3 Sektor Saham yang Dapat Berkah dari Booming Ekspansi Data Center di Indonesia, Ada Apa Saja?
Mikirduit•August 27, 2026

Tren sektor saham data center untuk kebutuhan AI tengah meningkat di pasar saham Indonesia. Setelah, PT Indosat Ooredoo Hutchinson Tbk. (ISAT) berkolaborasi dengan pengendalinya Grup Ooredoo, Nvidia (NVDA), hingga Nokia untuk membuat AI Factory bernama Zankore by Indosat. Lalu, apa saja sektor saham yang terkait tren data center AI tersebut?
Tren data center ini bisa melingkupi beberapa sektor mulai dari penyedia data center, pemilik kawasan industri atau real estate yang bisa dijadikan data center, penyedia fiber optic yang dibutuhkan data center, dan pembangkit listrik yang menjadi kebutuhan utama data center.
Lalu, apa saja saham di IDX yang punya korelasi dengan tren data center AI ini?
Saham Data Center

Ada beberapa saham yang terkait langsung dengan data center. Beberapa saham itu antara lain PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), ISAT, PT Telkom (Persero) Tbk. (TLKM), PT NexAI Digital Infrastructure Tbk. (MGLV), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).
1. DCII (DCI Indonesia)
Pertama, DCII menjadi salah satu pemilik data center terbesar. Dari public expose 2026, perseroan mencatatkan kapasitas data center mencapai 128 MW dengan potensi kenaikan kapasitas hingga lebih dari 2.000 Megawatt (MW).
Nantinya, kapasitas yang berpotensi ditingkatkan antara lain data center H1 Campus Cibitung dari kapasitas saat ini 73 MW berpotensi ditingkatkan menjadi 220 MW. Lalu, H2 Campus Karawang dari kapasitas 27 MW berpotensi ditingkatkan hingga lebih dari 600 MW. Lalu, H3 DC Park Sky Bintan disebut berpotensi memiliki kapasitas hingga 1.000 MW.
2. ISAT (Indosat)
Kedua, ISAT memiliki bisnis patungan data center bersama BDx dengan membangun BDx Indonesia. Dalam skema ini, ISAT sepakat sebagian besar kepemilikan data centernya senilai Rp2,6 triliun dialihkan ke BDx Indonesia.
Menurut Presiden Director and Chief Executive Officer ISAT VIkram Sinha, BDx Indonesia memiliki kapasitas data center hingga 150 MW yang tersebar di 4 wilayah. Posisi data center kolaborasi ISAT dengan BDx Indonesia itu tersebar di Technopark BSD, Kantor Pusat ISAT, TB Simatupang (CGK3), dan Jatiluhur (CGK4).
Selain itu, BDx Indonesia juga lagi membangun data center berkapasitas 100 MW di kawasan Suryacipta City of Industry milik PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA).
ISAT juga menggarap proyek Zankore by Indosat yang merupakan AI Factory bersama NVDA dan Nokia. Nantinya, AI Factory itu disebut berpotensi memiliki kapasitas hingga 1 GW dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Tahap awal, Zankore akan memiliki kapasitas sekitar 200 MW yang ditargetkan rampung pada semester I/2027. Nantinya, ISAT berencana membangun Zankore di area Batang, Jawa Tengah. Lalu, untuk target 1 GW diharapkan rampung pada 2027.
3. TLKM (Telkom Indonesia)
Ketiga, TLKM juga punya entitas data center di bawah PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC) yang portofolionya mencakup hyperscale data center, enterprise data center, dan edge data center. Bisnis NeutraDC ini sudah mencatatkan pendapatan sekitar Rp1,59 triliun dengan laba bersih Rp150 miliar sepanjang 2025.
Dari data per 2025, Neutra DC memiliki kapasitas lebih dari 50 MW. Jumlah itu berpotensi bertambah dengan proyek Hyperscale 18 MW di Cikarang yang selesai pada akhir 2025 dan proyek data center di Batam yang sebelumnya diperkirakan beroperasi pada Kuartal I/2026 sekitar 18 MW dengan potensi kapasitas hingga 100 MW. Sehingga total kapasitas saat ini berpotensi tembus hampir 90 MW.
Adapun, TLKM menargetkan nantinya kapasitas data center perseroan bisa tembus sekitar 300-500 MW pada 2030.
4. MGLV (PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk)
Keempat, MGLV menjadi emiten data center baru setelah diakuisisi oleh PT Nextier Datamate Center pada 10 Februari 2026. Setelah diakuisisi, MGLV berencana mengakuisisi 2 perusahaan data center, yakni PT Nextier Aksara Center dan PT Nextier Genai Center dari pengendali barunya.
Adapun, Nextier Aksara Center atau MettaDC sudah beroperasi di Cikarang dengan kapasitas 36 MW. Lalu, Nextier Genai Center lagi dalam proses pengembangan dengan kapasitas 60 MW di Batang, Jawa Tengah.
MGLV menyebutkan dua aset yang diakuisisinya itu sudah punya perjanjian dengan ISAT dan PT Megaspeed Internasional Indonesia sebagai penyewa data center perseroan. Namun, belum diketahui detail dari nilai kontrak keduanya.
Untuk pengembangan data center itu, MGLV akan mendapatkan pinjaman pemegang saham hingga Rp4 triliun dengan tingkat bunga 7 persen. Nantinya, tingkat beban bunga diperkirakan mencapai Rp280 miliar per tahun.
5. DSSA (Dian Swastatika Sentosa)
Kelima, DSSA melakukan ekspansi pembangunan data berstandar internasional dengan teknologi AI dan large-scale computing di Indonesia bersama KIRA SG One Pte. Ltd yang merupakan bagian dari Korea Investment Real Asset management.
Nantinya, DSSA akan membangun data center dengan target kapasitas 60 MW. Lalu, tahap awal akan dibangun hingga 18 MW dengan target selesai pada akhir 2026.
Pantau pergerakan DCII, ISAT, TLKM, MGLV, dan DSSA dalam satu watchlist di Ajaib, ikuti perkembangan harga saham-saham data center ini secara real-time.
Saham Sektor Kawasan Industri

Saham kawasan industri juga mendapatkan berkah dari ekspansi data center di Indonesia. Pasalnya, permintaan lahan industri menjadi meningkat. Bahkan, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) sudah mencatatkan pembeli dari pihak yang ingin bangun data center dalam beberapa tahun terakhir.
Berikut ini saham kawasan industri yang sudah mendapatkan berkah dari booming ekspansi data center:
1. DMAS (PT Puradelta Lestari tbk)
Pertama, DMAS telah mencatatkan beberapa pembeli dari data center, termasuk yang terbesar dari Microsoft yang membangun data centernya di Indonesia.
Sampai Juni 2026, DMAS masih mencatatkan beberapa permintaan lahan dari data center seperti, PT Digital Gayana Ekagrata yang merupakan anak usaha PT Indointernet Tbk. (EDGE) yang fokus di data center. Lalu, Pricenton Digital Group, PT Indoedge Real Estate and Data Center, dan PT STT GDX Indonesia.
Bahkan, pendapatan dari klien data center itu mencapai 92 persen dari total pendapatan DMAS sepanjang semester I/2026.
2. SSIA (Surya Semesta Internusa)
Kedua, SSIA juga tercatat menjadi lokasi pembangunan salah satu data center milik ISAT. Emiten telekomunikasi itu disebut memborong 12 hektar lahan SSIA di Karawang. Di luar itu, SSIA belum mencatatkan transaksi untuk klien data center skala jumbo lainnya.
3. BEST (PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk)
Ketiga, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) juga memiliki klien dari perusahaan data center, yakni DCII. Emiten milik Toto Sugiri itu membangun data center di BEST dengan luas lahan 8 hektar dan potensi kapasitas hingga 220 MW. Saat ini, kapasitas data center DCII di lahan tersebut mencapai 73 MW.
Hingga Juni 2026, BEST belum mencatatkan penyewa data center skala besar. Dua klien terbesarnya saat ini rata-rata dari perusahaan manufaktur seperti, PT Handal Gemilang Sentosa dan PT API Internasional Indonesia yang secara akumulasi berkontribusi sebesar 57 persen ke pendapatan perseroan.
4. KIJA (PT Kawasan Industri Jababeka Tbk)
Keempat, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) yang harga sahamnya sempat naik tinggi karena dikaitkan dengan tren permintaan lahan di kawasan industri. Secara historis, dalam laporan tahunan, KIJA mencatatkan pembeli lahan dengan kebutuhan data center sebesar 4 hektar.
Namun, hingga Juni 2026, belum ada tercatat klien dari data center yang membeli lahan perseroan dalam skala besar. Adapun, salah satu klien terbesar KIJA hingga semester I/2026 adalah PT Hoifu Paper Packaging Indonesia. Perusahaan kemasan itu disebut membangun pabrik di kawasan industri Kendal milik KIJA.
KIJA juga masih punya land bank untuk pengembangan dengan skala yang cukup besar. Dari 4 kawasan yang dimilikinya, skala terbesar ada di Pandeglang seluas 1.460 hektar, Morotai seluas 1.427 hektar, Cikarang seluas 1.162 hektar, dan Kendal seluas 427 hektar.
Saham Pemilik Fiber Optik

Salah satu bagian terpenting dalam ekspansi data center adalah keberadaan infrastruktur fiber optik. Empat saham yang punya skala jaringan fiber optik terbesar antara lain, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA), TLKM, dan ISAT.
1. TOWR (Sarana Menara Nusantara)
Pertama, saham TOWR menjadi emiten yang punya panjang fiber optik terbesar, yakni mencapai 170.000 km. Dari jumlah itu, optimalisasi untuk kebutuhan data center ada di jaringan backbone dan bawah laut.
Dari jumlah 170.000 km, tercatat 122.291 km dalam bentuk fiber to the tower (FTTT). Berarti sisanya termasuk di backbone dan kabel bawah laut.
Selain itu, TOWR juga berencana ekspansi ke data center lewat anak usahanya iForte. Dalam tahap awal, TOWR akan bangun data center dengan kapasitas 10 MW.
2. MORA (PT Ekamas Mora Republik Tbk)
Kedua, MORA menjadi saham yang memiliki aset fiber optik terbesar kedua. Emiten di bawah Grup Sinarmas ini disebut memiliki jaringan fiber optik hingga lebih dari 166.000 km yang diakumulasi dari akses dan backbone.
Jumlah aset fiber optik MORA meningkat drastis setelah DSSA melakukan merger perseroan dengan My Republic. Hasil akumulasi aset keduanya mencatatkan skala terbesar kedua di industri.
3. TLKM (Telkom Indonesia)
Ketiga, TLKM juga melakukan gebrakan dengan spin-off aset fiber optik internalnya menjadi InfraNexia. Aksi spin-off dilakukan agar perseroan bisa monetisasi aset tersebut.
Hingga 7 Agustus 2026, InfraNexia disebut sudah mengelola 112.000 km jaringan fiber optik, termasuk 26.000 km sistem komunikasi kabel laut di seluruh Indonesia.
Nantinya, spin off aset fiber optik itu akan berlanjut ke tahap kedua. Nantinya, rencana itu akan dibahas dalam RUPSLB yang diselenggarakan pada 30 September 2026.
4. ISAT (Indosat)
Keempat, ISAT juga memiliki aset fiber optik yang skalanya cukup besar, mencapai 86.000 km. Namun, ISAT tidak mengelola aset itu sendiri.
ISAT baru saja membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan Hashim Djojohadikusumo bernama PT Nusantara Fiber Teknologi. Perusahaan patungan itu melakukan akuisisi 74,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi yang memegang aset fiber optik ISAT sepanjang 86.000 km senilai Rp11,7 triliun.
Sehingga ISAT tidak melakukan divestasi sepenuhnya. Dalam skema ini, ISAT masih memegang aset fiber optiknya dengan kepemilikan 49,9 persen, serta entitas afiliasi PT Lintas Arta juga pegang sekitar 0,8 persen saham Nusantara Fiber Teknologi.
Kesimpulan
3 Sektor saham ini memiliki kaitan erat dengan ekspansi investasi data center di Indonesia. Pasalnya, ketiganya memiliki kaitan langsung dari rencana ekspansi sebagai penyedia data center, penyedia lahan untuk pembangunan data center, hingga pemilik fiber optik yang juga dibutuhkan data center.
Namun, bukan berarti saham-saham tersebut bisa langsung dibeli tanpa analisis lebih lanjut. Investor perlu menganalisis lebih detail terkait saham-saham tersebut mulai dari kontribusi pendapatan dari bisnis terkait data center, valuasi saham saat ini, hingga prospek pertumbuhan kinerja keuangan kedepannya.
Lalu, trader bisa mencari saham-saham yang terkait data center dengan tingkat price action atau teknikal menarik untuk trading jangka pendek.
Trading Saham Data Center dan Potensial Lainnya di Ajaib
Untuk investor, cek laporan keuangan dan valuasi ke-13 saham di atas lewat fitur analisis fundamental di Ajaib sebelum memutuskan masuk.
Untuk trader, gunakan analisis teknikal dan chart real-time di Ajaib Terminal untuk mencari momentum entry yang sesuai dengan strategi trading jangka pendekmu.
Mulai analisis dan trading saham-saham terkait data center sekarang. Download Ajaib dan lihat peluangnya langsung di genggamanmu.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!