Saham

Alasan Membeli Saham WSBP di Tengah Pandemi Covid-19

alasan membeli saham wsbp

Ajaib.co.id – PT Waskita Beton Precast Tbk atau dengan kode emiten WSBP melalui laporan kuartal tahun 2020, menyatakan optimis akan memperoleh total laba tahun ini sebesar 1 triliun. Dengan begitu ada alasan membeli saham WSBP oleh investor.

Selain itu, alasan membeli saham WSBP adalah perusahaan ini di tengah pandemi covid-19 berada pada kondisi fundamental yang baik sehingga mampu bertahan dari sentimen gejolak negatif pasar modal.

Adapun target laba tercatat pada awal tahun ini lebih tinggi 36,45 persen dibandingkan dengan catatan laba yang diperoleh pada tahun 2019 periode yang sama senilai Rp806,14 miliar. Di sisi lain, pabrik beton milik WSBP di Gasing tetap beroperasi di Palembang dimana kapasitas daripada produksi mencapai 725.000 ton per tahun.

Ini sekaligus membuat WSBP menjadi pemasok utama daripada beragam proyek Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, sehingga bukan hal yang mustahil ini menjadi alasan membeli saham WSBP.

Selain itu, ada juga alasan membeli saham WSBP karena di tahun ini perusahaan berencana melakukan perbaikan kinerja dengan besaran potensi pembiayaan dan penyelesaian daripada proyek yang bergeser tahun ini.

Dengan target laba Rp10 triliun maka alasan membeli saham WSBP cukup masuk akal karena perusahaan optimis tetap tumbuh dalam kondisi pandemi Covid-19 dimana seluruh sektor mengalami dampak yang sama.

Dengan target pendapatan Rp10 triliun perusahaan menargetkan tahun ini memperoleh laba bersih senilai Rp1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan bentuk daripada realisasi pendapatan pada tahun ini yang meningkat sekitar 33,39 persen.

Maka dari itu, target laba yang tercatat tentunya akan lebih tinggi 36,45 persen dibandingkan dengan pencatatan laba yang diperoleh pada tahun 2019 yang hanya mencapai Rp806,14 miliar.

Pada tahun ini perusahaan atau perseroan juga menargetkan dapat membukukan kontrak baru dengan nilai kontrak Rp11,9 triliun, ini juga merupakan alasan membeli saham WSBP.

Sementara itu, jika dilihat daripada target kontrak tersebut, maka ada sebanyak Rp5,89 triliun yang di antaranya bakal ditargetkan akan berasal daripada bentuk pihak eksternal. Maka dengan begitu, target daripada nilai kontrak untuk eksternal dan internal akan mencapai targetnya yanki mengalami peningkatan sebesar 50 persen.

Disisi lain, pada tahun 2019 perseroan juga berhasil membukukan kontrak kerja sebesar Rp7,03 triliun. Dengan nominal kontribusi daripada kontrak eksternal tersebut maka akan mencapai 63,2 persen jika dibandingkan kondisi pada tahun lalu, yang berhasil meningkat sebesar 36 persen jika dilihat pada tahun sebelumnya.

Adapun, jika dilihat berdasarkan nilai daripada kontrak eksternal tahun lalu maka akan meningkat 83,01 persen dihitung secara tahunan. Dengan begitu, kendati berhasil meraih kontrak baru pada tahun lalu dengan nilai yang cukup tinggi, namun hal ini tidak diikuti dengan bentuk daripada peningkatan pendapatan emiten yang memiliki saham WSBP ini.

Dilihat pada tahun 2019, nominal daripada pendapatan perseroan justru tercatat malah mengalami penurunan 6,66 persen jika dihitung secara tahunan. Adapun alasan daripada penurunan pendapatan ini diketahui disebabkan oleh mundurnya pengerjaan–pengerjaan dari beberapa proyek yang seharusnya sudah rampung pada tahun 2018.

Ini tentunya akan membuat jumlah atau nilai daripada pendapatan perseroan juga ikut menurun menjadi Rp7,46 triliun di tahun lalu. Penundaan penyelesaian proyek–proyek tahun lalu memberikan berpengaruh besar terhadap arus daripada kas operasi yang terjadi di tahun lalu.

Kas bersih yang diperoleh daripada aktivitas investasi untuk perusahaan atau perseroan pada tahun 2019 tercatat sebanyak Rp26,26 miliar. Angka tersebut turun 98,56 persen jika dihitung secara tahunan. Adapun salah satu daripada pemicunya adalah penurunan arus kas penerimaan dari pelanggan proyek.

Meski begitu, alasan membeli saham WSBP tahun ini adalah karena laba yang dicatatkan perseroan pada tahun lalu tercatat telah mengalami koreksi yang cukup dalam jika kamu bandingkan dengan periode sebelumnya.

Dengan begitu, maka laba bersih per akhir 2019 tercatat berada pada level Rp806,14 miliar atau turun sebanyak 26,94 persen jika dihitung secara tahunan.

Maka dari itu, perusahaan menjelaskan bentuk penurunan laba tersebut yang diketahui disebabkan oleh lebih banyaknya proyek-proyek eksternal yang mulai dikerjakan pada tahun 2019. Menurutnya, bentuk daripada kontrak eksternal akan memberikan margin laba yang jauh lebih rendah jikalau dibandingkan dengan kontrak internal.

Adapun untuk rencana ekspansi bisnis perusahaan pada tahun ini, perseroan berencana akan melakukan penganggaran dalam melakukan belanja modal sekitar Rp390 miliar di tahun ini. Tentunya jumlah ini akan tercatat memiliki nilai yang lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi belanja modal pada tahun 2019 yang berhasil mencapai nominal Rp925,75 miliar.

Perusahaan juga memastikan dana untuk alokasi tahun 2020 dianggarkan lebih rendah atau dengan kata lain disesuaikan dengan nominal daripada kebutuhan perseroan yang tercatat tidak banyak dalam membangun proyek atau pabrik baru seperti yang dilakukan selama dua tahun yang lalu.

Perseroan atau perusahaan juga akan lebih mengambil fokus pada penyelesaian dari beberapa pabrik yang turut serta dalam melakukan pengembangan infrastruktur informasi dan juga teknologi.

Artikel Terkait