Saham

Tips Menjadi Analis Saham yang andal

Menjadi Analis Saham

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu menonton atau membaca ulasan pasar yang jitu dari analis saham yang andal dan ternama? Bila diperhatikan, mereka mampu merekomendasikan saham dan menentukan target harga yang tepat.

Tak banyak orang yang dapat menghadirkan analisis seperti itu. Tapi, kalau kamu sudah memutuskan untuk menjadi seorang investor saham, ada baiknya kamu mempertimbangkan untuk mencari cara menjadi analis saham sendiri.

Ada analis saham sungguhan dan ada analis saham abal-abal. Kalau kamu mampu menganalisis saham sendiri, kamu takkan terhanyut pada bujuk rayu analis abal-abal. Inilah pentingnya memahami cara menjadi analis saham.

Walaupun hasil analisismu tidak akan dibagikan kepada orang lain, setidaknya dapat membantumu menemukan saham-saham unggulan tanpa perlu bergantung pada opini orang lain.

Artikel ini akan mengulas tentang dasar-dasar analisis saham dan bagaimana cara menjadi analis saham sendiri. Analisis saham dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa perlu latar belakang pendidikan tinggi khusus di bidang ekonomi dan keuangan.

Mampu Menggali Info Korporat dan Mampu Membaca Laporan Keuangan

Analis saham biasanya berfokus dulu pada suatu industri atau sektor saham. Contohnya industri perbankan, industri rumah sakit, sektor Consumer Goods, sektor Tambang, dll. Selanjutnya mereka akan melakukan analisis komparatif untuk memilah saham mana yang tergolong unggulan dalam sektor tersebut. Setelah menemukan satu atau beberapa saham unggulan, mereka akan menginvestigasi seluk-beluk emiten yang menerbitkan tersebut.

Bahan-bahan investigasi mencakup laporan keuangan, pemberitaan media, dan beragam informasi perusahaan yang dapat diakses publik. Analis saham tidak akan menerima info begitu saja, melainkan melakukan cross-check untuk memastikan info berasal dari sumber yang valid dan kredibel.

Ada analis yang menyelidiki juga pangsa pasar, pesaing, hingga supplier yang berkaitan dengan emiten pilihannya. Konon ada pula analis yang sampai mengunjungi perusahaan untuk mengetahui budaya korporatnya. Semua ini tidak wajib dilakukan. Namun analis saham perlu penyelidikan menyeluruh hingga menemukan gambaran penuh tentang satu atau beberapa emiten pilihannya.

Kalau masih pemula, ada baiknya kamu meriset beberapa saham dalam satu industri tertentu dulu. Proses riset akan memakan waktu lama. Berfokuslah untuk menggali informasi sedalam mungkin dari emiten-emiten unggulan dalam satu industri. Setelah memahami prosesnya dan mampu merancang metodologi analisis sendiri, kamu dapat mempertimbangkan untuk meriset industri atau sektor saham lain.

Kamu juga dapat membandingkan ulasan dari beberapa analis saham ternama. Ulasan mereka biasanya sarat dengan informasi bermanfaat dan insight yang belum dimiliki pemula. Opini setiap analis tentang suatu emiten bisa jadi berbeda. Perbedaan itu wajar saja. Yang penting, fakta-fakta terkait info korporat dan laporan keuangan emiten semestinya senada.

Analis Saham yang Andal Mampu Merancang Metodologi Analisis Saham

Ada analis saham yang menggunakan pendekatan top-down untuk mencapai simpulan terkait suatu saham. Pendekatan ini dimulai dari meriset suatu industri, baru kemudian memilih saham unggulan. Tapi ada pula yang menggunakan pendekatan bottom-up. Pendekatan kedua ini dilakukan dengan meriset suatu perusahaan dulu, kemudian baru menengok para pesaing dan outlook industrinya.

Pendekatan mana yang lebih baik? Keduanya sama-sama baik. Kamu juga bisa merancang metodologi analisis sendiri. Sebagai analis saham yang andal, yang terpenting ialah proses analisis harus mencakup tujuh hal berikut ini:

  1. Analisis industri atau sektoral: Kamu dapat memeriksa laporan keuangan dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang yang sama guna mengetahui outlook industri atau sektoral. Selain itu, kamu mungkin bisa menilik laporan pemerintah, bank sentral, atau asosiasi industri terkait (jika tersedia).
  2. Analisis keuangan: Kalau ingin jadi analis saham, kamu wajib mengetahui cara membaca rincian neraca, cash flow, dan segala pernak-pernik laporan keuangan lain. Kamu juga tidak boleh mudah menerima angka-angka di atas kertas sebagai fakta. Kadang-kadang emiten “berbohong” dalam simpulan akhirnya, tetapi rincian di dalamnya akan mengungkap kejanggalan yang ditutup-tutupi itu.
  3. Analisis model bisnis: Setiap industri atau sektor pasti memiliki perusahaan besar dan perusahaan berskala lebih kecil. Tapi kekuatan perusahaan bukan hanya terlihat dari laporan keuangan saja. Kekuatan perusahaan juga bisa bersumber dari identitas merek, produk, segmentasi konsumen, kualitas layanan pelanggan, dan lain sebagainya.
  4. Analisis manajemen perusahaan: Kinerja setiap perusahaan ditentukan oleh manajemennya. Inilah alasan mengapa nama-nama eksekutif top setiap emiten wajib dipublikasikan. Kamu pun dapat meninjau kualitas manajemen emiten dengan meriset latar belakang dan reputasi para eksekutifnya.
  5. Analisis prospek pertumbuhan: Harga saham umumnya mengikuti pertumbuhan income perusahaan. Jadi, kamu perlu mengevaluasi prospek pertumbuhan ke depan untuk menemukan saham-saham terbaik. Ada analis yang melakukannya dengan membuat proyeksi berdasar pertumbuhan penjualan dan margin profit pada periode-periode sebelumnya. Ada pula yang membandingkannya dengan prospek pertumbuhan industri atau sektor di mana saham itu berada.
  6. Valuasi saham: Valuasi saham umumnya dipergunakan untuk menentukan saham mana yang masih murah dan saham mana yang sudah mahal. Tidak ada rumus baku untuk menyusun valuasi ini. Ada investor yang menilik rasio PE, PBV, EPS, dividen yield, dan masih banyak lagi. Setiap analis saham bisa memiliki preferensi sendiri dari beragam rumus yang sudah ada maupun menciptakan rumus baru.
  7. Analisis target harga: Ini biasanya menjadi langkah terakhir dalam proses analisis saham. Analis saham akan memperhitungkan harga saham kelak akan mencapai target tertinggi dan terendah pada level berapa, sesuai dengan ekspektasi pendapatannya. Ada yang melakukannya dengan memanfaatkan analisis teknikal. Ada pula yang mengalikan estimasi EPS dengan estimasi rasio PE tertinggi dan terendah. Kamu juga bisa membuat rumusan sendiri.

Artikel Terkait