Saham

Sektor Saham yang Aman di Segala Situasi (Part 1)

saham

Ajaib.co.id – Jika kamu bertanya apakah ada sektor saham yang aman di segala situasi maka Ajaib akan berikan kamu fakta mengenai sektor-sektor saham Indonesia selama sepuluh tahun terakhir.

Berdasarkan data fact sheet indeks yang didapat di situs IDX kami rangkumkan beberapa hal menarik untuk kamu ketahui. Diketahui ada 10 sektor yang menaungi kategori-kategori saham di bursa efek Indonesia, yaitu; sektor agri, pertambangan, industri dasar, barang konsumsi/consumer goods, properti, infrastuktur, keuangan, perdagangan, manufaktur. Berikut ulasannya;

Sektor Perkebunan (Agri)

Sektor perkebunan utamanya terdiri dari 10 saham-saham perkebunan dengan kapitalisasi pasar/marcap yang mewakili 91,94% indeks sektor agri di bursa yaitu;

(sumber: fact-sheet_20191230_25_agri di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Anak usaha dari grup Astra yaitu AALI memiliki bobot terbesar dalam sektor Agri dengan kapitalisasi pasar/marcap sebesar 28,05 Triliun rupiah atau sebesar 30% bobot dari indeks Agri. Lalu berturut-turut diikuti oleh SMAR dan LSIP. Selama sepuluh tahun dari 2009 hingga 2019 sektor ini justru melemah 13,04% sedangkan IHSG naik sebanyak 148,57%. Perhatikan grafik di bawah ini;

(sumber: fact-sheet_20191230_25_agri di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Sektor perkebunan secara umum kurang menarik sebagai investasi jangka panjang. Kamu bisa lihat IHSG dan sektor agri tidak selaras sejak tahun 2012. Ketika secara umum saham-saham menghasilkan keuntungan dan naik secara positif, sektor ini malah melemah. Ketika secara umum ekonomi melemah di 2015, sektor agri/perkebunan semakin melemah lagi. Sekarang kita bisa mengerti mengapa sektor ini kurang menarik bagi banyak orang.

Sektor agri memang mengalami banyak kendala karena perkebunan kelapa sawit banyak ditentang oleh negara-negara Eropa karena dinilai tidak ramah lingkungan. Harapan pada sektor agri terletak pada kebijakan konsumsi nasional B30 yang mewajibkan mencampur bahan bakar dengan biodiesel hasil penyulingan kelapa sawit. Kita bisa menemukan hasil olahan kelapa sawit di sekitar kita sehingga kita bisa yakin sektor ini akan terus hidup. Berikut adalah rangkuman return yang berikan sektor agri versus IHSG;

Perbandingan Pertumbuhan Tahunan Indeks 2012-2019

 20122013201420152016201720182019
IHSG12.90%-1.00%22.30%-12.10%15.30%20.00%-2.50%1.70%
Agri-3.90%3.70%9.90%-26.90%8.40%13.30%-3.20%-2.60%

Sejak 2012 hingga 2019 baru satu kali sektor agri mengalahkan IHSG yaitu pada tahun 2013. Pada saat itu IHSG membukukan pengembalian sebesar minus 1%, di tahun yang sama sektor perkebunan malah menghasilkan pengembalian positif sebesar 3,7%.

Jika kamu tertarik berinvestasi di saham-saham kalapa sawit, baiknya kamu memantau harga komoditas CPO (Crude Palm Oil/Minyak Sawit Mentah) di situs web Bursa Malaysia Derivatif. Sebagai investasi, sektor ini memiliki pengetahuan tersendiri untuk dipahami sebelum bisa diselami.  

Sektor Pertambangan

Sektor ini terdiri dari pertambangan batubara dan mineral (minerba) seperti emas, timah, nikel, bauksit dan lain sebagainya. Ada 10 saham pertambangan yang marcap-nya menguasai 74,26% dari keseluruhan indeks pertambangan, yaitu;

(Sumber: fact-sheet_20191230_26_mining di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Secara umum perusahaan batubara mendominasi sektor pertambangan dikarenakan adanya permintaan batubara yang besar sebagai sumber energi listrik dari dalam maupun luar negeri. Pelanggan utama batubara dalam negeri tentu saja adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan power plant lainnya.

Secara umum berinvestasi di komoditas pertambangan susah-susah gampang, cenderung mengikuti harga dasar acuan komoditasnya.

(Sumber: fact-sheet_20191230_26_mining di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Kamu bisa lihat dari grafik di atas bahwa secara umum kinerja sektor pertambangan minus 29,72% sedangkan IHSG plus 148,57% selama 10 tahun terakhir. Indeks sektor pertambangan didominasi oleh pertambangan batubara. Berinvestasi di sektor ini membutuhkan pengetahuan yang memadai tentang harga acuan komoditasnya, permintaan dan penawaran pasar.

Sayangnya meskipun ekonomis dari sisi biaya, batubara terancam masa depannya karena dinilai tidak ramah lingkungan. Untuk saat ini batubara masih akan terus digunakan karena alternatif energi lainnya seperti gas alam terlalu mahal untuk bisa menggantikan batubara.

Kita mengetahui bahwa Lo Kheng Hong, investor ternama Indonesia, membukukan keuntungan raksasa dari saham-saham pertambangan yang dibelinya saat harganya jatuh di bawah harga wajarnya di awal tahun 2016. Beliau menangguk keuntungan berikutnya di tahun 2017 dan 2018. Misalnya saja saham PT. Indika Energy (INDY) yang dibelinya di harga Rp50 dan dijualnya kembali di harga lebih dari Rp2000 per lembar saham.

Namun beliau juga bisa salah menilai ketika membeli saham PT. BUMI Resources (BUMI). Beliau melepasnya dalam keadaan merugi. Kamu memang perlu sedikit agresif untuk bisa menguasai trik investasi di sektor ini.

Yang nampak menarik dari sektor pertambangan adalah kenyataan bahwa Indonesia kaya akan sumber nikel yang banyak dibutuhkan dalam pembuatan baterai untuk kendaraan-kendaraan listrik. Diprediksi permintaan kendaraan listrik di masa depan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan. Hal tersebut diprediksi akan mendorong permintaan nikel.

Perbandingan Pertumbuhan Tahunan Indeks 2012-2019

 20122013201420152016201720182019
IHSG12.90%-1.00%22.30%-12.10%15.30%20.00%-2.50%1.70%
Mining-26.40%-23.30%-4.20%-40.80%70.70%15.10%11.40%-12.80%

Tercatat dua kali sudah sektor pertambangan mengalahkan return IHSG yaitu pada tahun 2016 dan 2017. Selebihnya di tahun-tahun lainnya antara 2012 hingga 2019 sektor ini kurang menarik. Secara umum sektor ini tidak aman untuk para pemula karena membutuhkan pengetahuan yang cukup luas tentang hal-hal yang mempengaruhi laba perusahaan komoditas.

Jika kamu tertarik dengan sektor pertambangan terutama batubara, kamu hendaknya memperhatikan harga acuan dasarnya. Perusahaan batubara cenderung akan mengurangi produksi apabila harga acuannya menurun dan dengan begitu laba juga akan ikut menurun. Harga acuan yang dikehendaki oleh para penambang batubara adalah sedikitnya$60 hingga $80 per metrik ton. Ketika harga acuan berada di level $90 hingga $100 seperti di tahun 2018, kamu bisa lihat saham-saham batubara Berjaya.  Kamu bisa cek Harga Acuan Batubara harian di situs seperti investing atau barchart.

Pastinya berinvestasi di saham-saham pertambangan memerlukan kejelian bukan hanya pada kinerja perusahaan tetapi juga pada industrinya secara menyeluruh.  

Sektor Industri Dasar

Jika kamu ingin membeli saham yang termasuk ke dalam sektor yang kerap mengungguli IHSG maka sektor industri dasar bisa menjadi pilihan kamu. Perusahaan-perusahaan milik Projogo Pangestu, yaitu Chandra Asri dan Barito Pacific, mendominasi 41,21% dari indeks sektor industri dasar.

Sektor ini terdiri dari industri kimia dasar, unggas, semen dan kertas. Berikut 10 besar perusahaan yang mewakili 88,70% indeks industri dasar;

(sumber: fact-sheet_20191230_27_basic-ind di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Industri ini menarik karena secara umum meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan permintaan masyarakat. Semakin tinggi pendapatan yang diwakilkan dengan angka Produk Domestik Bruto maka kita bisa mengharapkan akan ada permintaan plastik, semen dan unggas yang lebih besar. Kesadaran lingkungan untuk lebih banyak menggunakan kertas yang lebih mudah diurai alam juga turut mendorong permintaan kertas.

(sumber: fact-sheet_20191230_27_basic-ind di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Indeks industri dasar kerap mengungguli IHSG. Secara umum selama 2009 hingga 2019 sektor ini naik 257% jauh di atas return IHSG yang hanya 148,57%. Saham-saham penyusun sektor industri dasar seperti BRPT, TPIA, TKIM dan INKP kerap membuat takjub banyak orang terutama di tiga tahun belakangan ini.

BRPT dan TPIA paling menarik saat harga minyak dunia rendah. Hal itu dikarenakan bahan pokok dari produk kimia dasar berasal dari turunan minyak sehingga biaya pokok pendapatannya akan berkurang banyak ketika harga minyak rendah.

Jika kamu belum tahu, BRPT adalah induk dari TPIA. Pendapatan terbesar BRPT berasal dari TPIA sebagai anak usahanya. Kedua perusahaan ini dikuasai oleh Prajogo Pangestu. Harga minyak dunia yang sempat turun ke level $0 bahkan minus di awal tahun 2020 membuat usaha yang dimiliki oleh Prajogo ini untung besar dan mengantarkan beliau menjadi orang terkaya ketiga di Indonesia.

Saham-saham unggas seperti CPIN dan JPFA dalam sektor ini pun menarik. Saham-saham unggas memiliki kecenderungan untuk menguat setiap bulan ramadhan setiap tahunnya. Konsumsi ayam terutama meningkat di bulan ramadhan, tak terkecuali di masa pandemi corona seperti tahun ini.

Perbandingan Pertumbuhan Tahunan Indeks 2012-2019

 20122013201420152016201720182019
IHSG12.90%-1.00%22.30%-12.10%15.30%20.00%-2.50%1.70%
Basic-Ind29.00%-8.70%13.10%-25.00%32.00%28.10%24.00%14.40%

Dalam rentang waktu antara tahun 2012 hingga 2019 sudah lima tahun sektor ini outperform IHSG. Bisnis-bisnis dalam sektor ini cukup mudah untuk dipelajari dan cenderung mengungguli IHSG.

Sektor ini cukup aman karena merupakan sektor yang bertumbuh sehingga jika kamu membeli salah satu sahamnya di saat yang kurang baik juga tak mengapa karena secara jangka panjang cenderung terus naik. Untuk berinvestasi di saham-saham di sektor ini kamu hanya perlu memperhitungkan dari sisi kewajaran harganya, kamu sebaiknya pilih saham-saham di sektor industri dasar yang masih di bawah harga wajarnya.

Sektor Industri Lain-lain (Miscellaneous)

Sektor Industri Lain-lain utamanya terdiri dari industri otomotif dari hulu ke hilir, industry tekstil, popok dan pantyliner sekali pakai dan layanan keramahtamahan penerbangan. Berikut 10 besar perusahaan yang mewakili 90% indeks industry lain-lain;

(sumber: fact-sheet_20191230_28_misc-ind di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Kamu bisa menyebut sektor ini sebagai sektor Astra. Betapa tidak, PT. Astra Internasional dengan kapitalisasi pasar sebesar 280 triliun rupiah merupakan  75,49% dari keseluruhan sektor ini. Pergerakan sektor ini bisa kamu lihat di bawah ini;

(sumber: fact-sheet_20191230_28_misc-ind di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/)

Sektor ini cenderung stabil bergerak di kisaran tertentu, tidak tumbuh seperti IHSG dan LQ45. Jika ingin mendalami sektor ini maka kamu perlu mengenal PT. Astra Internasional (ASII) dengan lebih baik. ASII adalah perusahaan holding yang pendapatan utamanya berasal dari otomotif. Ekosistem otomotif dan value chain ASII sudah dibangun sejak lama di Indonesia. Mulai dari perakitan, penjualan, distribusi, penyediaan suku cadang, dan lainnya hingga layanan pasca penjualan seperti asuransi kendaraan. ASII menaungi merek seperti Lexus, Daihatsu, Isuzu, BMW, UD Truck dan Honda (kendaraan roda dua saja)

Perusahaan otomotif biasanya terpengaruh harga minyak dunia, namun tidak dengan ASII. ASII cukup kuat untuk bertahan dari tekanan persaingan usaha dan jatuh-bangunnya harga minyak dunia. Hal tersebut disebabkan oleh ragam usaha yang memberikan kontribusi pendapatan selain dari otomotif. ASII sebagai perusahaan holding, induk dari ratusan anak usaha juga menaungi perusahaan alat berat, yaitu UNTR, dan agribisnis, yaitu AALI yang mana keduanya cenderung terdampak positif saat harga minyak dunia naik.

Perbandingan Pertumbuhan Tahunan Indeks 2012-2019

 20122013201420152016201720182019
IHSG12.90%-1.00%22.30%-12.10%15.30%20.00%-2.50%1.70%
Misc- Ind1.90%-9.80%8.50%-19.10%29.60%0.80%1.00%-12.20%

Baru dua kali saja sektor ini mengalahkan IHSG yaitu pada tahun 2016 dan 2018. Ini adalah jenis investasi bersiklus yang kerap naik dan turun bergerak bolak-balik dalam rentang tertentu. Untuk bisa mendulang cuan di sektor ini kamu harus melakukan analisis mendalam untuk bisa masuk posisi saat sedang berada di bawah. Kamu akan menentukan kapan waktu terbaik untuk membeli sehingga bisa menjualnya ketika siklusnya sedang di atas.

Melakukan analisis seperti ini tidaklah mudah bagi pemula, namun tetap bisa dipelajari. Apakah sektor ini aman di segala situasi? Sektor ini bukanlah sektor yang bertumbuh, sektor ini berada dalam siklus sehingga jika kamu membeli saat siklusnya berada di puncak maka kamu akan merugi karena membeli di harga atas.

Dengan mengenali karakteristik tiap sektor kamu bisa lebih mengenal Indonesia dari sisi ekonomi dan membantu kamu memilih saham. Simak enam sektor lainnya di artikel selanjutnya!

Artikel Terkait