Ajaib
Menu

Berita

IHSG Dibuka Naik ke Level 6.248, Rupiah Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi Pekan Ini

SalsabillaAugust 3, 2026

IHSG Dibuka Naik ke Level 6.248, Rupiah Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi Pekan Ini

Key Takeaways

  • IHSG dibuka naik 0,21% ke level 6.248,98, didukung mayoritas saham yang menguat meski bursa Asia masih bergerak di zona merah.
  • Rupiah kembali menguat ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS di tengah pelemahan indeks dolar (DXY) dan membaiknya sentimen global.
  • Awal pekan dipenuhi berbagai katalis penting, mulai dari data inflasi Indonesia, PDB kuartal II-2026, hingga data tenaga kerja AS yang berpotensi menentukan arah pasar.

IHSG Dibuka Menguat, Sentimen Pasar Masih Beragam

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (3/8/2026) di zona hijau. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.248,98, naik 12,85 poin atau 0,21% dibanding penutupan pekan sebelumnya di level 6.236,13. Kenaikan ini menunjukkan optimisme pasar masih terjaga setelah IHSG menutup perdagangan Juli dengan performa yang cukup solid.

Meski demikian, pelaku pasar masih bergerak dengan pendekatan yang cenderung selektif. Awal Agustus terdapat banyak agenda ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Di satu sisi, penguatan IHSG memberikan sinyal bahwa minat beli masih bertahan. Namun di sisi lain, berbagai sentimen global masih berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan.

Ringkasan Perdagangan IHSG Pagi Ini

Pada awal perdagangan, aktivitas transaksi menunjukkan pasar masih cukup aktif meski baru memasuki sesi pembukaan.

IndikatorNilai
IHSG6.248,98 (+0,21%)
Nilai TransaksiRp484,1 miliar
Volume Transaksi916,3 juta saham
Frekuensi Transaksi77.840 kali
Saham Menguat318
Saham Melemah130
Saham Stagnan515

Mayoritas saham yang diperdagangkan berhasil bergerak menguat, sementara jumlah saham yang melemah relatif lebih sedikit. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan jual mulai berkurang dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, meski pelaku pasar masih menunggu arah baru dari berbagai katalis ekonomi yang akan dirilis sepanjang pekan ini.

Secara teknikal, IHSG juga melanjutkan momentum positif setelah pekan lalu ditutup menguat 0,64%. Namun, arah pergerakan selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap data ekonomi domestik maupun perkembangan sentimen global yang datang hampir bersamaan pada awal bulan Agustus.

Sentimen Global dan Arus Dana Asing Masih Jadi Penentu Arah IHSG

Meski IHSG dibuka menguat, sentimen eksternal masih menjadi faktor yang perlu dicermati. Bursa saham Asia Pasifik justru memulai perdagangan di zona merah, dengan Nikkei 225 melemah 1,43%, Topix turun 1,45%, dan Kospi terkoreksi lebih dalam hingga 4,57%. Perbedaan arah ini menunjukkan pelaku pasar domestik masih memiliki optimisme tersendiri, namun tetap menghadapi risiko volatilitas apabila tekanan di pasar regional berlanjut.

Dari domestik, pasar menunggu rilis inflasi Juli, PMI manufaktur, neraca perdagangan, konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026. Sementara itu, dari global, pelaku pasar akan mencermati data manufaktur dan perdagangan China serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (nonfarm payrolls) yang menjadi salah satu indikator utama arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Arus Dana Asing Mulai Membaik, tetapi Belum Sepenuhnya Berbalik

Pergerakan investor asing juga menjadi salah satu indikator yang menarik dicermati pada awal Agustus ini. Secara data, investor asing membukukan net buy Rp7,10 triliun sepanjang pekan lalu. Namun, angka tersebut sebagian besar berasal dari transaksi negosiasi bernilai jumbo pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sekitar Rp9,33 triliun terkait mandatory tender offer (MTO).

Apabila transaksi tersebut dikeluarkan dari perhitungan, investor asing sebenarnya masih mencatatkan net sell sekitar Rp2 triliun di pasar reguler. Artinya, tekanan jual asing memang mulai berkurang dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi belum sepenuhnya berubah menjadi fase akumulasi. Kondisi ini membuat pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar masih berpotensi dipengaruhi aktivitas jual beli investor institusi asing.

Beberapa saham yang masih mengalami tekanan jual asing antara lain TPIA, ANTM, MKPI, AMMN, dan BMRI. Sebaliknya, aliran dana asing mulai mengarah ke sejumlah emiten seperti BBCA, TINS, BRPT, MDKA, dan INCO. Rotasi dana tersebut dapat menjadi salah satu indikator sektor atau saham yang mulai memperoleh perhatian pasar pada awal bulan ini.

Rupiah Kembali Menguat, Dolar AS Kehilangan Momentum

Selain pergerakan IHSG, nilai tukar rupiah juga menjadi sorotan utama pada awal perdagangan pekan ini. Rupiah dibuka menguat 0,06% ke level Rp17.980 per dolar AS, sekaligus kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang turun 0,21% ke posisi 99,707.

Mayoritas mata uang Asia juga bergerak positif terhadap dolar AS. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,90%, diikuti yen Jepang yang menguat 0,65%, peso Filipina 0,30%, baht Thailand 0,24%, dolar Singapura 0,08%, dolar Taiwan 0,04%, dan dong Vietnam 0,01%. Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang yang melemah, sementara yuan China bergerak relatif stagnan.

Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan Rupiah

Penguatan rupiah tidak terlepas dari kombinasi beberapa sentimen global. Salah satunya adalah pelemahan dolar AS yang dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap yen Jepang, setelah pasar kembali berspekulasi mengenai peluang intervensi lanjutan otoritas Jepang untuk menjaga stabilitas mata uangnya. Kondisi tersebut ikut menekan indeks dolar sehingga memberikan ruang bagi mayoritas mata uang Asia untuk terapresiasi.

Selain itu, penurunan harga minyak dunia juga meredakan kekhawatiran inflasi global. Harga minyak melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengonfirmasi bahwa pembicaraan antara kedua negara akan berlangsung pada awal pekan. Berkurangnya tensi geopolitik tersebut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Strategi Trader Saham Menghadapi Sentimen IHSG Pekan Ini

Awal Agustus menghadirkan kombinasi sentimen yang membuat pergerakan pasar berpotensi lebih dinamis dibandingkan pekan sebelumnya. Di satu sisi, IHSG berhasil membuka perdagangan di zona hijau dan rupiah kembali menguat ke bawah level Rp18.000 per dolar AS. Namun di sisi lain, pasar masih harus mencerna berbagai agenda penting, mulai dari data inflasi Indonesia, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026, hingga laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed.

Hal yang Perlu Dicermati Trader Saham

Berikut beberapa poin yang dapat menjadi perhatian selama perdagangan pekan ini:

  • Perhatikan konsistensi penguatan IHSG. Pembukaan di zona hijau merupakan sinyal positif, tetapi yang lebih penting adalah apakah indeks mampu mempertahankan momentum hingga penutupan di tengah padatnya agenda ekonomi domestik maupun global.
  • Pantau pergerakan rupiah bersama indeks dolar AS (DXY). Rupiah yang kembali berada di bawah Rp18.000 per dolar AS dapat menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun jika dolar AS kembali menguat setelah rilis data ekonomi AS, tekanan terhadap rupiah dan aset berisiko berpotensi meningkat.
  • Cermati lanjutan aliran dana asing. Meskipun tekanan jual asing mulai mereda, data pekan lalu menunjukkan arus dana di pasar reguler masih mencatatkan net sell setelah transaksi negosiasi bernilai besar dikeluarkan. Konfirmasi akumulasi asing pada saham-saham berkapitalisasi besar dapat menjadi salah satu penopang keberlanjutan penguatan IHSG.
  • Fokus pada saham yang memiliki katalis. Memasuki musim rilis data ekonomi dan laporan keuangan, saham yang didukung katalis fundamental umumnya memiliki peluang menarik perhatian pasar dibandingkan saham yang hanya bergerak karena sentimen jangka pendek.
  • Tetap disiplin menerapkan manajemen risiko. Volatilitas pasar masih berpotensi meningkat seiring banyaknya data ekonomi penting yang akan diumumkan sepanjang pekan. Menentukan target keuntungan dan batas kerugian sejak awal dapat membantu menjaga konsistensi strategi trading ketika arah pasar berubah dengan cepat.

Mulai Investasi Saham di Ajaib

Pergerakan IHSG, rupiah, hingga arus dana asing menunjukkan bahwa pasar saham masih dipengaruhi berbagai sentimen domestik maupun global. Dengan mengikuti perkembangan pasar secara rutin dan didukung platform yang tepat, kamu bisa lebih cepat memanfaatkan peluang ketika momentum muncul. Mulai investasi saham lebih mudah bersama Ajaib dan nikmati berbagai fitur untuk memantau pergerakan pasar serta menyusun strategi sesuai kebutuhanmu. Download Ajaib di Play Store & App Store sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Sumber:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/market/20260803080916-17-755898/ihsg-pagi-ini-dibuka-naik-021-mayoritas-saham-menguat
[2] https://www.cnbcindonesia.com/research/20260803092740-128-755928/dolar-ditendang-di-mana-mana-rupiah-won-yen-perkasa-ringgit-nangis
[3] https://investor.id/market/448663/arah-rupiah-pekan-depan-ditentukan-sentimen-ini

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!