Tren Masih Positif, Ini Mengapa Investasi di Reksa Dana Tak Pernah Rugi

Menguatnya pasar obligasi memberikan dampak positif bagi kinerja reksa dana di sisa tahun 2019. Tentu hal ini sulit dipercaya, tapi pasar modal Tanah Air masih bergerak ke arah tren yang positif.

Seperti dikutip dari Kontan, Direktur Batavia Prosperindo Yulius Manto mengatakan, masa depan reksa dana terproteksi di empat bulan sisa tahun 2019 masih aman terkendali. Hal ini karena fitur dividen (pembagian laba keuntungan) yang ditawarkan reksa dana masih bisa diterima nasabah secara reguler.

Belum lagi ditambah dengan harga obligasi yang memiliki potensi upside (perkiraan peningkatan nilai saham di masa depan). Sentimen positif dari ekspektasi penurunan suku bunga acuan akan berdampak positif terhadap obligasi maupun saham.

Dengan begitu, obligasi menjadi semakin menarik, karena hubungan langsung antara yield (persentase keuntungan) dan suku bunga mampu mendorong harga obligasi untuk terus bergerak naik.

Tentunya, produk reksa dana yang masih terproteksi menjadi hal yang menarik di pasar investasi. Dengan kebutuhan masyarakat yang tinggi, dividennya tetap membuat investor bisa menerima arus kas, meski kondisi pasar sedang naik atau turun.

Seperti diketahui, ada banyak jenis reksa dana yang bisa kamu kenal, seperti Reksa Dana Saham, Reksa Dana Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Pasar Uang, yang masih bebas pajak atau mendapat relaksasi pajak nol persen. Semua jenis reksa dana tersebut masih menarik di pasar.

Berdasarkan data yang kami kutip dari Infovesta Utama per tanggal 31 Juli 2019, rata-rata kinerja reksa dana saham berada di angka 3,13%sejak awal tahun. Sedangkan kinerja reksa dana jenis lain, seperti rata-rata kinerja reksa dana campuran berhasil tumbuh 4,04% di periode yang sama dan rata-rata kinerja reksa dana pasar uang tumbuh 3,05%. Sementara rata-rata kinerja reksa dana pendapatan tetap naik 6,36%.

Salah satu produk reksa dana saham yang unggul adalah reksa dana HPAM Smart Beta Ekuitas, yang berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja sebesar 15,38% lebih unggul dari kinerja IHSG yang tumbuh 3,16% hingga Juli 2019.

Belum lagi, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan baru saja memberi kabar bahagia bagi investor pemula yang ingin mencoba berinvestasi di reksa dana. Otoritas pajak memberlakukan tarif pajak nol persen bagi para investor reksa dana.

Rencana mengenai berinvestasi di reksa dana bebas pajak akan diberlakukan sampai tahun 2020. Setelah itu, tarif pajak bakal dikenakan hingga 10%. Tentunya, ini menjadi kesempatan emas bagi para investor muda dan investor pemula untuk memulai hal berguna.

Tarif pajak nol persen bagi investasi reksa dana ini seperti sebuah rangsangan dari pemerintah. Relaksasi yang diberikan otoritas pajak merupakan upaya untuk menjalankan visi misi pemerintah yang saat ini tengah memperkuat pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Karena hal itulah, berinvestasi di reksa dana masih sangat menjanjikan di pasar. Bahkan, pergerakan reksa dana ini terus mengarah ke sisi tren positif.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait