Analisa Saham

KLBF Raup Untung Sepanjang Pandemi, Ini Analisisnya

Profil KLBF

Kalbe Farma Tbk (KLBF) sudah berdiri pada 10 September 1966. Kemudian memulai kegiatan usaha komersial perusahaannya pada tahun 1966.

Ruang lingkup KLBF berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, yakni, bergerak dalam bidang farmasi, perdagangan dan perwakilan. KLBF saat ini utamanya bergerak dalam bidang pengembangan, pembuatan dan perdagangan sediaan farmasi, lalu produk obat-obatan, suplemen, nutrisi, makanan dan minuman kesehatan sampai alat-alat kesehatan juga pelayanan kesehatan primer.

Kemudian, produk-produk unggulan yang dihasilkan oleh Kalbe, di antaranya obat resep (Brainact, Cefspan, Mycoral, Cernevit, Cravit, Neuralgin, Broadced, Neurotam, Hemapo, dan CPG), lalu produk kesehatan (Promag, Mixagrip, Extra Joss, Komix, Woods, Entrostop, Procold, Fatigon, Hydro Coco, dan Original Love Juice).

Kemudian produk nutrisi mulai dari bayi hingga usia senja, serta konsumen dengan kebutuhan khusus (Morinaga Chil Kid, Morinaga Chil School, Morinaga Chil Mil, Morinaga BMT, Prenagen, Milna, Diabetasol Zee, Fitbar, Entrasol, Nutrive Benecol dan Diva).

Pada 1991, KLBF mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) KLBF kepada publik sebanyak 10.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp7.800,- per saham. Kemudian, saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juli 1991.

Dilihat dari Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Dari laporan keuangan per September 2020, terlihat peningkatan bisnis dari KLBF. Meskipun sepanjang tahun 2020 tengah terjadi pandemi covid-19. Namun, dilihat dari penjualan perusahaan selama sembilan pulan pertama 2020 justru mengalami kenaikan 1,59% YoY menjadi Rp7,04 triliun dari periode yang sama pada tahun 2019 sebesar Rp17,09 triliun.

Untuk laba bersih perusahaan juga mengalami peningkatan. Di mana pada Q3 2020 laba bersih perusahaan tercatat mencapai sekitar Rp2,07 triliun meningkat dari periode yang sama tahun 2019 yang sebesar Rp1,94 triliun.

Berikut ini laporan kinerja keuangan KLBF (dalam jutaan rupiah):

Namun, untuk margin kotor KLBF mengalami penurunan tipis menjadi 45,46% pada Q3 2020, dibandingkan dengan Q3 2019 sebesar 46,1%. Lebih lanjut, margin penjualan dan laba bersih KLBF meningkat tipis di tengah pandemi.

Untuk margin laba bersih mengalami peningkatan menjadi 11,86% di Q3 2020 dibandingkan dengan Q3 2019 yang sebesar 11,56%.

Berikut ini kinerja margin KLBF:

Upaya KLBF untuk meningkatkan kinerja sudah terlihat pada September 2020. Perolehan margin laba bersih meningkat dibandingkan September 2019 lalu. Hal ini menandakan perusahaan masih terus tumbuh dan memperoleh keuntungan.

Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio keuangan umum KLBF. Berikut ini datanya:

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan kalau kondisi bisnis KLBF ini justru diuntungkan di tengah pandemi. ROA dan ROE yang turun menunjukkan kemampuan perusahaan ini dalam memperoleh keuntungan di sepanjang 2020.

Perusahaan berhasil memanfaatkan peluang dari sektor farmasi atau kesehatan yang menjadi pemain utama pada sektor ekonomi di tengah merebaknya virus covid-19 ini. Namun, ada penurunan persentase, ini kemungkinan karena dampak pandemi covid-19.

Adapun perusahaan masih berkutat dengan utang karena terlihat dari rasio utang terhadap ekuitas (DER) di level yang masih rendah dan tergolong aman. Dengan DER berada di level 26,67% di mana angka ini menandakan perusahaan tidak bergantung pada utang. Pasalnya perusahaan yang sehat keuangannya ditunjukan dengan rasio DER di bawah angka 1 atau di bawah 100%.

Riwayat Kinerja

Sepanjang 2020 ini memang daya beli masyarakat yang lemah memengaruhi ekonomi domestik. Namun, KLBF salah satu perusahaan yang bisa bertahan dan meraih keuntungan di tengah pandemi. Bahkan melakukan sejumlah inovasi produk. 

Namun, sebagai gambaran dalam tiga tahun terakhir sejak 2017-2019, ada tren kenaikan penjualan dan laba bersih. Berikut data perbandingan pertumbuhan kinerja selama 3 tahun terakhir (dalam jutaan rupiah):

Tingkat pertumbuhan dalam 3 tahun terakhir mencerminkan bisnis KLBF yang tumbuh. Meski begitu, pada 2020, persero membuat pandemi menjadi momentum perbaikan bisnis seperti yang sudah dibahas sebelumnya terkait perolehan laba bersih perusahaan.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

KLBF merupakan salah satu perusahaan yang kerap memberikan dividen tunai kepada investornya. Hingga tahun 2019 KLBF masih memberikan dividen. Berikut daftar pembagian dividen selama 3 tahun terakhir:

Prospek Bisnis KAEF

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memiliki target pertumbuhan pendapatan pada tahun 2021 bisa melebihi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah.

Kalbe Farma menargetkan akan tumbuh di atas 5%, bisa plus 2% atau plus 3% dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah.

Adapun untuk meraih target tersebut, perusahaan akan melakukan ekspansi bisnis. Mulai dari, obat resep, nutrisi, produk kesehatan, serta logistik dan distribusi. Sehingga diharapkan, semua lini bisnis punya kesempatan untuk bertumbuh.

Perusahaan akan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp1 triliun-Rp1,1 triliun untuk 2021. Besaran capex tersebut akan tetap dikeluarkan dengan nilai yang sama untuk tahun 2022 dan 2023.

Harga Saham (Kesimpulan)

PER dan PBV KLBF saat ini tercatat cenderung normal bila dibandingkan dengan saham lain di sektor perkebunan ini. Menurut Data RTI per 19 Februari, PER KLBF tercatat 27,48 kali dan PBV dari KLBF ini di angka 4,36 kali.

Sebagai pembanding, saham SIDO PER dan PBV-nya ada di level 25,70 kali dan 7,45 kali. Sementara itu, PER dan PBV saham KAEF ada di level 414,34 kali dan 3,02 kali.

Kamu bisa mempertimbangkan untuk membeli saham ini, disebabkan kinerja perusahaan yang diperkirakan tetap tumbuh serta tetap memperoleh keuntungan. Hal ini terlihat dari laporan keuangan Q3 2020 tercatat ada peningkatan penjualan perusahaan.

Selain itu, perolehan laba juga mengalami pertumbuhan. Bisa dicek pada pembahasan di bagian kinerja keuangan tahun 2020.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

.

Artikel Terkait