7 Hal yang Perlu Diketahui tentang Exchange Traded Fund (ETF)

Ajaib: check marks

Exchange Traded Fund (ETF) pertama kali digulirkan oleh State Street Global Advisors pada 1993. Sejak itu popularitas ETF terus tumbuh dan mengumpulkan aset dengan kecepatan yang tinggi. Apakah yang dimaksud ETF?

# Definisi ETF

ETF adalah reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Dengan kata lain, ETF adalah sebuah produk investasi yang menggabungkan dua karakteristik produk yaitu reksa dana berbentuk terbuka (open ended fund) dan saham (common stock).

# Kategori ETF

ETF dibagi menjadi dua kategori, yaitu ETF aktif dan pasif. ETF aktif adalah ETF yang dikelola secara aktif oleh Manajer Investasi berdasarkan kriteria dan pemilihan efek yang ditentukan oleh MI sehingga kinerja ETF bergantung kepada kinerja Manajer Investasi tersebut.

ETF pasif adalah ETF yang dikelola secara pasif dengan pemilihan efek mengacu kepada suatu indeks tertentu sehingga kinerjanya merupakan cerminan dari kinerja dari indeks acuan tersebut.

# Mekanisme Transaksi ETF

Transaksi jual beli ETF dapat dilakukan dengan dua cara, melalui pasar primer dan sekunder. Pada pasar primer, pemodal membeli dan menjual kembali unit penyertaan ETF kepada Manajer Investasi dalam satuan unit kreasi. Satu unit kreasi setara dengan 100.000 unit penyertaan. Mekanisme ini berlaku untuk transaksi yang nominalnya besar.

Sedikit berbeda dengan harga pertama reksa dana yang selalu dimulai dari 1.000, harga pertama ETF bisa dimulai pada harga berapa pun. Umumnya Manajer Investasi akan membuat harga pertama reksa dana sama dengan indeks acuan sehingga memudahkan pemantauan perbandingan dengan indeks acuan.

Sedangkan pada pasar sekunder, investor dapat membeli dan menjual unit penyertaan ETF dalam satuan lot. 1 lot setara dengan 500 unit penyertaan melalui Bursa Efek Indonesia. Transaksi ini dikhususkan kepada investor retail yang nilai transaksinya relatif lebih kecil. Dengan kata lain, investor membeli ETF tidak dari Manajer Investasi akan tetapi dari investor lain yang memiliki ETF pada harga dan jumlah yang disepakati.

Kelemahan dari mekanisme jual beli di pasar sekunder adalah jika tidak ada permintaan dan penawaran yang sesuai maka transaksi tidak akan terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, terdapat pihak yang disebut dealer partisipan.

Dealer partisipan adalah perusahaan sekuritas yang menjadi penyedia likuiditas untuk ETF. Mereka merupakan pihak yang bertindak sebagai pembeli dan penjual apabila tidak ada permintaan dan penawaran yang cukup. Dealer partisipan akan memasukkan order permintaan dan penawaran pada harga pasar sehingga investor tidak kesulitan untuk membeli atau menjual ETF pada bursa efek.

# ETF vs Reksa Dana

Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. Berikut beberapa perbedaan ETF dengan Reksa Dana konvensional:

Pengawasan ETF dilakukan oleh tiga pihak, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Di Asia Pasifik sendiri, jumlah ETF terbesar berada di Korea Stock Exchange dengan jumlah sebanyak 315 ETF. Sampai saat ini, ETF yang tercatat di IDX adalah 14 ETF.

# Fleksibilitas ETF

Dalam hal perdagangannya, ETF menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan reksa dana. Proses jual beli ETF langsung terjadi antara investor dan manajemen investasi. Sedangkan pada reksa dana, investor bertransaksi harus melalui manajer investasi yang akan melakukan transaksi dengan manajemen investasi tersebut.

Harga reksa dana juga ditetapkan pada akhir hari perdagangan, ketika Nilai Aktiva Bersih (NAB) ditetapkan. Sebagai perbandingan, ETF dibentuk (subscribed) atau ditarik (redeemed) dalam jumlah lot yang besar oleh investor institusional dan saham ETF diperdagangkan sepanjang hari itu antar investor sepanjang hari itu layaknya saham biasa.

# Diversifikasi Portofolio

Keuntungan lain berinvestasi ETF adalah adanya diversifikasi portofolio. Misalnya seorang investor membeli indeks ETF LQ 45. Indeks LQ45 adalah perhitungan dari 45 saham, yang diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan.

Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas saham-saham tersebut mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Indeks LQ 45 berisi 45 saham yang disesuaikan setiap enam bulan (setiap awal bulan Februari dan Agustus). Jadi dengan membeli indeks ETF LQ 45, secara otomatis investor tersebut memiliki sebuah portofolio yang terdiri dari 45 saham.

# Likuiditas ETF

ETF juga relatif likuid karena likuidasinya ditentukan oleh likuiditas dari saham-saham yang termasuk ke dalam produk ETF tersebut. Likuiditas biasanya diukur dari volume transaksi saham yang diperdagangkan per hari. Saham-saham yang sedikit sekali diperdagangkan dianggap tidak likuid dan mempunyai selisih harga (spread) dan volatilitas yang tinggi.

Ketika hanya sedikit sekali peminat dan volume yang diperdagangkan, spread meningkat, sehingga pembeli harus membayar dengan harga premium dan memaksa penjual memberi diskon untuk mengamankan penjualan. Sedangkan ETF terlindung dari masalah tersebut. Likuiditas ETF tidak berhubungan dengan volume perdagangan ETF harian, namun lebih terpengaruh oleh likuiditas saham yang termasuk dalam produk ETF tersebut.

ETF maupun reksa dana merupakan pilihan bagi investor. Namun, dengan tersedianya reksa dana dan ETF di pasar, penting bagi investor untuk untuk memahami perbedaan produk-produk tersebut untuk memastikan pilihan investasi yang tepat.

Share to :
Tags: , , ,
Artikel Terkait