Berita

IHSG Lanjut Reli 0,94% Saat BI Tahan Suku Bunga 5,75%, BNGA Akan Privatisasi Saham

Ratih Mustikoningsih•October 21, 2026

Key Takeaways

  • IHSG melanjutkan reli sebesar 0,94% ke level 5.328,36 dengan nilai transaksi mencapai Rp17,90 triliun.
  • AKRA (+7,02%), ICBP (+5,19%), dan BBTN (+4,45%) memimpin penguatan saham LQ45, sedangkan WIFI terkoreksi 6,94%.
  • CIMB Group mempertimbangkan privatisasi BNGA dengan estimasi harga Rp1.645 per saham, atau diskon 4,61% dari harga pasar pada 21 Oktober 2026.
  • Investor dapat memantau pergerakan pasar dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke saham, reksa dana, serta SBN sesuai profil risiko masing-masing.

IHSG Menguat 0,94% ke Level 5.328, Transaksi Tembus Rp17,90 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli pada perdagangan 21 Oktober 2026. IHSG ditutup menguat 49,47 poin atau 0,94% ke level 5.328,36, dengan pergerakan di rentang 5.185–5.328.

Penguatan indeks berlangsung di tengah aktivitas perdagangan yang ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp17,90 triliun, volume 350 juta lot, dan frekuensi 1,84 juta kali transaksi.

Sejumlah saham penghuni indeks LQ45 turut mencatatkan penguatan signifikan. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati rencana CIMB Group untuk memprivatisasi PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dengan indikasi harga penawaran Rp1.645 per saham.

IHSG Menguat, Saham AKRA dan ICBP Pimpin Top Gainer LQ45

Reli IHSG turut diikuti oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks LQ45 naik 1,02%, sedangkan IDX30 menguat 1,04%.

Berikut lima saham dengan kenaikan dan penurunan terbesar di indeks LQ45 pada perdagangan 21 Oktober 2026.

Top 5 Gainer LQ45

Kode SahamPerubahan
AKRA+7,02%
ICBP+5,19%
BBTN+4,45%
ISAT+4,08%
NCKL+3,92%

Top 5 Loser LQ45

Kode SahamPerubahan
WIFI-6,94%
MAPI-5,28%
EXCL-1,68%
UNTR-1,54%
INCO-1,33%

Penguatan saham-saham tertentu di tengah pelemahan saham lainnya menunjukkan bahwa pergerakan pasar tidak sepenuhnya merata. Karena itu, investor dan trader perlu mencermati pergerakan indeks sekaligus kinerja masing-masing saham sebelum menentukan strategi.

Pantau pergerakan IHSG, saham top gainer dan top loser, serta aktivitas perdagangan untuk membantu menyusun strategi investasi dan trading di Ajaib Terminal.

Tekanan Jual Asing Mereda, Bursa Asia Ikut Menguat

Dari sisi aliran dana, tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia mulai mereda. Berdasarkan data 21 Oktober 2026 yang tercantum dalam riset Ajaib, nilai capital outflow investor asing tercatat sekitar Rp521 miliar.

Sentimen positif juga terlihat di pasar saham kawasan Asia-Pasifik yang bergerak mengikuti optimisme dari Wall Street. Pada 21 Oktober 2026, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,97% ke level 64.696,00, sementara indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 3,29% ke level 5.735,66.

Kombinasi penguatan bursa regional dan meredanya tekanan jual asing menjadi bagian dari sentimen yang menyertai kenaikan IHSG. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan aliran dana serta pergerakan pasar global karena sentimen eksternal dapat berubah sewaktu-waktu.

BI Pertahankan Suku Bunga di 5,75%, Pasar Nantikan Laporan Keuangan Emiten

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

Sementara itu, suku bunga Deposit Facility dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%, sedangkan Lending Facility tetap di level 6,50%.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat daya tarik instrumen moneter domestik di tengah tekanan eksternal.

Selain kebijakan moneter, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada musim publikasi laporan keuangan emiten untuk kuartal III 2026 (3Q26). Batas waktu penyampaian laporan keuangan yang menjadi perhatian dalam riset ini adalah 31 Oktober 2026.

Rilis kinerja keuangan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan investor untuk mengevaluasi kondisi fundamental perusahaan, termasuk perkembangan pendapatan, laba, dan prospek bisnisnya.

CIMB Group Pertimbangkan Privatisasi BNGA di Harga Rp1.645 per Saham

Dari sektor perbankan, rencana privatisasi PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) oleh induk usahanya, CIMB Group, menjadi salah satu perkembangan emiten yang menarik perhatian pasar.

Mengutip riset Public Investment Bank yang diberitakan The Edge Malaysia, privatisasi dinilai sebagai salah satu opsi strategis di tengah tekanan pasar modal Indonesia dan perubahan ketentuan minimum kepemilikan saham publik (free float).

CIMB Group saat ini memiliki sekitar 91,45% saham BNGA. Berdasarkan informasi dalam riset tersebut, ketentuan yang menjadi perhatian mengharuskan porsi saham publik minimal mencapai 12,5% pada Maret 2027 dan 15% pada Maret 2028.

Dengan demikian, porsi kepemilikan CIMB Group perlu disesuaikan menjadi maksimal 87,5% pada Maret 2027 dan 85% pada Maret 2028.

Estimasi Dana Privatisasi BNGA Capai Rp3,54 Triliun

Public Investment Bank memperkirakan kebutuhan dana untuk opsi privatisasi tersebut mencapai RM800 juta atau setara sekitar Rp3,54 triliun, menggunakan kurs Rp4.424,23 per ringgit Malaysia pada 21 Oktober 2026.

Mengacu pada laporan bulanan pemegang saham BNGA per September 2026 yang digunakan dalam riset, sisa kepemilikan minoritas atau publik diperkirakan mencapai 8,55%, setara sekitar 2,15 miliar saham.

Berdasarkan estimasi tersebut, nilai penawaran yang diimplikasikan berada di kisaran Rp1.645 per saham. Angka ini setara dengan diskon sekitar 4,61% dibandingkan harga pasar pada 21 Oktober 2026.

Namun, harga tersebut merupakan estimasi yang dihitung berdasarkan informasi dan asumsi dalam riset, bukan kepastian harga penawaran resmi. Investor perlu mencermati keterbukaan informasi dan pengumuman resmi perusahaan untuk mengetahui perkembangan rencana tersebut.

Pantau Market dan Diversifikasi Portofolio di Ajaib

Penguatan IHSG sebesar 0,94% menjadi perkembangan positif bagi pasar saham domestik. Meski begitu, pergerakan indeks yang menguat tidak berarti seluruh saham bergerak searah. Perbedaan kinerja saham juga terlihat dari daftar top gainer dan top loser LQ45.

Dalam kondisi pasar yang dinamis, investor dapat mempertimbangkan beberapa langkah berikut:

  • Pantau pergerakan pasar secara berkala. Perhatikan perubahan IHSG, saham yang menguat dan melemah, serta sentimen global dan domestik untuk memahami kondisi pasar.
  • Evaluasi fundamental emiten. Musim laporan keuangan dapat menjadi momentum untuk meninjau kinerja perusahaan dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi.
  • Pertimbangkan diversifikasi portofolio. Penyebaran investasi ke beberapa instrumen, seperti saham, reksa dana, dan Surat Berharga Negara (SBN), dapat membantu mengelola konsentrasi risiko. Pilihan instrumen tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi.

Ikuti perkembangan IHSG dan saham pilihan, sekaligus eksplorasi berbagai instrumen investasi seperti saham, reksa dana, dan SBN dalam satu aplikasi untuk membantu menyusun portofolio sesuai kebutuhanmu.

Google Play StoreApple App Store

Sumber: Ajaib Research, Keterbukaan Informasi BEI, The Edge Malaysia.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Informasi ini disusun berdasarkan riset internal Ajaib Sekuritas, tidak dipengaruhi pihak mana pun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual atau beli efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi dan profil risiko masing-masing.

Profil Penulis

Ratih Mustikoningsih
Ratih Mustikoningsih

Financial Expert Ajaib

Ratih Mustikoningsih merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman lebih 10 tahun di pasar modal Indonesia, khususnya dalam analisis saham dan strategi investasi. Melalui artikel dan edukasi yang ia sajikan, Ratih membantu investor memahami fundamental perusahaan, dinamika pasar, serta mengambil keputusan investasi saham yang lebih tepat.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!