Ekonomi

Risiko Kredit : Pengertian, Jenis-jenis, dan Cara Mengelolanya

Risiko kredit
Risiko kredit

Ajaib.co.id – Risiko kredit menjadi sorotan seiring dengan lesunya kondisi perekonomian. Bahkan pemerintah menaruh perhatian lebih pada masalah ini dengan mengeluarkan kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit. Hal ini untuk meringankan para pelaku usaha agar dapat menyelesaikan masalah kreditnya.

Saat pandemi Covid-19, banyak usaha yang mengalami penurunan omset. Tidak sedikit usaha yang gulung tikar dan tidak mampu membiayai operasionalnya. Hal ini tentu berdampak kepada pembayaran kredit yang dilakukan. Banyak individu maupun perusahaan yang kesulitan untuk memenuhi kewajibannya membayar utang tepat waktu sebelum jatuh tempo.

Kreditur mau tidak mau juga akan mengalami kesulitan jika banyak kasus kredit macet. Risiko kredit memang selalu ada dan telah lama dibicarakan. Namun, kejadian krisis ekonomi merupakan hal yang berdampak besar. Perlu manajemen risiko kredit yang tepat agar kreditur juga mampu bertahan.

Sebenarnya, apa itu risiko kredit? Risiko kredit merupakan risiko kerugian yang dapat terjadi karena debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk membayar utang, baik utang pokok maupun bunga yang harus dibayarnya.

Risiko kredit akan selalu menyertai dalam proses pemberian kredit, baik kepada perusahaan maupun perorangan. Untuk lebih jelasnya tentang risiko kredit, kamu bisa menyimak uraian berikut ini tentang pengertian, jenis-jenis, dan manajemen risiko kredit.

Pengertian Risiko Kredit

Pengertian risiko kredit perlu kamu ketahui agar dapat memahami tentang risiko ini dan bisa mengelolanya dengan baik. Salah satu pengertian risiko kredit yang banyak dijadikan referensi adalah dari Hardanto (2006).

Pengertian risiko kredit adalah risiko kerugian yang berkaitan dengan peluang gagal memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo pembayaran. Jadi, risiko kredit merupakan risiko yang mungkin terjadi karena debitur tidak mampu membayar utangnya.

Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap besarnya risiko kredit, yaitu besarnya eksposur kredit dan kualitas eksposur tersebut. Semakin besar pinjaman maka akan semakin besar juga eksposur kredit. Sedangkan kualitas eksposur kredit merupakan kemungkinan gagal bayar yang dinilai dari kualitas agunan yang diberikan debitur. Semakin rendah nilai jaminan tersebut, maka semakin rendah pula kualitas dari eksposur kredit tersebut. Hal ini berarti akan semakin tinggi risiko kredit yang harus ditanggung.

Jenis-Jenis Risiko Kredit

Jenis-jenis risiko kredit dapat dibedakan menjadi tiga kategori berdasarkan counterparty, antara lain:

1.     Sovereign Credit Risk (Risiko Kredit Pemerintahan)

Setiap negara memiliki anggaran dan kemampuan masing-masing untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan. Tidak jarang pemerintah suatu negara meminjam sejumlah dana kepada negara lain maupun kepada lembaga dunia untuk memenuhi kebutuhan tertentu demi kepentingan rakyat.

Risiko kredit pemerintahan merupakan risiko yang terjadi ketika suatu negara tidak mampu memenuhi kewajibannya dalam membayar utang pada saat jatuh tempo. Ketidakmampuan membayar utang ini mencakup pembayaran pokok pinjaman disertai bunga dan denda sesuai kesepakatan.

2.     Corporate Credit Risk (Risiko Kredit Perusahaan)

Risiko kredit perusahaan ini merupakan salah satu jenis-jenis risiko kredit yang kerap terjadi, terutama pada bank. Risiko ini mencakup:

·        Risiko gagal bayar dari debitur yang merupakan perusahaan penerbit surat utang.

·        Risiko gagal bayar dari perusahaan yang menerima kredit.

·        Risiko gagal bayar dari perusahaan yang menerima penyertaan modal.

3.     Retail Customer Credit Risk (Risiko Kredit Konsumen)

Risiko kredit juga dapat terjadi akibat debitur yang merupakan perseorangan tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk membayar utang pada saat jatuh tempo. Risiko ini disebut risiko kredit konsumen atau retail customer credit risk.

Biasanya kredit konsumen individu seperti ini digunakan untuk kebutuhan konsumtif, sehingga sumber pengembalian kredit tersebut tidak berasal dari objek yang dibiayai. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian kredit ini perlu dibatasi untuk memperkecil risiko kredit.

Manajemen Risiko Kredit

Bagaimanapun, risiko kredit sulit untuk dihindari. Manajemen yang baik perlu dilakukan untuk memperkecil risiko ini. Manajemen risiko kredit merupakan cara untuk mengelola potensi kerugian yang mungkin terjadi akibat gagal bayar dari debitur, sehingga kerugian tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.

1.     Penyaringan

Manajemen risiko kredit sebaiknya telah diterapkan sedini mungkin, yaitu pada saat pengajuan kredit. Menempatkan orang-orang terbaik untuk melakukan analisa dan mengolah data calon debitur merupakan langkah yang bisa diambil. Calon debitur yang tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan bisa langsung dikeluarkan dari daftar penerima kredit.

Penyaringan di awal ini penting dalam manajemen risiko kredit. Hal ini merupakan langkah preventif agar risiko kredit dapat ditekan sekecil mungkin. Dengan demikian, debitur yang terpilih telah melalui proses seleksi yang memadai.

2.     Pembatasan

Manajemen risiko kredit selanjutnya yang sering diterapkan oleh kreditur adalah pembatasan besarnya kredit. Setiap perusahaan maupun individu yang mengajukan kredit diberikan batas kredit yang bisa diambil dalam waktu tertentu.

Dalam perbankan dikenal BMPK atau Batas Maksimum Pemberian Kredit. Selain itu, ada juga 3L yang berarti Legal, Lending, Limit. Pembatasan ini bertujuan untuk membatasi pemberian kredit yang berlebihan dan di luar kemampuan kepada debitur.

3.     Diversifikasi

Untuk memperkecil risiko kredit, perlu dilakukan juga diversifikasi atau penyebaran kredit yang diberikan. Diversifikasi pemberian kredit ini dapat berupa penyebaran kredit berdasarkan perusahaan, jenis industri, ukuran perusahaan, maupun penyebaran kredit berdasarkan sektor usaha.

Baik kamu seorang kreditur maupun debitur, seyogianya kamu mengetahui tentang risiko kredit ini. Risiko ini termasuk salah satu poin yang penting untuk diperhatikan dalam manajemen risiko secara umum. Perlu diingat, setiap keputusan dan tindakan yang diambil pasti selalu ada risiko yang menyertai.

Artikel Terkait