Saham

Strategi Keluar Ketika Harga Saham “Nyangkut”

Strategi keluar dari saham nyangkut

Ajaib.co.id – Kadangkala portofolio saham yang kita miliki terus turun dalam kurun waktu yang lama sehingga disebut saham “nyangkut”. Penyebabnya tentu bermacam-macam. Bisa karena beli saham tanpa rencana trading yang matang, salah membeli saham, atau menunda menjual saham atau cut loss.

Apa pun alasannya, saham nyangkut menghadirkan dilema bagi investor maupun trader. Pertanyaan utamanya, bagaimana strategi keluar dari saham nyangkut? Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi ini, antara lain:

  • Average Down setelah Harga Mencapai Level Support

Average down merupakan strategi keluar dari saham nyangkut yang paling populer. Average down pada dasarnya dilakukan dengan cara membeli saham lagi pada harga lebih rendah, sehingga harga rata-rata saham dalam portofolio pun semakin menurun.

Apabila harga rata-rata saham dalam portofolio berkurang, investor bisa lebih cepat melepas kembali saham tersebut kelak jika harganya naik lagi. Tapi, cara melakukan average down pun bermacam-macam. Yang pertama, average down setelah harga mencapai level support.

Umpama investor A sudah memiliki saham bank Jatim (BJTM) pada harga Rp580 sebanyak 50 lot (5000 lembar saham). Tapi harga saham BJTM kemudian jatuh. Investor A akan menengok grafik harga historis BJTM untuk mengetahui level-level support dan resistance BJTM. Ia menemukan bahwa level support BJTM terakhir berada pada Rp500. Oleh karena itu, ia akan menunggu hingga harga jatuh sampai Rp500. Selanjutnya ia akan membeli 50 lot lagi pada Rp500 untuk average down BJTM.

Dengan cara ini, ia berhasil menurunkan rata-rata harga saham BJTM dalam portofolionya:

Pembelian saham kloter pertama 5000×580=Rp2.900.000

Pembelian saham kloter kedua 5000×500=Rp2.500.000

Harga rata-rata akhir=(Rp2.900.000+Rp5.000.000)/10000=Rp527 per lembar saham

Selanjutnya, investor A cukup menunggu hingga harga saham BJTM naik lagi sampai mencapai target profit baru yang lebih tinggi dari Rp527. Pada saat itu, ia bisa menjual kembali sahamnya dengan tetap profit. Seandainya harga saham BJTM masih turun lagi ke bawah Rp500, ia akan menengok grafik untuk mengetahui level support berikutnya di mana average down dapat dilakukan lagi.

Strategi ini dapat dilakukan dengan tiga syarat. Pertama, saham nyangkut itu punya prospek bagus atau rajin bagi-bagi dividen. Kedua, kamu sudah memahami konsep level support-resistance dan mampu menganalisis teknikal. Ketiga, kamu memiliki anggaran investasi memadai untuk membeli saham lagi.

  • Average Down dengan Martingale

Strategi average down kedua yang juga sering dipilih adalah dengan martingale. Strategi ini menuntut trader untuk membeli saham lagi dengan jumlah lot dua kali lipat dari lot awal, setiap kali harga turun sekian persen atau hingga level tertentu.

Contohnya trader B sudah memiliki saham bank Jatim (BJTM) pada harga Rp580 sebanyak 50 lot (5000 lembar saham). Tapi harga saham BJTM kemudian jatuh. Trader B berniat untuk average down dengan martingale setiap kali harga turun 40 poin. Hasilnya, ia dapat menurunkan harga rata-rata dengan cara berikut ini:

Pembelian saham kloter pertama 5000×580=Rp2.900.000

Pembelian saham kloter kedua 10000×540=Rp5.400.000

Pembelian saham kloter ketiga 20000×500=Rp10.000.000

Harga rata-rata akhir=(Rp2.900.000+Rp5.400.000+Rp10.000.000)/35000=Rp523 per lembar saham

Martingale akan sangat menguntungkan jika emitennya bagus dan trader yakin target profit awal bakal tercapai. Umpama sang trader B tadi yakin harga saham BJTM tetap akan naik sampai Rp700-an sekalipun harga saham sempat turun ke bawah Rp580, ia akan memperoleh keuntungan berlipat ganda saat prediksinya terwujud. Sekalipun harga tak mencapai target itu, trader tetap bisa ambil untung ketika BJTM naik ke harga berapapun di atas Rp523. Apalagi kalau BJTM rajin bagi dividen.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu diwaspadai oleh semua trader dan investor: Martingale merupakan salah satu teknik trading forex yang diadopsi dari strategi para penjudi Eropa. Risikonya sangat tinggi dan membutuhkan persediaan modal yang lebih besar dibanding beragam strategi lain dalam daftar ini. Trader bahkan menghadapi risiko bangkrut jika harga saham merosot terus sampai gocap.

  • Cut Loss Total

Tahukah Anda, apa penyebab terjadinya sebagian besar saham nyangkut? Itu adalah keengganan investor dan trader untuk cut loss (jual rugi). Jadi, solusi paling simpel untuk keluar dari saham nyangkut adalah melakukan cut loss meskipun hal ini berlawanan dengan insting.

Ketika harus cut loss, kita menghadapi dua tantangan psikis utama. Pertama, tantangan untuk mengakui bahwa kita melakukan kesalahan saat membeli saham nyangkut itu. Kedua, tantangan untuk menerima konsekuensi kesalahan yang bisa jadi berupa kerugian hingga ratusan ribu atau jutaan rupiah.

Butuh keberanian mental untuk melakukan cut loss. Tapi, kadang-kadang cut loss total merupakan satu-satunya opsi strategi yang tersisa. Khususnya jika saham itu jelas-jelas gorengan, perusahaan pailit, atau tertangkap basah melakukan pelanggaran hukum berat hingga terpaksa menghentikan operasional.

Ketika kamu telanjur membeli saham yang punya masa depan suram, maka solusi terbaik justru cut loss total. Lebih baik membatasi kerugian daripada rugi lebih besar lagi. Toh, sisa dana investasimu masih bisa menghasilkan keuntungan kalau diinvestasikan pada saham yang lebih berkualitas. Jangan sekali-kali melakukan average down pada saham-saham jelek.

Sudah tidak bisa jual saham karena tidak ada yang nge-bid di pasar reguler? Tak perlu khawatir, karena kamu masih bisa jual saham di pasar negosiasi. Harga saham di pasar negosiasi biasanya lebih rendah dibanding harga saham pasar reguler. Tapi setidaknya, kamu bisa mendapatkan kembali sebagian uangmu untuk diinvestasikan pada saham lain.

  • Cut Loss Bertahap

Kalau kamu tidak mampu memantapkan diri untuk cut loss total, maka opsi selanjutnya adalah cut loss bertahap. Cut loss bertahap ini merupakan kebalikan dari average down, karena kamu akan menjual saham dalam jumlah tertentu setiap kali harganya turun ke level tertentu.

Contohnya trader C sudah memiliki saham bank Jatim (BJTM) pada harga Rp580 sebanyak 50 lot. Tapi harga saham BJTM kemudian jatuh. Trader C berniat untuk cut loss bertahap setiap kali harga saham jatuh 100 poin. Jadi, ia akan mempertahankan (hold) saham BJTM selama harganya masih di atas Rp480. Kalau harga saham sampai jatuh ke Rp480, ia bakal menjual 25 lot. Dan jika saham jatuh lagi sampai Rp380, ke-25 lot sisanya bakal dijual juga.

  • Cut Loss Parsial dan Trading

Strategi cut loss total dan cut loss bertahap cocok untuk saham-saham yang tidak bermutu. Tapi, bagaimana jika saham nyangkut milikmu itu termasuk dalam indeks LQ45 yang memiliki fundamental cukup baik? Kalau kamu punya persediaan modal investasi melimpah, lakukanlah average down. Kalau kamu tidak punya persediaan modal investasi tambahan, lakukanlah cut loss parsial dan trading.

Contohnya trader D sudah memiliki saham bank Jatim (BJTM) pada harga Rp580 sebanyak 50 lot. Tapi harga saham BJTM malah jatuh sampai Rp480, kemudian bergerak naik-turun saja antara 480-520 (sideways). Trader D menyiasati situasi pelik ini dengan menjual 25 lot saham BJTM (cut loss parsial), kemudian menggunakan dana hasil penjualan itu untuk trading saham yang sama. Ia akan membeli saham BJTM setiap kali harga jatuh ke Rp480, kemudian menjualnya pada harga Rp520. Demikian terus menerus selama pergerakan harga saham masih sideways.

Strategi ini memungkinkan trader D menutup rugi opportunity cost yang timbul sebagai akibat dari saham nyangkut, sekaligus memperoleh keuntungan ketika kelak harga saham naik kembali sesuai prediksi. Namun, kamu harus memastikan dulu bahwa emiten yang menerbitkan saham itu benar-benar likuid dan berkualitas.

Nah, strategi mana yang akan kamu pilih diantara kelima opsi ini? Sebelum memutuskan, lakukanlah evaluasi terhadap fundamental saham nyangkut milikmu serta kondisi keuanganmu sendiri. Strategi keluar dari saham nyangkut akan sangat ditentukan oleh prospek emiten dan stok modal setiap investor.

Artikel Terkait