7 Hal Dasar Tentang Exchange Traded Fund (ETF)

Ajaib: check marks

Dunia investasi sangat luas dan butuh banyak waktu untuk memahami seluk beluknya apalagi bagi investor pemula. Hal mendasar mulai dari jenis instrumen investasinya, potensi keuntungannya maupun indeks yang dijadikan acuan suatu instrumen keuangan dianggap menjanjikan dan masih banyak hal lainnya. Dalam soal investasi reksa dana juga serupa, termasuk soal Exchange Traded Fund (ETF) yang masih belum banyak diketahui orang awam.

Apakah kamu termasuk investor reksa dana yang belum tahu soal ETF? Kalau belum paham, jangan khawatir karena Ajaib akan mengulasnya dengan lengkap dan jelas hanya untukmu.

Sebagai permulaan, Exchange Traded Fund (ETF) pertama kali digulirkan oleh State Street Global Advisors pada 1993.Keberadaannya kemudian menyebar luas di seluruh Benua Amerika dan Eropa hingga tahun 2000. ETF kemudian eksis dan mulai diperdagangakan di Bursa Efek Indonesia pada 2007 dengan indeks yang dijadikan underlying yaitu Indeks LQ45.

Sejak itu popularitasnya terus tumbuh dan mengumpulkan asset management dengan kecepatan yang tinggi. Secara umum, besaran dana kelolanya memang naik secara impresif di seluruh dunia. Hal yang sama juga berlaku di Indonesia sehingga menarik minat investor di Indonesia. Karena itu, ada baiknya kamu memahami apa sebenarnya ETF dan potensi keuntungan di baliknya.

Apakah yang dimaksud ETF? Berikut adalah 7 hal yang perlu kamu ketahui soal produk keuangan ini.

Hal yang Harus Diketahui Soal ETF

  • Definisi

ETF adalah reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek. Dengan kata lain, ini adalah sebuah produk investasi yang menggabungkan dua karakteristik produk yaitu reksa dana berbentuk terbuka (open ended fund) dan saham (common stock).

  • Kategori

ETF dibagi menjadi dua kategori, yaitu aktif dan pasif. ETF aktif adalah yang dikelola secara aktif oleh Manajer Investasi berdasarkan kriteria dan pemilihan efek yang ditentukan oleh MI sehingga kinerjanya bergantung kepada kinerja Manajer Investasi tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dengan ETF pasif yaitu dikelola secara pasif. Peilihan efeknya mengacu kepada suatu indeks tertentu sehingga kinerjanya merupakan cerminan dari kinerja indeks acuan tersebut.

  • Mekanisme Transaksi

Transaksi jual belinya dapat dilakukan dengan dua cara, melalui pasar primer dan sekunder. Pada pasar primer, pemodal membeli dan menjual kembali unit penyertaannya kepada Manajer Investasi dalam satuan unit kreasi. Satu unit kreasi setara dengan 100.000 unit penyertaan. Mekanisme ini berlaku untuk transaksi yang nominalnya besar.

Sedikit berbeda dengan harga pertama reksa dana yang selalu dimulai dari 1.000, harga pertama ETF bisa dimulai pada harga berapa pun. Umumnya Manajer Investasi akan membuat harga pertama reksa dana sama dengan indeks acuan sehingga memudahkan pemantauan perbandingan dengan indeks acuan.

Harga pertama ETF bisa dimulai pada harga berapa pun. Umumnya Manajer Investasi akan membuat harga pertama reksa dana sama dengan indeks acuan sehingga memudahkan pemantauan perbandingan dengan indeks acuan.

Sedangkan pada pasar sekunder, investor dapat membeli dan menjual unit penyertaan ETF dalam satuan lot. 1 lot setara dengan 500 unit penyertaan melalui Bursa Efek Indonesia. Transaksi ini dikhususkan kepada investor retail yang nilai transaksinya relatif lebih kecil. Dengan kata lain, investor membeli ETF tidak dari Manajer Investasi akan tetapi dari investor lain yang memiliki ETF pada harga dan jumlah yang disepakati.

Kelemahan dari mekanisme jual beli di pasar sekunder adalah jika tidak ada permintaan dan penawaran yang sesuai maka transaksi tidak akan terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, terdapat pihak yang disebut dealer partisipan

Dealer partisipan adalah perusahaan sekuritas yang menjadi penyedia likuiditas untuk ETF. Mereka merupakan pihak yang bertindak sebagai pembeli dan penjual apabila tidak ada permintaan dan penawaran yang cukup. Dealer partisipan akan memasukkan order permintaan dan penawaran pada harga pasar sehingga investor tidak kesulitan untuk membeli atau menjual ETF pada bursa efek.

  • ETF vs Reksa Dana

Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana karena produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. Meski demikian, ada perbedaaan yang cukup signifikan antara reksa dana konvensional dengan ETF ditinjau dari berbagai faktor. Perbedaannya sangat penting sebagai pertimbangan investor dalam memilih untuk beinvestasi pada kedua instrumen ini.

Berikut perbedaan antara keduanya:

Pengawasan transaksinya dilakukan oleh tiga pihak, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Di Asia Pasifik sendiri, jumlah terbesar berada di Korea Stock Exchangen dengan jumlah sebanyak 315 ETF. Sampai saat ini, ETF yang tercatat di IDX adalah 14 ETF

  • Fleksibilitas

Dalam hal perdagangann, fleksibilitasnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan reksa dana konvensional. Proses jual belinya juga langsung terjadi antara investor dan manajemen investasi. Sedangkan pada reksa dana, investor bertransaksi harus melalui manajer investasi yang akan melakukan transaksi dengan manajemen investasi tersebut.

Sementara harga reksa dana juga ditetapkan pada akhir hari perdagangan, ketika Nilai Aktiva Bersih (NAB) ditetapkan. Sebagai perbandingan, ETF dibentuk (subscribed) atau ditarik (redeemed) dalam jumlah lot yang besar oleh investor institusional dan saham ETF diperdagangkan sepanjang hari itu antar investor sepanjang hari itu layaknya saham biasa.

  • Diversifikasi Portofolio

Keuntungan lainnya dari model reksa dana ini adalah adanya diversifikasi portofolio. Misalnya seorang investor membeli indeks ETF LQ 45. Indeks LQ45 adalah perhitungan dari 45 saham, yang diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan.

Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas saham-saham tersebut mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Indeks LQ 45 berisi 45 saham yang disesuaikan setiap enam bulan (setiap awal bulan Februari dan Agustus). Jadi dengan membeli indeks ETF LQ 45, secara otomatis investor tersebut memiliki sebuah portofolio yang terdiri dari 45 saham.

  • Likuiditas

ETF merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup likuid. Hal ini karena likuidasinya ditentukan oleh likuiditas dari saham-saham yang termasuk ke dalam produk tersebut. Likuiditas biasanya diukur dari volume transaksi saham yang diperdagangkan per hari. Saham-saham yang sedikit sekali diperdagangkan dianggap tidak likuid dan mempunyai selisih harga (spread) dan volatilitas yang tinggi.

Ketika hanya sedikit sekali peminat dan volume yang diperdagangkan, spread meningkat, sehingga pembeli harus membayar dengan harga premium dan memaksa penjual memberi diskon untuk mengamankan penjualan. Sedangkan reksa dana ini terlindung dari masalah tersebut. Likuiditasnya tidak berhubungan dengan volume perdagangan hariannya, namun lebih terpengaruh oleh likuiditas saham yang termasuk dalam produk tersebut.

ETF maupun reksa dana merupakan pilihan bagi investor. Namun, dengan tersedianya dua instrumen keuangan ini di pasar, penting bagi investor untuk untuk memahami perbedaan produk-produk tersebut untuk memastikan pilihan investasi yang tepat.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait