 5 Gainer LQ45

SahamPerubahan Harga
MAPI+10,76%
AMMN+5,61%
BBNI+4,92%
MBMA+4,62%
ANTM+4,41%

Top 5 Loser LQ45

SahamPerubahan Harga
GOTO-3,85%
BRPT-3,03%
WIFI-2,63%
ASII-2,41%
BBCA-1,90%

Sumber: Ajaib Research, perdagangan 22 Oktober 2026

Pantau Pergerakan Saham dan Diversifikasi Portofolio di Ajaib

Penguatan IHSG pada perdagangan 22 Oktober 2026 berlangsung di tengah net foreign sell, dengan saham Bank Himbara menjadi salah satu penopang indeks. Pengumuman buyback BBRI, perbedaan estimasi dividend yield, serta penantian laporan keuangan kuartal III 2026 menjadi sejumlah faktor yang dapat dipantau pelaku pasar.

Investor dapat menggunakan data pergerakan harga, aktivitas transaksi, dan laporan keuangan untuk mengevaluasi saham sesuai strategi dan profil risikonya. Di tengah dinamika pasar, diversifikasi ke instrumen lain seperti reksa dana dan Surat Berharga Negara (SBN) juga dapat dipertimbangkan sesuai tujuan investasi masing-masing.

Pantau saham potensial, analisis pergerakan pasar, dan diversifikasi portofolio sesuai strategi investasimu melalui Ajaib.

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab pribadi investor. Informasi ini disusun berdasarkan riset internal Ajaib Sekuritas, tidak dipengaruhi pihak mana pun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, atau paksaan untuk melakukan transaksi jual maupun beli efek. Harga saham dapat berfluktuasi secara real-time. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.

Profil Penulis

Ratih Mustikoningsih
Ratih Mustikoningsih

Financial Expert Ajaib

Ratih Mustikoningsih merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman lebih 10 tahun di pasar modal Indonesia, khususnya dalam analisis saham dan strategi investasi. Melalui artikel dan edukasi yang ia sajikan, Ratih membantu investor memahami fundamental perusahaan, dinamika pasar, serta mengambil keputusan investasi saham yang lebih tepat.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!