Apa Bahaya Menyimpan Uang Tunai Terlalu Banyak?

Sebuah dompet untuk menyimpan uang tunai
Sebuah dompet untuk menyimpan uang tunai

Pertengahan tahun kemarin, seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan di sebuah desa di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terkesiap bangun dari tidurnya ketika ia menyadari permukaan bumi di sekitar tempatnya tinggal untuk 30 hari bergoyang.

Sontak ia langsung menghampiri Ibu si pemilik rumah tempatnya tinggal selama mengabdi di desa tersebut, tampak si Ibu habis berlari dari dapur dengan raut wajah tegang. Meski panik, mahasiswa itu mencoba tetap terlihat tenang dan memberikan gestur bahwa ia bisa diandalkan,

“Bu, kita harus keluar dari rumah secepatnya. Sebentar lagi atapnya rubuh,” ujar si mahasiswa kepada janda beranak satu tersebut.

Alih-alih mengikuti ajakan si mahasiswa, si Ibu malah berlari masuk kembali ke kamar tidurnya yang terletak di bagian belakang rumah sambil menggendong anak laki-lakinya yang masih berumur tiga tahun.

“Loh, Bu! Ibu mau kemana? Jangan ke dalam, Bu. Bahaya!” reflek si mahasiswa mengejar meski baginya si Ibu tampak sedang melakukan upaya bunuh diri.

Tidak lama kemudian si Ibu keluar, kali ini sambil mendekap bantal di tangan kiri sementara tangan kanannya masih erat mendekap anaknya.

“Bu, kenapa bawa bantal segala? Tidak ada waktu untuk bawa-bawa barang, Bu. Kita harus keluar dari sini secepatnya!” agak geram, si mahasiswa berusaha menuntun si Ibu ke arah jalan keluar dari rumah yang sudah hampir rubuh tersebut.

“Anu… Semua uang saya ada di bantal ini!” ucap si Ibu berteriak sambil berlari keluar dari rumah tersebut.

Penggalan cerita di atas adalah gambaran mengenai pola perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia mengenai uang, khususnya uang tunai. Bahkan di daerah-daerah yang cukup terpencil dan jauh dari perkotaan, masih banyak orang-orang yang belum memiliki rekening bank, apalagi berpikir mengenai investasi.

Tingginya disparitas dibarengi dengan rendahnya literasi finansial bisa menjadi salah satu faktor dari gambaran memprihatinkan tingkat inklusi keuangan masyarakat ini. Namun, masih banyak juga masyarakat perkotaan yang lebih nyaman menimbun uang tunai di rumah, alih-alih menyetorkannya ke bank atau justru menjadikannya modal investasi.

Daya Tarik Uang Tunai

Mengapa begitu banyak orang, khususnya di Indonesia, begitu percaya bahwa metode terbaik dalam menyimpan uang adalah melakukannya di rumah? Bagi banyak orang, hal ini memberikan ketenangan pikiran. Tidak seperti saham dan obligasi yang membawa risiko investasi, ketika kamu menyimpan uang dalam bentuk tunai, kamu tidak berisiko kehilangan uang, kecuali jika kamu sedang sial dan menjadi korban perampokan atau penjambretan.

Berinvestasi, meski mendatangkan keuntungan yang cukup menjanjikan, juga selalu memiliki risiko. Ketika harga pasar sedang tidak stabil, investor mungkin saja mengalami kerugian sesaat, meskipun kondisi ini biasanya akan segera membaik. Namun, tidak semua orang akan siap menghadapi risiko tersebut.

Di Indonesia, ada dua alasan kenapa banyak orang masih memilih menyimpan uang tunainya di rumah dibanding berinvestasi. Pertama, karena mereka sama sekali tidak memahami apa itu investasi. Kedua, karena mereka merasa menyimpan uang tunai memberikan akses yang lebih besar ketika mereka membutuhkan uang tersebut dalam kondisi yang mendesak.

Bahaya Memiliki Terlalu Banyak Uang Tunai

Masih begitu banyak orang tidak menyadari bahwa menyimpan terlalu banyak uang tunai akan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menghasilkan keuntungan dari nilai uang tersebut, malah justru mengakibatkan kerugian.

Katakanlah kamu memutuskan untuk menyimpan sebagian besar uang yang kamu miliki di dalam brangkas di rumahmu karena enggan menyetorkannya di tabungan bank atau menginvestasikannya. Tanpa kamu sadari, kamu telah kehilangan keuntungan per tahun sebesar enam persen dari total uang yang kamu miliki. Keuntungan yang kamu dapatkan dalam setahun bahkan bisa lebih tinggi, mencapai tujuh hingga 10 persen jika uang tersebut kamu investasikan.

Kalau kamu pikir jumlah tersebut tidak terlalu signifikan, maka kamu sebaiknya berpikir ulang. Menginvestasikan uangmu setidaknya selama tiga tahun dapat meningkatkan keuntungan hingga lebih dari 20 persen, tergantung portofolio risiko yang akan menentukan instrumen investasimu nanti.

Lalu bayangkan jika kamu rutin menginvestasikan uang tunaimu setiap bulannya, selama 30 tahun.

Contohnya, kamu menginvestasikan 10 juta ke instrumen saham, dengan rata-rata historis pasar saham yang bisa memberikan keuntungan hingga 12.5 persen per tahunnya. Namun, mari anggap kondisi pasar sedang tidak optimal dengan performa return sebesar 10 persen per tahun, maka setelah 30 tahun kamu akan memiliki kurang lebih Rp174.5 juta.

Coba tanyakan lagi kepada dirimu sendiri, mana yang lebih baik? Memiliki Rp10 juta uang tunai tersimpan di brankas rumahmu, atau memiliki aset investasi senilai Rp174.5 juta?

Menentukan Banyaknya Uang Tunai yang Harus Kamu Miliki

Bagi kebanyakan orang, tingkat minimum uang tunai yang harus dimiliki adalah dana darurat untuk setidaknya enam bulan, sebagaimana telah disebutkan sepintas di atas. Dana darurat akan membantu kamu dalam melewati bencana atau kejutan yang tidak diharapkan tanpa harus menjual asetmu.

Ada banyak alasan untuk memiliki tabungan untuk biaya tidak terduga. Keadaan darurat seperti kecelakaan, perbaikan rumah, perbaikan mobil, dan dipecat dari pekerjaan adalah beberapa alasan untuk memiliki dana darurat. Dana tabungan darurat sangat penting untuk kesehatan individu. Hidup dengan rasa takut tidak aman secara finansial untuk masa depan menyebabkan tekanan yang tidak perlu. Stres dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, dan masalah kesehatan dapat menyebabkan hilangnya pendapatan. Karena itu, dana tabungan dapat membantu menghilangkan stres dan memungkinkan seseorang untuk hidup lebih damai dan nyaman.

Jadi, jika kamu membutuhkan 5 juta sebulan untuk membayar semua pengeluaranmu, maka kamu harus berusaha mengakumulasi 30 juta dalam rekening tabungan daruratmu. Mungkin jumlahnya kedengaran sangat banyak, tapi jika kamu konsisten dalam menyisihkan uang, usahamu pasti akan membuahkan hasil yang sepadan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan seseorang untuk menghemat uang. Salah satu caranya adalah mulai mengurangi hal-hal yang tidak diperlukan.

Misalnya, kamu dapat berhenti makan di luar setiap hari atau membeli barang yang tidak diperlukan. Uang yang disimpan dapat ditempatkan ke dalam rekening tabungan setiap minggu. Rekening kamu akan terus tumbuh saat kamu sudah bisa konsisten memotong pengeluaran yang tidak perlu.

Mulai Berinvestasi

Alasan besar mengapa banyak orang lebih suka menyimpan uang tunai adalah karena mereka tidak yakin bagaimana cara menginvestasikannya. Hari ini, akses yang terbuka terhadap panduan untuk pemula sudah begitu banyak, panduan ini akan menunjukkan kepadamu bagaimana memulai investasi. Kamu bisa memulai dengan reksadana yang lebih mudah untuk dipahami dari investasi lainnya.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.   

Bacaan menarik lainnya:

Brigham, E.F., Ehrhardt, M.C. (2005). Financial Management Theory And Practice Eleventh Edition, South Western Cengage Learning, Ohio.

Share to :
Ayo bergabung dengan Ajaib, investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Artikel Terkait