milenial

Pernikahan Di Era Milenial Dipandang Lebih Rasional

pernikahan di era milenial

Pernikahan di era milenial memiliki beban ekspektasi dan konsekuensi yang lebih besar, sehingga dipandang dengan cara yang lebih rasional dibanding masa sebelumnya.

Perilaku Khas Era Milenial

Percaya diri, kritis, ambisius, dan berorientasi pencapaian, ekspektasi tinggi dalam bisnis, mencari tantangan baru dalam pekerjaan, dan berani mempertanyakan kewenangan otoritas.

Arti Komitmen di Era Milenial

Generasi Milenial dimitoskan sebagai: generasi yang alergi komitmen, alias “kutu loncat”. Meskipun banyak yang menikah, hidup di rumah cicilan dan punya anak, banyak dari mereka yang merasa dana pensiun adalah hal kuno, kurang bermanfaat, dan senioritas tidak dihargai seperti biasanya.

Karenanya, setiap peluang akan mereka “sambar langsung”.

Namun mereka percaya bahwa setiap orang layak diperlakukan sama, dihormati, tanpa pandang pengalaman atau senioritas. Meskipun terlihat tak pernah puas, realitanya mereka hanya ingin menemukan pekerjaan yang terasa berharga. Mereka akan terus mencarinya sampai dapat.

Dilema Pernikahan di Era Milenial

Dengan pergeseran kepentingan, nilai dan peran yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya, makin banyak kaum milenial mulai “mengerem” pernikahan. Dipandu oleh keinginan berfokus pada karir, kebutuhan pribadi, membangun finansial, dan bahkan mempertanyakan maknanya, mereka sedang meredefinisi arti pernikahan.

Alasan mengapa kaum Milenial menunda pernikahan:

  • 29% merasa tidak siap secara finansial.
  • 26% belum menemukan calon dengan kualitas sesuai.
  • 26% merasa terlalu muda untuk berkeluarga.

Kaum milenial memilih menikah di usia lebih lanjut. Pada tahun 1965, rata-rata usia menikah wanita 21 tahun, dan pria 23 tahun. Saat ini, rata-rata usia menikah wanita 29,2 tahun, dan pria 30,9 – The Knot 2017 Real Wedding Study. Urban Institute report terbaru bahkan meramalkan bahwa banyak kaum Milenial yang akan tetap melajang hingga lewat usia 40 tahun.

Peluang Eksplorasi Prioritas

Kaum Milenial semakin strategis merencanakan karir dan masa depan finansial, berikut pandangan politik, pendidikan dan agama. Di beberapa negara yang memberlakukan pinjaman dana kuliah, demi pendidikan yang cukup, kaum Milenial bahkan harus menempuh perjuangan lebih panjang agar bisa mencapai kemandirian finansial.

“Menunda pernikahan memungkinkan tiap individu memiliki identitas pribadi yang lebih jelas, finansial kuat, sukses profesional, emosi matang dan kesadaran diri, ” – Rebekah Montgomery, clinical psychologist in Boston, Massachusetts.

Bagi kaum Milenial, hal-hal itu lebih masuk akal untuk diperjuangkan daripada langsung menikah dan membesarkan anak. Karena kekritisannya ini, mereka akhirnya mampu membangun hubungan yang kuat dan sukses, berdasarkan saling pengertian, kasih sayang, solidaritas dan penyamaan nilai.

Pergeseran Nilai Gender di Era Milenial

Penelitian statistik mengindikasikan pergeseran budaya. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, masyarakat melihat pernikahan sebagai suatu pilihan hidup, bukan kebutuhan,” – Brooke Genn, married Millenial and relationship coach. Pada beberapa negara dengan mayoritas kebudayaan religius tradisional yang melarang proses berpacaran sebelum menikah, transformasi nilai ini akan menjadi lebih “berkerikil”.

Pertukaran Peran Wanita

“Saya menunda pernikahan demi menemukan tempat saya di dunia ini, yang memposisikan wanita dalam peran yang lebih menentukan – seperti entrepreneurship & kesuksesan finansial – dan mengarahkannya agar sesuai dalam tujuan masa depan saya sebagai istri dan ibu,” – Nekpen Osuan, co-founder of the women’s empowerment organization WomenWerk.

Para wanita Milenial lebih selektif memilih pasangan dan menunda pernikahan juga karena didukung adanya teknologi pembekuan sel telur,” – Jennifer B. Rhodes, a licensed psychologist and relationship expert in Rapport Relationships consulting firm, New York.

Pertukaran Peran Pria

Di sisi lain, kini peran kaum pria Milenial mulai berubah menjadi pendukung emosional, bukan hanya pencari nafkah. Dalam sebuah riset yang diselenggarakan oleh The Gottman Institute’s tentang Emotional Intelligence (EI), pria Milenial yang memiliki skor EI lebih tinggi berpotensi memiliki pernikahan yang lebih sukses.

Karena pria dinilai memiliki kemampuan empati, pengertian, menghargai nilai sudut pandang dan memberikan ruang pengambilan keputusan bagi pasangannya.

Tujuan Pribadi Pernikahan vs Kewajiban Sosial

Dalam sejarahnya, pernikahan adalah sebuah institusi hukum, ekonomi, agama dan sosial. Penggabungan harta dan pajak, peluang mendapatkan bantuan keluarga, penyesuaian diri dengan “cetakan” perilaku sosial.

Bisa dibilang juga pemenuhan tuntutan budaya keagamaan tertentu dalam membentuk ikatan seumur hidup dan memiliki keturunan.

Pasangan Milenial tampaknya semakin enggan untuk “menyerah” pada tuntutan-tuntutan itu. Mereka menganggap hubungan antara mereka sepenuhnya milik mereka, berbasiskan cinta dan komitmen.

Hal ini juga dipicu oleh pandangan skeptis mereka tentang perceraian dan ikatan hukum serta ekonomi dalam sebuah pernikahan. Hal itu membuat pernikahan menjadi sarat aturan dan kosong substansi.

Tekanan dalam menentukan keputusan besar yang tepat dan minim resiko dalam hidup juga menjadi faktor pemicu perilaku enggan berkomitmen ini.

Reparadigma Pernikahan Era Milenial

Cara pandang ulang kaum Milenial tentang apa tujuannya, kapan momen tepatnya, dan perlu atau tidaknya pernikahan, segera akan meredefinisi makna pernikahan secara umum, karena mereka pun nantinya akan menjadi contoh bagi generasi-generasi sesudahnya.

“Kaum Milenial yang baru menikah lebih memahami kebutuhan mereka guna berbahagia. Mereka menginginkan beban tugas dan hak suara yang lebih setara,” – Dr. Wyatt Fisher, licensed psychologist and couple counselor in Boulder, Colorado.

Dengan karakteristik perilakunya, kaum Milenial akan menyerap informasi dan makna dari lingkungannya. Nilai luhur komitmen dan pernikahan yang diwariskan oleh generasi pendahulunya hanya akan menemukan tempat yang baik dalam persepsi mereka jika bisa menunjukkan relevansi yang kuat dengan situasi zaman.

Bagaimana pun, kebanyakan dari kisah tokoh sukses yang terkenal umumnya menceritakan konsistensi peran keluarga sebagai sistem support terdekat mereka.

Jadi, kritis terhadap pernikahan tidak berarti anti kan?


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.   

Artikel Terkait